Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Memohon


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Shiangli turun dari mobil setelah mobilnya masuk kedalam pekarangan Mansion mewah Myron dan Zevanya.


Shiangli sudah tidak peduli terhadap rasa malunya. Dia ingin memohon dan berlutut dikaki Grabielle dan Zie agar membebaskan Garra. Sungguh dia tidak bisa melihat putranya itu tersiksa. Masalah Marissa, Shiangli sudah tidak peduli. Mantan istrinya itu adalah masa lalunya. Tetapi Garra adalah putra yang begitu disayangi nya. Sangat. Karena Garra yang selalu ada menemani masa tua Shiangli.


"Shiangli".


"Zean".


Kening Zean berkerut ketika melihat Shiangli ada disana. Dia baru semalam datang ke Indonesia bersama istri nya karena ingin bertemu dengan menantunya.


"Apa kabar mu Zean?". Shiangli memaksakan senyum. Zean adalah teman kuliahnya di Harvard university.


"Kabar baik. Kau sendiri apa kabar?". Kedua pria paruh baya itu saling berpelukan.


"Seperti yang kau lihat". Ucap Shiangli.


Shiangli tahu jika Grabielle adalah putra dari sahabat nya itu. Oleh sebab itulah beberapa kali Shiangli menegur Garra agar tidak main-main dengan Grabielle. Grabielle tidak jauh beda dengan Ayahnya Zean, sama-sama kejam dan tak kenal belas kasihan pada orang yang berani melukai orang yang mereka sayangi.


"Sudah lama tidak bertemu. Ayo masuk". Sambil merangkul bahu Shiangli dan mengajak sahabat lama nya itu untuk masuk kedalam Mansion mewah milik adik iparnya.


Zean dan Shiangli cukup dekat ketika dimasa-masa kuliahnya. Setelah lulus kuliah keduanya terpisah, Shiangli kembali ke China sementara Zean menatap di New York Amerika Serikat. Kedua nya jarang bertemu selain sibuk dengan pekerjaan mereka juga sibuk dengan urusan keluarga masing-masing.


"Entah kebetulan atau bagaimana kita bisa bertemu disini". Ucap Zean terkekeh pelan.


"Aku juga tidak menyangka kita bertemu disini. Kapan kau datang ke Indonesia dan ada urusan apa?". Tanya Shiangli juga. Keduanya tampak akrab.


"Seperti biasa bertemu menantu kesayangan ku. Apalagi dia sedang mengandung cucu ku jadi ingin sekali melihat nya". Sahut Zean "Ada apa kau kesini?". Tanya Zean sambil menyesap kopi didalam gelasnya.


"Aku ingin bertemu putra dan menantumu". Jawab Shiangli menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak memiliki banyak waktu tapi dia tidak enak harus memotong pembicaraan dengan Zean apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.


"Ada apa?". Zean memincingkan matanya heran.


Zean memanggil anak dan menantunya. Meski Shiangli tidak mengatakan ada perlu apa dengan anak dan menantunya tapi Zean bisa tebak jika dia kepentingan antara anak dan sahabat nya itu.

__ADS_1


Grabielle dan Zie duduk bergabung dengan kedua pria paruh baya itu. Tatapan Grabielle terlihat tak suka menatap Shiangli. Tentu saja dia tahu siapa Shiangli. Sementara Zie yang tidak tahu hanya diam-diam bae saja. Sejak usia kehamilan nya memasuki bulan kelima, dia sangat mudah kelelahan dan lebih mau nya remahan ditemani Grabielle.


"Grabielle. Zie". Sapa Shiangli.


"Paman siapa ada apa?". Tanya Zie menyelidik "Kenapa wajah Paman sangat mirip dengan Kak Garra?". Gumam Zie heran.


Shiangli menghela nafas "Zie sebelum nya, Paman ingin memperkenalkan diri nama Paman Shiangli. Paman adalah Ayah kandung Garra dan Ayah tirimu".


Zie berjingkrak kaget. Dia memang tidak pernah bertemu Ayah kandung Garra. Bahkan melihat fotonya saja Zie tidak pernah karena Garra selalu menyembunyikan identitas Ayahnya.


