
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ehem".
Grabielle melipat kedua tangannya didada. Menatap punggung Zie yang masih segugukan menangis.
Zie berbalik "Hiks Tuan". Renggeknya manja.
Grabielle menghampiri gadis itu heran. Apa gadis ini tidak malu menangis didepannya? Dasar cenggeng, pikir pria itu.
"Kau kenapa? Dasar cenggeng". Cibir pria itu
"Hiks Tuan". Zie menunjukkan tangannya yang terkena air panas lagi. Gadis ini benar-benar ceroboh.
"Dasar ceroboh. Begini saja bisa kena air". Cibirnya mengambil tangan gadis itu "Tanganmu melepuh lagi". Grabielle menggeleng. Zie selalu tidak memperhatikan keselamatan nya "Duduk. Jangan kemana-mana". Tintahnya.
Zie menurut dan duduk. Tangannya sudah merah, akibat terkena tumpahan air panas saat dia hendak membuat susu. Karena asyik melamun gadis itu tidak sadar jika gelasnya penuh dan menumpahi tangannya.
Grabielle datang dengan membawa kotak P3K. Dia terus mengomeli gadis itu dan mengatakan gadis itu ceroboh. Tidak bisa kerja bagus-bagus.
"Mana tanganmu". Grabielle menggeser kursi nya dan duduk disamping gadis itu
"Hiks pelan-pelan Tuan sakit". Renggek Zie manja. Dia teringat lagi pada Garra.
"Cih, dasar cenggeng. Diam aku akan mengobatimu". Ketus Grabielle "Kerja itu hati-hati jangan sambil mikirin hutang. Kalau dipikirin tidak dibayar, sampai kau guling-guling jungkirbalik juga tidak akan lunas". Omelnya "Kau itu benar-benar ceroboh". Grabielle terus mengomel sambil mengobati tangan Zie.
"Hiks Tuan. Bisa tidak jangan mengomel terus. Kau membuat perutku sakit saja". Celoteh Zie.
"Tidak ada hubungan nya dengan perut". Ketus Grabielle.
Baik Grabielle atau pun Zie tidak ada yang sadar posisi mereka. Grabielle yang berusaha menutupi wajah paniknya pun tak akhirnya tak bisa berbohong. Tidak tahu kenapa dia sedikit terganggu dengan air mata gadis itu. Tidak suka saja melihat Zie yang menangi seperti itu. Membuatnya emosi saja.
Kenino turun dan hendak menuju dapur. Asisten itu memang memiliki kebiasaan bangun pagi sebelum Tuan-nya. Dia akan menyiapkan keperluan kerja Grabielle seperti biasa.
Langkah kaki Kenino terhenti saat melihat permandangan tak terduga dimeja makan.
Grabielle yang mengobati tangan Zie. Sedangkan Zie terisak menangis, permandangan manis.
"Semoga Tuan bisa mencintai Nona Zie, dan bertobat. Mereka cocok dan manis. Aku yakin suatu saat mereka akan saling jatuh cinta. Meski harus bayar denda". Kenino terkekeh menggeleng.
"Pagi Tuan. Pagi Nona".
Sapa Kenino menghampiri kedua orang itu sambil tersenyum hangat. Tatapan Kenino pada tangan Grabielle yang masih memegang tangan Zie sambil mengoleskan salep ditangan gadis itu.
__ADS_1
"Pagi Kak Nino". Balas Zie.
"Ehem, romantis sekali calon pengantin ini". Singgung Kenino sambil menahan tawanya.
Mereka berdua saling melihat, lalu keduanya kompak melihat tangan mereka yang saling memegang.
"Kenapa kau pegang-pegang". Sontak Grabielle berdiri dan melepaskan tangan gadis itu.
"Cih siapa juga yang pegang-pegang? Tuan yang pegang tangan saya duluan". Ucap Zie juga berdiri
"Ck, mana mungkin aku memegang tangan anak kecil seperti mu". Kilah Grabielle menyembunyikan kegugupannya.
"Aku juga tidak sudi dipegang oleh pria yang sudah sering memegang anu wanita lain". Gadis itu tak mau kalah.
"Dasar cenggeng".
"Dasar gengsian".
Keduanya saling melempar tatapan membunuh.
Grabielle melengang pergi ke kamarnya. Zie juga melenggang pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
Mereka berdua saling mencibir, sebelum akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing.
Apalagi kedua memiliki kepribadian yang jauh sekali berbeda.
Grabielle pria dewasa, kadang bersikap lembut kadang juga kasar. Kadang wajahnya tidak bisa ditebak dan dingin seperti tak tersentuh.
