
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Grabielle masih uring-uringan. Dia meminta kepada Kenino agar pulang cepat. Siapa tahu Zie sudah pulang. Sampai sore pun istri kecil nya itu tidak menghubungi nya atau sekedar mengirimkan pesan padanya. Karena dia yang masih memegang teguh gengsinya jadi dia tidak mau menelpon Zie duluan. Harus Zie yang menghubungi nya.
"Apa kau sudah mencari pelayan Ken?". Tanyanya. Duduk didalam mobil saja Grabielle masih terlihat gelisah tak menentu.
"Sudah Tuan. Mereka sudah ada di Apartement". Jawab Kenino.
Grabielle terus memantau ponselnya. Menunggu notifikasi pesan dari istrinya. Namun lagi-lagi dia kecewa saat tak ada satu pesan pun masuk.
"Anda menunggu pesan dari Nona, Tuan?". Tebak Kenino
"Menunggu pesan darinya?". Grabielle tertawa garing "Kau pikir aku sedang memikirkan nya? Enak saja, bagaimana mungkin aku memikirkan gadis aneh itu?". Kilahnya. Lain dimulut lain dihati.
"Maaf Tuan". Ujar Kenino.
Padahal Kenino tahu jika Grabielle sedang menunggu pesan dari Zie. Terlihat dari pria itu yang gelisah tak menentu. Bahkan dirinya harus jadi sasaran amukan Grabielle.
"Dasar istri durhaka, sampai sore pun dia tidak mengirim pesan padaku? Pasti dia sedang ketiwi-ketiwi dengan pria itu. Kalau sampai ke Apartement, aku akan langsung menghukum nya". Batin Grabielle menggebu-gebu mulutnya komat-kamit sendiri
Kenino hanya bisa menggeleng kepala. Grabielle lebih mempertahankan ego nya dari pada perasaan nya sendiri. Padahal apa susahnya tinggal telpon saja Zie tanya dia dimana? Kenapa tidak kembali ke kantor?
Sampai di Apartement nya tanpa menunggu Kenino, Grabielle langsung keluar dari mobil. Dia berjalan dengan langkah lebar seperti tak sabar untuk bertemu istri kecil nya itu.
"Selamat sore Tuan". Sapa para pelayan padanya
Pria itu terhenti sejenak melihat pelayan yang dipilih Kenino. Para wanita paruh baya dan lelaki paruh baya yang tentu usia mereka jauh diatas Grabielle.
"Apa Gadis Aneh itu sudah pulang?". Tanyanya menatap satu persatu para pelayan itu.
"Maaf Tuan, Nona belum pulang". Sahut salah satu dari mereka.
Grabielle memejamkan matanya. Jangan sampai emosinya meledak. Hatinya sudah panas dan kesal.
Tanpa berkata apapun Grabielle melangkah masuk kedalam kamarnya. Wajahnya merah padam. Dia ingin marah tapi pada siapa.
"Arghhhhhhhhh brengsekkkk". Dia melempar barang-barang didalam kamarnya
"Dasar Gadis Aneh. Menyebalkan. Kemana dia kenapa belum pulang?". Grabielle melepaskan jas nya dengan paksa dan melemparnya asal.
Grabielle frustasi. Pikiran nya tidak tenang sebelum melihat istrinya itu. Ahhh kenapa dan kenapa? Dia tidak tahu kenapa? Tanpa melihat Zie serasa ada sesuatu yang hilang. Sepi.
"Tenang. Tenang Bielle. Tidak boleh emosi. Dia anak kecil". Grabielle menarik nafas dalam-dalam sambil duduk disoffa kamarnya.
Pria itu mengambil sebatang rokok dan menghidupkan rokok itu lalu menyesapnya hingga mengeluarkan asap yang mengepul keatas.
Matanya masih merah. Wajahnya panas. Pokoknya dia kesal. Awas saja jika gadis itu pulang, dia akan berikan hukuman pada Zie. Biar gadis itu merasakan kekesalan nya.
__ADS_1
Grabielle menatap kosong kedepan. Dia masih menikmati sebatang rokok yang menjadi kegundahan nya.
"Lucu, aku bisa dibuat gila hanya oleh gadis kecil seperti nya". Pria itu menggeleng sambil mentertawakan dirinya "Diluar sana dia sedang bersenang-senang dengan pria lain. Sementara disini suaminya ditinggalkan begitu saja. Dasar istri durhaka". Hardiknya lagi.
Grabielle mematikan rokoknya. Pria itu bergegas ke kamar mandi. Seperti nya dia perlu mandi untuk menenangkan hatinya yang tengah galau dan kesal merana itu.
.
.
.
