
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Brengsekkkk". Gama melempar barang-barang yang ada diruang kerjanya.
Setelah meeting dan makan siang bersama Grabielle dan Zie. Pria itu langsung pulang ke rumah dengan wajah merah padam.
"Mark". Teriak Gama.
"I-iya Tuan". Mark maju dengan keringat dingin.
"Panggil tua Bangka tidak tahu diri itu kesini. Bawa anak dan istrinya". Tintah Gama.
"B-baik Tuan". Mark keluar dari ruangan Gama.
Nafas Gama sudah memburu. Mengingat kemesraan Grabielle dan Zie membuatnya panas dan penuh amarah. Bagaimana bisa gadis pujaannya itu bermesraan dengan pria yang sebentar lagi akan bercerai dengannya.
"Awas kau Grabielle. Aku akan membunuhmu. Takkan kubiarkan kau memiliki Zie. Zie itu milikku. Aku yang mengenalnya lebih dulu. Dan kau hanya orang baru yang berani masuk kedalam hidup Zie".
Gama mengusar kepalanya frustasi. Habis sudah angan-angan nya hidup bersama Zie seolah hilang bak ditelan bumi. Rencana yang sudah ditata dengan rapih berada diujung kegagalan.
Mark masuk bersama John dan beberapa pengawal yang membawa John, Shiena dan Marissa secara paksa.
Brakkkkkkkkkkk
Mark dan para anak buah Gama mendorong ketiga orang itu berada tepat didepan Garra.
"Tuan". John berkeringat dingin dan dahinya berkeringat karena ketakutan
Gama menatap John dengan lapar. Seolah dia siap melahap daging pria itu.
"Kau tahu kan apa kesalahan mu?". Gama berjongkok menyamakan tingginya dengan John sambil mencengkram dagu pria itu.
"M-maaf Tuan saya tidak mengerti maksud anda". John berusaha melepaskan diri dari cengkraman Gama.
"Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?". Tatap Gama "Kau tahu tua Bangka kalau gadis ku dan Tuan Grabielle semakin mesra. Bukankah kau bilang, sebentar lagi mereka bercerai?".
"M-mereka memang akan bercerai Tuan". Sahut John.
"Pembohong". Bentak Gama "Kalau mereka ingin bercerai, kenapa malah terlihat mesra, hah?". Gama benar-benar marah dia sudah dipermainkan oleh John. Akan dia apakan pria ini?
__ADS_1
"Tuan bagaimana kalau kita bekerja sama saja". Tawar Shiena tersenyum licik.
"Aku tidak sudi bekerja sama dengan pelacur seperti mu". Tatap Gama melihat Shiena dengan jijik.
"Aku berikan kau kesempatan sekali lagi. Jika kali ini kau gagal bersiaplah, kalian bertiga akan merasakan kemarahanku". Ancam Gama.
Gama beralih pada Shiena. Pakaian yang dipakai Shiena seperti pakaian wanita malam saja. Kurang bahan aja serba pendek.
"Shiena. Shiena". Gama tersenyum licik "Kau pikir aku tidak tahu rencana busukmu?". Gama tersenyum meledek "Bersiaplah sayang menerima kehancuran dan jangan pernah bermimpi aku mau bekerja sama dengan wanita seperti mu apalagi menerima mu sebagai pengganti gadisku. Sampai kapan pun aku takkan sudi menyentuh ****** seperti mu". Bisik Gama
Tangan Shiena mengepal kuat.
"Jangan lupakan Gama. Kau pernah menjadi partner ranjangku". Ucap Shiena tanpa malu pada kedua orang tuanya.
Gama tertawa meledek "Itu dulu Shiena dan kau sudah bekas banyak pria termasuk Ayah mu bukan?". Ledek Gama.
"Ayah?". Gumam Marissa.
John dan Shiena sudah ketar-ketir. Jangan sampai Marissa tahu hubungan gelap mereka berdua. Bisa hancur semuanya. Dan Shiena tidak mau Ibu nya kecewa. John juga tidak mau berpisah dengan istrinya.
"Apa maksud nya?". Marissa menatap kedua orang itu secara bergantian.
Gama melirik John dan Shiena yang tampak berkeringat ketakutan. Dia meledek kedua orang tua dengan senyuman mengejek.
