
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Apa perlu ku antar Cinta?". Tanya Ester. Mereka berjalan keluar dari gerbang kampus.
"Aku tidak ada uang recehan cinta". Sahut Zie
"Untuk apa uang recehan Zie?". Sambung Adam bingung.
Zie menampilkan rentetan gigi putihnya "Buat bayar ojek". Senyumnya.
"Ck, kau pikir aku tukang ojek?". Ester mencebik kesal.
"Biasanya kau suka minta ongkos kan?". Singgung Zie "Ya karena mumpung suamiku kaya, yang kekayaan nya tidak akan habis sampai tujuh turunan, delapan tanjakkan dan sembilan belok-belok. Maka dengan itu aku menerima tawaran mu Cinta". Zie mengedip-ngedipkan matanya
"Aku masih normal Zie". Ester bergidik ngeri.
"Yang bilang kau gila siapa Ester?". Zie ngakak lagi.
Adam dan Hana hanya menggeleng kepala. Zie dan Ester kalah bertemu memang suka jahil seperti itu. Tidak heran jika mereka dijuluki, duo berisik.
"Atau pulang dengan kami saja Zie?". Tawar Adam.
"Tidak Kak". Tolak Zie "Kalian pulanglah duluan. Biar aku dengan si perusuh yang satu ini saja". Ucap Zie.
"Kau yang perusuh Zie, jangan menuduh dehh". Protes Ester.
"Terima saja lah Ester. Kau memang perusuh kan?". Ledek Zie.
"Zie".
Obrolan keempat orang itu terbuyarkan saat mendengar ada yang memanggil nama Zie.
"Ibu". Gumam Zie.
Wajah Adam, Hana dan Ester seketika berubah melihat Marissa, Ibu tiri Zie.
"Zie". Wanita itu langsung memeluk Zie, seolah benar-benar merindukan gadis ini.
"Zie, hiks Ibu merindukan mu Nak. Kemana saja kau selama ini?". Isaknya.
"Bu". Zie melepaskan pelukan Marissa "Ada apa Ibu menemui ku?". Tanyanya menatap Marissa. Ibu sambung nya ini tidak pernah menyanyangi nya tapi Zie sungguh menghormati Marissa.
"Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu Nak". Sahut Marissa sendu
"Bicara apa Bu?". Zie memincingkan matanya curiga. Tak pernah orangtua ini baik padanya kalau tidak ada mau nya.
__ADS_1
"Ibu akan ceritakan tapi tidak disini". Ucap Marissa.
"Ester, Kak Adam, Kak Hana. Kalian pulang duluan saja. Aku ingin bicara dengan Ibu". Ucap Zie menatap ketiga sahabat nya.
"Tapi_".
"Tidak perlu khawatir. Nanti aku langsung pulang kok". Ujar Zie tersenyum.
Marissa mengajak Zie masuk kedalam mobilnya. Dia ingin berbicara empat mata dan merayu Zie untuk kepentingan nya sendiri.
Sampai dicaffe yang tidak jauh dari kampus Zie mereka berdua turun dan masuk kedalam caffe.
"Apa yang ingin Ibu bicarakan padaku?". Tanya Zie menatap Marissa.
"Zie". Marissa mengenggam tangan Zie yang terletak diatas meja "Ibu tidak tahu harus memulai dari mana untuk berbicara denganmu. Tapi saat ini keadaan tidak bisa diajak bekerjasama. Tuan Gama ingin kau menikah dengannya. Jika tidak, Ayah mu akan dipenjara seumur hidup".
Zie terkejut "Ibu serius?". Tanya Zie.
Marissa mengangguk "Zie, bukan Ibu memaksa. Tapi tolong Ayah mu. Tinggalkan suamimu dan menikahlah dengan Tuan Gama. Maka dengan begitu, Ayah mu akan terbebas dari hukuman". Sambung Marissa memasang wajah sendunya.
"Bu, kenapa harus aku? Yang berhutang kan Ayah kenapa harus aku yang lunasi. Aku bukan uang Bu, yang bisa digunakan untuk melunasi hutang". Sahut Zie setengah kesal.
Marissa menahan nafas nya yang mulai emosi. Tidak. Dia tidak boleh keras. Zie ini gadis berbeda.
"Hiks, tapi hanya kau yang bisa menolong Ayah mu Zie". Sahut Marissa pura-pura menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.
