
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Gama".
Arthur berjalan menghampiri Gama dan disana masih ada Grabielle dan Zie yang saling berpelukan. Myron dan Zevanya yang juga masih menunggu mereka. Ada Kenino dan Mark yang masih setia.
"Dad". Gumam Gama.
"Apa kau baik-baik saja?". Tanya Arthur wajahnya menunjukkan kepanikannya
"Aku baik-baik saja Dad". Sahut Gama.
Arthur menatap Zie dan Grabielle yang masih berpelukan. Jantung nya berdegup kencang saat melihat Zie. Apalagi wajah Zie begitu mirip dengan mantap kekasihnya, Allena. Cinta pertamanya.
Rasanya air mata Arthur terasa ingin tumpah begitu saja. Apalagi Zie adalah putri kandungnya. Darah dagingnya. Putrinya yang dia cari selama sembilan belas tahun ini. Dia tidak berani menemui John. Takut John akan menyakiti Zie jika tahu bahwa Arthur mengetahui kehadiran putrinya itu.
"Jangan menangis lagi ya sayang. Sekarang dia sudah tertangkap dia tidak akan menyakiti mu lagi". Grabielle melepaskan pelukan istrinya dan menyeka air mata wanita hamil itu.
"Hiks hiks, Kak. Kenapa yaaa? Kalau menangis itu air mata harus keluar?". Celetuk Zie mengelap inguss nya dengan jas suami nya.
Grabielle menghela nafas panjang. Untung cinta. Kalau tidak cinta sudah pasti dia akan menjadikan Zie makanan San, ular sanca peliharaan nya yang masih berdiam nyaman dikota New York tempat Markas, Black Shinee, Lion Killer dan Black Glorified.
"Ck, kau itu bagaimana sih Lala? Kalau tidak mau air mata yang keluar ya sudah biar mata mu saja yang keluar biar tidak menangis lagi". Ucap Zevanya kesal.
"Sayang tidak boleh begitu". Tegur Myron melingkarkan lengannya dipinggang Zevanya.
"Hiks Kak. Kau memberiku ide yang mematikan. Jangan kan tanpa mata, melihat ku terpejam saja suamiku sudah hampir mati jantungan". Ujar Zie.
Grabielle dan Myron terkekeh begitu juga dengan Kenino yang geleng-geleng kepala. Sejujurnya Kenino rindu adegan perdebatan Grabielle dan Zie yang dulu. Tapi sekarang dia bahagia akhirnya dua manusia itu jatuh cinta lagi.
"Zie".
Obrolan mereka langsung buyar saat mendengar panggilan Gama.
"Kak Gama". Zie berhambur memeluk Gama.
Gama terkejut dari mana Zie tahu jika dia adalah Kakaknya.
"Zie". Keduanya saling berpelukan dan bertangisan.
Tak ada rasa dendam dan saling menyalahkan satu sama lain. Mereka berlapang dada untuk saling memaafkan. Apalagi sejak lahir tidak pernah bertemu. Meski beda Ibu, tapi mereka satu Ayah.
__ADS_1
"Kakak".
Zie juga tak menyangka jika Gama adalah Kakaknya. Kakak beda Ibu tapi satu Ayah.
"Zie".
Wajah Grabielle seperti ikan koki yang menggerecut cemburu. Dia tidak tahu jika Gama adalah Kakak iparnya dan kenapa harus jadi Kakak iparnya?? Menyebalkan! Jiwa cemburunya meronta-ronta lagi. Rasanya dia ingin menarik Zie dari pelukan Gama tapi tidak sopan. Apalagi istrinya itu seperti merindukan kenyamanan. Biarlah Grabielle menahan cemburunya asal Zie bahagia saja.
"Dari mana kau tahu jika aku adalah Kakak mu?". Gama melepaskan pelukannya.
"Aku lupa Kak". Sahut Zie menyeka air matanya.
"Sudah jangan menangis lagi ya. Maaf Kakak hampir menyakitimu waktu itu". Ucap Gama penuh penyesalan.
"Jangan diingat lagi Kak. Aku kasihan padamu yang kena tipu waktu itu". Celetuk Zie. Gama terkekeh pelan.
