
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Gama masuk kedalam gedung perusahaan nya. Wajah pria itu selalu sulit ditebak dan tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan selain dia sendiri.
Para karyawan membungkuk hormat saat Gama melewati mereka. Gama terkenal kejam. Dia tidak kenal yang namanya belas kasihan. Siapa yang melakukan kesalahan tanpa bernegosiasi langsung eksekusi.
"Pagi Tuan siang ini anda ada meeting dengan Tuan Grabielle". Ucap Mark membacakan jadwal Gama.
"Apa Zie ikut?". Tanyanya. Dia tidak bisa tidak melihat gadis itu.
"Iya Tuan. Nona Zie ikut karena Nona sekretaris Tuan Grabielle". Jawab Mark.
"Baik". Gama tersenyum smirk "Persiapkan semuanya dengan detail Mark. Pastikan ruangan meeting jauh dari gangguan orang luar". Tintahnya sambil duduk dikursi kebesaran nya.
"Baik Tuan". Sahut Mark.
Gama kembali melakukan beberapa pekerjaan nya yang tertunda kemarin. Hidup sendirian seperti ini sudah biasa bagi nya. Bahkan dia tak canggung lagi.
Ditengah kesibukan nya masih sempat-sempatnya Gama menatap foto Zie yang dia pajang dimeja kerjanya.
"Sebentar lagi kau akan jadi milikku sayang". Ujarnya percaya diri dan yakin jika Zie akan jadi milik nya.
Gama sudah mempersiapkan pernikahan nya dengan Zie sedetail mungkin. Dia yakin Zie takkan menolak jika tahu bahwa dia adalah calon suami Zie yang sempat ditinggalkan.
Gama juga sudah mengancam John, jadi dia tidak menerima kegagalan kali ini.
"Kau itu cantik. Kau itu unik. Ahhh rasanya aku benar-benar dibuat gila olehmu". Gama menggeleng sambil tersenyum gemes "Lihat saja nanti sayang. Aku akan membawamu pergi dari sini, jauh dari Grabielle dan Garra. Kita akan hidup berdua dan bahagia selamanya".
Tak main-main Gama sudah menyusun rencana dengan matang untuk membawa Zie pergi. Setelah menikah dia akan membawa gadis itu pergi dari Negara ini dan entah kemana dia akan membawa gadis itu. Yang pasti dia akan menjauhkan Zie dari Grabielle dan Garra.
.
.
.
.
"Kak ini data meeting kita dengan Mahardika Group". Tunjuk Zie pada suaminya.
__ADS_1
Grabielle mendengus kesal "Kau seperti tidak sabar bertemu pria itu sayang?". Singgungnya. Jelas cemburu lah, karena Gama mantan calon suami Zie
Zie terkekeh geli "Cie cie yang cemburu Zie". Ledeknya sambil ngakak "Sudahlah Kak, kau ini. Jangan cemburu- cemburu. Aku tidak akan kepentok cinta Tuan Gam-gam. Kan cintaku sudah berlabuh pada Tuan Teh Celup". Dia mengedipkan matanya jahil sambil membentuk jarinya dengan gambar love.
"Sayang". Grabielle mendesah "Bisa tidak jangan panggil suami mu Tuan Teh Celup. Itu kan dulu, sekarang aku sudah tobat". Renggek Grabielle.
Zie semakin mentertawakan suaminya. Tapi Zie sama sekali tidak mempermasalahkan masa lalu Grabielle. Itu adalah sesuatu yang sudah berlalu dan tidak perlu diingat-ingat lagi.
"Iya. Ya sudah Kak, aku kembali ke meja dulu". Ucap Zie membereskan mejanya.
"Sayang pindahkan saja lah meja mu di ruangan ku ya? Biar aku bisa melihat wajahmu setiap saat". Renggek Grabielle.
"Ck, yang ada pasti kita tidak akan bekerja dan aku sibuk melayanimu yang mesum itu". Cibir Zie. Bagaimana tidak suaminya itu suka sekali main sosor-sosor.
"Tapi kita belum malam pertama". Bibir Grabielle mengerucut. Biasanya dia tidak bisa menahan hasrat nya. Namun entah kenapa sejak dia menikahi Zie, pria itu seperti lupa akan kebiasaan nya yang suka meniduri wanita.
"Cie cie yang sudah kebelet malam pertama". Zie ngakak lagi "Sudahlah Kak, jangan bahas itu. Aku kembali dulu". Zie memeluk berkasnya "Selamat berkerja suamiku, cup". Zie mengecup pipi Grabielle singkat tidak usah lama bisa-bisa dia tidak bekerja nantinya.
