
Happy reading guys makasih
John, Shiena dan Sandra turun dari mobil. Ketiganya kompak memakai kacamata hitam.
Meski tak diundang, Sandra tidak mau melewatkan pernikahan putra tunggalnya itu. Gama adalah putranya dan dia berhak hadir didalam pernikahan putranya itu.
"Ayo". Ajak John.
"Kalian siapa?". Cegat pengawal yang berjaga didepan pintu masuk.
"Minggir. Aku Ibu nya Gama". Sandra menyingkirkan tubuh pengawal anak nya itu.
"Maaf Nyonya. Anda tidak bisa masuk tanpa seizin Tuan". Sahut salah satunya.
"Aku tidak perlu izin. Aku adalah Ibu nya. Jadi aku berhak masuk kedalam sana". Sergah Sandra emosi.
"Sebaiknya kalian minggir". Sambung John.
Salah satu pengawal membiarkan mereka masuk karena baru saja dia mendapat perintah dari Mark agar mengizinkan Ibu dari Tuan-nya itu masuk.
Ketiganya masuk dengan langkah angkuh. Tampak para tamu masih memenuhi ruangan.
Sandra mendelik kearah lain dengan celingak-celinguk mencari keberadaan Arthur. Dia sungguh mencintai pria itu tapi Arthur dengan tega mengkhianati dirinya dan pernikahan nya. Hati wanita mana yang takkan sakit saat suami sendiri menghamili mantan kekasihnya.
"Sandra". Gumam Arthur melihat Sandra dari jauh.
Sandra berjalan kearah Arthur dengan langkah sombong tatapan angkuhnya. Seolah dia adalah makhluk paling cantik didunia.
"Apa kabarmu sayang?". Ucap Sandra sambil menatap Arthur dengan licik "Sudah lama kita tidak bertemu". Sambil mengelus dada Arthur.
Arthur meski usianya sudah menginjak kepala lima tapi ketampanan nya tak juga berkurang. Malah semakin tampan diwajah Sandra. Bagaimana tidak terpesona wanita itu menatap wajah mantan suaminya dengan tatapan damba?
"Ada apa?". Tanya Arthur dingin.
Arthur tak menyalahkan hatinya yang tidak bisa menerima Sandra sebagai istri nya. Wanita ini tidak hanya angkuh tapi juga berambisi. Pernikahan mereka pun terjadi bukan karena cinta karena perjodohan dan Arthur sengaja dijebak oleh wanita itu. Hal itu lah yang membuat Arthur sama sekali tidak bisa membuka hati untuk Sandra.
"Apa kau tidak merindukanku sayang?". Bisik Sandra manja.
"Lepaskan Sandra". Pekik Arthur setengah mendorong tubuh wanita itu.
Wajah Sandra langsung merah padam. Tangannya terkepal kuat. Arthur masih sama seperti yang dulu. Tidak berubah sama sekali. Selalu dingin padanya.
__ADS_1
Sandra memalingkan wajahnya. Jika tidak berpikir karena acara putranya mungkin Sandra sudah memberontak dan menyerang Arthur. Tapi dia berusaha menahan emosinya. Sandra tidak mau membuat Gama semakin membenci nya lagi.
John dan Shiena hanya menatap dengan sinis juga. Tentu kedatangan mereka dengan sebuah tujuan bukan tanpa tujuan.
John menatap benci Zie yang bergelayut manja dilengan suaminya. Dia masih tidak bisa lupa bagaimana Allena menghianati nya.
"Wanita pembawa sial. Lihat saja nanti aku akan membunuhmu Zie". Batin John
Sandra menghampiri putra semata wayangnya itu. Sesungguhnya dia merindukan Gama. Sangat rindu. Sebagai seorang Ibu dia sangat ingin Gama tumbuh dengan kasih sayang. Namun apa daya, rumah tangganya sudah retak diawal pernikahan.
Sandra menyimpan sedikit penyesalan karena memaksa Arthur yang sama sekali tidak mencintainya dan akhirnya dia harus merasakan kehancuran dalam hidup rumah tangganya.
"Gama".
Gama yang tengah asyik mengobrol dengan Ester mengalihkan pandangan nya pada Sandra.
"Mom". Gumam Gama.
Gama berdiri sambil mengenggam tangan Ester. Takut jika Ibu nya menyakiti istrinya. Sandra selalu menurut Gama untuk menemukan pasangan yang sederajat dengan mereka.