.
Zie turun dari motor, dia melepaskan helm itu dari kepalanya.
"Terima kasih Paman".
"Sama-sama Nona".
Gadis itu menghela nafas panjang. Hari ini lelah sekali. Banyak hal yang membuat gadis itu tampak lemah lesu.
"Kenapa Ayah jahat sekali?". Dia menyeka air matanya "Bahkan dia bukannya menanyakan keadaanku. Dia malah menginginkan ku kembali menikah dengan pria botak itu". Gumamnya lagi "Coba saja aku bisa berubah menjadi Power Rangers, akan ku culik Ayah dan ku pindahkan saja ke planet Pluto sana". Bicaranya sudah mulai sembarangan.
Zie melangkah masuk kedalam Apartment nya. Wajah gadis itu tampak sendu. Cara dia berjalan juga tidak cepat seperti biasanya.
Zie terkejut melihat beberapa wanita baru payah memakai seragam yang sama.
"Lho kalian siapa?". Kening gadis itu berkerut heran.
"Kami pelayan baru di Apartement ini Nona". Sahut salah satunya
"Ohhhhhhh".
Satu... Dua.. Tiga.
"Hah? Apa? Pelayan baru? Kok bisa? Siapa yang bawa kalian kesini?". Cecar Zie baru sadar "Apa aku dipecat yaaa? Tapi kalau aku dipecat bagaimana dengan hutangku? Lagian aku istrinya". Gumam Zie
"Anda sudah pulang Nona?". Kenino berjalan kearah Zie dengan tersenyum hangat meski sebenarnya hari ini Kenino lah yang paling lelah.
"Iya Kak". Sahut Zie "Kak apa aku dipecat yaaa?".
"Kata siapa Nona?". Ujar Kenino
"Ini mereka yang gantiin. Kok bisa sih Kak? Bukannya aku ya pelayan Tuan Grab?". Tanya Zie heran.
Kenino tersimpul "Anda tidak dipecat Nona. Sekarang kan status anda istri Tuan. Jadi anda tidak perlu lagi menjadi pelayan". Kenino mengatakan sesuai dengan perintah Grabielle.
__ADS_1
Sejenak Zie terdiam mencerna ucapan Kenino "Tapi Kak, ini kan hanya pernikahan sementara". Desah Zie.
"Dan kalian sah secara agama dan hukum". Sambung Kenino "Nona kemana saja seharian ini? Tuan galau tidak ada Nona". Goda Kenino.
Zie mendelik "Ehem, aku tahu Kak. Aku kan memang selalu membuat orang rindu. Jadi Tuan Grab pasti merindukan ku, iya kan?". Zie menarik turunkan alisnya.
"Siapa yang merindukan mu?".
Grabielle melipat kedua tangannya didada. Dia menatap Istri kecilnya dengan penuh amarah.
Atmosfer diruang tamu ini seketika mendingin. Suasana jadi canggung.
Kenino dan para pelayan menyingkir dari sana. Seperti nya perang dunia kesepuluh pasti terjadi lagi. Tatapan Grabielle seolah hendak menelan gadis itu hidup-hidup.
Zie seperti biasa tetap santai tanpa rasa takut.
"Ya Tuan lah, siapa lagi". Kata Zie tak lupa senyuman jahil menggoda suaminya.
"Jangan terlalu percaya diri". Kilah Grabielle.
"Memang terkadang jujur itu menyakitkan Tuan". Seru Zie
Grabielle masih menatap Zie tajam. Tapi jauh didalam lubuk hatinya dia bernafas lega saat melihat istrinya sudah pulang. Sumpah dia khawatir dan panik, takut jika Ayah mertuanya mencelakai istrinya itu.
"Apa kau sudah makan Tuan?". Zie menatap suaminya "Lapar tidak?".
Grabielle mengangguk "Ya sudah aku masak yaa?". Tuturnya.
"Tunggu". Grabielle mencengkram tangan istrinya
"Kenapa?".
Zie tersendak saat Grabielle menariknya kedalam pelukannya. Gadis itu sampai lupa berkedip saking kagetnya.
"Tu-tuan".
"Biarkan sebentar".
Grabielle memeluk istri kecil nya dengan erat. Tak bisa dipungkiri bahwa dia takut kehilangan gadis ini. Apalagi dia tahu jika Zie selalu dalam incaran orang-orang jahat
**Bersambung......
Cinta dan benci itu beda-beda tipis.
Jangan terlalu membenci karena kau bisa saja berubah jadi mencintai.
Jangan juga terlalu mencintai karena ketika cinta itu berlabuh pada pada orang yang salah kau bisa jadi membencinya**.
__ADS_1