
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie menuju pantry. Wajahnya yang tadi ditekuk kesal seketika berubah menjadi dingin datar dan tanpa ekspresi. Gadis ini sangat pandai dalam mengubah ekspresi wajahnya. Dia terlihat misterius.
"Heh". Dua wanita berbadan seksi menghampiri Zie.
"Astaga". Gadis berjingkrak kaget sambil mengelus dadanya "Nona kalau mau mengangetkan itu bilang dulu biar aku persiapan dan tidak terkejut". Protesnya sambil meniup-niup tangannya lalu menyambungkan nya ke telinga.
"Heh, pelet apa yang kau berikan pada Tuan Grabielle sehingga dia memilih mahasiswa gadungan seperti mu menjadi sekretaris nya?". Wanita yang satu nya menatap Zie dengan jijik.
"Pakai pelet online". Gadis itu tersenyum santai tanpa takut dibully. Sudah biasa.
"Jawab jujur jangan asal-asalan. Kau pasti menggoda Tuan Grabielle dengan tubuhmu kan?". Tuding yang satunya.
Bukannya marah atau tersinggung. Gadis itu malah menguap beberapa kali mendengar ucapan kedua wanita didepannya ini. Kalau pun dia menggoda Grabielle dengan tubuhnya, itu wajah bukan karena dia adalah istri Grabielle.
"Jawab". Salah satu menarik tangan Zie.
"Bussyyeeeet, main tarik-tarik". Tak terima Zie malah mendorong wanita itu. Jangan salah waktu SMA dia pernah ikut karate, walau hanya sabuk putih.
"Awwwwwwww". Wanita itu terjerembab ke lantai.
"Kau......". Wanita yang satunya membantu temannya berdiri.
"Aku akan laporkan kau pada Tuan Grabielle, atas perbuatan kekerasan. Baru saja sekretaris sudah belagu". Ucap wanita yang satunya menatap Zie dengan benci.
"Ck, melapor itu ke polisi Nona, bukan ke Tuan Grabielle. Sama saja dia tidak akan bisa menangkapku". Ledek Zie. Gadis itu tak takut sama sekali.
"Kau.....".
Wanita itu langsung menyerang Zie. Zie yang tidak siap sontak terjatuh. Kedua wanita itu menarik dan menjambak rambut Zie. Bahkan menampar gadis itu hingga bibir Zie mengeluarkan darah segar.
Zie yang tidak terima langsung melawan. Gadis itu melawan membabi buta. Dia merasakan pipinya benar-benar perih akibat tamparan kedua gadis itu.
"Nona berhenti".
Beberapa karyawan melerai ketiga wanita itu. Mereka saling jambak-jambakkan dengan penampilan yang berantakan.
"Berhenti".
Setelah puas melerai akhirnya, ketiga wanita itu berhasil dipisahkan oleh beberapa karyawan laki-laki disana.
"Nona Zie". Kenino tampak panik menghampiri Zie "Apa yang terjadi Nona?". Bisa digantung Zie oleh Zean jika sampai menantu kesayangan nya itu terluka parah.
"Tuan gadis itu duluan menyerang kami". Adu salah satu wanita itu.
"Cihh, menuduh. Tidak sadar diri". Zie benar-benar geram. Rambutnya sakit karena ditarik.
"Ada apa ini?". Grabielle ikut menghampiri kerumunan itu.
"Maaf Tuan. Nona Zie menyerang kami Tuan". Adu salah satu dari wanita itu.
Grabielle melirik istrinya penampilan Zie tampak berantakan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Tangan pria itu terkepal kuat. Tapi dia berusaha menahan emosi. Tidak boleh gegabah bisa bahaya.
"Kalian ke ruangan HRD". Grabielle menatap kedua orang itu tajam.
"Baik Tuan". Sahut keduanya menunduk takut apalagi wajah Grabielle yang memerah menahan amarah.
"Dan kau......". Dia menunjuk Zie.
"Zie, Tuan. Bukan kau". Ralat gadis itu.
Zie masih santai-santai saja sambil memegang sudut bibir nya terasa perih. Dia juga memperbaiki rambutnya yang seperti kuntilanak itu.
"Keruanganku".
Grabielle berjalan duluan. Dia berusaha tidak emosi. Berusaha tidak marah. Berusaha tidak berteriak. Harus tahan. Orang sabar disayang Tuhan. Kalau kata Zie orang sabar itu pasti kesal.
"Ayo Nona". Kenino memapah Zie berjalan.
"Ck Kak, kau pikir aku gadis lemah Kak?". Ketus Zie
Kenino terkekeh "Anda Wonder Woman Nona". Celetuk Kenino.
"Cihh, kenapa kaki ku sakit ya Kak? Padahal tadi aku yang menyerang mereka lebih banyak. Tapi kenapa kaki ku yang sakit lebih banyak?". Celetuk Zie.
"Karena anda salah sasaran Nona". Sahut Kenino asal.
