
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seorang pria paruh baya menatap keluar jendela ruangannya. Menyaksikan kepadatan kota Jakarta yang terlihat begitu sempit.
Pria bermata sipit itu, masih terlihat tampan diusianya yang hampir kepala lima. Bercerai dengan istrinya. Adalah pilihan nya. Dari pada bertahan tapi tidak saling mencintai. Namun tanpa dia sadari, dia malah menumbuhkan luka dihati putra tunggal nya itu.
"Maafkan Daddy Gama". Gumamnya.
Pertemuan dengan putranya kemarin seolah menyeruak luka lama dihatinya. Dia tidak marah saat putranya mengatakan membenci dirinya. Dia memang sudah gagal menjadi seorang Ayah.
Harusnya dia dapat menyajikan kehidupan yang baik untuk putranya namun justru kepatahhatian lah yang dia persembahkan untuk putranya itu.
"Permisi Tuan".
"Ada apa?". Tanyanya tanpa berbalik badan dan masih setia menatap gedung-gedung pencakar langit yang tampak mencolok.
"Saya sudah mendapatkan informasi dimana putri anda Tuan".
Pria itu langsung menatap sang asisten "Katakan, dimana dia Nus. Bawa aku pergi menemuinya". Ucapnya tak sabar dan juga bahagia.
"Maaf Tuan, sebelum nya ada banyak hal yang harus anda ketahui". Ucap sang asisten lagi.
"Apa? Cepat katakan Nus. Aku tidak sabar bertemu putriku. Sembilan belas tahun aku menantikan kehadiran nya". Tanpa sadar air mata pria itu menetes beriringan dengan perkataan nya.
"Tuan, menurut penyelidikkan anak buah kita Tuan John yang membunuh Nyonya Allena".
"Apa?". Pekik nya terkejut.
"Benar Tuan. Tuan John tahu kalau anak yang dikandung Nyonya Allena adalah anak anda. Setelah kematian Nyonya Allena, Tuan John sengaja menyiksa putri anda dengan mengatakan bahwa Putri anda pembawa sial. Tuan John juga sempat menjodohkan Putri anda dengan Tuan Muda Gama".
"Gama putraku?". Potongnya.
"Iya Tuan". Sahut panus.
"Lanjutkan....".
"Namun Nona kabur dihari pernikahan mereka dan Tuan Garra yang membantu Nona kabur. Tuan Garra mencintai Nona sehingga dia memberi ide kepada Nona agar kabur dihari pernikahan nya".
__ADS_1
"Garra putra Shiangli?". Tanyanya balik.
"Iya Tuan. Kakak tiri Nona". Sahut Panus "Tapi menurut orang suruhan kita sebenarnya Tuan Garra tidak mencintai Nona. Dia hanya menjadikan Nona sebagai korban balas dendam. Karena Tuan Garra beranggapan gara-gara John kedua orangtuanya bercerai. Nona tidak tahu jika Tuan Garra ingin memisahkan nya dengan suaminya". Jelas Panus.
"Suami? Putriku sudah menikah?". Setengah tak percaya. Gadis berusia sembilan belas tahun sudah menikah.
"Iya Tuan. Dan suami Nona adalah Grabielle Ranlet Flint, cucu dari Samuel Ranlet Flint, pemilik perusahaan IT terbesar didunia. Putra kedua dari Zean Ranlet Flint dan Luna Alexander, Tuan. Tuan Grabielle juga mantan ketua Mafia Black Glorified". Jelas Panus dengan iPad ditangannya
"Jadi putriku menikah dengan cucu Sam?". Pria itu menggeleng tak percaya "Bagaimana bisa Panus? Black Glorified itu bahaya. Mereka banyak munsuh. Bagaimana jika putriku menjadi incaran mereka?". Pria itu mengusap wajahnya kasar. Tidak tenang dan takut tentunya.
"Nona memang menjadi incaran Tuan. Tuan Gama dan Tuan Garra mengincar Nona dan berebut untuk mendapatkan Nona, Tuan". Jelas Panus lagi.
