
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹
Grabielle mengenggam tangan istrinya saat wanita itu menatap ketiga sahabat nya dengan tatapan kecewa. Marah. Bercampur menjadi satu padu.
"Zie maafkan aku". Ester hanya bisa menunduk merasa malu dengan dirinya. Apalagi disana ada Gama dia belum bisa melupakan pria itu.
Zie tak menjawab wajahnya tampak penuh kekecewaan dan marah. Bagaimana bisa sahabat yang dia anggap saudara sendiri malah tega menghianati nya dan bahkan hampir saja mencelakai dirinya.
Adam dan Hana pun melakukan hal yang sama. Tak berani menatap wajah kecewa Zie. Ada penyesalan dihati mereka berdua. Sungguh mereka tidak tahu jika Garra hanya ingin balas dendam. Mereka pikir Garra sungguh mencintai Zie.
"Zie". Adam bisa lihat betapa kecewa nya Zie "Maaf". Lirihnya "Aku, aku tidak bermaksud menjebak dan menghianati mu. Aku hanya....". Adam tak sanggup melihat wajah kecewa Zie "Aku terpaksa". Imbuhnya lagi.
Zie tak menjawab. Dia tidak mau merespon apapun. Sakitnya. Sulit Zie jelaskan. Adam, Hana dan Ester bukan hanya sahabat tapi juga saudara untuk Zie.
"Zie maafkan Kakak Zie, hiks hik maafkan Kakak". Hana sampai berlutut dikaki Zie "Kakak tidak tahu jika Kak Garra hanya berniat balas dendam padamu. Kakak pikir bersama Kak Garra kau akan bahagia. Maafkan Kakak hikssss". Sambil memegang tangan kiri Zie dan berlutut.
Zie memalingkan wajahnya. Hidupnya sudah terlalu banyak disakiti. Terlalu banyak orang yang seolah tak ingin dia bahagia. Kini sahabat nya sendiri pun seolah tak berpihak padanya. Apakah Zie tidak boleh bahagia? Apakah dia harus menderita selamanya?
"Zie aku juga minta maaf. Maaf". Ester ikutan berlutut.
Mereka bertiga habis diberi pelajaran oleh anak buah Grabielle. Bahkan tanpa ampun Grabielle meminta para anak buahnya untuk memberikan hukuman pada ketiga orang itu. Dia tidak peduli jika mereka adalah sahabat Zie. Siapa saja yang berani menyakiti istrinya maka akan berurusan dengannya.
Zie menarik tangan nya. Hatinya seolah membeku. Zie tidak habis pikir apa yang ada dipikiran ketiga sahabat nya sampai tega menyakiti dia dan merencanakan untuk memisahkan dengan suaminya.
"Apa kata maaf kalian akan menyembuhkan luka yang kalian turihkan?". Terdengar kekecewaan mendalam dihati Zie.
Grabielle menatap istrinya. Baru kali ini Grabielle melihat wajah kecewa Zie. Biasanya istrinya itu selalu bisa menguasai emosinya tapi kali ini wajah Zie penuh amarah.
"Maaf". Ketiganya menunduk dengan air mata yang menetes dipipi.
__ADS_1
Zie memalingkan wajahnya. Dia menyeka air matanya dengan kasar. Pikirannya seolah membuat nya Hiatus untuk memberikan maaf pada ketiga orang itu.
"Kalian tahu. Aku kecewa. Sangat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa memaafkan kalian. Selama ini kalian merencanakan untuk memisahkan ku dengan suamiku. Padahal kalian tahu jika aku mencintainya dan.....". Zie menggeleng tak percaya "Kalian dengan tega-tega nya menjebakku, seperti mendorongku masuk kedalam neraka". Ucapnya.
"Sayang". Grabielle berusaha menyalurkan kekuatan pada Zie agar wanita itu tidak emosi berlebihan. Tidak baik untuk kondisi janinnya.
"Aku, aku tidak marah, aku, aku hanya kecewa kalian berubah menjadi orang yang pernah kalian benci". Sambil menunjuk dadanya "Mungkin aku bisa memaafkan kalian. Tapi untuk kembali percaya rasanya aku sudah tidak bisa". Tungkasnya lagi dengan lirihan dan kekecewaan.
"Sayang, kau tidak boleh stress. Ayo kita pergi". Grabielle merangkul bahu istrinya "Tidak baik untuk kesehatan calon anak kita".