Bagaimana tidak kaki Zie sakit karena dia tersungkur akibat serangan tiba-tiba. Dia belum menyiapkan jurus nya malah sudah diserang duluan.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan Grabielle. Disana pria itu sudah menunggu dengan tak sabar. Hatinya ketar-ketir.
"Ken ambil kotak P3K". Tintah Grabielle.
Kenino membantu Zie duduk disoffa. Lutut gadis itu memang sedikit memerah dan luka.
"Baik Tuan". Kenino langsung melaksanakan perintah Grabielle.
"Ini Tuan". Kenino memberikan kotak itu pada Grabielle.
"Kau boleh keluar". Suruhnya dingin. Dia juga sebenarnya panas saat Kenino memapah Zie. Kenino keluar.
"Sini aku obati". Grabielle menarik tangan istrinya.
"Awww, Tuan kau itu kasar sekali. Bisa pelan sedikit tidak?". Gerutu Zie. Grabielle menarik tangannya hingga memerah.
"Maaf". Lirih pria itu terdengar sendu dan merasa bersalah.
"Belum Idul Fitri. Tidak ada maaf-maaf". Ketusnya kesal.
Grabielle tak menanggapi dia mengobati luka istrinya.
"Kau itu kenapa lemah sekali sih? Harusnya kau melawan saat di tindas seperti ini". Omel Grabielle.
"Kau pikir akan ada yang peduli denganmu saat kau terluka seperti ini hah?". Omel nya lagi kesal, geram dan gemes.
__ADS_1
"Kau terlalu lemah. Makanya jadi wanita itu feminim sedikit. Bergayalah anggun biar tidak mudah ditindas orang lain".
Zie malah terdiam. Benarkah dia wanita lemah? Apakah sebegitu buruk sifat nya sehingga suami nya sendiri saja mengomel.
Sontak gadis itu berdiri dan menjauh dari Grabielle. Bahkan dia menepis tangan Grabielle yang mengobati sudut bibirnya.
"Kenapa?". Kening Grabielle berkerut heran bahkan kapas ditangannya masih basah dan belum selesai membersihkan luka Zie.
"Aku memang lemah Tuan. Aku memang mudah ditindas. Tapi aku punya perasaan. Cukup mengatakan aku gadis aneh. Aku memang aneh. Sangat aneh. Dan terlalu aneh untuk pria seperti mu". Isak Zie menangis. Entah kenapa ucapan Grabielle sangat melukai hatinya.
"Zie....". Grabielle berdiri hendak menghampiri istrinya.
"Aku memang bukan gadis seperti selera mu. Makanya kau tidak pernah berbelas kasihan padaku. Aku memang tidak pantas dicintai".
Gadis itu mellengang keluar dengan menangis. Dia berjalan tertatih-tatih karena kakinya yang sakit.
Sedangkan Grabielle mematung ditempatnya. Selama dia mengenal Zie baru kali ini dia melihat istrinya itu marah dan menangis rapuh didepannya. Kenapa tatapan gadis itu seperti banyak menyimpan luka.
"Nona". Sontak Kenino berdiri ketika melihat Zie menangis "Anda baik-baik saja Nona?". Kenino tampak panik.
Zie tak menjawab. Gadis itu menyambar tas munggilnya dan tak peduli dengan luka dikakinya, bahkan celana yang dia kenakan sampai sobek.
Zie berjalan dengan tertatih sambil menangis. Gadis itu tidak peduli dengan cibiran para karyawan yang melihatnya.
Zie masuk kedalam pintu lift. Tatapan gadis itu kosong. Dia terluka sekali. Tidak ada yang membelanya. Semua orang selalu memojokkannya.
"Kak Garra, hiksss". Isaknya "Kakak, Kakak Zie sendirian Kak". Gadis itu masih menangis segugukan.
Pintu lift terbuka. Zie berjalan keluar dari perusahaan. Dia langsung naik ojek yang dia pesan lewat aplikasi.
Zie melirik Grabielle yang tampak berlari mengejar Zie.
Zie tak peduli. Gadis itu malah memasang helm di kepalanya dan naik keatas motor.
"Jalan Paman". Perintahnya
Zie menangis dalam diam. Kenapa rasanya sakit sekali saat suaminya mengatakan hal ini? Akhir-akhir ini dia mudah sekali sensitif. Perasaan nya seolah terlalu lemah.
"Aku bukan wanita lemah". Gumamnya.
"Anda baik-baik saja Nona?". Tanya sang supir ojek.
"Patah hati itu ternyata sakit ya Paman?". Celetuk Zie sambil menyeka air matanya.
Sang supir ojek terkekeh gemes mendengar ocehan Zie.
"Tentu saja sakit Nona". Dia terkekeh
"Kita mau kemana Nona?". Tanya sang supir
"Keliling kota Jakarta". Sahutnya asal sambil menyeka air matanya.
Bersambung...
__ADS_1
Cie cie cie cie yang udah mulai baper.