Gama melirik kearah Ayah nya yang terdiam menatap Zie. Dia tahu betapa pria paruh baya itu menyanyangi putrinya. Meski mereka tak dekat tapi Gama begitu perhatian pada Arthur meski ditutupi dengan wajah dinginnya.
"Zie, apa kau tahu siapa dia?". Gama merangkul tubuh Zie dan menghadapkan nya pada Arthur tanpa peduli dengan wajah Grabielle yang ditekuk kesal.
Zie menatap pria paruh baya itu. Dia melirik kearah Zevanya dan Zevanya mengangguk.
"Daddy". Senyum Zie
Arthur hampir tersungkur mendengar panggilan Zie. Bagaimana bisa putrinya itu mengenal dirinya?
"Zie".
"Dad".
Grabielle, Myron dan Kenino masih tercengang. Mereka memang tahu jika John bukan Ayah kandung Zie tapi bagaimana bisa Zie tahu jika itu adalah Ayahnya.
Grabielle menatap Zevanya dengan penuh selidik. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan Zevanya.
"Jangan menatapku begitu Gebe. Kau belum tahu sejauh mana kemampuan istrimu". Ketus Zevanya
"Jangan mengajari istriku yang aneh-aneh Kak. Dia tidak seperti mu". Ujar Grabielle tak kalah ketus.
Jangan sampai Zie mirip Zevanya bisa pusing seribu keliling dia menghadapi Zie nanti.
Melihat kemampuan Zevanya saja Grabielle rasanya ingin jantungan apalagi nanti istrinya sendiri yang memiliki kemampuan itu bisa stress dirinya.
__ADS_1
"Nak". Arthur memeluk Zie "Maafkan Daddy. Daddy sudah lama mencarimu". Ucap Arthur.
"Hiks Dad. Terima kasih sudah mencariku Dad". Ucap Zie.
Grabielle turut bahagia melihat istrinya bahagia. Dia tahu betapa menderitanya Zie selama ini dan akhirnya Zie menemukan kebahagiaan nya. Semoga setelah ini tidak ada drama lagi yang akan menyerang hidup istrinya itu.
.
.
.
.
Gama memberontak didalam ruangan yang ditempatinya. Dia sendirian disana.
"Ahhh brengsek. Awas saja kau Grabielle. Aku akan balas semua perbuatan keji mu itu. Aku akan rebut kembali Zie. Aku akan buat dia menderita". Ucapnya.
Gama menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta buka. Namun seperti nya percuma tak ada yang mendengar suaranya.
"Sial". Dia mengusar wajahnya kasar "Bagaimana bisa aku dengan mudah ditipu oleh Zie? Sebelum nya dia tidak pernah secerdas ini. Tapi kenapa dia sudah bisa membaca rencanaku?". Umpat Gama.
Gama duduk dikursi ruangan itu. Dia tampak frustasi dan stress. Rencananya gagal. Sekarang bahkan dia dikurung ditempat yang menjijikan seperti ini.
Nafas pria itu memburu menahan amarah. Tangannya terkepal kuat. Rencana yang sudah dia susun sedemikian rupa namun harus gagal gara-gara dia yang ditipu oleh Zie. Harusnya dia bisa lebih jelih. Adiknya itu memang pintar berakting dan Garra tidak pernah menyadari nya malah tertipu.
"Aku tidak habis pikir bagaimana bisa Zie pura-pura pingsan dalam waktu lama dia bahkan tak terlihat seperti pura-pura". Garra geleng-geleng kepala sambil menertawakan kebodohan nya.
Sejenak pria itu melamun seperti mati pikiran. Hidupnya hancur. Keluarganya berantakkan. Ibunya meninggalkan Ayahnya. Sejak kecil dia sudah kehilangan kebahagiaan yang seharusnya dinikmati anak diusianya.
Adiknya melakukan hubungan terlarang dengan Ayah tirinya. Hatinya semakin hancur. Rencananya untuk balas dendam juga kandas ditengah jalan.
Sejujurnya Garra memang mencintai Zie namun rasa bencinya lebih besar dari itu hingga menutupi perasaan yang sudah tumbuh memekar seperti ditaman.
Bersambung....
Hai guys jumpa lagi bareng author kece ciahhh.....
Maaf baru bisa update dua bab hari ini, karena masih nuansa natal jadi sibuk kebanyakan... Hshehe...
Tetep ikutin kisah mereka yaa......
__ADS_1