
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ohh yaa. Ternyata anda magang di perusahaan Tuan Grabielle?". Ucap Gama
"Iya Tuan". Senyum Zie.
"Ayo. Silahkan duduk". Ajak Gama.
Mereka duduk disoffa yang sudah disediakan disana. Tatapan Gama terus tertuju pada Zie yang semakin hari semakin cantik dan menggemaskan.
"Baiklah Tuan. Kita akan mulai meetingnya". Ujar Mark, asisten Gama.
Mark menjelaskan meeting mereka. Sekali Zie mencatat dibuku nya untuk bahan skripsi nya. Begitu juga dengan Kenino yang mencatat untuk arsipnya nanti.
Jika Zie dan Kenino serius melihat Mark. Maka Grabielle dan Gama malah sibuk menatap wajah Zie. Keduanya terpusat hanya pada wajah cantik Zie saja.
Sampai meeting berakhir Grabielle sama sekali tak menyimak. Sibuk menganggumi kecantikan gadis disampingnya ini.
"Bagaimana Tuan?". Tanya Mark.
"Oke". Jawab Grabielle dan Gama bersamaan.
Setelah meeting mereka melanjutkan makan siang. Gama memesan beberapa menu spesial khusus untuk Zie, gadis incarannya.
"Wahh terima kasih Tuan Gama. Anda baik sekali". Puji Zie dengan sumringah. Makanan didepannya adalah makanan kesukaannya.
Grabielle mendengus kesal. Zie tidak pernah berterima kasih padanya. Padahal dia sudah memberikan tempat tinggal gratis pada gadis itu tapi sama sekali tidak dilirik oleh Zie.
"Ehem, Nona Zie. Kapan-kapan makan malam bareng saya? Bagaimana?". Tawar Gama tersenyum hangat.
Zie tersimpul dia menggandeng tangan Grabielle.
"Mohon maaf Tuan bukan menolak. Tapi saya tidak nyaman dengan calon suami saya". Jawabnya jujur
"Calon suami?". Kening Gama berkerut heran
"Iya Tuan. Tuan Grabielle calon suami saya. Sebentar lagi kami akan menikah".
Untuk sejenak Grabielle terdiam mencerna perkataan Zie. Apa benar bahwa Zie tidak tahu sama sekali jika Gama adalah calon suaminya yang gagal.
Jantung Grabielle berdegup kencang saat Zie mengandeng tangan nya. Entah apa maksud Zie yang mengatakan dengan jujur.
Sementara Gama mengepalkan tangannya sangat kuat, rahangnya sudah mengeras dengan kuat. Tapi dia berusaha menahan emosi.
Mereka melanjutkan makan. Sepanjang makan Gama hanya diam tidak lagi berbicara. Gam adalah pria yang tidak mampu menahan emosi nya. Selain emosian pria ini juga pendendam tinggi. Dia Boss mafia yang jarang diketahui oleh orang lain. Menyembunyikan identitas nya melalui cover yang selalu dia tunjukkan pada semua orang.
Grabielle juga masih terdiam. Dia menatap Zie yang makan dengan lahap. Gadis itu tenang-tenang saja setelah membuat jantungnya bermasalah. Seolah tak terjadi sesuatu.
"Dimakan Tuan". Serunya.
"Ahhh kenyang nya".
Grabielle dan Gama mendelik kearah Zie. Gadis ini benar-benar tidak tahu malu. Tidak menjaga image sama sekali didepan dua pria tampan itu. Terkesan cuek dan tidak peduli.
__ADS_1
Padahal Gama pernah menjadi dosen tamu dikampus tempat Zie berkuliah tapi seolah dia dan pria itu berteman biasa saja.
"Terima kasih atas kerjasama nya Tuan Grabielle". Gama menyalimi Grabielle dan berusaha tersenyum ramah padahal lain dimulut lain dihati juga.
"Sama-sama Tuan". Grabielle juga tersenyum tak kalah ramah. Padahal dalam hati ingin mengejek Gama.
"Nona Zie. Terima kasih". Gama tersenyum lembut pada Zie. Tatapan memuja terlihat jelas diwajah pria itu.
"Sama-sama Tuan Gama". Balas Zie juga ramah.
.
.
.
.
Grabielle masih terdiam. Dia mengingat bagaimana ekspresi Gama saat melihat Zie. Aneh, kenapa Zie biasa saja? Bukankah Gama adalah calon suaminya?
"Tuan, saya ingin izin boleh?".
