
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Garra duduk di balkon kamarnya sambil ditemani secangkir kopi dengan sedikit gula.
Wajah pria itu tampak sendu. Bahkan dia menatap kedepan dengan kosong. Entah apa yang dia pikirkan.
"Zie". Gumamnya "Kakak rindu Zie". Lirihnya.
Sungguh dia benar-benar merindukan gadis kecil itu. Gadis yang memiliki mata indah dan mampu menghipnotis perasaan Garra.
Garra menunduk seandainya jiwa tidak menikah dengan Grabielle mungkin sekarang dia sudah membawa gadis itu tinggal bersamanya.
"Kakak pikir saat pergi bisa melupakan mu. Nyatanya semua tak semudah itu Zie. Semakin ingin menjauh semakin perasaan itu ada". Lirihnya memegang dadanya merasakan sakit didalam sana.
Tumbuh bersama. Meski tidak dalam satu rahim. Tapi Garra begitu menyanyangi gadis itu. Apalagi ketika kecil mereka berdua selalu mendapat perlakukan tidak baik dari kedua orangtuanya.
Kenangan yang dulu dijalani Garra. Kini hanya meninggalkan luka mendalam. Cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu dan seringnya kebersamaan antara dia dan Zie.
Awalnya dia juga menganggap gadis itu seperti adik kandungnya sendiri. Namun terlalu sering bersama akhirya perasaan yang tidak seharusnya muncul antara Kakak beradik itu, malah membelut hati Garra.
"Son". Seorang pria baya menghampiri Garra.
Garra tersenyum hangat "Ayah". Senyumnya "Silahkan duduk Yah". Dia begitu menghormati pria yang satu ini.
Pria yang dipanggil Ayah itu duduk bergabung dengan Garra sambil meletakkan teh hangat tanpa gula di meja yang sama. Sebab karena gula darahnya naik jadi tidak boleh mengkonsumsi yang manis-manis karena pengaruh usia.
"Sedang memikirkan apa?". Tanpa menatap putranya.
"Perpisahan itu ternyata menyakitkan ya Yah?". Garra tersenyum getir.
Pria paruh baya itu manggut-manggut. Jika sudah seperti ini pasti putranya sedang memikirkan Zie. Siapa lagi wanita yang bisa membuatnya stress selain Zie?
"Kau baru sadar?". Pria paruh baya itu terkekeh sambil menepuk pundak putra sulungnya "Begitulah yang dirasakan Ayah saat Ibu mu memilih pergi dan membawa kalian. Ayah benar-benar kehilangan. Ayah benar-benar patah. Tidak memiliki siapa-siapa. Dan Ibu mu lebih mengejar pria berharta dari pada pria bercinta". Pria itu tersenyum kecut.
"Ayah.....". Garra berbalik menghadap Ayahnya
"Ayah bekerja keras untuk bisa menjadi pria kaya. Hidup dalam kesendirian itu tidak nyaman. Selalu merindukan kehangatan. Tapi akhirnya Ayah berhasil kan? Dan bisa membawa mu kembali pada Ayah". Pria itu menatap Garra dengan berkaca-kaca. Dulu putranya ini sangat kecil, tapi lihatlah sekarang. Tumbuh menjadi pria gagah dan juga tampan serta berkarisma.
"Ayah memahami perasaan mu". Imbuhnya "Perjuangkan Zie jika kau benar-benar ingin bersama nya. Bawa dia tinggal bersama kita disini". Sambungnya.
__ADS_1
Garra kembali ke posisi nya pria itu menunduk. Seandainya Zie mencintai nya pastilah gadis itu mau ikut dengannya. Tapi sepertinya Zie benar-benar hanya menganggap Garra seperti Kakak nya sendiri dan tidak lebih.
"Dia tidak mencintaiku Yah". Garra tersenyum kecut "Dia hanya menganggap aku Kakak nya saja. Jadi jika pun aku berjuang mendapatkan hatinya kemungkinan untuk berhasil itu tipis".
Pria paruh baya itu tersenyum. Dia menepuk lagi puncak putra tampan nya ini. Putranya ini copyan nya waktu masih muda. Tinggi, putih, mata sipit, hidung mancung.
"Jika kau masih ragu sebaiknya lepaskan". Imbuhnya
Garra malah menggeleng "Tidak Ayah. Aku tidak bisa melepaskan nya. Aku mencintainya".
