
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Mahardika Group?". Gumam Grabielle
"Bukankah ini pemilik perusahaan mantan calon suami gadis aneh ini? Ada apa ini? Apa dia tahu kalau Si Aneh itu sedang bersamaku? Mencurigakan". Batin pria tampan sedikit kesal
"Anda sedang tidak kemasukkan kan Tuan?". Zie menempelkan punggung tangannya dikening Grabielle lalu memegang pantatnya "Tidak panas". Gadis itu menggeleng. Apalagi Grabielle komat-kamit sendiri.
"Bisakah jangan membuatku naik darah?". Grabielle mengusap kening nya "Kau pikir aku sama dengan pantat mu itu?". Ketusnya.
Zie menguap dan memutar bola matanya malas. Gadis ini sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Grabielle. Baginya seperti angin lalu yang hilang dan tidak terlihat.
"Sudah apa belum Tuan. Saya masih banyak pekerjaan, bukan mendengar Omelan anda". Ujar Zie mulai jenggah. Pria ini menahannya untuk keluar tapi tidak juga disuruh apa-apa. Hanya diam duduk dan dengar.
"Persiapkan dirimu. Kita akan meeting bersama Mahardika Group". Grabielle menutup map nya.
"Baik Tuan". Zie berdiri dan sedikit membungkuk "Ohh ya Tuan. Saya mau tanya kira-kira gajian tanggal berapa ya Tuan? Soalnya skincare saya sudah habis, kuota internet menipis. Belum lagi biaya buat print skripsi pasti butuh banyak uang". Oceh gadis itu.
"Stopppp". Grabielle menutup telinganya "Kau bicara tidak bisa pelan". Omelnya mengusap telinganya "Tidak ada gajian. Sudah keluar sana". Usir pria itu.
Zie menghentak-hentakkan kakinya kesal. Bibirnya mengerucut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
"Aku pamit sayang".
Grabielle terpaku mendengar panggilan sayang dari Zie. Dia menatap gadis itu yang tengah tersenyum jahil kearah nya. Kenapa dengan jantungnya? Kenapa dia bisa sesenang ini saat Zie memangilnya sayang?
"Sayangnya, saya bohong".
Raut wajah Grabielle langsung berubah masam. Dia menatap gadis itu dengan tajam dan ingin memasukkannya kedalam tas saja.
Grabielle berdiri dan mendekati Zie. Tatapan pria itu seperti pedang bermata dua.
Bukannya takut Zie malah menantang pria itu. Jadilah mereka saling tatap-tatapan tajam, sinis dan perang dingin.
"Permisi Tuan". Kenino masuk.
"Diam". Sentak kedua manusia itu pada Kenino.
Kenino menelan salivanya kasar. Dan hanya diam membungkuk sambil menyaksikan dua orang yang tengah berperang dingin itu.
"Dasar gadis aneh. Ceroboh. Oon". Cibir Grabielle.
"Dasar Tuan Teh Celup. Suka coba segala lobang. Si anu nya pasti sudah berlumur". Balas Zie.
"Kau......". Grabielle meminting kepala Zie dari belakang.
"Tuan menyebalkan".
Zie membalas dengan menarik rambut Grabielle. Jadilah mereka acak-acakan. Saling serang. Zie menarik-narik rambut Grabielle. Grabielle masih meminting leher gadis itu.
__ADS_1
"Sudah Tuan. Nona".
Kenino melerai kedua orang itu. Kenino kewalahan tapi akhirnya berhasil.
"Anak kecil". Sindie Grabielle memperbaiki bajunya sambil merapihkan rambutnya.
"Tuan Teh Celup". Balas Zie juga memperbaiki rambutnya.
Grabielle menahan nafasnya yang memburu. Kesal dan gemes bercampur menjadi satu.
Zie keluar dari ruangan Grabielle dengan wajah kesalnya. Rambutnya sudah acak-acakan. Dia mengumpat kesal.
"Tuan". Kenino menghela nafas sambil menggeleng.
"Ada apa?". Ketus Grabielle duduk sambil melonggarkan dasinya.
"Sebenarnya saya heran. Kenapa Tuan suka sekali berdebat dengan Nona Zie?". Ujar Kenino.
"Dia selalu membuatku kesal Ken. Membuat tensiku naik.. Ahhh pokoknya dia gadis aneh dan menyebalkan. Sangat menyebalkan". Ucap Grabielle menggebu-gebu.