"Kemana?". Ketus Grabielle menatap gadis disampingnya dengan cuek
"Yaellah. Santai saja kali Tuan". Ujar Zie "Mau bertemu teman". Sahutnya mengotak-atik ponsel nya
"Laki-laki atau perempuan?". Tatap Grabielle tajam
"Mau nya Tuan apa? Laki-laki atau perempuan?". Gadis itu malah tersenyum mengejek.
"Jawab Zie. Jangan bertanya balik". Grabielle mulai geram
Gadis itu malah menguap santai-santai saja
"Kenapa anda ingin tahu Tuan?". Tanya Zie heran.
"Tentu saja karena aku calon suamimu". Saat mengucapkan nya Grabielle sedikit salah tingkah.
"Ciee cie yang mulai ketar-ketir hatinya". Ledek Zie tertawa pelan.
"Bisakah jangan membuatku kesal??". Hardik Grabielle.
Bukanya takut gadis itu malah menyenderkan punggungnya dengan santai.
"Bagaimana Tuan, di izinkan tidak?". Zie bertanya sekali lagi sambil mengintip wajaj Grabielle.
"Ehem, aku ikut". Final Grabielle
"Tapi Tuan_".
"Aku ikut atau tidak sama sekali". Potong Grabielle menatap gadis itu tajam.
Zie mendengus kesal. Bibirnya mengerucut. Kenapa pria ini jadi ingin mengikuti nya padahal dalam surat perjanjian tidak boleh mengurusi urusan masing-masing.
__ADS_1
"Tapi Tuan dalam surat perjanjian itu_".
"Belum berlaku karena kita belum menikah". Ucap Grabielle memotong ucapan Zie.
Gadis itu kembali mencebik kesal. Dia meronggoh tas munggilnya karena ponselnya yang berdering begitu nyaring.
"Iya Cinta. Tunggu sebentar aku akan sampai".
Entah kenapa hati Grabielle panas saat mendengar nama panggilan mesra itu. Dia tidak tahu yang jelas hatinya tidak suka. Sama sekali tidak suka. Dia tidak akan membiarkan gadis ini mempermainkan nya.
Sampai ditaman belakang kampus Zie. Mereka bertiga turun. Selalu dimana pun Grabielle berada akan menjadi pusat perhatian.
"Dimana orang yang ingin kau temui?". Tanya Grabielle kepo. Padahal dia memiliki banyak jadwal meeting hari ini tapi demi rasa penasaran nya pada orang yang dimaksud oleh Zie membuatnya membatalkan segala urusannya.
"Disana Tuan".
Zie menunjuk seseorang yang tengah duduk sendirian. Kepalanya ditutupi dengan hoddie dikepalanya.
"Cinta".
"Zie".
Grabielle dan Kenino membelakak kan mata mereka dengan sempurna. Jadi yang dipanggil cinta oleh Zie adalah seorang gadis yang mungkin umurnya tidak jauh beda dari Zie.
"Cinta, hiks hiks hiks". Zie pura-pura terisak dipelukkan gadis itu.
"Zie, hiks hiks hiks".
Keduanya saling berpelukkan sambil menangis. Padahal tidak ada air mata yang keluar dari mata keduanya. Memang sudah biasa seperti itu.
"Apa kabarmu Cinta?". Zie melepaskan pelukannya.
"Aku sehat cinta". Ujar gadis itu "Hapus air mata ularmu itu. Kau ini tak berubah selalu saja bisa pura-pura menangis". Seru gadis itu
Zie cenggesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada apa? Kenapa kau ingin mengajakku bertemu? Apa kau dikejar lagi oleh tua Bangka itu? Apa dia meminta uang lagi padamu?". Cecar Zie.
"Zieeeeee". Gadis itu menggeleng "Bisa tidak bertanya itu satu-satu. Aku sampai lupa dengan pertanyaan mu". Gerutu gadis itu.
"Iya. Habisnya kau membuatku terpikir-pikir". Gerutunya lagi.
"Ya ya dan ya. Aku sedang butuh uang. Tua Bangka itu mengejarku dan mengancam ku jika tidak memberi nya uang maka organ tubuhku akan digadaikan". Grabielle dan Kenino mendelik mendengar ucapan gadis itu "Kalau ada yang mau beli syukur, tapi kalau tidak ada yang beli bisa menangis darah, hiks". Dia menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.
Zie mendelik kearah sahabat nya itu "Sabar yaa Cinta. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya". Zie mengelus pundak gadis itu.
Plakkkkkkkkkkkk
Gadis itu memukul kepala Zie dengan pelan.
"Awwww.. Kejam sekali sih pada sahabat sendiri". Protes nya mengusap kepalanya
"Habisnya kau itu bukannya kasihan malah meledek".
__ADS_1
Grabielle dan Kenino geleng-geleng kepala saja.
Bersambung.....