Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Nasehat Kenino


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie sudah berkutat dengan alat-alat dapur dibantu oleh para pelayan yang bekerja di Apartement itu.


Senyumnya mengembang. Seolah masalahnya semalam hanya mimpi tidur saja. Lihatlah sekarang, gadis itu kembali ceria. Tapi apakah ada yang tahu dan sadar bahwa itu adalah cara dia menutupi lukanya. Dia yang bodoh, baper sendiri. Padahal dari awal pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan untuk saling menguntungkan.


Zie menyajikan makanan diatas meja bersama para pelayan. Seperti rutinitas setiap hari dia menyiapkan makanan untuk suaminya.


Zie menghela nafas panjang. Pipinya terasa panas dan matanya juga mulai kabur menahan sesak.


"Setelah ini aku harus ke kantor pengadilan mengurus surat perceraian itu". Batinnya


"Terima kasih Bi, sudah membantu. Ini untuk kalian makanlah". Zie memberikan semangkuk sup buntut pada salah satu wanita paruh baya itu.


"Terima kasih Nona Muda". Senyum mereka menggembang dan senang.


"Sama-sama Bi".


Zie kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Gadis itu berpakaian seperti biasanya. Meski hatinya masih sakit mengingat ucapan suaminya. Tapi Zie tidak peduli. Seperti kata orang, yang menyukai kita tidak peduli bagaimana penampilan kita di mata mereka akan selalu bagus. Tapi bagi yang tidak menyukai kita, bagaimana pun penampilan kita tetap saja salah di mata mereka.


Zie keluar dari kamarnya. Entah kebetulan atau memang jodoh, dia berpapasan dengan Grabielle yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi Tuan. Jangan lupa awali pagi mu dengan senyuman". Serunya manis sekali.


"Pagi". Sahut Grabielle datar. Dia menatap istrinya dengan intens.


"Ayo". Ajak gadis itu sumringah.


Grabielle mengekor istrinya dari belakang. Kejadian kemarin masih melekat dihati pria itu.


"Pagi Tuan. Pagi Nona". Sapa Kenino membungkuk hormat.


"Pagi juga Kak Nino". Senyumnya


"Silahkan duduk Tuan". Kenino menarik kursi untuk Grabielle.


Grabielle duduk. Tatapan matanya tak beralih sama sekali dari Zie. Istrinya itu terlihat baik-baik saja. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Sementara Zie tidak peduli sama sekali dengan tatapan Grabielle. Dia tahu pria itu menatapnya hanya saja dia tidak peduli.

__ADS_1


"Sarapan Tuan". Zie memberikan piring yang sudah dia isi dengan nasi.


"Terima kasih".


Kenino tersendak mendengar ucapan terima kasih dari Grabielle. Dalam hidupnya pria itu hampir tidak pernah mengucapkan terima kasih selain pada kedua orangtuanya.


"Tuan, ini makan siang untukmu. Jangan lupa dimakan yaaa?". Zie meletakkan rantang nasi dimeja depan Grabielle.


Hati Grabielle menghangat. Seketika rasa perih dihatinya seolah terobati dengan perhatian kecil dari Zie. Beginikah rasanya jatuh cinta, bahkan saat hal-hal kecil dilakukan oleh seseorang yang dicintai rasanya begitu spesial.


"Kak Nino ini untuk mu yaa?". Zie juga meletakkan satu rantang nasi didepan Kenino.


"Terima kasih Nona". Ucap Kenino. Ini terbalik, harusnya Kenino sebagai asisten yang melayani majikan nya. Ini malah majikan yang melayani assisten.


"Sama-sama Kak".


Zie mengambil tas nya. Lalu meneteng rantang nasi nya.


"Anda tidak sarapan Nona?". Tanya Kenino heran melihat Zie yang sudah siap berangkat.


"Tidak Kak. Aku sarapan dikantor saja". Senyum Zie.


"Tuan, saya berangkat duluan". Zie menyalimi suaminya "Kak Nino, aku berangkat duluan ya Kak?". Dia juga menyalimi Kenino.


"Anda berangkat dengan siapa Nona?".


"Aku dijemput Ester Kak".


"Duluan yaaa". Gadis itu menjauh dari Grabielle dan Kenino.


