Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie melangkah masuk kedalam Apartement nya. Seharian ini setelah jam makan siang dia izin keluar bersama Ester mengurus surat perceraian nya.


Langkah kaki gadis itu terhenti. Dia menatap kosong bangunan mewah itu.


"Tempat ini terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan. Semoga Tuan Teh Celup bahagia setelah berpisah dariku. Apalagi dia memiliki banyak wanita cantik. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis aneh seperti ku?". Zie geleng-geleng kepala sambil tersenyum getir.


"Ahhh sial, kenapa aku harus jatuh cinta pada Tuan Teh Celup itu. Hufffffft". Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan "Aku sudah menghubungi Ayah kalau aku akan berpisah dengan Tuan Teh Celup besok aku akan pindah dan tinggal bersama Ester. Minggu depan sidang perceraian, ahhh tidak terasa akhirnya kembali sendiri lagi". Gadis itu masih terus bergumam dengan dirinya sendiri.


Zie menatap amplop berwarna putih yang ada ditangannya. Amplop berlogo pengadilan agama itu cukup membuat hatinya tak baik-baik saja.


"Enam puluh satu tahun nya gagal". Zie menyeka air matanya bibir nya bergetar menahan tangis "Ehhh tapi apa iya aku jatuh cinta pada Tuan Teh Celup? Kalau jatuh cinta kan harus bayar satu triliun, alah lagian mau pisah juga. Sudah lah simpan saja rasamu Zie. Dia tidak akan pernah mencintai gadis aneh seperti mu". Serunya. Zie memasukkan amplop itu kedalam tasnya.


Gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam. Ini sudah malam pukul tujuh malam. Dan suami nya itu tidak berniat untuk mencari apalagi menunggunya didepan Apartement.


Zie pikir apa yang perlu diharapkan dari pernikahan diatas kertas ini. Berharap diperhatikan nyatanya itu hanya harapan semu. Benar kata orang jangan pernah berharap pada manusia.


"Selamat malam Nona". Sapa para pelayan.


"Malam Bi". Gadis itu tersenyum simpul.


"Mari Nona masuk anda sudah tunggu Tuan Besar dan Nyonya Besar?". Ucap Bik Almi salah satu kepala pelayan disini.


Kening Zie berkerut "Tuan Besar. Nyonya Besar?". Gumam gadis itu pelan.


"Iya Nona. Kedua orangtua Tuan baru datang dari Amerika".


Zie terkejut, kenapa kedua orangtua Grabielle bisa datang kesini? Itu artinya mereka akan berakting mesra. Tidak mungkin Zie membahas perceraian nya disaat kedua orangtuanya masih ada.


"Ohhh iya Bi". Gadis itu tampak gugup.


Zie melangkah menuju ruang tamu. Apartement ini memang mewah dan besar sehingga tak heran jika Grabielle memperkerjakan sepuluh pelayan sekaligus.


"Sayang, kau baru pulang?". Grabielle menyambut istrinya dengan simpul.


"Iya". Zie menampilkan rentetan gigi putihnya


"Hai Ibu Mertua. Ayah Mertua". Zie menyalimi kedua pasang paruh baya itu.


Zean dan Luna untuk sesaat tertegun. Hati mereka bergejolak ketika Zie mencium punggung tangan mereka. Maklum tinggal di Amerika tidak sama dengan Indonesia.


Zean menatap kagum wajah menantu kesayangan nya. Zie lebih cantik dari yang dia lihat di foto mau pun divideo call waktu itu. Gadis ini masih sangat muda.


"Hai sayang". Luna memberikan pelukan hangat pada Zie "Kau cantik sekali". Sambil mengelus rambut panjang Zie.

__ADS_1


Zie merasakan hangat. Sejak lahir dia tidak pernah merasakan pelukan seorang Ibu. Bahkan Zie saja tidak tahu bagaimana wajah Ibu nya.


"Terima kasih Ibu. Zie memang cantik dari lahir". Seru nya kepercayaan dirinya tinggi melebihi Monas.


Zean dan Luna terkekeh geli. Benar saja gadis ini kembaran Zevanya. Tidak hanya cantik dan berisik tapi juga percaya diri.


"Kau cantik sekali Zie". Puji Zean.


"Terima kasih Ayah Mertua". Dipuji cantik tentu saja senang.


Grabielle mendengus kesal melihat Zean kegenitan pada istri kecilnya. Sudah tua juga masih genat-genit.


"Sayang kau pasti capek. Ganti baju dulu ya?". Grabielle merangkul bahu gadis itu.


Zie risih sendiri dan jantungnya tidak bisa bekerja sama.


"Ehem, iya Kak". Senyum Zie manis sekali seperti kecap.


