
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak bagaimana ini? Zie tidak jadi bercerai dengan suaminya. Apa yang harus kita lakukan?". Tanya Ester
"Kita tunggu perintah dari Kak Garra". Sahut Adam "Kenapa Zie bisa jatuh cinta dengan Tuan Grabielle? Aku tidak habis pikir. Bukankah dia orang yang sulit jatuh cinta?". Desah Adam
"Iya. Aku juga tidak paham dengan perasaan Zie. Tapi apa kita tega pisahkan Zie dengan suaminya?". Sambung Hana
"Tidak ada cara lagi sayang. Tuan Grabielle itu Mafia, kau tahu sendiri kan bagaimana bahayanya Mafia itu? Zie tidak akan aman jika bersamanya. Apa kau mau kehilangan Zie?". Ujar Adam.
Hana terdiam. Ada benarnya yang diucapkan Adam. Tapi sungguh dalam hati Hana dia tidak tega memisahkan Zie dengan Grabielle. Apalagi Zie terlihat mencintai pria itu.
Ester juga tampak berpikir keras. Hidup Zie selalu tak aman. Dia menjadi burunon banyak orang.
"Tapi bagaimana kalau Tuan John berhasil memisahkan Zie dengan Tuan Grabielle, akan lebih bahaya jika Zie sampai bersama Tuan Gama?". Ucap Ester.
"Kita akan pikirkan itu nanti. Yang pasti sekarang kita harus melindungi Zie. Aku berencana untuk membawa nya pergi diam-diam". Sahut Adam yakin.
"Tidak semudah itu sayang. Kau tahu kan Tuan Grabielle bisa saja melacak keberadaan Zie. Dia bukan orang sembarangan". Ucap Hana menimpali.
.
.
.
.
John tertawa puas, ketika mendapat laporan dari anak buahnya.
"Zie. Zie. Dasar gadis pembawa sial. Kau memang cocok menjadi alat penebus hutangku. Ini adalah balasan karena Ibu mu sudah menghianati ku". John tertawa penuh kemenangan
"Kali ini kau tidak akan bisa kabur dan selamat bersenang-senang dengan suami barumu, putriku sayang. Kupastikan hidup mu akan seperti neraka. Hahahaha".
John, dia begitu membenci Zie. Dia selalu beralasan kebencian nya karena Zie adalah penyebab kematian istrinya. Padahal kenyataannya tidak begitu, dia membenci gadis itu karena Zie adalah anak hasil dari perselingkuhan istri nya.
__ADS_1
Awalnya John berencana melenyapkan Zie saat gadis itu lahir. Namun dia mengubah rencananya. Kematian terlalu mudah. Jadi dia membuat Zie menderita dan merasakan sakit hati yang dia rasakan.
"Allena. Allena. Tak kubiarkan putrimu hidup dengan tenang. Dia harus merasakan penderitaan seperti ku. Dia harus merasakan sakit hati seperti yang aku rasakan. Dan aku, hah? Aku menyesal karena sudah membunuhmu waktu itu. Harus nya aku buat kau menderita seperti Zie. Tapi tidak apa-apa sekarang aku sudah puas dan tinggal menanti kabar dari putrimu". John duduk dikursi kebesarannya.
Pria berambisi yang selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak peduli siapa yang harus dikorbankan olehnya.
"Ayah".
Shiena masuk kedalam ruangan John. Model cantik itu selalu berpakaian kurang bahan. Pria mana yang tidak akan tergiur melihat belahan dadanya serta pahanya yang mulus itu.
"Sayang". John tersenyum sumringah.
"Ayah". Tanpa tahu malu Shiena langsung duduk dipangkuan John.
"Apa sayang?". Tangan John melingkar dipinggang wanita itu.
"Karena sekarang Zie sudah bersama Tuan Gama. Tolong bantu aku mendapatkan hati Tuan Grabielle. Aku benar-benar ingin memiliki nya". Bisik Shiena nakal.
Nafas John mulai memburu. Dia menahan sesuatu yang sudah sesak didalam celana nya. Apalagi Shiena duduk sambil menggesek-gesekkan pantatnya hingga mengenai adik nya itu.
"Hmmm, kau tenang saja sayang. Ayah akan lakukan apapun untukmu". Dia menyesap cekuk leher Shiena "Sayang kau wangi sekali". Ujarnya.
"Tentu, Ayah tak sabar ingin memasuki mu". John tersenyum penuh gairah.
Shiena langsung menyambar bibir pria paruh baya yang dia panggil Ayah itu. Hubungan gelap mereka terus berjalan tanpa sepengetahuan Marissa.
John seperti lupa diri setiap kali bersentuhan dengan Shiena. Tak heran Shiena sanggup memuaskan nya karena wanita itu memang sudah berpengalaman masalah ranjang.
.
.
.
.
__ADS_1
Seorang pria paruh baya tengah keluar dari jet pribadi miliknya.
Meski usianya tak muda lagi tapi wajahnya tetap tampan. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya.
"Silahkan Tuan". Ucap sang asisten agar dia berjalan duluan.
Pria itu melangkah lebar. Kedua tangannya berdiam disaku celana kanan dan kirinya. Dia menatap kedepan dengan dinginnya.
Indonesia terlalu banyak kenangan. Namun dia terpaksa menginjaknya kaki di Negara ini karena proyek pekerjaan nya.
"Silahkan masuk Tuan". Sang asisten membuka pintu mobil dan membiarkan pria paruh baya itu masuk.
Dia masuk dan duduk dengan tenang. Pria ini memiliki sifat tenang. Tidak panikkan. Dia selalu santai dalam menghadapi apapun.
"Allena, tempat ini terlalu banyak kenangan. Apa kabarmu disana Allena? Aku mencari putri kita tapi sampai saat ini aku belum menemukannya". Pria itu menyenderkan punggungnya. Dia memejamkan matanya menahan lelehan bening yang seolah ingin keluar dari sana.
"Kita kemana Tuan?". Tanya sang asisten.
"Apartement". Sahutnya singkat.
"Baik Tuan".
"Berapa lama kira-kira proyek ini akan selesai, Nus?". Tanya nya.
"Sekitar satu bulan Tuan. Karena kita akan meninjau beberapa lokasi". Jawab Panus sang assisten
"Tidak bisakah dipercepat Nus?". Tanyanya.
"Akan saya usahakan Tuan". Jawab Panus.
"Apa ada kabar tentang putri ku Nus? Ini sudah sembilan belas tahun berlalu tapi kenapa tidak ada satu jejak pun yang menjelaskan dimana keberadaan nya". Ujarnya.
"Saya sedang berusaha mencari keberadaan Nona, Tuan. Satu-satunya cara adalah menemui Tuan John".
"Tidak semudah itu Nus. Kau tahu John itu sangat licik, dia tidak akan mengatakan di mana putriku, Nus". Sahutnya frustasi.
__ADS_1
Panus terdiam. Sudah belasan tahun berlalu tapi dia tidak juga menemukan putri dari Tuan nya itu.
Bersambung....