Senyum Sandra mengembang menatap putranya. Putra kecilnya dulu.
"Selamat ya Son". Wanita itu memberikan pelukan hangat pada putranya.
"Semoga kau bahagia". Sandra melepaskan pelukan putranya.
Sandra menatap Ester tak suka. Jika dilihat dari sisi mana pun istri putranya itu sama sekali tidak menarik apalagi cantik. Gama sempurna dan memiliki segalanya tapi harus bersanding dengan gadis seperti Ester sungguh perbandingan yang sangat jauh sekali.
Gama hanya mengangguk dia masih mengenggam tangan Ester. Dia mengenal siapa Ibunya ini.
John dan Shiena menghampiri Zie dan Grabielle. Tatapan permunsuhan terlihat jelas dimata keduanya. Zie adalah penyebab segala penderitaan mereka.
"Apa kabarmu sayang? Apa kau tidak rindu Ayah?". Tanya John dengan senyuman licik.
Bibir Zie terasa kelu. Inikah pria yang telah membunuh Ibu nya itu? Ayah tirinya sendiri. Ayah yang begitu dia sayangi. Ayah yang begitu dia hormati.
"Ayah". Lirih Zie.
Grabielle menatap tajam. Dia tidak akan biarkan John menyentuh Zie barang seinci pun.
Shiena menatap Grabielle dengan damba. Sampai sekarang dia belum kesampaian mendesah dibawah pria bule itu. Mendekati Grabielle tidak semudah yang dia pikirkan dan sialnya Grabielle sudah mencintai istrinya.
__ADS_1
"Ayah". Gumam Zie.
"Kau masih mengingat Ayah rupanya". John tertawa garing "Bagaimana kandungan mu?". Sekedar basa-basi padahal hatinya begitu membenci Zie.
Gama memerintahkan Mark dan Kenino agar segera membubarkan para tamu. Gama tidak ingin rekan bisnisnya melihat betapa kacau nya keluarganya. Sudah cukup dia merasakan kehancuran dan jangan sampai ada orang lagi yang melihat nya.
"Jangan dekati istriku". Sergah Grabielle wajah nya memerah menahan amarah.
"Hai menantuku sayang. Kenapa kau tidak menyapa mertuamu?". Ujar John santai "Ehem, kau menantuku yang hebat dan kaya raya. Bagaimana kalau lima puluh persen sahamku dialihkan atas namaku? Anggap saja sebagai balas budi karena aku sudah menyerahkan anak tersayang ku padamu". Ucap John dengan senyuman licik.
"Ayah".
Grabielle mengenggam tangan istrinya. Zie tidak boleh banyak berpikir apalagi sampai stress itu bisa berpengaruh pada kesehatan mental nya dan bayinya.
"Hai Tuan Grabielle. Perkenalkan Shiena". Shiena mengulurkan tangannya kearah Grabielle dengan senyuman menggoda.
Grabielle sama sekali tak menyambut bahkan melirik saja tidak. Entah kenapa sejak menikah dengan Zie dia jadi jijik menyentuh wanita lain selain istri nya itu. Bagi Grabielle hanya Zie yang paling menarik.
Shiena mendengus kesal. Marah dan juga malu. Wanita itu menarik tangannya dengan paksa.
"Sayang, kau pasti lelah. Ayo kita pulang". Ajak Grabielle pada istrinya. Dia malas meladeni orang-orang seperti John dan Shiena.
"Tapi acaranya belum selesai Kak?". Ucap Zie.
"Tidak apa-apa. Ayo istirahat". Ajak Grabielle.
John kembali menatap putrinya dengan benci. Setiap kali melihat wajah Zie dia selalu ingat pada penghianatan Allena. Takkan John lupakan. Meski Zie tidak bersalah tapi Zie adalah anak dari hasil hubungan gelap itu sampai kapan pun John takkan melupakan itu.
Bersambung.....
Sore semua......
Balik lagi bersama author receh dari kampung...
Apa kabar kalian hari ini????
Semoga ditahun yang baru ini kita menjadi lebih baik lagi ya.......
Dan jangan lupa untuk follow akun author biar selalu dapat notifikasi terbaru dari karya-karya nya author.
Jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah ini yaa....
__ADS_1
Terima kasih ....
Tuhan memberkati.....