Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Saling menyakiti


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie masuk kedalam kamarnya. Gadis itu menutup pintu kamar dan bersandar sambil terduduk


"Hiks hiks hiks, kenapa bisa sesakit ini sihh? Kenapa aku merasa sangat sedih mau berpisah dengan Tuan Teh Celup, hiks hiks". Gadis itu menangis segugukan sambil menekuk kedua lututnya.


"Hiks hiks Kak Garra. Zie patah hati Kak. Patah hati itu ternyata sakit yaaa. Zie pikir patah hati itu biasa saja ehh ternyata sakitnya menusuk ke tulang-tulang, bisa-bisa Zie masuk rumah sakit". Ujarnya lagi.


Zie gadis polos dan belia. Mungkin dia sudah jatuh cinta pada suami bule nya itu hanya saja dia belum paham dan mengerti. Jika tidak cinta kenapa bisa baper hanya karena di bilang tidak feminim dan anggun?


Rasanya Zie tak sanggup berpisah dari suaminya. Meski pun mereka rusuh setiap hari tapi justru hal itulah yang membuat rasa itu tumbuh dihati kedua insan berbeda jenis kelamin dan usia itu.


Zie menyeka air matanya. Gadis itu berdiri dari duduknya. Lalu melangkah menuju ranjang milik nya.


Zie merebahkan tubuhnya disana. Lalu memeluk bantal guling kesayangannya. Zie merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Dia tidak tahu. Dia tidak paham. Perasaan nya, ada apa dan kenapa?


Gadis itu memejamkan matanya dengan air mata yang berderai.


Ini lebih sakit dari hinaan Ayah nya. Jika Ayah nya menghina dan menyalahkan nya, Zie merasa sedih tapi tidak sesakit ini. Kenapa ini lebih sakit? Sangat sakit malah. Zie tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.


"Hiks hiks, kira-kira aku gentayangan tidak yaa kalau mati sebelum hutangku lunas?". Dia masih segugukan sambil membenamkan wajahnya dibantal "Kalau menunggu enam puluh satu tahun masih lama. Aku bisa jadi perawan tua". Dia mengelap inguse nya yang meleleh bersama air matanya.


Setelah puas menangis gadis itu akhirnya terlelap dengan mata sembab nya.


Biasanya kalau dalam keadaan kacau seperti ini, Garra lah yang selalu menghibur nya. Tapi sekarang dia benar-benar sendirian. Kakaknya itu pindah ke Sanghai dan tidak pernah lagi mengabarinya baik bertanya kabar lewat pesan atau pun telpon pun tidak pernah.


Hidup Zie tidak lah seberuntung senyumnya. Sejak kecil dia sudah diasingkan oleh Ayah nya. Dianggap anak pembawa sial.


.


.


.


.


Grabielle terduduk dikursi meja makan. Pria itu seperti kehilangan roh dalam raganya. Untuk beberapa saat Grabielle seperti mati berdiri. Seluruh aliran dalam darahnya semua terasa berhenti. Badannya kaku dan Grabielle bisa rasakan bahwa hatinya remuk redam

__ADS_1


"Zie". Gumamnya.


Tanpa permisi air mata pria itu menetes dipipi tampannya. Akibat gengsi setinggi langit akhirnya dia akan kehilangan permata paling berharga dalam hidupnya.


Grabielle berdiri dari duduknya. Dia menatap makanan yang masih utuh diatas meja. Masakkan Zie. Masakkan yang membuatnya candu. Masakkan Indonesia yang awalnya dia tidak suka sama sekali.


Pria itu berjalan gontai. Tatapannya kosong. Wajahnya berantakan. Dia hanya berjalan sambil menatap kedepan. Tidak melirik ke kanan, kiri dan belakang.


Kenino yang tidak sengaja melihat pertengkaran suami istri itu. Hanya bisa menghela nafas panjang.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberi tahu Tuan Besar". Pria itu mengirim pesan pada Zean, Ayah Grabielle.


"Tuan. Nona. Kalian tidak bisa berpisah. Kalian harus tetap bersama. Saya berjanji akan menyatukan kalian". Gumam Kenino semangat.


"Lihat saja nanti. Kalian akan bucin parah satu sama lain. Semoga Tuan Grabielle segera mengakui perasaannya sebelum Nona Zie pergi".