Marissa mengepalkan tangannya kuat. Namun wanita itu masih berusaha menahan emosinya.
"Zie". Lirih Marissa "Tinggalkan suamimu dan menikahlah dengan Tuan Gama. Atau kau akan kehilangan Ayah dan Ibu untuk selamanya".
Deg
Kenapa dia harus disuruh memilih seperti ini? Bagaimana bisa dia meninggalkan Grabielle? Zie sudah mencintai suaminya itu. Jangan kan meninggalkan berpisah beberapa menit saja dia serasa dirudu rindu.
"Pikirkan sekali lagi Zie. Nasib kami ada ditanganmu". Ucap Marissa "Jika kau tidak juga menikah dengan Tuan Gama. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu". Imbuh Marissa.
"Bu".
Lidah Zie terasa kelu. Bagaimana pun jahat nya kedua orangtuanya Zie tetap menyanyangi mereka.
"Ibu tidak memaksa Zie. Ibu hanya meminta mu mengasihi kami". Ucap Marissa
Marissa berdiri dari duduknya. Dia menyeka airnya yang jatuh. Entah air mata sungguhan atau hanya air mata palsu nya untuk mengelabui Zie.
"Ibu pamit. Semoga kau bisa menolong kami".
__ADS_1
Lalu Marissa melenggang pergi meninggalkan Zie yang masih duduk ditempatnya.
Gadis itu tetap terlihat santai. Dia menyenderkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya didada. Seolah sedang berpikir keras.
"Ini seperti dunia sinetron saja". Gadis itu menggeleng "Saat susah mereka datang meminta bantuanku. Dulu saja aku dianiaya". Ucap Zie "Tapi kalau Ayah mati duluan, aku pasti digentanyangin gara-gara tidak bayar hutangnya. Bagaimana ini?". Gadis itu berceloteh sendiri seperti orang gila.
"Apa iya aku harus tinggalkan Asset Negara itu?". Bibir nya mengerecut "Tapi aku mencintainya. Bagaimana bisa aku meninggalkan suamiku sendiri?". Gumamnya
Zie meraba tasnya lalu mellengang pergi meninggalkan caffe.
Langkah kaki gadis itu terlihat pelan. Pikirannya dilema.
"Ck, susah juga jadi orang cantik. Selalu jadi rebutan". Dia cekikikan sendiri
"Tuan Gama memang tampan, kaya tapi kenapa aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya?". Gumamnya
Sebuah mobil berhenti disamping Zie. Kening gadis itu berkerut heran.
"Nona". Kenino keluar dari mobil dengan wajah paniknya.
"Ehhh Kak Nino". Seru Zie "Kak Nino ganti mobil? Kemana Asset Negara ku, Kak?". Zie tidak melihat suaminya didalam mobil.
"Nona, sebaiknya anda masuk kedalam mobil". Kenino membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa.
"Kak kenapa sih? Kok wajah Kakak panik seperti itu?". Tanya Zie heran masih belum masuk kedalam mobil.
"Anda masuk saja Nona. Nanti saya jelaskan". Ujar Kenino setengah memaksa.
"Iya Kak". Gadis itu menurut dan masuk kedalam mobil.
"Kak sejak kapan Kakak ganti mobil?". Zie menelisik mobil mewah yang dikendarai Kenino "Mewah sekali Kak. Wahh suamiku itu benar-benar kaya yaa? Sayang sekali Asset Negara seperti nya harus dibuang". Gadis itu cekikikan sendiri.
Namun Kenino yang menyetir didepan hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Dia seperti robot yang tidak bergerak hanya menyetir mobil saja dengan tenang.
"Kak". Panggil Zie.
"Ada apa Nona?". Tanpa melihat Zie.
Zie sedikit bingung. Biasanya Kenino ini orang yang ramah dan selalu sopan padanya. Tapi kenapa kali ini Kenino terlihat berbeda.
"Kak dimana suamiku? Apa dia sudah makan siang Kak?". Tanya Zie dia mengintip wajah Kenino yang terlihat dingin dari biasanya.
Namun Kenino tak menjawab. Pria itu malah terus melajukan mobilnya.
"Kak, ini kan bukan jalan Apartement Kak?". Tanya Zie mulai panik "Kak kau mau bawa aku kemana?".
__ADS_1
Hingga mobil Kenino berhenti disebuah rumah mewah yang tentunya bukan Apartement Grabielle.
Bersambung...