
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Gadis itu berlari dengan kencang. Sambil ngos-ngosan. Nafasnya terlihat memburu. Beberapa kali dia menoleh ke belakang dan melihat pengawal sang Ayah yang masih mengikuti nya
"Ahhhh Tuhan, tolonglah hambaMu yang cantik itu". Gumamnya "Permudahkan jalan hamba untuk kabur, amin". Masih sempat-sempatnya dia mengusap wajahnya mengucapkan amin.
"Nona berhenti". Teriak mereka
"Berhenti Nona. Anda harus kembali". Teriak salah satunya lagi.
"Tidak mau". Sahut nya sambil berlari.
Gadis itu mempercepat langkah kakinya. Dia sudah tidak memakai alas kaki. Tidak peduli dengan kakinya yang luka-luka akibat krikil yang dia injak.
Gadis itu langsung masuk kedalam sebuah taksi yang kebetulan berhenti diparkiran.
"Paman jalan....". Teriaknya
Sang supir yang tengah asyik dengan ponselnya itu terkejut bukan main. Namun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi
"Cepat Paman cepat". Teriaknya sambil menguncang bangku kemudi.
"Astaga Nona. Anda tidak perlu teriak". Protes sang supir "Tapi bukan anda yang memesan taksi saya Nona". Ujar sang supir taksi lagi.
"Sudah Paman jangan protes. Lajukan saja mobilnya". Teriaknya kencang
"Tidak perlu teriak-teriak Nona. Ini bukan hutan. Ini didalam mobil nanti orang-orang sangka saya melakukan hal yang tidak senonoh dengan Nona". Protes sang supir.
"Alah. Aku tidak peduli Paman. Jangan sampai mereka menangkapku. Jika sampai aku tertangkap aku akan membuat mobilmu guling-guling diatas kasur ehh salah diatas aspal maksudnya".
Sang supir mendengus kesal. Siapa gadis ini? Mau kemana? Kenapa mengenakan pakaian pengantin? Makeup nya sudah luntur karena keringat.
"Kita ke Bandara Paman". Tintahnya.
"Baik Nona". Sahut sang supir
Gadis itu menoleh ke belakang. Beberapa mobil berwarna hitam mengikutinya. Dia mulai panik. Tidak. Tidak. Dia tidak boleh tertangkap. Tidak boleh. Dia tidak mau menikah dengan paksa. Dia sudah membayangkan jika dia dijodohkan dengan pria botak, perut buncit dan jenggot yang mengukur. membayangkan nya saja membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tancap Paman. Gassskeuunnn". Serunya menyemangati supir taksi itu.
Sang supir yang tadinya kesal bukan main. Tersenyum simpul. Gadis itu seperti nya menyenangkan. Bawel. Berisik. Terlihat dari wajahnya.
Taksi itu berhenti di Bandara.
"Paman aku punya ini bagaimana cara bayarnya?". Gadis itu menunjukkan Blackcard ditangannya.
Sang supir melonggo melihat kartu unlimited itu. Dia menatap gadis yang tengah melihat sekitar nya
"Paman bagaimana?". Desaknya
"Gratis untukmu Nona. Tidak perlu dibayar". Ucap sang supir tersenyum. Seperti nya gadis itu dalam keadaan mendesak.
__ADS_1
"Serius?". Sang supir mengangguk "Terima kasih Paman. Panjang umur sehat selalu dan sering-sering". Celetuknya "Kalau begitu aku pamit Paman. Terima kasih".
"Iya Nona".
Gadis itu keluar dari mobil. Dia berlari dengan kencang saat melihat anak buah Ayahnya ada disana.
"Hah hah hah". Nafasnya memburu
"Nona berhenti Nona".
Para pengawal itu semakin dekat
"Ohh Tuhan. Ku sayang masa depanku. Janganlah berakhir disini. Aku tidak mau memiliki suami botak. Perut buncit. Ahhh pasti si anu nya besar sekali". Celetuknya masih sempat-sempatnya dia bergumam.
"Nona berhenti Nona".
"Nona Zie, berhenti".
Dia menjadi pusat perhatian. Apalagi dia mengenakan gaun pengantin. Berlari seperti orang gila. Rambut acak-acakan tanpa alas kaki.
"Tuan tolong aku".
Gadis itu memeluk seorang pria yang baru turun dari Bandara. Pria bule yang baru saja sampai disana.
