Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Tak tenang


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Gama mondar-mandir seperti setrikaan diruang kerjanya. Ditangannya ada ponsel yang sedari tadi dia pegang.


"Telpon tidak ya? Tapi aku takut dia tidak menjawabnya". Pria tampan itu mendesah pelan "Ahhh telpon saja lah, dari pada penasaran".


Dia menekan tombol hijau disana dan menghubungi nomor yang dia beri nama "Wanita Impian".


Tut Tut Tut Tut Tut Tut


"Arggghhhhh. Sial. Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku?". Pria itu melempar ponselnya asal.


Dia duduk kembali dikursi kebesaran nya. Sesekali mengigit jarinya seperti sedang berpikir dan mencari sesuatu.


"Bagaimana pun caranya aku harus merebut Zie dari tangan Grabielle. Lagian pernikahan mereka kontrak. Aku bisa melunasi semua hutang Zie dan mengambil gadis itu jadi milikku". Dia tersenyum smirk.


"Mark".


Mark masuk dengan tergesa-gesa. Karena kalau lambat sedikit dia akan terkena amukkan.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?". Mark membungkuk hormat.


"Bagaimana keadaan gadisku?". Dia mengidupkan rokok ditangannya lalu menyesap rokok itu.


"Nona sudah pulang dari rumah sakit, Tuan". Jawab Mark.


"Apa dia sudah sembuh?". Tanpa melihat Mark.


"Sudah Tuan". Sahut Mark lagi.


"Baik siapkan mobil. Aku mau pulang".


"Baik Tuan"..


Mark keluar dari ruangan Gama dan langsung melaksanakan perintah pria itu.


Gama melepaskan jas nya. Dia melipat kemejanya sampai siku. Lalu melangkah keluar dari ruangan nya sambil mengantung jas itu ditangannya.


Pria itu berjalan dengan langkah gontai. Tatapannya tajam dan juga dingin. Dia paling dihormati. Paling ditakuti. Tidak ada yang berani melawan nya. Siapa saja yang berani mencari masalah dengannya pasti berakhir tragis.


Sampai dirumah nya. Gama langsung turun. Dia tinggal sendirian. Kedua orangtuanya bercerai. Ibunya menetap di Inggris sementara Ayahnya tinggal di Jerman.


Gama memilih menepi dan tidak mengikuti siapapun. Hidupnya selalu begini sendirian dan kesepian. Tidak ada yang bisa menyemangati pria itu.


Meski pun memiliki segalanya tetap saja dia tak merasakan kebahagiaan. Hari-hari nya terasa mati. Hatinya juga seolah mati rasa.

__ADS_1


Gama masuk kedalam kamarnya. Perasaan nya selalu tak tenang. Tak pernah damai. Dia pria kesepian yang memiliki sisi gelap.


"Zie". Pria itu melempar tubuhnya dikasur king size milknya "Kau tahu tidak Zie, kau satu-satunya gadis yang membuatku percaya akan ada nya cinta. Tapi kenapa kau harus jadi milik orang lain? Seandainya kau tidak kabur, pasti kita sudah bersama sekarang". Lirihnya. Rintihannya terdengar menyayat hati.


Gama memegang dadanya merasakan perih didalam sana. Perpisahan kedua orangtuanya membuat jiwanya tergoncang begitu hebat hingga Gama tidak percaya akan adanya cinta.


Namun pertemuannya dengan Zie seolah mengubah segalanya. Namun sayang, gadis itu sudah jadi milik orang lain. Dan Gama takkan menyerah untuk mendapatkan Zie hingga menjadi miliknya.


.


.


.


.


Grabielle memejamkan matanya sejenak ketika mendengar penjelasan Kenino.


"Jadi John dan Gama bekerjasama ingin memisahkan aku dengan gadis aneh itu?". Ulangnya tangannya terkepal kuat.


"Iya Tuan. Menurut orang suruhan kita. Tuan Gama akan menebus hutang Nona pada anda, agar Nona terlepas dari pernikahan nya dengan anda, Tuan".


Rahang Grabielle mengeras. Tidak. Dia tidak akan melepaskan Zie. Zie itu istrinya. Apa hak orang lain untuk memisahkan mereka berdua?


Kenino kikuk. Kenino takut jika jiwa Mafia Grabielle kambuh lagi. Bisa-bisa Kenino yang digantung oleh Zean nantinya.


"Atur dan perketat penjagaan serta pengawasan untuk istriku Ken. Jangan biarkan celah orang lain untuk menyentuh nya". Tintah Grabielle wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Baik Tuan". Sahut Kenino


"Lalu apakah tua Bangka itu memiliki rencana lain?". Tanya Grabielle lagi.


