Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Merasa bersalah


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie bertanya-tanya saat ketiga sahabat nya itu mengajak nya kesebuah tempat.


"Kalian mau ajak aku kemana?". Tanya Zie heran.


"Ikut saja Zie jangan banyak bertanya". Ketus Ester.


"Ck, bagaimana aku tidak bertanya. Aku tidak tahu mau dibawa kemana, aku bukan Armada". Sahut Zie juga kesal.


"Apa hubungannya dengan Armada?". Tanya Adam tak habis pikir.


"Tanya saja pada rumput yang bergoyang". Ketus nya.


Mereka bertiga terkekeh. Zie ini ada-ada saja. Entah dari mana dia menemukan kata-kata itu. Hana geleng-geleng kepala.


Mobil Adam berhenti didepan sebuah rumah mewah. Keempatnya turun dari mobil.


Zie terdiam. Rumah ini mirip sekali dengan rumah yang ada divideo yang dia retas bersama Zevanya. Mencurigakan, batinnya.


"Kak ini rumah siapa?". Tanya Zie "Seperti pernah lihat tapi dimana ya? Tidak mungkin didalam mimpi kan?". Gumamnya.


"Kau pernah lihat dimana Zie?". Tanya Adam sedikit gusar.


"Di televisi Kak". Jawab Zie asal.


Adam memincingkan matanya kesal. Zie selalu bisa membuat emosinya menggebu-gebu.


"Ya sudah ayo masuk". Hana dan Ester menggandeng tangan Zie. Mereka belum tahu jik Zie hamil.


"Serasa pengantin saja. Di gandeng segala". Celetuk Zie.


"Ck, jangan membuat kesal Zie. Kami sedang tak ingin bercanda". Ketus Ester.


"Memangnya kau pikir aku serius?". Zie membalas dengan tatapan jenggah nya.


Mereka masuk kedalam. Kedatangan mereka disambut hangat oleh para pelayan yang bekerja disana. Membungkuk hormat dan berjejer rapih seolah sedang menyambut kedatangan sang Tuan putri.


"Zie". Garra menyembut gadis itu.

__ADS_1


"Kakak". Zie terkejut melihat kehadiran Garra.


"Zie". Garra merentangkan tangannya agar Zie segera memeluknya. Namun wanita itu malah terdiam membeku ditempatnya.


Brughhhhhhhhh


Tiba-tiba Adam memukul tengkuk Zie. Hingga gadis itu terjatuh dan pingsan. Untung Garra segera mengangkap tubuh Zie hingga gadis itu jatuh kedalam pelukan nya.


"Adam". Bentak Garra


"Maaf Kak. Seperti nya Zie sudah tahu rencana kita". Sahut Adam. Dia merasa bersalah memukul Zie tapi tidak ada cara lain.


"Bagus Adam. Kau selalu bisa diandalkan". Garra tersenyum smirk


Garra menatap wajah Zie yang terlelap didalam gendongan nya. Sudah lama tak bertemu Wanita ini semakin cantik saja seolah kecantikan nya tak memudar oleh waktu.


"Persiapkan semuanya. Kita akan bawa Zie ke Shanghai". Tintah Garra.


"Baik Tuan".


Ester menatap Zie kasihan. Ada perasaan bersalah saat melihat Zie yang pingsan kedalam gendongan Garra. Bagaimana jika wanita itu kesakitan?


"Dia baik-baik saja". Sahut Garra menatap Zie dengan damba.


"Ayo kita bawa dia". Ajak Garra.


Langkah kaki Ester terasa berat. Tanpa permisi air mata wanita yang masih berstatus gadis itu jatuh dipipinya. Kenapa dia merasa bersalah.


Mereka masuk kedalam mobil. Ester terus menatap Zie yang masih terlelap tanpa terusik. Wajah Zie terlihat pucat. Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita itu?


"Maafkan aku Zie. Ini demi kebaikan mu. Semoga kau dan Kak Garra bahagia selamanya". Batin Ester


"Hahaha. Sebentar lagi dendamku akan terbalas. Zie. Zie. Kau akan kubuat tinggal di Neraka. Lihat saja nanti. Kau harus rasakan bagaimana rasanya kehilangan. Kau harus jadi aku biar kau tahu bahwa penderitaan ku lebih berat dari yang kau rasakan". Batin Garra menatap Zie


Adam dan Hana satu mobil. Sedangkan Garra dan Ester yang menjaga Zie. Mereka akan langsung terbang ke Shanghai hari ini membawa Zie pergi.


"Sayang, apa kita tidak keterlaluan? Aku kasihan pada Zie. Seperti nya dia sungguh-sungguh mencintai suaminya". Ucap Hana.


"Jangan lupa pada rencana awal kita sayang. Aku juga kasihan, tapi hidup kita berada ditangan Kak Garra. Kalau kita gagal membantu nya mendapatkan Zie. Kau tahu sendiri apa akibat yang akan kita terima?". Sahut Adam sambil menyetir.

__ADS_1


"Sebenarnya jatuh ke tangan siapapun. Zie tak pernah aman. Apalagi Kak Garra. Dia juga lebih berbahaya dari pada Tuan Grabielle". Ucap Hana.


"Tapi setidaknya Kak Garra, tidak akan menyakiti Zie". Sergah Adam. Dia masih membela Garra.


"Kita tidak tahu pikiran Kak Garra sayang. Dari tatapannya melihat Zie, aku sedikit curiga. Bukan tatapan cinta. Tapi obsesi". Sambung Hana.


Adam terdiam sebenarnya dia juga membenarkan ucapan kekasihnya itu tapi dia tidak bisa menolak. Hidupnya berada ditangan Garra. Adam tidak mau Garra menyakiti orang-orang yang dia sayangi.


.


.


.


.


"Ken, blokir semua bandara". Tintah Grabielle


"Baik Tuan". Sahut Kenino.


"Tenanglah Gebe. Tidak perlu panik". Ucap Zevanya sambil mencomot cemilan dengan laptop didepannya dan menonton Garra yang sedang memangku Zie.


"Tenang bagaimana Kak? Istriku dalam bahaya. Dari awal aku sudah tidak setuju dengan rencana kalian berdua. Tapi kalian masih saja berniat menjebak Garra. Lihatkan sekarang istri dalam bahaya". Omel Garra "Awas saja si Adam itu akan ku potong-potong tangannya karena sudah berani memukul istriku". Tangan Grabielle terkepal kuat.


Zevanya malah terlihat santai "Kau itu tidak tahu siapa istri mu Gebe". Cibir Zevanya.


"Tidak tahu bagaimana? Justru aku mengenal istriku". Sahut Grabielle "Apalagi dia hamil, aku takut terjadi sesuatu pada kecebong menyebalkan itu". Ucap Grabielle sendu.


Dia tidak tenang. Dia takut. Menyesal dia menyetujui ide gila Zie dan Zevanya. Istrinya disakiti. Grabielle marah. Apalagi ketiga sahabat istrinya yang jahat itu. Lihat saja nanti Grabielle akan berikan perhitungan ada mereka.


"Ayo".


"Aku ikut". Zevanya langsung menutup laptopnya dan bergegas menyusul Myron dan Grabielle.


"Sayang aku kecapean nanti bagaimana?". Tanya Myron


"Tidak akan Kak. Lala butuh bantuanku Kak". Sahutnya.


"Ya sudah ayo". Myron Memili mengalah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2