Langkah kaki Grabielle berhenti didepan pintu kamarnya. Dia melirik kamar Zie yang bersebelahan dengannya.


Langkah kaki pria itu menuntun nya menuju kamar Zie.


Gadis itu selalu ceroboh, pintu kamar tidak pernah dikunci. Entah lupa atau memang tidak ingat.


Grabielle membuka pelan pintu kamar Zie. Pria itu masuk dengan langkah pelan takut jika terdengar oleh Zie dan gadis itu malah terbangun.


Zie berjalan kosong. Wajahnya sendu dan terlihat rapuh.


Pria itu duduk dibibir ranjang istrinya. Air mata luruh dipipinya. Memang benar kata orang, segala yang bersangkutan dengan hati itu pasti menyakitkan.


"M-maafkan aku". Ucapnya pelan suara terparau.


"J-jan-gan pergi, aku tidak bisa tanpamu. Aku mencintaimu". Namun pengakuannya percuma karena Zie takkan bisa mendengar suara suami. Dia sudah terlelap dalam lelah.


"Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Maaf. Maaf". Grabielle menangis sambil menatap wajah istrinya.


Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Zie. Dia mengusap pelan pipi Zie. Gadis ini tidur memang seperti kerbau, mau badannya dilempar saja mungkin dia tidak akan dasar apalagi dia sedang lelah dan banyak masalah.


Grabielle mengecup kening gadis itu lama. Hingga air matanya jatuh diwajah Zie. Entahlah, dia begitu takut kehilangan gadis ini. Sangat takut. Dia mencintai gadis ini. Tapi bibir nya seolah bungkam mengatakan cinta. Mengingat Zie gadis baik-baik yang belum pernah tersentuh pria mana pun. Sedangkan dirinya, adalah pendosa kelas atas yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan banyak wanita tanpa pernikahan.

__ADS_1


Grabielle melepaskan ciumannya. Zie benar-benar terlelap hingga tidak ingat kalau suaminya sedang menatapnya.


"Gadis aneh. Kau masih berhutang padaku. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Dan aku tidak mau Ayah mertua yang melunasi hutangmu, kau sudah berjanji akan bekerja dengan ku selama enam puluh satu tahun". Gumam Grabielle.


Selain gengsi mungkin Grabielle merasa tidak pantas mencintai gadis baik-baik seperti Zie. Dia bukan pria baik.


Tapi dia juga tidak bisa melepaskan gadis ini. Gadis ini sudah mencuri hatinya. Gadis ini sudah masuk kedalam kehidupan nya. Dan gadis ini berhasil membuat nya menangis berkali-kali.


.


.


.


.


Zean menghela nafas panjang sambil memijit pelipisnya setelah membaca pesan dari Kenino.


"Anak itu benar-benar". Geram Zean "Sudah tua masih belum mengerti. Nanti kalau istri nya pergi, baru tahu rasa". Zean geleng-geleng kepala.


"Kenapa sayang?". Luna datang dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya.


"Putramu itu berulah lagi?".


Kening Luna berkerut "Berulah? Apa yang dilakukan Bielle?". Luna benar-benar tak habis pikir jika putranya itu tidur lagi dengan wanita lain sementara dia sudah beristri.


Zean menceritakan pesan yang Kenino kirim padanya. Dia saja pusing menghadapi sifat Grabielle.


"Astag". Luna juga sedikit geram "Bagaimana kalau menantu kita benar-benar meninggalkan Bielle? Bisa bujangan tua anak kita itu". Desah Luna pelan.


"Persiapkan dirimu sayang. Seperti nya besok kita harus ke Indonesia. Ini tidak bisa dibiarkan. Hanya Bielle yang bisa melindungi Zie. Kau tahu kan kalau menantu kita itu diincar banyak orang. Jangan sampai Bielle sadar setelah kehilangan". Ujar Zean.


"Iya sayang. Kasihan Zie, gadis sebaik dia harus bertemu pria seperti putra kita". Luna bernafas panjang.


Sebagai orangtua tentu Zean dan Luna ingin yang terbaik untuk Grabielle. Tapi putra mereka itu selalu saja membuat masalah.


Zean bahkan sudah pernah menjodohkan Grabielle dengan putri rekan bisnisnya. Namun lagi-lagi pria itu hanya meniduri para gadis itu lalu membayarnya dan mengancam mereka. Benar-benar keterlaluan Grabielle.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2