"Tuan John, ingin menukar Nona Zie dengan Putrinya, Shiena". Jelas Kenino.


"Shiena?". Sejenak Grabielle terdiam nama itu seperti familiar "Apa aku pernah mendengar namanya Ken?". Ujarnya lagi.


"Shiena salah satu model ternama, Tuan. Beberapa kali anda pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja. Waktu itu dia belum tahu siapa anda. Tapi ketika mendengar cerita anda melalui teman-teman nya, dia tertarik untuk menjadi partner ranjang anda dan merencanakan untuk memisahkan anda dengan Nona Muda". Jelas Kenino panjang.


Grabielle tertegun. Apakah sudah sebanyak itu wanita yang menjadi partner ranjangnya? Kenapa dia dikenal dimana pun? Padahal dia saja tidak mengingat siapa saja wanita yang tidur dengannya?


"Baik. Kau boleh keluar". Usirnya


"Baik Tuan. Saya permisi". Kenino melengang pergi dari ruang kerja Grabielle.


Grabielle keluar dari ruang kerjanya. Pria itu tampak tak tenang dan gelisah. Siapa yang akan tenang saat tahu banyak yang ingin mengambil istrinya dan memisahkan mereka berdua.

__ADS_1


Grabielle melangkah menuju kamarnya. Sejenak langkah kaki pria itu terhenti. Saat melihat pintu kamar istrinya. Kamar mereka bersebelahan.


Langkah kaki Grabielle menuntunnya untuk masuk kedalam kamar Zie. Entah kebetulan atau bagaimana, pintu kamar itu tidak dikunci. Biasa Zie suka lupa.


Dengan pelan Grabielle masuk dan menutup pintu. Dia berjalan dengan langkah lebar menghampiri istrinya yang sedang terlelap sambil memeluk bantal guling kesayangannya.


Pria itu menggeleng melihat cara tidur Zie yang terkesan amburadul tak teratur.


Grabielle duduk dibibir ranjang. Dia berjongkok menatap wajah istrinya dengan dekat.


Grabielle menopang dagunya agar lebih leluasa menatap ukiran Tuhan yang indah ini


"Sebenarnya kau itu cantik, lucu dan menggemaskan. Tapi kenapa kau suka sekali membuat ku kesal ya?". Grabielle geleng-geleng kepala sambil tersenyum "Gadis Aneh, aku akan melindungi mu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Baik itu si Gam-gam atau Ayah Mertua, mereka takkan bisa membuat kita terpisah. Aku berjanji akan melindungi mu". Gumamnya menyingkirkan anak rambut Zie.


"Seandainya kau sedikit feminim pasti lebih menarik". Dia terkekeh pelan "Tapi aku lebih suka kau yang sekarang. Meski membuatku kesal. Tapi sumpah demi apapun, aku tidak bisa berpisah darimu. Entahlah aku tidak tahu ini perasaan apa? Setiap kali tak melihatmu aku selalu tidak tenang dan gelisah. Tapi saat melihat wajah polosmu, aku merasakan tenang damai. Good night istri kecilku. Cup". Grabielle mengecup singkat bibir gadis itu "Manis". Gumamnya.


Zie mengeliat mungkin merasakan kecupan Grabielle atau mendengar curahan hati pria itu.


Secepatnya Grabielle berdiri dan menjauh. Pria ini keluar dengan pelan. Takut jika Zie melihat dirinya ada dikamar gadis itu, bisa diledek habis-habisan dia oleh istrinya yang jahil kelewatan itu.


Grabielle menutup pintu kamar Zie dengan pelan dan masuk kedalam kamarnya.


Pria itu tersenyum seperti orang gila membayangkan wajah Zie yang menggemaskan membuatnya ingin mengigit wanita itu


Drt drt drt drt drt


Grabielle mendesah dan mengambil ponselnya. Siapa yang telpon malam-malam seperti ini?


"Ck, Kakak menyebalkan itu". Desah nya.


"Ada apa Kak?". Ketus Grabielle malas.


"Ck, kau ini tidak ada sopan-sopannya dengan Kakak". Cibir suara diseberang sana.


"To the poin saja Kak ada apa? Aku tidak punya banyak waktu, aku sudah mengantuk". Dia menguap dengan kuat agar orang diseberang sana mendengar nya.


"Besok bawa istrimu kesini makan malam bersama kami".


"Tapi_".


Tut Tut Tut tut Tut


"Arghhhhhhhhh. Dasar Kakak laknat". Umpatnya kasar melempar ponselnya diatas kasur miliknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2