Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Jangan meragukan ku


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Grabielle terus mendesak Kenino agar menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu tampak gusar.


"Ck, Gebe kau bisa diam tidak?". Protes Zevanya yang kesal mendengar Grabielle terus mengerutu tidak jelas.


"Bagaimana aku bisa tenang Kak, istriku dalam bahaya?". Grabielle mengusap wajahnya kasar "Dari awal aku sudah tidak setuju dengan rencana kalian berdua". Ujar Grabielle.


"Kau memang selalu begitu, meragukan kemampuan istri mu sendiri". Ketus Zevanya kesal.


Grabielle mendesah. Dia panik bukan main. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istrinya itu? Grabielle takkan memaafkan dirinya jika Zie sampai terluka lagi.


"Tenanglah Bielle. Semua akan baik-baik saja". Myron ikut menimpali.


"Iya Kak". Grabielle hanya menurut saja.


Jauh didalam lubuk hatinya. Sungguh dia panik bukan main. Takut kehilangan tentu saja. Apalagi istrinya tengah hamil muda. Hamil anak pertama mereka. Bukankah hamil muda itu sangat rentan dan sedikit sensitif terhadap hal-hal yang seperti itu?


"Sayang semoga kau baik-baik saja. Aku yakin kau wanita yang kuat. Wanita hebat ku. Aku menunggu mu dan anak kita. Semoga setelah si bajingan itu tertangkap, hidup kita akan aman dan baik-baik saja". Batin Grabielle tampak melamun.


Zevanya melirik sepupu nya itu. Kasihan juga Grabielle. Tapi Zevanya yakin jika Zie memiliki keunikan tersendiri. Wanita hamil itu susah ditebak dan selalu membuat orang terkaget-kaget dengan sifatnya.

__ADS_1


"Ken bagaimana apa kau sudah menutup semua akses bandara?".


"Sudah Tuan". Jawab Kenino


"Pastikan tidak ada celah untuk dia kabur". Tintahnya "Lalu bagaimana dengan istriku apakah dia sudah sadar atau memang masih pura-pura pingsan?". Tanya Grabielle dia tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.


"Masih Tuan". Jawab Kenino.


Grabielle mendesah pelan. istrinya itu pura-pura pingsan atau memang pingsan sungguhan. Zie selalu membuat jantungnya tak bisa bekerja dengan baik karena kejahilan wanita hamil itu.


.


.


.


.


"Kau benar-benar cantik sayang". Garra geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.


"Namun sayang, rasa benciku lebih besar dari rasa cintaku. Ya aku harap kau benar-benar merasakan penderitaan ku selama ini". Ujarnya lagi dalam hati.

__ADS_1


"Kak". Ester menatap Garra yang mengelus wajah Zie dengan tatapan aneh.


"Ada apa?". Tanya nya melihat Ester.


"Apa Kakak yakin ingin membawa Zie pergi Kak? Apa Kakak yakin Zie akan bahagia setelah berpisah dengan suaminya?". Cecar Ester.


"Kau meragukan ku?". Garra memincingkan matanya tak suka saat mendengar pertanyaan Ester yang menurut sedikit membuatnya kesal.


"Bukan. Hanya saja aku ragu jika Zie benar-benar tak bahagia".


"Itu karena kau meragukanku". Tuding Garra.


"Maaf Kak". Ester menunduk takut ketika melihat tatapan tajam Garra.


"Dia hanya milik ku. Jadi aku yakin dia akan aman dan bahagia bersamaku. Jadi jangan meragukan apa yang aku lakukan". Tegas Garra menatap Ester tak suka.


"Maaf Kak". Ucap Ester lagi.


Ester menatap wajah Zie dengan sendu. Entah kenapa dia merasa hatinya sedikit terusik menatap wajah polos itu. Sahabat baiknya. Zie selalu ada untuknya. Menjadi sandaran ternyaman. Bahkan Zie adalah orang pertama ada saat Ester dalam masalah.


Garra masih memangku kepala Zie. Tangannya mengusap rambut panjang wanita ini. Lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan untuk membuat Zie kehilangan segalanya. Takkan dia biarkan Zie bahagia. Jika dia tak bisa bahagia maka Zie juga tidak bisa bahagia.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2