Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Makan malam bersama Mertua


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mereka semua menunggu Grabielle dan Zie untuk makan. Ada Myron dan Zevanya juga yang diundang oleh Zean untuk makan di Apartement mewah Grabielle.


"Selamat malam semua". Sapa Zie.


Mereka menatap penggantin baru itu. Tampak Grabielle melingkarkan lengannya di pinggang ramping Zie.


"Malam sayang". Senyum Luna.


"Malam juga adik ipar". Balas Zevanya "Cie cie Gebe. Wahhh seperti nya Triple L akan ada temannya?". Goda Zevanya.


"Teman apa?". Ketus Grabielle menatap Kakak nya itu kesal.


"Sudah ayo makan jangan berdebat". Sergah Luna.


Masakkan itu adalah makanan yang biasa mereka makan di Amerika. Karena Luna dan Zean belum pernah makan masakkan Indonesia. Untung saja pelayan yang diperkerjakan Kenino bisa masak segala jenis masakkan.


"Makanan apa ini?". Protes Grabielle. Sementara Zie juga bingung menatap makanan itu, meski pernah melihat nya di televisi tapi makanan ini seperti nya tidak sesuai dengan lidah Indonesia nya.


"Ini kan makanan kesukaan mu Son. Kenapa?". Luna menatap putra nya heran.


"Aku tidak mau makan ini". Tolak Grabielle. Entah lah kenapa, dia sudah terbiasa dengan masakkan Zie.


"Makan saja Bielle jangan protes. Kasihan istrimu sudah lapar". Zean geleng-geleng kepala.


"Kau tidak makan Nak?". Tangan Luna terulur mengusap punggung Zie.


"Maaf Ibu Mertua, aku juga tidak biasa memakan masakkan seperti ini". Ucap Zie malu-malu.


"Nona terbiasa makan masakkan Indonesia, Nyonya". Sambung Kenino.


"Bi, buat masakkan untuk menantuku". Suruh Luna pada para pelayan yang berdiri seperti manekin sambil menunggu mereka makan.


"Baik Nyonya".


"Tidak perlu Ibu Mertua. Aku akan masak sendiri. Suamiku juga akan membantu. Iya kan Kak?". Zie tersenyum licik menatap Grabielle.


Grabielle mendelik. Jangan kan masak memegang alat dapur saja dia tidak pernah.


"Iya Mom". Sahut Grabielle asal.


"Ayo sayang, kita masak dulu". Grabielle berdiri.


"Aku juga mau menunggu masakkan Zie. Dia sangat pandai memasak". Zevanya meletakkan sendok nya.


"Ayo Zie". Wanita itu tersenyum dia ingin mengerjai Grabielle.


"Ay_".


"Tidak usah. Biar kami berdua saja yang masak. Kakak tunggu disini". Grabielle menatap Zevanya tajam.

__ADS_1


Bukannya takut, Ibu tiga anak itu malah memutar bola matanya malas. Dia tahu jika Grabielle tidak mau waktu nya dengan Zie diganggu.


"Baik lah".


Zie memasak didapur tentu saja dengan Grabielle.


"Tuan kau yakin ingin membantu saya memasak?". Zie sedikit ragu menatap suami bule nya itu.


"Yakin". Sahut Grabielle sombong.


"Ya sudah pakai klemek dulu, biar bajumu tidak kotor". Zie mengambil satu klemek lalu memasangkannya pada Grabielle "Tuan bisa menunduk sedikit tidak, kau itu tinggi sekali". Ujar Zie.


"Bukan aku yang tinggi kau itu yang pendek". Sergah Grabielle.


"Edah, mana ada seperti itu. Salahkan dirimu yang tinggi. Aku ini tidak pendek hanya kurang tinggi saja". Sambil memasang klemek ditubuh Grabielle.


"Sama saja".


"Beda tulisannya". Ketus Zie "Ayo masak".


"Ini apa?". Grabielle mengangkat satu ikat kangkung yang diberikan istrinya


"Sayuran Tuan. Cepat potong". Suruh Zie ketus.


Mereka berdua memasak. Namun lebih banyak berdebat apalagi Grabielle yang selalu bertanya ini dan itu membuat Zie kesal. Lebih kebanyakkan mengajari Grabielle dari pada memasak.


"Ck, kenapa kau tidak pandai-pandai Tuan?". Gerutu Zie.


"Lagian kau itu aneh-aneh Tuan. Kemarin-kemarin sok-sok'an tidak mau. Sekarang malah kecanduan?". Singgung Zie.


"Ini semua gara-gara kau yang setiap hari masak makanan Indonesia". Cibir Grabielle.


Selang satu jam kemudian masakkan Zie sudah siap dihidangkan.


Zie menata makanan itu diatas meja dibantu oleh Grabielle. Zie tidak mau para pelayan yang membantunya dia ingin mandiri.


