
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Gama membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Akibat minum terlalu banyak dia malah mabuk. Dia juga tadi menolak saat ditawarkan wanita malam menemaninya. Entah kenapa dia tidak nafsu lagi bersama wanita-wanita malam itu.
"Aku dimana?". Lirihnya membuka matanya pelan.
Mata Gama membulat sempurna saat menyadari dirinya masih berada dimobil.
"Astaga apa yang terjadi?". Dia terkejut melihat dirinya yang tanpa memakai sehelai benang pun.
Mata Gama kembali membulat saat melihat bercak darah di bangku penumpang sampingnya.
"Ini baju siapa?". Dia mengambil baju kemeja berwarna merah maron kotak-kotak.
Baju itu sudah koyak. Bahkan kancingnya sudah hilang entah kemana. Hanya kancing paling bawah yang masih tersisa.
"Siapa wanita yang telah aku perkosa? Apa dia masih perawan?". Gumam Gama sambil mencium bau parfum dibaju itu "Seperti nya aku pernah mencium parfum ini tapi dimana?". Dia mencoba mengingat.
"Sial. Aku tidak ingat apapun". Dia menendang bangku kemudi dengan kasar.
Gama memakai kembali pakaiannya. Dia mencari kemana favorite nya itu. Tapi tidak ada entah kemana.
"Sial, kemana bajuku?". Umpatnya kasar.
Pria itu keluar dari mobil dengan telanjang dada. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Segera Gama masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa aku tidak ingat apapun?". Desahnya "Gadis itu masih perawan? Ahhh sial. Bagaimana kalau dia hamil. Aku tidak memakai pengaman?". Ujarnya
Gama memasuki pekarangan rumahnya. Rumahnya tampak sepi. Hanya ada dan Mark serta beberapa pelayan yang tinggal disana.
"Selamat malam Tuan, anda kemana saja? Saya mencari anda. Kenapa anda tidak pakai baju?". Cecar Mark. Gama memang sudah seperti saudara nya sendiri.
Gama tak menjawab dia malah masuk dan membanting pintu mobil dengan kuat.
Mark hanya bisa menghela nafas berat. Sangat berat. Gama tak berubah sama sekali. Sifat kasar nya. Hanya pada orang yang dia cintai maka pria itu akan lembut.
"Tuan, Tuan". Marj geleng-geleng kepala "Kapan anda akan berubah? Kapan anda akan sadar jika Nona Zie adalah adik kandung anda meski pun beda Ibu?". Gumam Mark.
Mark memarkirkan mobil itu ke Garasi mobil koleksi Gama.
Asisten yang selalu menemani Gama itu tak heran lagi jika melihat sikap Gama yang kasar. Dia dibesarkan tanpa kasih sayang kedua orangtuanya. Orangtuanya berpisah. Ayahnya selingkuh. Ibunya selingkuh. Dia sendirian. Harus menjadi korban kedua ketamakan kedua orangtuanya.
Gama masuk kedalam kamarnya. Pria itu membanting pintu dengan kasar. Dia langsung menuju kamar mandi membersihkan diri.
Gama berguyur dibawah guyuran shower. Dia berusaha mengingat wajah gadis yang telah dia renggut mahkotanya itu. Namun sialnya dia tidak bisa mengingat apapun. Seolah seluruh ingatannya hilang begitu saja.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri. Gama keluar dari kamar mandi. Dia memiliki baju singlet dengan celana sampai lutut.
Pria itu mengambil ponselnya dan duduk disoffa.
"Mark masuk ke kamarku". Langung mematikan sambungan nya.
Beberapa menit kemudian. Mark masuk kedalam kamar Gama dan siap menuruti perintah Tuan nya itu.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Tanya Mark sambil membungkuk hormat.
"Mark, cari pemilik dari baju ini". Gama melempar baju kemeja pada Mark "Aku mau kau segera menemukannya. Bawa dia didepanku". Tintah Gama.
"Baik Tuan". Dalam hati Mark bertanya ada apa? Tidak biasanya Gama mencari perempuan biasanya perempuan yang mencarinya.
"Kau boleh keluar". Sambil mengibaskan tangannya mengusir Mark.