"Ya sudah Nak, kau mandi dulu ya. Kita makan malam bersama". Senyum Luna.


"Iya Ibu Mertua". Sahut Zie


"Dad, Mom. Aku mau menemani istriku dulu. Kalian mengobrol lah dengan Ken". Ujar Grabielle.


"Iya Son. Tidak apa-apa. Urus lah istrimu". Ucap Zean tersenyum simpul.


"Tid_".


Belum sempat Zie menolak Grabielle sudah mengangkat tubuh gadis itu. Tubuh kecil Zie seketika.


"Kak". Sontak Zie memeluk leher suaminya kalau tidak dia benar-benar bisa melayang.


"Diam sayang, ayo kita mandi". Grabielle tersenyum jahil.


Zean dan Luna tersenyum gemes melihat pasangan itu. Meski mereka tahu kedua orang itu sedang berakting.


Sementara Kenino hanya bisa menggelengkan kepala gemes juga. Grabielle dan Zie sebenarnya saling cinta hanya saja masih gengsi mengakui perasaan masing-masing.


Apalagi Grabielle seharian ini pekerjaan nya hanya membututi Zie dan Ester. Pria itu mengamuk saat Zie pergi ke kantor pengadilan. Apakah istrinya benar-benar ingin berpisah dengannya? Sungguh keterlaluan gadis itu.


"Tuan lepaskan". Zie memberontak "Jangan ambil kesempatan dalam kesimpulan". Gerutu Zie.


"Kesempitan". Ralat Grabielle.


"Masuk ke kamarku". Tintah Grabielle.

__ADS_1


"Tidak mau. Saya punya kamar". Tolak Zie sambil melipat kedua tangannya didada.


"Jangan membantah Zie. Aku sudah memindahkan barang-barang mu ke kamarku. Kalau kita pisah kamar Daddy dan Mommy akan curiga. Kau mau mereka tahu". Jelas Grabielle sabar meski sebenarnya emosi nya sudah ke ubun-ubun, apalagi saat tahu istrinya dari kantor pengadilan.


Zie mendengus kesal. Jika bukan karena hutang nya masih banyak dia akan menolak dengan sangat.


"Iya". Ketus gadis itu melangkah masuk ke kamar Grabielle.


Grabielle tersenyum tipis dan gemes. Suka sekali melihat gadis itu kesal. Menggemaskan.


"Mandilah. Aku akan menunggumu". Grabielle duduk soffa.


"Duluan saja. Jangan tunggu saya". Ketusnya.


"Cepat jangan membantah. Atau kau mau aku mandikan". Grabielle mendekat kearah gadis itu.


"Ishhhh, jauh-jauh. Saya bisa sendiri". Zie menyambar handuk nya lalu berlari ke kamar mandi.


Grabielle tertawa terbahak-bahak. Gadis ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Jadi pengen gigit pipi Zie.


"Aku tidak akan melepaskan mu gadis aneh. Tidak akan pernah. Kau milikku. Takkan kubiarkan Gama atau Garra merebut mu dari pelukkan ku". Gumam Grabielle.


Zie mengintip suaminya. Dia hanya memakai handuk yang terlilit sampai dada. Rambutnya dia gulung dengan handuk. Gadis itu merutuki kebodohan nya yang lupa membawa baju ganti.


Gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi dengan mengendap-endap.


"Apa yang kau lakukan?". Tanya Grabielle heran.


"Tuan, kenapa kau masih disini?". Sontak Zie menutupi dadanya.


Grabielle membeku menatap Zie. Handuk yang terlilit sampai dada. Rambut nya digulung hingga leher jenjang itu terlihat begitu menggoda.


Pikiran mesum Grabielle sudah berkelana kemana-mana. Dia membayangkan mengecup leher putih ini meninggalkan jejak kepemilikan disana.


Apalagi paha mulus Zie. Sontak saja juniornya bangun. Padahal biasanya Grabielle butuh pemanasan baru si juniornya akan bangun. Tapi kali ini hanya melihat paha Zie saja, juniornya sudah terasa sesak didalam sana.


"Dasar mesum". Zie melempar bantal kearah Grabielle.


"Hei kau apa-apaan?". Grabielle menghindar.


"Ihhhhhhhh". Zie menghentakkan kaki nya kesal sambil menuju walk in closet.


Benar saja pakaian gadis itu sudah tertata rapih disana. Dan ini adalah pakaian barunya.


"Tuan, kenapa ini baru semua?". Protes Zie "Dikamarku pakaian masih bagus-bagus". Gadis itu mencebik kesal.

__ADS_1


"Cepat pakai gadis aneh, jangan lama-lama. Aku sudah lapar". Grabielle mulai jenggah.


Bersambung.....


__ADS_2