Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Bukan malam pertama


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah kepulangan Zevanya dan Myron. Grabielle kembali duluan kedalam kamarnya. Dia sedang tidak sanggup melihat wajah Zie. Jantungnya berdebar tak karuan.


Sedangkan Zie juga kembali ke kamarnya. Dia sudah gerah akibat make up yang menempel diwajahnya.


Kenino hanya bisa menggeleng kepala saja. Penggantin baru itu sedang cuek-cuek bebek.


"Aku berharap kalian benar-benar saling jatuh cinta Tuan. Nona". Batin Kenino menatap punggung kedua orang itu yang kembali ke kamar masing-masing.


Zie melempar tubuh munggilnya dikasur king size milknya.


Gadis itu menatap jarinya yang sudah terpasang cincin.


"Rasa mimpi jadi istri orang". Desahnya "Untung saja tidak ada malam pertama. Aku tidak rela malam pertama dengan Tuan Teh Celup itu. Bagiku malam pertama tapi baginya malam keseribu". Zie cekikian sendiri.


"Ahhh lelahnya". Gadis itu menguap beberapa kali sambil meretak-retakkan jarinya "Ehem, seumur hidup itu lama yaaa? Tapi kan dia suamiku. Memang harus seumur hidup".


Zie menghela nafas panjang. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Ini bukan malam pertama tapi malam kelabu.


Zie memegang bibirnya bekas ciuman Grabielle. Masih terasa benda kenyal itu menempel dibibirnya.


"Ihhhh ciuman pertama ku sudah diambil. Hiks aku sudah tidak perawan lagi". Gadis itu menyeka air matanya yang tidak jatuh sama sekali.


"Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja. Besok hari pertama jadi istri, aku harus lebih baik".


Gadis itu memeluk bantal dan memejamkan matanya. Tidak berganti baju apalagi mandi. Dia paling malas jika mandi malam-malam begini, hemat sabun alasannya.


.


.


.


.


Grabielle mengeringkan rambutnya. Beberapa tetes air menetes dibagian tubuhnya hingga membuat pria itu tampak seksi dan menarik.


"Arghhhhhhhhh, sial kenapa aku malah ingat bibir gadis aneh itu". Pekik Grabielle melempar handuknya "Tidak bisa dibiarkan ini. Jangan sampai aku yang jatuh cinta padanya, harus dia yang jatuh cinta padaku". Ujarnya.


Grabielle meronggoh ponselnya. Dia harus memesan wanita malam ini dan meniduri wanita. Mendengar ******* kenikmatan itu membuat mood nya balik kembali.


Drt drt drt drt drt.


Senyum Grabielle memudar saat melihat nama siapa yang tertera dilayar ponselnya.


"Ck, kenapa pria ini menelepon ku malam-malam?". Dia mendesah kesal.


"Hallo Dad". Sapa Grabielle malas.


"Selamat menikah ya Son. Semoga kau bahagia, dimana istrimu? Daddy ingin berbicara padanya". Suara Zean diseberang sana

__ADS_1


"Dia sudah tidur Dad". Ketus Grabielle


"Bangunkan. Daddy ingin berbicara padanya". Pinta Zean tak puas. Jangan bilang dia tidak tahu apa yang di lakukan putranya itu. Dia mengawasi Grabielle dua puluh empat jam tanpa sepengetahuan Grabielle.


"Dad".


"Atau kau mau Daddy dan Mommy segera terbang ke Indonesia dan bertemu istrimu?". Ancam Zean.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan membangunkan nya".


Grabielle melangkah keluar dari kamarnya. Dia langsung memegang handle pintu kamar Zie. Kebetulan pintu kamar istri kecilnya itu memang tidak dikunci jadi dia bisa masuk dengan bebas.


Grabielle mencebik kesal saat melihat istrinya sudah tidur dengan nyenyak dan bahkan gadis itu belum berganti baju.


"Heh bangun". Dia mencolek lengan gadis itu


Namun Zie sama sekali tak terusik malah semakin erat memeluk bantal guling nya.


"Bielle mana menantu Daddy?". Suara Zean sudah tak sabar. Kata Zevanya, istrinya Grabielle masih muda dan cantik sekali.


"Tunggu sebentar Dad".


Grabielle duduk dibibir ranjang. Dia mengambil gelas yang berisi air diatas nakas lalu memercikkan nya diwajah Zie


"Hujan... Hujan... Hujan".


Gadis itu terbangun dan lompat dari ranjang seolah hendak berlari.