Adam, Hana dan Ester terkejut ketika Grabielle mengatakan calon anak. Apa Zie sedang hamil? Apa benar itu?
"Aku sedang ingin marah Kak. Jangan ajak aku pulang dulu". Celetuk Zie mengusap pipinya.
"Nanti saja ya marah nya. Biar Ken yang urus mereka bertiga. Ayo kita pulang sayang". Grabielle setengah memaksa karena dia tidak mau istrinya sampai stress
"Iya Nak, suamimu benar. Pulanglah. Biar Kakak mu yang urus". Timpal Arthur yang juga khawatir dengan kondisi kesehatan Zie.
Gama tersenyum menggeleng dalam keadaan seperti ini saja, Zie masih sempat-sempatnya bicara tak karuan.
"Sudahlah Lala. Jangan marah terus. Kau mau bayi mu itu merajuk?". Ujar Zevanya.
"Memangnya dia bisa merajuk Kak?". Tanya Zie penasaran sambil mengusap perut nya yang hampir membuncit itu.
"Tentu saja bisa. Kau lihatlah dia pernah menyiksa suamimu selama tiga bulan". Ucap Zevanya sambil melirik Grabielle.
"Ck, Kak jangan membahas itu. Aku rasanya ingin mengajak bayi itu berperang saat mengingat penderitaan ku". Ketus Grabielle yang kesal mengingat segala penderitaan nya gara-gara calon anaknya itu.
"Apa kau bilang Kak?". Zie memincingkan matanya. Hilang sudah rasa ingin marahnya
__ADS_1
"Sayang aku hanya bercanda". Ucap Grabielle menelan salivanya susah payah jangan sampai keanehan Zie muncul lagi bisa berabes dia.
"Hiks Kakak kau jahat sekali". Sambil menangis memukul dada Grabielle pelan.
"Sttt, sayang jangan menangis. Aku tadi hanya bercanda. Aku tidak akan mengajak anak kita perang. Aku akan mengajaknya bermain yaaaa??". Bujuk Grabielle.
"Kakak jahat". Sambil menghentakkan kakinya kesal dan pergi meninggalkan Grabielle dengan bibir mengerucut kesal.
Kenino hanya geleng-geleng kepala. Drama Grabielle akan dimulai lagi. Lihatlah nanti pria itu akan guling-guling melihat istrinya yang merajuk.
"Bielle susul lah istrimu. Biar aku yang mengurus mereka". Gama menepuk bahu adik iparnya itu.
"Iya Gama. Seperti nya aku harus tidur diluar lagi malam ini. Semua gara-gara Kak Zeva". Grabielle menatap Zevanya tajam yang malah mentertawakan nasibnya.
"Yaellah. Jangan menuduh Kakak Gebe, istrimu saja yang begitu sensitif". Zevanya menutup mulutnya menahan tawa. Lucu sekali melihat wajah kesal dan frustasi Grabielle.
Grabielle dengan kesal menyusul istrinya. Dia harus mengeluarkan jurus baru untuk membujuk wanita hamil itu. Zie memang suka aneh-aneh. Rasanya Grabielle ingin gila saja dari pada menghadapi istrinya yang merajuk itu. Lama-lama bisa terpisah kepalanya dari tubuhnya gara-gara melihat tingkah Zie.
Myron, Zevanya, dan Arthur menyusul pasangan suami istri itu bersama Kenino.
Sementara Gama mengambil alih untuk mengurus ketiga orang itu. Ketiganya tampak pasrah dengan hukuman yang akan diterima. Mereka sangat tahu Gama, pria kejam.
Gama sama sekali tidak tahu jika gadis yang dicarinya itu adalah Ester. Sampai hari ini dia seperti lupa mencari pemilik dari baju yang dia temukan dimobilnya. Saking fokus nya mencari Zie.
"Kalian tahu kan jika berani menyentuh orang yang ku sayangi, maka aku takkan segan membalas nya?". Tatapan Gama seperti pedang bermata dua yang mampu menebus kedalam kedua netra mereka.
Bersambung.....
Hai guys....
__ADS_1
Maaf sekali lagi baru muncul. Sumpah author sibuk banget. Maaf juga lambat update. Pengen cepat berakhir tapi selalu ada lagi.