"B-baik Tu-tuan". John benar-benar takut pada Gama. Karena pria itu tidak memiliki toleransi apapun.
.
.
.
.
"Bagaimana Zeva?". Zean tampak tak tenang.
"Sabarlah sayang dan tenang". Luna mengenggam tangan suaminya.
"Aku baru tahu Paman jika Lala menjadi buronan banyak orang". Zevanya sambil mengotak-atik laptopnya. Kejeniusan Ibu tiga anak itu tidak mengurangi sama sekali.
__ADS_1
"Aku sudah membuat sistem keamanan yang ketat. Hanya saja Tuan Gama memiliki banyak jaringan dia pasti akan menemukan cara untuk merebut Lala dari pelukkan Bielle". Jelas Zevanya.
"Paman apa perlu kita bawa anggota kesini?". Sambung Myron. Kasihan juga jika Zie diburu banyak orang. Bisa gila nanti Grabielle.
Zean menggeleng "Tidak bisa Myron. Disini kita bukan siapa-siapa, kita hanya pendatang. Kau tahu kan kita harus buat izin agar bisa masuk ke Negara ini? Apalagi kita sudah tidak menjadi Mafia, akan sangat sulit untuk kita bisa mendeteksi keamanan Zie". Ujar Zie.
"Tidak perlu khawatir Paman. Aku sudah mengamankan semuanya. Aku juga sudah meretas semua sistem keamanan markas Tuan Gama dan memasang alat pelacak disana. Jadi kita bisa mengontrol pergerakan nya. Aku rasa saran Kak Myron ada benarnya juga Paman. Tujuan kita datang kesini bukan untuk berperang tapi melindungi Lala, jadi tidak salah bukan?". Ujar Zevanya panjang lebar.
Zean menyenderkan punggungnya tampak sedang berpikir kuat.
"Jika memang begitu. Lakukanlah". Zean sudah pasrah "Paman hanya takut jiwa Mafia Bielle kembali lagi. Dia bisa lebih menyeramkan dari Zehemia. Paman takut itu akan berpengaruh bagi banyak orang. Kalian tahu sendiri kan bagaimana kalau Bielle marah? Dia tidak peduli pada siapapun". Ucap Zean dengan nada beratnya.
Luna dan Myron hanya terdiam. Dalam hati mereka juga sebenarnya panik memikirkan Zie. Tidak habis pikir bagaimana bisa gadis sekecil Zie bisa jadi rebutan tiga pria sekaligus. Ini hanya Gama belum lagi nanti Garra, mungkin mereka harus ekstra menjaga keamanan.
Sementara Zevanya. Wanita jenius itu terlihat begitu serius dengan laptop dipangkuannya.
"Tunggu Paman".
"Ada apa sayang?". Myron duduk disamping istrinya.
"Aku yakin Lala ini bukan gadis sembarangan. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang asal usul Lala". Jelas Zevanya.
"Maksudmu?". Kening Zean berkerut.
"Masa lalu". Sahutnya sambil tangannya masih berselancar dengan bebas di stut keyboardnya laptop itu.
"Aku curiga kalau Tuan John sebenarnya bukan Ayah kandung Lala". Imbuhnya.
"Bukan Ayah kandung?". Beo ketiganya kompak.
Zevanya mengangguk "Semua harta yang dimiliki Tuan John adalah milik almarhum Ibu nya Lala. Mungkin disana ada misteri yang perlu kita pecahkan".
Ketiga orang itu tidak mengerti maksud Zevanya. Yang mereka tahu bahwa Zie adalah anak kandung John dan istri nya meninggal karena melahirkan Zie. Itulah sebabnya kenapa John begitu membenci Zie dan beranggapan gadis itu adalah gadis pembawa sial.
Bersambung....
Hai selamat malam semua... Maaf up nya kemalaman hehhe karena author sedang sibuk wkwkwk.
Jangan lupa buat selalu tungguin ceritanya Grab sama Zie.
__ADS_1
Kalian kangen gak sihh mereka berdebat lagi. Sama author juga, Hehhee
Tapi tenang aja gak usah khawatir kata Zie, ntar author bakal bikin part-part yang bakal buat kita guling-guling bersama. hehhe.