
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah mengobrol panjang. Sambil mengikuti kegilaan Zie dan Zevanya. Grabielle ke kamar membawa istri kecil nya itu. Lelah tertawa. Lelah dan dilema.
"Saya akan tidur disoffa Tuan". Ucap Zie mengambil bantal dan selimut didalam almari.
"Tidurlah di ranjang, biar aku disoffa". Ucap Grabielle.
"Tidak sopan, Tuan adalah majikan saya". Sergah Zie sambil menyimpan bantal disoffa
"Jangan membant_".
"Tuan, ini surat perceraian kita. Minggu depan kita akan mulai sidang. Mulai besok aku tidak akan tinggal disini lagi. Aku akan pindah dan tinggal bersama Ester. Semua hutangku akan dilunasi oleh Ayahku. Jadi Tuan tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba aku mati dan gentayangan lalu menghantuimu". Ujar Zie memberikan amplop pada Grabielle
Seluruh tubuh Grabielle seolah membeku ditempatnya. Dia tidak menyangka jika gadis ini sungguh akan meminta cerai padanya.
Zie berdiri menuju kamar mandi. Gadis itu harus mencuci mukanya sebelum tidur. Agar jerawat tidak tumbuh diwajah nya.
Sementara Grabielle menatap amplop putih ditangannya. Pria itu membuka amplop itu untuk membaca isinya.
Pria itu terduduk lemes dibibir ranjang. Sialnya air matanya jatuh seolah menandakan bahwa dia terluka parah.
"Anda kenapa Tuan?". Tanya Zie heran melihat Grabielle yang menangis
"Apa kau sungguh ingin berpisah denganku Zie?". Grabielle berdiri dan menatap istrinya "Apa aku sungguh jahat dimatamu? Apa aku sungguh tidak pantas menjadi suamimu? Apa karena masa laluku? Apa karena aku penjahat?". Cecar Grabielle menatap istrinya.
Zie mendongkrakkan kepalanya. Dia menatap suaminya yang sedang menangis. Baru kali ini Zie melihat pria itu rapuh dan menangis.
"Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti perasaan mu. Aku.. aku.. Hanya bercanda Tapi kenapa kau langsung meminta pisah denganku?".
"Apa aku sungguh jahat Zie? Seburuk itu aku di matamu. Aku memang jahat. Aku penjahat. Aku penjahat". Pekik Grabielle frustasi sambil meremes rambutnya.
Zie ikutan menangis. Dia tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Yang pasti air mata nya tak bisa lagi dibendung dan keluar begitu saja.
"Kau tahu Zie sejak kau hadir dihidupku. Aku merasa hidupku berwarna. Aku merasa kau bisa merubah pola pikir ku terhadap wanita. Aku merasa kau membuatku menjadi diriku sendiri. Meski kita berdebat. Meski kita rusuh. Tapi sungguh aku tidak bisa tanpa mu. Saat kau sakit aku panik. Saat kau hilang aku panik. Aku selalu gelisah saat tidak melihat wajahmu. Sangat gelisah. Aku... aku mencintaimu Zie. Sangat mencintaimu". Akhirnya Grabielle mengeluarkan segala unek-unek dihatinya. Pria itu menangis segugukan terlihat rapuh dan patah hati.
__ADS_1
"Tapi jika kau memang ingin berpisah denganku. Aku akan mengabulkan permintaan mu. Aku tidak bisa menahan mu. Aku tidak bisa memaksamu. Aku tidak mau kau tertekan dan aku tidak mau kau terluka. Semoga kau bahagia Zie. Semoga kau menemukan pria yang tepat. Ketahuilah aku akan tetap mencintai mu, meski kita sudah tak bersama". Berat mengatakan kalimat itu tapi mungkin ini yang terbaik
Grabielle mengambil bolpoint didalam nakasnya. Dia akan menandatangani surat perceraian ini. Dia tidak bisa memaksa Zie terus bersamanya.
Tubuh Grabielle seketika menegang saat Zie memeluk nya dari belakang.
"Hiks hiks hiks maafkan aku Tuan. Maafkan aku. Aku.. Aku.. Aku juga mencintaimu. Aku tidak mau berpisah dari mu. Aku hanya merasa tidak pantas bersama mu. Kau terlalu susah untuk ku gapai". Zie menangis sambil membenamkan wajahnya dipunggung pria bule itu.