"Tuan, apaan sihh?". Zie melepaskan tangan Grabielle dengan paksa dimulutnya.


"Ssttt, Daddy ku ini berbicara". Ujarnya


"Bicara pada siapa?". Ketus Zie kesal dia ikutan duduk disamping suaminya.


"Hallo Dad, ini istriku". Ujar Grabielle "Sayang Daddy ingin berbicara denganmu". Rasanya Zie ingin muntah mendengar nama panggilan dari suaminya itu.


"Hallo Ayah mertua". Sapa Zie tersenyum ramah.


"Hai menantuku. Daddy ingin video call boleh?".


Grabielle dan Zie saling melihat. Grabielle mengangguk saja supaya Zie menyetujui permintaan Zean.


"Tentu saja boleh Ayah Mertua. Pasti Ayah Mertua ingin melihat wajah menantumu yang cantik ini kan?". Celetuk nya.


"Hahha. Tentu saja". Tawa Zean.


Zie merubah panggilan telponnya menjadi video call.


Tampak wajah Zean dan Luna diseberang sana. Zie sedikit gugup pertama kalinya melihat wajah kedua mertuanya itu.


"Hai Nak, salam kenal. Ini Mommy nya Bielle. Selamat yaa, semoga kalian bahagia". Seru Luna.

__ADS_1


"Terima kasih ucapannya Nyonya". Balas Zie tersenyum manis


"Jangan panggil Nyonya panggil saja Mommy yaa. Kau menantu Mommy yang artinya putri Mommy juga". Kata Luna lagi.


"I-iya Mom".


Grabielle merangkul bahu Zie. Sesuai kesepakatan mereka harus mesra didepan orang tua Grabielle demi melanjutkan acting mereka.


"Bielle".


"Iya Mom".


Tampak Grabielle tersenyum sambil merangkul bahu istrinya. Padahal dalam hati mereka berdua sudah saling jijik.


"Selamat ya Son. Jadilah suami yang baik untuk Zie. Jangan sakiti dia yaaa. Hormati dia seperti kau menghormati Mommy. Sayangi dia seperti kau menyanyangi Mommy". Pesan Luna pada putra bungsunya itu.


Untuk sejenak Grabielle terdiam. Begitu juga dengan Zie. Mereka berdua saling melihat bingung.


"Baik Mom". Sahut pria itu asal.


"Ya sudah Mom tutup telponnya. Selamat malam pertama". Sambungan pun di matikan.


"Jauh-jauh Tuan. Main pegang-pegang". Ketus Zie sambil menyapu-nyapu bahunya.


"Cihh, kau pikir aku Sudi memegang bahumu? Aku hanya sedang berakting". Ketus Grabielle mencebik kesal.


Zie tersenyum smirk "Tuan sesuai perjanjian, satu sentuhan sepuluh juta. Anda merangkul saya lebih dari lima menit berarti ada tampan karena anda menyentuh saya lima kali jadi bayarnya lima puluh juta". Ujar Zie tersenyum licik sambil menengadah kan tangannya.


"Ck, tidak bisa seperti itu". Protes Grabielle tidak terima


"Jangan lupa Tuan, ada tertulis disurat perjanjian". Ucap Zie santai-santai. Dia sudah membayangkan uang di ATM nya akan membengkak. Jika uang itu banyak dia bisa bayar hutang dan pergi dari kehidupan Grabielle.


"Dasar mata duitan". Cibir pria itu mengotak-atik ponselnya.


"Dari pada mata keranjang". Zie ngakak sendiri "Sudah ditranfer belum Tuan?". Zie tampak tak sabar.


"Sudah". Ketus Grabielle.


Notifikasi ponsel Zie berdering pertanda ada pesan baru yang masuk. Zie tersenyum sumringah ketika melihat saldo ATM nya.


"Terima kasih suami. Cup".


Grabielle membeku saat Zie mengecup pipi kanannya. Wajahnya terasa panas. Tubuhnya menegang seketika dan ada sesuatu yang sesak didalam celananya.


"Sekarang keluar Tuan dari kamar saya. Saya mau istirahat". Usir Zie sambil mendorong tubuh Grabielle.


"Jangan dorong-dorong. Aku bukan mobil". Gerutunya


"Saya tidak mengatakan anda mobil Tuan". Sahut Zie.


Grabielle keluar dengan wajah ditekuk kesal sebenarnya dia hanya berusaha agar tidak gugup didepan Zie. Sial, jantungnya tidak bisa diajak kerjasama.

__ADS_1


__ADS_2