Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Ada apa?


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mobil Kenino berhenti disebuah restorant mewah. Untung saja Grabielle sedang sibuk dengan istrinya. Jadi Kenino bisa lebih bebas tanpa perintah Grabielle.


"Kau ingin pesan apa?". Kenino membolak-balik buku menu.


"Samakan saja Tuan". Sahut Hana sambil melirik penghujung yang tampak ramai. Restourant ini memang selalu ramai.


"Jangan panggil Tuan. Panggil saja Ken". Kenino menutup buku menu setelah menyebutkan pesanan mereka.


Hana mengangguk. Usia mereka terpaut cukup jauh. Jadi tidak salahnya jika Hana memanggil Kenino dengan panggilan nama saja.


"Kau tidak terlihat baik-baik saja. Jangan enggan bercerita". Ucap Kenino melihat ada yang tidak beres dimata Hana.


Hana menghela nafas panjang "Ternyata melepaskan itu sulitnya. Apalagi disaat kita masih cinta". Hanya tersenyum kecut


"Adam?". Tebak Kenino


Hana mengangguk "Dari awal orang tua kami memang tidak setuju. Hanya saja kami masih memaksa dan berharap ada keajaiban untuk hubungan ini. Nyatanya Adam menyerah ditengah jalan. Dia memilih pergi saat aku ingin sekali memulai semua nya". Jelas Hana.


Makanan pesanan keduannya. Diam-diam Kenino mengintip wajah Hana yang tampak terlihat sedih dan rapuh. Apakah putus cinta sesakit itu? Pikir Kenino.


"Makanlah". Ucap Kenino.


"Terima kasih Ken". Hanya memaksa senyum.


Mereka berdua makan. Tak ada obrolan yang terdengar hanya dentingan sendok yang saling bersahutan satu sama lain.


Makanan Hana rasanya tak bisa ditelan. Setiap kali mengingat wajah Adam dia semakin merindukan pria itu. Yang sakit dari putus cinta adalah terpaksa putus saat Mash cinta.


"Jangan melamun". Tegur Kenino.


Hana mengganguk dan memaksa kan senyum. Dia kembali melanjutkan makannya.


Hubungan yang berjalan selama tiga tahun itu bukan hubungan yang singkat. Banyak rencana dan cerita didalamnya. Banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan hanya sekedar kata-kata. Ada luka. Ada air mata. Ada kerinduan didalam dada.


Setelah makan siang, Hana ingin kembali ke kantor karena dia masih magang di perusahaan Gama. Berat sekali hatinya namun dia harus tetap berjalan dan hidup bukan?


"Kau yakin ingin kembali ke kantor? Atau sebaiknya istirahat saja". Ucap Kenino sambil menyetir mobil.


"Aku baik-baik saja Ken". Sahut Hana mencoba menutupi luka dihatinya.


Kenino mengangguk dia tidak berani lagi memaksa Hana. Seperti nya Hana benar-benar sedang patah hati berat karena terlihat dari wajah gadis itu yang tidak seperti biasanya. Patah hati memang tidak bercanda.


"Terima kasih Ken". Hana membuka sealbeat nya.


"Sama-sama". Sahut Kenino.

__ADS_1


Hana keluar dari mobil. Waktunya magang hanya tinggal satu bulan saja. Setelah ini dia akan berkutat dengan skripsi dan sidang nya. Semoga semuanya lancar dan dia bisa mencari pekerjaan serta hidup bebas tanpa kekangan dari kedua orangtuanya.


Kenino menatap punggung Hana yang masuk kedalam gedung perusahaan. Entah kenapa dia jadi disimpatik melihat Hana. Pasti sakit sekali ditinggal dalam keadaan sayang-sayangnya.


"Terbukti yang pacaran pun belum tentu berjodoh. Apalah dayaku yang jomblo ini". Gumam Kenino lalu menjalankan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan Gama


Kenino adalah pria dewasa yang belum pernah pacaran. Kesibukan nya dalam bekerja membuat nya tak sempat memikirkan pasangan hidup. Hidupnya hanya bekerja dan mengabdi pada Grabielle. Jangankan pacaran dekat dengan wanita saja tidak pernah.


.


.


.


.


Zie tersenyum lebar sambil menyiapkan makan siang suaminya. Dia akan ke kantor hari ini di antar oleh Gama.


