Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Gelisah. Galau. Merana


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Grabielle melempar ponselnya asal. Dia uring-uringan saat menerima pesan dari Zie yang meminta izin ingin makan bersama Gama.


"Dasar gadis aneh. Baru saja menikah sudah berani selingkuh. Awas saja dia kalau macam-macam".


Grabielle berdiri duduk berdiri duduk gelisah tak menentu. Ahh kenapa dia tidak tenang seperti ini.


"Lihat saja nanti aku akan menghukumnya manjat mangga". Entah bahasa apa yang dia keluarkan sudah mulai tak waras.


"Arggghhhhh". Grabielle mengusar wajahnya kasar "Kenapa gadis aneh itu ada dikepala ku sihh?". Grabielle mengusuk kepalanya "Apa dia memberi ku guna-guna di yaa?". Tuduhnya. Bayangan Zie saat tersenyum terus melintas dikepala Grabielle.


"Permisi Tuan".


"Ada apa?". Ketus Grabielle.


Kenino bergidi ngeri. Seperti nya singa ini sedang marah dan dalam keadaan emosi. Dia harus cepat-cepat mengamankan dirinya sebelum menjadi pelampiasan amukkan dari Grabielle.


"M-maaf Tuan sebentar lagi kita ada meeting".


"Cancel". Tintah Grabielle


"Tapi Tuan_".


"Kau mau ku jadikan santan San, Ken?". Ancam Grabielle.


"B-baik Tuan saya akan membatalkan meeting kita". Sahut Kenino menelan salivanya kasar. Padahal ini meeting penting.


"Panggilkan gadis itu untuk membuatkan aku kopi Ken". Grabielle mendudukan pantatnya sambil memijit-mijit pelipis nya


"Maaf Tuan, Nona Zie sedang izin tidak masuk". Ucap Kenino.


Grabielle terdiam sejenak. Ahh kenapa dia terus mengingat gadis itu. Ini tidak benar.


"Buatkan aku kopi".


"Baik Tuan". Kenino mellengang pergi dan melakukan perintah Grabielle


Grabielle tampak frustasi. Tidak tenang. Gelisah. Galau merana.


"Pasti gadis itu genit-genit pada Tuan Gama. Aku harus beri dia hukuman". Ucap Grabielle menggebu-gebu.

__ADS_1


Kenino datang membawa secangkir kopi


"Kenapa kau yang bawa Ken? Mana gadis itu?".


"Maaf Tuan, Nona Zie sedang izin tidak masuk hari ini". Jawaban Kenino tetap sama


Lagi-lagi Grabielle mendesah pelan. Bisa gila dia jika terus memikirkan gadis aneh itu. Ini lagi kenapa Zie mengusik pikiran nya?


Grabielle menyeruput kopi itu.


"Cihhhhhhh". Grabielle langsung memuntahkan kopi buatan Kenino "Kopi apa ini Ken? Kau bisa buat kopi tidak sih?". Grabielle meletakkan cangkir itu dengan kasar.


"M-maaf Tuan". Kenino hanya menunduk saja.


Seharian Kenino menjadi sasaran kemarahan Grabielle. Apa-apa salah. Ini salah. Itu salah. Buat ini salah. Buat itu salah.


Tak hanya Kenino yang menjadi sasaran kemarahan pria itu tapi mereka semua. Tiba-tiba Grabielle mengaudit semua divisi dan alhasil mereka semua mendapat hukuman.


Pokoknya hari ini Grabielle bersikap aneh dia jadi sering mengomel tidak jelas dan selalu menyebut nama Zie. Sudah puluhan kali Kenino menjawab bahwa Zie izin dan tidak masuk karena ada kelas dikampus.


"Akibat gengsi kita yang jadi sasaran". Batin Kenino kesal dalam hati


"Nona Zie, please kembali jangan lama-lama. Tidak ada anda kami semua bisa gila. Gara-gara suami Cassanova mu ini". Teriak Kenino dalam hati sudah frustasi dengan perintah Grabielle yang aneh.