Sang Ayah malah terkekeh. Tadi disuruh berjuang jawabannya tahu karena gadis itu tidak mencintai nya. Disuruh berhenti tidak sanggup karena dia begitu mencintai gadis itu. Sungguh anak muda zaman sekarang suka yang plin-plan.
"Ya sudah pilihlah mana yang baik untukmu. Ayah selalu mendukung keputusan mu. Tapi ingat, jangan menghakiti diri sendiri dengan cinta yang belum pasti memiliki mu". Ucapnya.
Garra mengangguk. Disini dia akan berjuang untuk memantaskan diri. Nanti dia akan kembali untuk menemui Zie. Garra janji itu.
.
.
.
.
"Kau kenapa Shie?". Sang Ibu bingung melihat putrinya yang mengomel.
"Dimana Ayah Bu?". Dia duduk disoffa sambil melipat kedua tangannya didada.
"Ada dikamar. Sebentar lagi keluar". Sahutnya "Kau kenapa? Kau tampak kesal?". Wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan selidik.
"Ayah Bu. Dia berjanji untuk membantu mendapatkan Tuan Grabielle tapi sampai sekarang tidak ada". Shiena merenggut kesal.
John berjalan menghampiri istri dan putrinya.
"Kenapa sayang?". Dia duduk disamping Shiena.
"Ayah mana janjimu?". Tagih Shiena.
"Janji?". Kening John berkerut heran
__ADS_1
"Ihhh Ayah, katanya Ayah ingin membantuku mendapatkan Tuan Grabielle dan menyuruh gadis pembawa sial untuk meninggalkan Tuan Grabielle. Tapi kenapa sekarang belum Ayah?". Renggek Shiena.
Shiena dibuat penasaran setengah mati oleh teman-temannya. Katanya Grabielle adalah masternya ranjang. Bahkan tidak hanya itu Grabielle juga berani membayar mahal untuk wanita yang mau menghabiskan malam dengan nya.
"Sabar sayang. Ayah sedang menyusun rencana". John mengusap kepala putrinya yang tampak cemberut.
"Tapi kapan Ayah? Aku ingin Tuan Grabielle menjadi milik ku. Dia lebih tampan dari Tuan Gama dan juga lebih kaya". Seru Shiena.
Marissa, Ibu Shiena hanya mendengarkan saja. Sebenarnya dia kurang setuju dengan keputusan Shina yang meminta Grabielle. Karena Marissa tidak kenal Grabielle. Tapi Gama memang menantu idamannya, sayang Gama sama sekali tidak tertarik pada Shiena.
"Iya. Iya. Tenanglah sayang. Ayah sedang mengusahakan itu semua. Apa sih yang tidak untuk kebahagiaan putri Ayah ini?". John mencubit hidung Shiena.
"Ayah". Shiena bergelut manja dilengan John.
Marissa sedikit menatap aneh melihat kedekatan suami dan putrinya. Bagaimana pun Marissa sudah dewasa dan John hanyalah Ayah sambung. Jika dilihat ini sedikit menganggu. Tapi Marissa berusaha menepis perasaan nya dan berpikiran positif saja bahwa keduanya memang hanya hubungan Ayah dan anak.
"Bagaimana dengan Garra?". Marisa ikut bicara.
"Aku tidak tahu Hon". John menggeleng dengan cepat.
Sempat Marissa marah besar pada John yang terlalu kasar dengan Garra, karena Garra adalah pria keras yang tidak bisa ditegur dengan kekerasan. Namun yang namanya Ayah tiri, tentu saja tidak memikirkan perasaan anaknya.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Marissa.
Marissa tak lagi menjawab. Wanita paruh baya itu mellengang pergi ke kamarnya.
Sebagai seorang Ibu dia benar-benar rindu sosok Garra. Biarpun hubungan mereka tidak pernah baik, dia tetap menyayangi putra sulungnya itu. Harapan Marissa semoga Garra baik-baik saja.
Shine masih bergelut manja dilengan John. Sambil merebahkan kepalanya disana.
John melirik putri sambung nya itu. Pria paruh baya itu menelan salivanya ketika melihat belahan dibalik baju seksi yang dikenakan oleh Shiena. Jakunnya naik turun. Pria itu sampai tak berkedip.
"Ayah". Shiena mengerlingkan matanya jahil
"Aku tahu Ayah melihat nya. Ayo kita ke hotel dan keluar makan berdua". Desah Shiena.
John mengangguk dengan kabut gairah yang ingin disalurkan. .
Bersambung....
__ADS_1