Sebenarnya masa magangnya masih berlaku satu bulan lagi. Tapi karena Grabielle yang posessif diluar batas Negara itu membuat nya harus berhenti magang sebelum waktunya. Zie sudah setengah mati memikirkan nilainya dan Grabielle dengan gampang nya mengatakan bahwa dia bisa membantu. Karena tidak mau berdebat akhirnya Zie mengalah.


"Kau ingin ikut Kak Gama?". Ester melirik bekal ditangan Zie.


"Iya. Aku ingin makan siang bersama suamiku". Senyum Zie "Kau tidak ikut?". Tanya Zie.


Ester menggeleng "Kak Gama makan siang dirumah saja". Sahut Ester. Usia kandungan Ester memasuki bulan ketiga beda dua bulan dari Zie.


"Ya sudah aku berangkat yaaa".


"Iya Kak". Senyum Ester.


Zie meneteng rantang nasi ditangannya. Walau Grabielle melarang wanita itu mengantar makanan namun Zie bersikeras karena dia ingin selalu bersama suaminya.


.


.


.


.


"Tuan, tadi saya tidak sengaja melihat Tuan Gama memeluk Nona Zie saat di lobby". Lapor Kenino.


"Apa?". Pekik Grabielle. Hatinya sudah ketar-ketir


"Kau boleh keluar". Usirnya.


Grabielle duduk tak tenang. Awas saja nanti jika istrinya itu masuk kesini. Dia akan menghukum gadis. Itu berani-beraninya memeluk pria lain selain dirinya.

__ADS_1


"Kakak". Zie masuk dengan senyum sumringah.


"Aku bawakan makan siang untukmu". Senyumnya menatap sang suami.


Grabielle berdiri dengan wajah masam dan juga marah. Emosi pasti.


Grabielle menarik tangan Zie lalu mendudukan istri kecilnya di meja. Perut Zie sudah membuncit, usia kehamilan nya memasuki bulan kelima.


"Kenapa Kak?". Zie heran


"Tadi kau_".


"Kak bagaimana jika mulai sekarang aku memanggil mu Hubby saja. Kau kan suamiku Kak? Pasti terlihat manis". Wanita berambut pendek dengan poni yang bertengger itu menatap suaminya dengan wajah imutnya. Dia baru memotong rambutnya beberapa Minggu lalu, akibat kehamilan nya yang rewel.


"Tahan Bielle. Tahan Bielle. Jangan terpesona kau sedang marah". Batin pria itu berusaha menahan perasaan nya yang sudah ketar-ketir kesenangan


"Kenapa kau diam saja Bby? Kau tidak suka dengan nama panggilan itu?". Zie menatap suaminya heran sebab pria itu hanya terdiam.


"Tidak. Tadi kau_".


Cupppppppppp


Zie langsung mengecup bibir pria itu dengan sayang. Suami bule nya. Suami tua kesayangan nya.


Grabielle tak tahan. Perasaan emosi nya yang tadi menggebu-gebu seketika mereda saat istri kecilnya itu memberikan ciuman hangat apalagi nama panggilan baru.


Senyum diwajah pria itu mengembang.


"Terima kasih sayang". Dia menarik wanita itu kedalam pelukannya. Pokoknya dia sangat menyanyangi istri kecilnya ini.


"Terima kasih untuk apa Kak?". Sontak Grabielle melepaskan pelukan nya.


"Tadi katanya mau panggil Hubby. Kenapa panggil Kakak lagi?". Protesnya


"Hehehe maaf Bby, aku lupa". Zie cenggesan saat sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudah makan siang belum?". Grabielle menyelipkan anak rambut istri nya


Sesuai dengan namanya istri kecil, tubuh Zie memang kecil. Padahal jika ukuran orang Indonesia tubuh Zie termasuk ideal dan normal. Tapi Grabielle yang bule itu lah yang terlalu tinggi dan besar.


"Belum Bby. Kan aku ingin makan siang dengan suami tampanku ini". Zie mencolek dagu suaminya.


"Jangan menggodaku sayang. Aku belum boleh menyentuhmu". Grabielle setengah mati menahan sesuatu yang sesak didalam celananya itu.


Zie tertawa lebar "Ya sudah ayo kita makan". Ajak Zie hendak turun.


"Jangan. Biar aku gendong. Kau tidak boleh lelah".

__ADS_1


Grabielle langsung menggendong istri kecil nya itu menuju soffa. Tangan munggil Zie melingkar di leher suaminya.


Bersambung ............


__ADS_2