Grabielle meletakkan pulpen dan kertas ditangannya. Pria itu berbalik sambil melepaskan lekukan istri kecilnya.
"Benarkah kau mencintaiku?". Zie mengangguk.
"Aku mencintaimu Tuan. Sangat. Aku tidak peduli masa lalumu. Aku tidak peduli kau yang sudah mencoba segala lobang. Aku tulus mencintaimu. Hiks hiks".
"Terima kasih". Grabielle menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Kedua pasangan suami istri itu saling bertangisan dengan memeluk erat.
Akhirnya Grabielle memberanikan diri mengakui segala perasaan nya. Dia udah tidak tahan lagi menanggung beban dihatinya. Dia tidak bisa berbohong bahwa dia mencintai gadis yang didalam pelukkan nya ini. Istri kecilnya akan menjadi istri kesayangan nya. Dia yang akan menjaga Zie nantinya.
Zie juga mengakui rasa cintanya. Dia tidak tahu sejak kapan dia jatuh cinta pada suaminya. Yang pasti dia selalu merasa terlindungi saat bersama pria bule itu.
"Tuan sejak kapan kau jatuh cinta padaku?". Tanya Zie.
Grabielle menyeka air mata istrinya. Sementara tangan Zie masih melingkar dipinggang pria itu.
"Sudah lama. Hanya saja aku baru menyadari nya". Grabielle menyelipkan anak rambut Zie.
"Tuan, kau tidak lupa kan perjanjian kita? Jadi karena kita saling jatuh cinta, kita bayar patungan saja yaaa?". Celetuk Zie "Kau bayar separuh dan aku bayar separuh. Tapi aku pinjam uang dulu padamu ya? Soalnya transferan dari mu itu belum cukup". Celoteh Zie.
Grabielle terkekeh gemes. Dia sampai lupa pada surat perjanjian mereka. Dilarang jatuh cinta, kalau jatuh cinta harus bayar satu triliun dan akhirnya mereka berdua melanggar perjanjian itu.
Rencana Grabielle untuk menghamili Zie dan meninggalkan gadis itu juga sirna entah kemana. Sejak Zie jatuh sakit, saat itu Grabielle bertekad menjaga Istrinya. Apalagi dia tahu bahwa Zie ini selalu dalam bahaya.
"Kita tidak jadi bercerai kan?". Tanya Grabielle mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
Zie menggeleng "Maaf. Aku terlalu egois yang ingin berpisah dengan mu Tuan. Aku hanya merasa tidak pantas. Kau terlalu sempurna untukku".
"No. No. Aku lah yang tidak sempurna untukmu".
Grabielle kembali menarik gadis itu kedalam pelukannya. Mereka saling memeluk erat. Saling melepaskan semua perasaan.
"Ya sudah ayo tidur". Ajak Grabielle
"Tapi_".
"Jangan takut sayang. Sejak bertemu denganmu mindset ku terhadap wanita berubah. Aku tidak akan macam-macam. Aku tidak akan memaksa mu sebelum kau siap. Jadi tidak perlu takut oke". Ucap Grabielle tersenyum. Ini bukan gombalan tapi ini perkataan yang tulus dari hatinya.
"Dan satu lagi jangan panggil aku Tuan. Aku adalah majikan mu". Imbuhnya.
"Iya Kak". Zie tersenyum.
"Ayo".
Mereka berdua berbaring diranjang saling menyamping dan wajah yang saling menatap.
"Sini sayang, aku peluk saja yaaa?". Grabielle menyimak selimut nya.
"Tapi_".
"Masih takut?". Dengan polosnya Zie mengangguk "Aku berjanji tidak akan macam-macam sayang. Aku sungguh mencintaimu. Sangat. Mungkin ini terdengar menggombal tapi sungguh ini perkataan lahir dari hatiku. Aku tidak mau menyakiti mu. Air matamu terlalu berharga untukku". Grabielle mulai dewasa semoga nanti tetap bucin.
Rasanya hati Zie ingin meleleh. Kenapa dia bisa sesenang ini?
"Iya Kak".
Gadis itu menurut dan masuk kedalam pelukan suaminya.
"Selamat tidur Istri Kecilku".
"Selamat tidur suami bule ku".
__ADS_1
Keduanya terlelap. Surat perceraian tadi mereka lupakan. Pertengkaran tadi tak mereka ingat. Sekarang keduanya sudah saling memeluk erat dan memiliki cinta.
Bersambung...