"Bagaimana bisa Panus? Putriku dan Gama adalah saudara sedarah walau beda Ibu". Ucapnya tak habis pikir.
"Gama harus tahu bahwa yang dia kejar adalah adiknya. Aku takut Gama berbuat nekad. Gama itu berambisi. Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Aku khawatir dia menyakiti adiknya Nus. Meski aku tahu akan sangat sulit untuknya menerima keberadaan putriku". Pria itu tampak gelisah. Wajahnya menunjukkan ketidaktenangan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Tuan?".
"Ajukkan kerja sama dengan Grabielle. Aku ingin bertemu putriku meski pun dengan cara seperti itu". Tintah nya.
"Baik Tuan". Sahut Panus.
"Iya Tuan, Tuan Garra sudah berada di Indonesia. Dia dibantu oleh Tuan Adam, Nona Hana dan Nona Ester, sahabat Nona". Jelas Panus lagi.
"Jadi mereka bekerja sama untuk mengambil putriku?". Tangannya terkepal begitu kuat
"Iya Tuan".
"Baik kau boleh keluar. Aku sedang ingin sendiri".
Pria itu menyenderkan punggungnya dikursi kebesaran nya. Dia sangat rapuh dan juga menyesal atas segala perbuatannya.
"Maafkan aku Allena. Harusnya aku menjadi pelindung putri kita. Tapi sekarang putri kita hidup dalam bahaya dan dia sengsara disiksa oleh pria bajingan itu". Lirihnya memeluk foto ditangannya.
.
.
__ADS_1
.
.
Gama tersenyum smirk saat mendapat celah untuk mendekati Zie. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Gadis itu harus jadi miliknya.
"Maaf Tuan, Tuan Garra sudah kembali". Lapor Mark.
"Biarkan saja Mark. Dia tidak akan bisa melawan Grabielle. Setelah dia dikalahkan oleh Grabielle maka aku akan maju dan merebut Zie lalu membawa gadis itu pergi". Ucapnya penuh keyakinan. Seolah rencananya sudah berjalan dengan lancar.
"Kita berangkat Mark". Gama berdiri dari duduknya.
"Baik Tuan".
Mark mengekor dari belakang. Asisten yang menemani Gama selama belasan tahun itu selalu setia dan punya ide membantu Gama menyelesaikan setiap masalahnya.
Mobil Mark terhenti didepan Mall. Karena Gama tahu jika Zie sedang berada di Mall bersama Kakak iparnya, Zevanya. Entah apa yang dilakukan oleh dua wanita itu.
Langkah kaki Gama terlihat lebar. Dia tidak peduli dengan tatapan damba para wanita padanya. Dia hanya ingin bertemu Zie.
"Kak ini bagaimana?".
Tampak Zie dan Zevanya tengah asyik memilih-milih baju ditangan mereka.
"Cocok. Warnanya kontraks dengan kulitmu". Sahut Zevanya.
"Kira-kira Tuan Teh Celup suka tidak ya baju seperti ini?". Gumam Zie.
Zevanya terkekeh saat Zie menyebut suaminya Tuan Teh Celup. Unik tapi manis. Dan Zevanya suka sekali melihat wajah Grabielle yang ditekuk kesal saat dipanggil Tuan Teh Celup oleh istrinya sendiri.
"Zie".
Zie dan Zevanya kompak menoleh kearah suara. Kedua wanita itu berpakaian sederhana namun cantik. Meski dinikahi oleh kolongmerat namun keduanya tak seperti wanita pada umumnya yang suka mamerkan kekayaan suami mereka.
"Tuan Gam-gam". Gumam Zie terkejut melihat Gama dan Mark yang berjalan kearah mereka.
Zevanya menatap Gama dari ujung kaki sampai ujung rambut. Bagaimana reaksi Gama saat tahu jika Zie adalah adiknya? Apakah akan marah? Apakah bahagia? Atau malah kecewa?
__ADS_1
Bersambung...