"Ayah kandung Kak Garra?". Ulang Zie sekali lagi.


"Iya Zie". Sahut Shiangli tersenyum.


Shiangli juga baru pertama kali ini bertemu Zie dan wanita ini memang cantik sangat cantik malah lebih cantik dari yang dia lihat difoto. Wajahnya lembut dan terlihat masih sangat muda. Perbedaan usianya dengan Grabielle tampak jauh.


"Ada apa Paman kesini?". Tanya Grabielle tak suka


"Bielle, jangan seperti itu". Tegur Zean pada putranya.


"Bielle. Paman ingin meminta maaf sebelumnya. Bisakah bebaskan Garra? Paman tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Garra. Paman berjanji akan menjaga Garra dengan ketat agar tidak mencelakai Zie lagi". Mohon Shiangli. Dia tidak peduli dengan gengsinya atau Grabielle menolaknya dia hanya ingin membebaskan Garra.


.


.


.


.


"Apa ada sayang?". Tanya Hana pada Adam


Adam berbalik dan menatap kekasihnya itu. Dia sangat mencintai Hana tapi dia juga harus memilih demi keselamatan Hana.


"Hana, aku....". Suara Adam terasa tercekat.

__ADS_1


"Aku kenapa sayang?". Tanya Hana heran melihat kekasihnya yang tampak ragu itu.


Adam menghela nafas panjang "Hana aku minta maaf. Aku...". Adam menghela nafas barat "Aku harus kembali ke Inggris". Ucap Adam


"Kembali?". Gumam Hana.


Adam mengangguk "Dan aku juga minta maaf seperti nya hubungan kita cukup sampai disini...".


Deg


Hana mendengar tak percaya. Bagaimana bisa kekasih yang sudah bersamanya selama kurang lebih dari tiga tahun itu memutuskan hubungan dengan nya.


"Maksud mu?". Tanya Hana tak mengerti


"Maaf Hana aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku dan aku tidak bisa menolak". Ucap Adam terasa berat.


Hana menggeleng tidak terima "Tidak Adam. Kumohon jangan pergi". Hana mengenggam tangan Adam.


"Ini yang terbaik Hana. Kau tahu hubungan kita ini rumit. Dari awal kedua orang tua kita tidak setuju. Aku hanya tidak mau membuat mu dalam masalah". Jelas Adam "Kita bisa bahagia di jalan masing-masing. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang mencintai mu dan diterima oleh kedua orangtuamu". Ucap Adam mengenggam tangan Hana.


Hana menggeleng. Dia sangat mencintai Adam lebih dari apapun. Memang selama ini hubungan mereka tidak disetujui lantaran banyak perbedaan yang tidak bisa disatukan. Adam adalah keturunan bangsawan. Sementara Hana hanya wanita biasa, meski terlahir dari keluarga kaya tetap saja perbedaan itu tidak bisa menyatukan cinta mereka.


"Adam aku tidak mau pisah darimu". Renggek Hana. Lelehan bening itu menetes dipipi cantiknya.


"Ini jalan kita Hana. Aku juga tidak mau pisah. Tapi kita tidak bisa melawan takdir. Kau harus bahagia Hana. Kau harus bahagia meski tak bersama ku". Adam memeluk kekasihnya itu.


Adam pun berat untuk berpisah. Tapi ancaman demi ancaman terus dia terima. Adam tidak mau membuat Hana dalam masalah. Dia ingin Hana baik-baik saja. Kedua orang tuanya tak pernah main-main dengan ucapan mereka.


Selama ini Adam selalu diteror dan bahkan diancam berkali-kali. Awalnya Adam mengabaikan selama Hana disisinya maka dia akan bisa melewati semuanya. Namun ancaman itu membuatnya lemah dan tak berdaya. Dia takut Hana terluka.


"Jaga diri baik-baik Hana. Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir. Aku pamit". Adam mengecup kening Hana dengan sayang. Kecupan terakhir dan perpisahan.


Adam akan pindah ke Inggris dan melanjutkan studinya disana. Dia akan memulai segala sesuatu nya tanpa Hana.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2