"M-maaf Tuan akan saya perbaiki". Ucap Kenino mengalah padahal Grabielle memang meminta data karyawan tapi pria itu malah menyalahkan Kenino. Maklum lagi emosi memang tidak mau disalahkan.


Grabielle duduk kembali dikursi kebesaran nya. Rambutnya sudah acak-acakan. Dasinya longgar dan jas nya entah kemana dia lempar asal saja.


Hatinya masih panas dan gelisah. Beberapa kali pria itu melirik ponselnya berharap istrinya menghubungi nya dan mengingatkannya makan siang kembali. Padahal tadi Zie sudah mengirim pesan agar pria itu makan siang dan jangan lupa untuk makan bekal yang dia siapkan.


"Cihh dasar gadis genit. Pada suami sendiri saja lupa. Pasti disana dia sudah senang-senang dengan pria itu". Tuding Grabielle.


Padahal dia bisa saja menghubungi Zie. Tapi karena gengsi nya yang setinggi bintang itu membuat nya gelisah tak menentu. Ingin dia menelpon Zie dan bertanya apakah sudah selesai makan siang dan dia ingin menyuruh Zie kembali ke perusahaan. Namun lagi-lagi karena gengsi dan tidak mau ketahuan cemburu, bisa diledek habis-habisan dia oleh Zie.


.


.


.


.

__ADS_1


Seorang pria menatap kosong kearah jendela ruangan mewahnya. Pemandangan kota Sanghai menyejukkan hatinya yang juga tengah gelisah sekarang.


"Apa gadisku baik-baik saja Steve?". Tanyanya memasukan kedua tangannya disaku celananya.


"Nona Zie baik-baik saja Tuan". Sahut Steve, sang asisten.


"Apa yang dikatakan Adam?".


"Tuan Adam meminta agar memperketat penjagaan pada Nona Zie, Tuan. Karena Tuan Gama seperti nya merencanakan sesuatu terhadap Nona Zie". Ujar Steve


"Tidak bisa ketara Steve, pengawal bayangan Tuan Zean berkeliaran dimana-mana melindungi Zie. Utus lah satu orang agar selalu melaporkan kegiatan Zie padaku". Tintahnya.


"Baik Tuan".


Pria itu kembali melamun menatap kosong kedepan. Sudah beberapa bulan dia berada di Sanghai, dan sampai hari ini dia belum menghubungi adiknya itu. Dia belum siap mendengar suara yang selalu dia rindukan. Rasanya selalu sakit ketika membayangkan gadis yang dia cintai.


"Jaga diri baik-baik Zie. Kakak berjanji akan kembali menjemput mu. Kita akan hidup bahagia, hanya berdua saja".


Dia memegang dadanya meresapi perasaan yang sudah lama tumbuh ini. Menyakitkan karena hanya bisa melihat dan mendengar namanya namun tidak bisa merengkuh tubuhnya.


"Son".


Pria itu berbalik dan menatap sang Ayah yang datang dengan membawa dua cangkir teh ditangannya.


"Ayah". Dia tersenyum hangat


"Minumlah. Mari duduk bersama Ayah". Dia duduk mengikuti Ayahnya disoffa.


"Kau baik-baik saja?".


Dia menyeruput teh manis dengan sedikit gula itu, lalu meletakkan nya diatas meja.


Dia menggeleng "Aku gelisah Ayah". Sahut nya menghela nafas berat.


"Zie?". Tebak sang Ayah.


Dia mengangguk "Aku merindukannya Ayah. Rasanya aku ingin bertemu dengannya dan memeluknya". Lirih pria itu terdengar berat.


"Sabar, perjuangan mu masih panjang. Ayah mendukungmu. Tapi ingat jangan memaksakan sesuatu yang bukan milikmu. Jika tidak bisa digenggam sebaiknya lepaskan. Tapi jika kau yakin, maka perjuangkan". Sang Ayah menepuk pundak putranya itu.


Pria itu terdiam mencerna ucapan sang Ayah. Mungkin obsesi dan cinta hanya dua kata yang berbeda tapi mengandung makna yang dalam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2