Sejenak Grabielle seperti hilang kesadaran. Dia menepuk pipi nya agar sadar. Sedangkan Zie sudah mellengang sambil berjalan keluar. Suami nya itu lucu sekali, kalau disentuh sedikit saja seperti lupa diri.
"Ck, hanya karena dia mencium pipiku saja si junior sudah bangkit. Apa istriku itu memiliki magnet ya? Kenapa aku selalu tak bisa menahan diri saat berada didekat nya?". Grabielle geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.
Grabielle keluar dari ruangannya. Dia akan meeting bersama Gama. Sebenarnya dia tidak ingin mengajak istrinya. Tapi proyek ini penting dan Zie sudah tanda tangan kontrak untuk menyelesaikan proyek ini.
Grabielle akan tunjukkan pada Gama bahwa Zie adalah miliknya. Tidak akan ada yang bisa merebut istri kecil nya itu dari dalam pelukannya.
"Sayang sudah siap semua nya?". Grabielle menghampiri meja istri nya yang bersebelahan dengan Kenino.
"Sudah Kak. Ini aku masukkin ke laptop semua. Jadi nanti yang presentasi kan aku yaa?".
Sejenak Grabielle terdiam. Kalau Zie yang persentasi kan meeting mereka pasti Gama akan terus melirik istrinya itu. Ohh Grabielle takkan rela.
"Jangan Sayang biar Ken saja". Ujar Grabielle.
"Tuan saya_".
"Siapkan semuanya Ken". Grabielle menetap Kenino tajam dia tahu asistennya itu hendak menolak.
"B-baik Tuan". Kenino gugup melihat tatapan horor Grabielle. Sungguh seram.
__ADS_1
"Ayo sayang". Grabielle mengukurkan tangannya agar disambut Zie.
"Kak, masa dikantor mesra-mesraan. Kalau mau bermesraan itu dikamar". Protes Zie. Dia setengah mati menahan malu akibat ulah suaminya.
"Aku tidak peduli sayang. Kau itu istriku. Sudah ayo cepat, sebentar lagi jam makan siang". Ajak Grabielle.
"Iya. Iya". Zie mendengus kesal.
Zie baru sadar kenapa semua orang menghormati nya. Ternyata tana sepengetahuan Zie, Grabielle sudah mengumumkan hubungan mereka pada semua karyawan nya dikantor dan dua wanita yang membully Zie kemarin langsung didepak dari perusahaan.
"Kak". Zie bergelut manja dilengan suaminya.
"Iya sayang kenapa?". Tangan Grabielle mengusap kepala gadis itu.
"Kak kenapa sih dipecat karyawan kemarin. Kasihan mereka Kak?". Protes Zie cemberut.
"Mereka menyakiti mu sayang. Bagaimana bisa suamimu diam saja saat istrinya dibully orang lain?". Ujar Grabielle.
"Tapi kan itu tidak ada hubungan nya dengan pekerjaan". Zie mengerucutkan bibirnya kasar. Kasihan mereka pasti butuh sekali pekerjaan.
"Aku tidak peduli sayang. Apapun yang berhubungan denganmu, bagiku penting".
Rasanya Zie bagai terbang melayang mendengar ucapan suaminya.
"Ahhh Kakak. Makin cinta dehh".
"Sama makin sayang juga". Grabielle dengan gemes mencium wajah gadis itu.
Kenino rasanya ingin muntah mendengar ucapan kedua manusia yang duduk dibelakangnya itu. Seharian ini dia terus menyaksikan kebucinan Grabielle dan Zie. Terus menggombal dan membuat Kenino jenggah dan malas. Kan jiwa jomblo nya meronta-ronta.
"Lebih baik mereka berdebat setiap hari dari pada menyaksikan kebucinan mereka itu. Kan aku jadi iri". Batin Kenino kesal.
"Sayang sudah lapar belum?". Grabielle mengusap kepala istrinya.
"Belum Kak. Setelah meeting saja makan". Jawab Zie.
Keduanya sama-sama bucin. Mungkin karena baru pertama kali merasakan yang namanya jatuh cinta sehingga kebahagiaan seolah tak bisa dibagi dengan yang lain.
Seluruh karyawan kantor menatap mereka iri. Banyak yang tak menyangka jika mahasiswa magang seperti Zie adalah istri dari Boss besar mereka.
__ADS_1
Bersambung....