"Saya permisi Tuan". Mark mellengang pergi.
Gama menyalakan rokoknya. Dia hanya mengingat malam panas itu. Tapi tidak ingat gadis yang direbut mahkotanya.
"Zaman sekarang masih ada juga wanita yang perawan". Gumamnya
"Tapi siapa gadis itu?". Dia lagi-lagi mendesah.
"Zie". Ucap Gama sendu "Kenapa kau harus jadi adik ku Zie? Pantas saja setiap kali melihat mu aku selalu merasa nyaman dan hangat. Tapi bolehkah aku tidak terima dengan takdir ini? Aku mencintaimu". Pria itu bersender disoffa.
Meski Gama melakukannya didalam mobil tapi dia tidak dapat melupakan betapa nikmat nya melakukan hubungan **** dengan perawan. Selain erangan kenikmatan, Gama juga ketagihan.
"Ahhh apa yang aku pikirkan?". Dia mengusap wajahnya dengan frustasi.
.
.
.
.
Arthur mengusap wajahnya kasar. Jangan sampai Gama terbosesi untuk mendapatkan Zie.
"Maafkan aku Allena harus nya kau lebih cepat menemukan putri kita". Gumamnya
"Panus".
"Iya Tuan".
"Bagaimana apa kau sudah mengatur pertemuan ku dengan Grabielle?". Tanyanya
__ADS_1
"Sudah Tuan, Minggu depan kita akan memulai proyek kita". Sahut Panus.
"Baik".
Arthur menghela nafas panjang. Tak bisa dipungkiri dia memang bersalah. Tapi dia tidak mencintai istrinya. Dia mencintai Allena mantan kekasihnya. Dia terpaksa menikahi Ibu Gama karena kedua orangtuanya mengancam akan menyakiti Allena.
Kesalahan yang Arthur lakukan memang tidak bisa dimaafkan. Apalagi melihat tatapan benci Gama padanya membuat hatinya semakin hancur dan terluka. Gama adala putra semata wayangnya dengan pernikahan pertamanya.
.
.
.
.
"Ada apa Tuan?". Kenino masuk kedalam ruangan kerja Grabielle.
"Ken, begini. Istriku sedang hamil_".
"Nona hamil Tuan?". Tanya Kenino sumringah.
"Kau dilarang bahagia Ken". Grabielle menatap Kenino tak suka "Hanya aku yang boleh bahagia, karena itu hasil kerja keras ku malam hari. Makanya kau itu menikah biar tahu rasanya bagiamana?". Ketus Grabielle tak suka orang lain bahagia jika Zie-nya hamil.
"Maaf Tuan". Kenino kikuk. Cassanova ini mulai aneh lagi.
"Istri ku itu sedang hamil, tapi kenapa dia benci melihat wajahku Ken. Dia juga dia benci mencium parfum ku. Padahal kah tahu kan istri kecil ku itu suka sekali wangi parfum ini?". Curhat Grabielle.
"Kenapa bertanya pada saya Tuan. Saya belum menikah, hiks jangan menghina dengan cara halus Tuan?". Teriak Kenino dalam hati. Hanya dalam hati. Kalau dia keluarkan. Bisa-bisa dia sudah kembali ke Amerika gara-gara amukkan Grabielle.
"Kenapa anda tidak cek ke dokter saja Tuan? Mungkin dokter tahu". Saran Kenino.
"Memangnya kau tidak tahu?". Grabielle menatap Kenino.
"Tidak tahu Tuan". Jawab Kenino jujur.
"Apa saja yang kau tahu?". Cibir Grabielle kesal. Percuma juga curhat pada Kenino.
"Maaf Tuan". Kenino menunduk padahal hatinya juga mengumpat kasar.
Sudah tahu dia masih jomblo. Belum pernah menikah. Belum pernah punya istri. Kenapa dia yang di tanya. Jelas, dia tidak tahu. Dan Grabielle memang begitu suka marah-marah jika tidak tahu jawaban dari pertanyaan nya.
"Sudahlah kau boleh keluar". Usir Grabielle.
"Baik Tuan saya permisi".
Bersambung.........
__ADS_1