Zie gadis polos yang hobby nya membuat onar. Ucapannya yang polos dan spontan selalu membuat Grabielle naik darah.
Kenino tertawa membayangkan pernikahan mereka. Dia jadi tidak sabar menikahkan kedua orang itu.
"Laki-laki nya dingin dan jutek, hobby nya marah-marah. Wanita nya acuh dan ceroboh, hobby nya membuat orang kesal. Indahnya kerusuhan. Aku jadi tidak sabar menantikan itu". Dia tertawa sendiri seperti orang gila membayangkan pernikahan Grabielle dan Zie yang unik itu.
.
.
.
.
Grabielle menatap dirinya dipantulan cermin. Dia menyisir rambut nya kebelakang. Tak lupa jas mahal membungkus tubuh kekarnya.
__ADS_1
"Dasar cenggeng begitu saja nangis". Tanpa sadar sudut bibir pria itu tertarik "Lihatlah nanti. Aku akan buat kau jatuh cinta padaku. Aku akan menghamili mu dan setelah itu aku akan meninggalkan mu. Itu adalah akibat kau sering membuatku kesal". Dia mencebik sendiri. Wajahnya tampak kesal mengingat Zie.
"Tidak. Tidak. Tidak". Pria itu menggeleng ketika bayangan Zie menangis terus terekam dikepalanya "Dasar gadis aneh. Pembuat onar. Suka bikin kesal. Kenapa gadis itu bisa hadir dihidupku? Membuat kepala ku pusing saja. Lihat saja nanti, akan kubuat dia seperti tinggal di neraka". Grabielle tersenyum licik sambil memasang jam ditangannya.
Pria itu keluar dari kamarnya. Sepatu mahal melekat dikaki jenjangnya. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celana kanan dan kirinya. Wajahnya sangat tampan, apalagi bulu-bulu halus diwajahnya menambah kesan tampan yang luar biasa
Dimeja makan. Zie sudah melayani Kenino mengoles roti untuk aissten Tuan-nya itu.
"Selamat pagi Tuan". Sapa Kenino bangun dan menarik kursi untuk Grabielle
"Ehem". Pria itu merespon dengan deheman.
Grabielle menatap Zie yang tidak menyapanya. Biasanya gadis itu selalu saja menyapanya dengan senyuman. Tapi kenapa pagi ini wajahnya tampak kesal.
"Kenapa kau tidak menyapaku?". Grabielle menatap Zie tajam.
Zie menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menatap Tuan-nya itu dan memaksa kan senyum
"Selamat pagi Calon Suami, ehhh salah Tuan Grab". Zie menepuk bibir nya yang salah ucapkan.
Grabielle memutar bola matanya malas "Jangan harap aku mau jadi suami mu". Ucap pria itu tegas. Tapi hatinya menghangat saat Zie memanggilnya calon suami entah kenapa ada rasa senang dihati Cassanova itu.
"Sekedar berharap boleh Tuan. Siapa tahu anda juga berharap". Zie tersenyum tanpa dosa.
Grabielle tak menanggapi lagi. Dia sarapan tanpa berbicara apapun. Zie juga ikut sarapan, karena Kenino meminta Zie agar ikut sarapan bersama mereka.
Grabielle dan Zie masih saling melempar tatapan tak suka. Kesal, jelas kesal. Kalau berbicara dengan Kenino gadis itu ramah bukan main tapi saat berbicara dengannya selalu ketus dan membuat kesal.
Setelah sarapan Grabielle dan Kenino segera berangkat.
Grabielle lagi-lagi mendengus kesal. Karena Zie yang ditunggu belum juga keluar dari Apartement, entah apa yang dilakukan gadis itu.
"Kemana gadis aneh itu Ken?". Grabielle sudah gelisah.
"Mungkin Nona sedang bersiap-siap Tuan". Sahut Kenino asal "Atau kita duluan saja Tuan?". Saran Kenino.
"Tidak". Tolak Grabielle "Tunggu saja dia. Aku punya hukuman untuknya". Ucap Grabielle berasalan. Padahal alasan nya yang ingin berangkat bersama Zie.
Sudut bibir Kenino tertarik. Grabielle mulai menunjukkan simpatinya pada Zie. Lama-lama tumbuh benih-benih cinta dan jatuh cinta, bersiaplah Grabielle akan membayar denda satu triliun pada Zie. Kenino benar-benar tak sabar membuat Grabielle bucin tingkat dewa.
Bersambung....
Tuan Grab tidak tahu saja rencana nya author wkwkwkwk.
__ADS_1