"Nona Zie". Para pengawal itu ikutan berhenti dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Nona". Panggil mereka.
"Tuan tolong aku. Tolong Tuan. Aku akan melakukan apa saja untuk membalas budimu. Tapi tolong selamatkan anak perawan ini Tuan. Hikss hiks... Tolong Tuan".
"Tuan". Grabielle mengangkat tangannya saat Kenino ingin menarik gadis itu.
"Ada apa? Katakan lah". Grabielle melepaskan pelukan gadis itu "Apa yang bisa ku bantu?". Lain dimulut lain dihati.
"Tolong aku Tuan. Mereka.. Mereka". Graziella menunjuk para pengawal Ayahnya suaranya tak tembus menahan tangis dia berharap agar pria itu mau menolong nya.
Grabielle merangkul bahu Graziella yang hanya tinggi sedada itu
"Kenapa kalian mengejarnya?". Grabielle memincingkan matanya
"Maaf Tuan. Nona kami kabur. Dia akan menikah hari ini". Sahut salah satunya mewakili.
"Sudah tidak perlu basa-basi. Lepaskan Nona kami". Sentak salah satunya lagi
Grabielle menatap Graziella dan gadia itu menggeleng tak mau.
"Kalian mau berapa?". Grabielle menatap kelima pria berbaju hitam itu.
"Maksud mu?". Kening salah satunya berkerut heran.
"Ken".
__ADS_1
Kenino mengeluarkan lima Blackcard dan menunjukkan nya pada kelima pria itu
Bukan hanya kelima pria itu saja yang terkejut tapi juga Graziella. Seumur hidup dia baru kali ini melihat kartu berwarna hitam itu lebih dari satu.
"Ambillah untuk kalian dan lepaskan dia untukku". Ucap Grabielle dingin.
"Tid_".
"Aku tidak mau tahu". Potong Grabielle "Ken berikan pada mereka. Pastikan mereka tidak mengatakan dimana keberadaan gadis ini. Jika mulut mereka ember buat saja seperti baskom". Tintah Grabielle.
"Baik Tuan".
Kenino membagikan kelima kartu berwarna hitam itu pada mereka. Tangan mereka sampai bergetar menerimanya. Mereka lupa bahwa ada konsekuensinya.
.
.
.
.
Didalam mobil, Graziella menatap kagum mobil mewah Grabielle.
"Tuan".
Namun Grabielle tak menjawab. Pria itu hanya diam saja. Entah untuk dia apakan gadis ini? Tidak mungkin dia mendiuri gadis dibawah umur seperti Graziella.
"Tuan saya berjanji akan membayar kebaikan anda. Saya mau jadi pembantu, pelayan, apa saja saya mau. Apalagi jadi mempelai wanita Tuan". Graziella cekikikan sendiri. Sementara Kenino yang menyetir tersenyum sambil menggeleng
"Tuan". Grabielle menatap Graziella tajam.
"Tuan". Pria itu masih diam dan tidak mau menjawab ucapan gadis yang duduk disampingnya itu
"Maaf Nona. Anda ikut kami saja. Nanti saya akan jelaskan apa yang harus anda lakukan". Ucap Kenino mewakili.
"Baik Tuan".
"Tuan siap namamu? Kita belum kenalan. Kata pepatah kalau tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah sayang jangan lupa dikasih uang biar tidak ditendang".
"Kau......". Tangan Grabielle terkepal. Dia menatap tajam gadis itu
"Alah kelamaan". Graziella menarik tangan Grabielle dan menjabat tangan pria itu
"Graziella. Bisa dipanggil Zie. Bisa dipanggil Lala. Mau panggil sayang juga boleh". Graziella tersenyum jahil sambil menaiki turunkan alisnya menggoda pria itu.
Grabielle menarik tangannya dengan paksa. Dia menatap gadis itu seakan ingin melahap. Yang ditatap malah menguap beberapa kali.
"Terima kasih Tuan Tampan sudah menolongku. Semoga kita berjodoh". Graziella tersenyum lebar.
Tangan Grabielle terkepal. Gadis ini bisa membangunkan jiwa mafianya lagi.
__ADS_1
Sedangkan Kenino menahan tawa. Walau tidak dijawab, Graziella masih saja berceloteh. Hingga membuat kepal Grabielle pusing. Namun pria itu memilih mengabaikan Graziella.
Bersambung...