Wajah Grabielle kembali dingin. Bahkan pria tampan itu meletakkan sendok nasinya begitu saja.


Nafsu makannya menghilang. Grabielle pikir ketika Zie mau menegurnya masalah mereka selesai. Ini malah makin ribet.


"Ken berangkat". Pria itu berdiri sambil menenteng bekal yang diberikan istrinya.


"Baik Tuan".


Grabielle masuk kedalam mobil. Hampa. Kosong. Seolah separuh jiwanya pergi.

__ADS_1


"Tuan". Panggil Kenino, kasihan juga Grabielle "Anda baik-baik saja?". Grabielle tetap tak menjawab dia hanya menatap kosong keluar jendela mobil.


"Begini ternyata rasanya patah hati ya Ken?". Lirih Grabielle.


Kenino menghela nafas panjang "Tuan, jika anda mencintai Nona Zie, sebaiknya anda perjuangkan Nona Zie, Tuan". Ujar Kenino.


Grabielle malah kembali diam. Seolah tak terpengaruh dengan ucapan Kenino.


"Jangan dipendam Tuan. Jangan sampai anda menyesal setelah kehilangan Nona. Nona itu gadis unik yang diincar oleh banyak pria. Tuan Gama dan Tuan Garra akan menjadi pria pertama yang mengambil Nona ketika anda melepaskan nya". Sambung Kenino.


"Tapi jika anda tidak mencintainya. Sebaiknya anda lepaskan saja Tuan. Jangan siksa dia. Nona Zie itu masih polos, jika anda menunggu dia yang jatuh cinta pada anda sampai kapan pun tidak akan bisa karena dia belum memahami perasaan nya sendiri".


"Jangan menyiksa diri sendiri Tuan. Kalian berdua saling menyakiti satu sama lain. Saya juga yakin jika Nona Zie memiliki perasaan pada anda. Jika tidak, tidak mungkin dia baper dengan ucapan anda".


"Pikirkan baik-baik Tuan. Sebelum anda menyesal nantinya. Anda harus tahu ketika anda dan Nona berpisah, semua akan berbeda. Nona Zie gadis unik dan menarik akan banyak pria yang mendekati dan mencintainya nya lebih dari anda. Sementara anda, akan banyak wanita yang mengincar anda sayangnya itu bukan karena mencintai anda tapi karena uang dan ketampanan anda".


Seketika Grabielle bagai membeku ditempatnya mendengar ucapan Kenino. Apa yang Kenino katakan itu memang benar.


"Jangan menjunjung gensi terlalu tinggi Tuan. Kadang ekspetasi tak sesuai realita".


Kenino berbicara seperti itu karena dia tidak ingin Grabielle menyesal setelah kehilangan. Kehilangan tidak pernah bercanda. Rasanya sangat sakit.


"Aku hanya takut tidak pantas untuk nya Ken. Aku ini bukan pria baik-baik. Bahkan dia tidak tahu jika aku adalah pembunuh". Lirih Grabielle terdengar sendu "Aku takut dia menolakku". Grabielle belum siap ditolak.


"Anda belum mencobanya Tuan. Saya yakin Nona Zie adalah gadis yang baik. Jika dia juga mencintai anda dia akan menerima masa lalu anda dan tidak mempermasalahkan siapa anda sebenarnya". Ujar Kenino.


Grabielle menyenderkan kepalanya lemah. Dia baru merasakan patah hati sehebat ini. Karena selama ini, dia yang selalu dikejar bukan sebaliknya.


Kenino mengintip wajah Grabielle dibalik kaca mobil. Asisten setia itu hanya bisa menghela nafas panjang. Sebagai pria, Kenino bisa memahami perasaan ragu Grabielle.


"Lepaskan saja Tuan jika anda tidak mencintai Nona". Saran Kenino kesal karena tidak mendapat tanggapan dari Grabielle.


Grabielle langsung menatap Kenino tajam "Apa maksud mu Ken? Kau tahu kan sekali pun dunia terbalik aku tidak akan melepaskan gadis itu". Nafas Grabielle emosi. Dia tidak suka mendengar kata lepaskan itu.


Kenino malah tersenyum mengejek. Sebagai asisten yang menemani Grabielle bertahun-tahun tentu dia ingin yang terbaik untuk Tuan nya itu.


"Maka perjuangkan Nona".


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2