Mereka semua tercenggang melihat Grabielle. Seumur hidup baru kali ini pria itu memasak dan bahkan wajahnya tampak menggemaskan saat memakai klemek ditubuhnya.


Zean benar-benar senang melihat perubahan putranya. Dia tidak akan pernah membiarkan Grabielle dan Zie terpisah. Dia adalah orang pertama yang akan menyatukan dua manusia itu.


Begitu juga dengan Luna. Bahkan tanpa sadar wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Putra manjanya yang sering menghabiskan malam dengan banyak wanita itu kini tampak jauh berbeda dan berubah dari sifat aslinya.


"Ayo semua silahkan makan". Ajak Zie "Ayah Mertua. Ibu Mertua. Silahkan dicoba. Ini masakkan khas Indonesia. Masakkan yang menjadi salah satu terfavorit disini". Jelas Zie.


"Terima kasih sayang". Senyum Luna senang.


Luna tentu tidak asing dengan masakkan ini. Karena dulu ketika Fitri masih hidup, wanita itu sering masak menu Indonesia. Jadi lidah Luna sudah biasa.


Begitu juga dengan Zean yang sudah terbiasa. Bahkan pria paruh baya itu sempat merasa hatinya terenyuh sakit. Melihat masakkan didepannya mengingatkan nya pada sosok adik kesayangannya yang meninggal karena penyakit kanker tiga puluh tahun yang lalu.


"Sayang". Myron menggenggam tangan Zevanya. Dia bisa lihat jika istri nya itu juga sedih "Kau tidak apa-apa?". Tanya Myron lembut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak". Senyum Zevanya terpaksa. Bagaimana pun dia jadi merindukan Ibu nya


"Sayang ambilkan aku nasi". Grabielle menyedorkan piringnya dengan manja


Gadis itu mendelik kesal. Grabielle seperti nya mengambil kesempatan dalam kesimpulan ehh salah kesempitan maksudnya.


"Kakak mau yang mana?". Zie mencoba tersenyum meski hatinya jenggah


"Yang mana saja sayang. Kalau kau yang masak selalu enak dan aku ketagihan". Pria itu mengedipkan matanya jahil.


Rasanya ingin muntah mendengar ucapan suaminya. Coba saja kalau tidak ada mertuanya. Sudah pasti mereka berdua akan berdebat.


"Ini Kak". Zie memberikan piring berisi makanan itu pada suaminya.


"Terima kasih sayang". Balas Grabielle tersenyum menggoda.


"Wahh Zie masakkanmu enak sekali?". Puji Zean.


"Ayah Mertua sudah biasa masak, masakkan Indonesia?". Tanya Zie sambil menyendok nasi kedalam piringnya.


"Sudah biasa". Senyum Zean yang tidak ingin menjelaskan luka di hatinya.


"Ayo dimakan semua. Jangan malu-malu".


Semua orang memuji masakkan Zie. Rasanya Zevanya ingin menangis, masakkan ini sungguh mengingatkannya pada Ibu nya. Masakkan yang sangat mirip dan sudah lama Zevanya merindukan masakkan ini


Mereka melanjutkan makan, sesekali diselingi obrolan singkat. Keluarga besar Grabielle memang keluarga yang hangat. Mereka tak pernah bentrokan dan selalu saling mengasihi satu sama lain.


Sekian puluh tahun berlalu pun keluarga Ranlet Flint selalu menjadi keluarga yang mengunjung tinggi persaudaraan.


Hingga kini meski sudah lewat lebih dari tiga puluh tahun mereka tetap tinggal di Mansion mewah keluarga Ranlet Flint yang terletak di New York, Amerika serikat.


"Adik ipar, kapan-kapan boleh tidak ajarkan Kakak memasak makanan ini? Rasanya sangat enak, Kakak ingin memakannya setiap hari". Ujar Zevanya sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Ohh tentu saja Kak, tapi_". Sejenak gadis itu terdiam


"Setelah ini kan aku berpisah dari Tuan Teh Celup, tapi tidak apa-apa. Aku kan masih bisa bertemu Kakak ipar". Batin Zie.


"Tapi kenapa adik ipar?".


"Tidak Kak. Kapan-kapan Zie akan ajarkan Kakak memasaknya. Tapi tidak gratis". Zie tersenyum licik


"Kau ingin apa, Kakak akan kabulkan?". Ujar Zevanya.


"Hanya minta ajarkan mendesain Kak". Sahut Zie.


"Wahh tentu saja boleh. Aku boleh datang ke butik Kakak ya. Nanti Kakak akan ajarkan".


Dan mereka hanya bisa menggeleng kepala. Jadilah meja makan itu dipenuhi dengan percakapan dua wanita yang sudah sah menjadi istri itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2