Kenino menggeleng kepala saja. Seperti nya Kenino harus mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Yaitu menghadapi Grabielle dan Zie yang suka berdebat setiap hari.
.
.
.
.
Kenino menggaruk tengkuknya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju restourant tempat mereka meeting bersama Mahardika Group.
Drt drt drt drt drt
Ponsel Zie berdering hingga membuyarkan lamunan mereka.
"Siang Cinta". Sapa Zie. Wajahnya yang tadi muram menjadi berbinar
"Aku baik-baik saja Cinta. Wahhh benarkah? Aku juga merindukan mu. Ingin memeluk mu. Kapan-kapan kita bertemu yaa, makan bakso nya Mang Ujang, uhhh pasti enak pake banget". Air liurnya rasanya mau menetes "Baiklah cinta aku tutup dulu telponnya. Love you". Zie mengakhiri panggilan nya.
Grabielle sudah ketar-ketir dibelakang tangan nya terkepal dan rahangnya mengeras sangat kuat. Apa selama ini Zie punya kekasih dan pacaran diam-diam dibelakang nya?
Wajah pria itu tampak memerah menahan amarah. Entah kenapa dia marah? Dia tidak tahu.
Kenino kikuk dibangku kemudi. Dia mengintip wajah Tuan-nya, dalam hati sudah tertawa puas. Tidak bisa dipungkiri bahwa Grabielle pasti cemburu.
"Siapa Nona? Orang spesial yaa?". Kenino kepo dan ingin tahu
Zie mengangguk dengan senyuman manis "Iya Kak. Sudah lama tidak bertemu dengannya". Jawab gadis itu jujur.
__ADS_1
Zie tidak tahu saja jika dibelakang nya ada pria yang sudah dari tadi menahan cemburu.
Kenino mengangguk paham. Dan tidak berani lagi bertanya-tanya.
Sampai disebuah restorant mewah. Mereka bertiga langsung turun.
Zie terdiam sejenak. Restourant ini adalah tempat favorit nya bersama Garra. Setiap akhir pekan Kakak nya itu pasti mengajaknya kesini hanya untuk makan malam berdua sambil malam mingguan
"Kenapa?". Grabielle melirik gadis disampingnya yang hanya diam
"Saya lagi mikir Tuan. Kira-kira nanti kita pesan makanan apa?". Gumamnya
"Kau ini, makan terus". Ketus Grabielle.
Zie hanya menampilkan rentetan gigi putihnya tanpa dosa.
Mereka berjalan masuk. Grabielle menjadi pusat perhatian. Pria bule yang tinggi menjulang. Wajahnya sanggar tanpa ekspresi. Dibelakang nya diikuti oleh dua orang yang yakini asisten dan sekretaris nya.
Mereka masuk kedalam ruang VVIP. Disana sudah ada dua orang pria yang tengah menunggunya.
"Selamat datang Tuan Grabielle".
"Terima kasih Tuan Gama". Mereka berdua saling bersalaman
Zie terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras. Seperti nya pernah melihat Gama. Tapi dimana?
"Nona Zie?". Gama tersenyum ramah ada Zie. Ahh dia tidak sabar memiliki gadis lucu ini.
"Tunggu sebentar". Gadis itu mengetuk-ngetuk ujung pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
Yang lain menunggu ucapan gadis itu. Grabielle juga menatap Zie heran.
"Aha". Pekik gadis itu.
Mereka yang lain mengelus dada dan kaget mendengar pekikan gadis itu.
"Jangan berteriak disini bukan hutan". Ketus Grabielle.
"Hehe maaf Tuan". Zie menampilkan wajah puppy eyes nya
"Tuan Gama, bukan? Dosen tamu yang tampannya tujuh turunan, delapan tanjakkan, dan sembilan belok-belok itu?".
Gama menutup mulut menahan tawa. Benar kata aissten nya bahwa Zie tidak tahu kalau dia yang dijodohkan dengan Zie.
"Iya Nona. Terima kasih masih mengingat saya". Gama tersenyum ramah "Bagaimana kabarmu Nona? Sudah magang nya?". Ujar Gama
"Sehat Tuan. Iya Tuan, sedang magang di perusahaan Tuan Teh Celup ehh salah maksud saya Tuan Grab". Rapat gadis itu.
Grabielle menatap Zie tajam. Dalam hati ingin menenggelamkan gadis itu.
__ADS_1
"Cieeee yang cemburu". Bisik Zie. Hingga membuat Grabielle kaget dan kembali menatap gadis yang menutup mulut menahan tawa.
Bersambung.....