
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Garra sedang disibukkan dengan berkas ditangannya. Pria itu tampak serius bekerja. Bekerja keras. Agar dia bisa menyiapkan masa depan yang cerah untuk adiknya, Zie.
"Permisi Tuan". Seorang lelaki tampan masuk yang diyakini aissten Garra.
"Ada apa Steve?". Tanya tanpa melihat Steve.
"Maaf Tuan saya punya informasi baru tentang Nona Zie".
Sontak Garra melihat kearah Steve. Jika tentang Zie dia tidak mau melewatkan satu hal pun. Karena semua tentang Zie sangat penting untuk Garra.
"Apa?". Garra menutup berkasnya.
"Menurut informasi yang saya dapat dari Tuan Adam dan Nona Hana, Nona Zie akan bercerai dengan Tuan Grabielle, Tuan". Jelas Steve.
"Bercerai?". Gumam Garra "Kenapa Zie ingin bercerai dengan Grabielle?". Pria itu seperti sedang berpikir.
"Karena selama ini pernikahan mereka hanya diatas kertas saja Tuan. Untuk menebus hutang Nona Zie pada Tuan Grabielle, Nona Zie harus menikah dengan Tuan Grabielle".
Garra tercengang. Dugaan nya benar jika Zie menikah dengan Grabielle bukan karena cinta tapi karena hutang. Garra sudah menebak dari awal. Menurut Garra, tidak mungkin Zie jatuh cinta pada Grabielle. Apalagi baru bertemu beberapa kali, karena adiknya itu masih polos dan tidak bisa memahami perasaan nya sendiri.
"Bagus". Garra tersenyum licik "Lalu apa rencana Adam?". Tanyanya menatap kedepan
"Minggu depan adalah sidang perceraian Tuan Grabielle dan Nona Zie. Setelah mereka sah bercerai, Tuan Adam akan membawa Nona Zie ke sini Tuan karena Tuan Gama akan merebut Nona Zie dan menikahi Nona denah menebus semua hutang Nona pada Tuan Grabielle".
Rahang Garra mengeras ketika mendengar nama Gama. Dia tidak akan membiarkan Zie jatuh kedalam pekukkan Gama. Mafia seperti Gama tidak pantas mendapatkan gadis sebaik Zie.
"Baik. Steve terbang kah ke Indonesia. Bantu Zie mengutus semua sidang perceraian nya dan setelah itu bawa dia kesini, perketat penjagaan jangan sampai anak buah Gama menyusul. Zie akan dalam bahaya jika berhubungan dengan pria itu". Tintah Garra. Emosinya seolah naik. Dia memang tidak pernah menyukai Gama. Pria itu adalah munsuhnya.
"Baik Tuan". Sahut Steve "Ada satu informasi lagi Tuan". Sambung Steve.
"Apa?". Garra langsung menatap asistennya tajam
"Tuan Besar memaksa Nona Zie menikah dengan Tuan Gama supaya Nona Shiena bisa menikahi Tuan Grabielle".
__ADS_1
Lagi-lagi Gama tercengang. Dia pikir Ayah tirinya itu sudah berhenti menganggu Zie.
"Apa hubungan Grabielle dan Shiena?". Garra tak habis pikir
"Ini Tuan". Steve menunjukkan informasi di iPad miliknya.
Tangan Gama terkepal kuat. Ternyata suami adik nya itu pria yang lebih jahat dari Gama. Cassanova yang sering bergonta-ganti pasangan. Kasihan Zie.
"Apa ini Steve?". Mata Garra membulat sempurna ketika melihat satu rekaman yang membuat hatinya teriris sakit
"Tuan John dan Nona Shiena menjalin hubungan gelap dibelakang Nyonya Marissa, Tuan. Demi memenuhi ambisi nya".
"Brengsekkkk". Garra memukul meja "Amankan Shiena dan bawa kesini". Nafas Garra memburu menahan amarah.
"Baik Tuan". Steve mellengang pergi dari hadapan Garra.
Garra mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa adiknya itu menjalin hubungan gelap dengan Ayah tirinya? Bagaimana pun Shiena adalah adiknya. Meski hubungan mereka sudah lama renggang tapi tetap Garra menyanyangi Shiena, mereka adalah kandung dan sedarah.
"Shiena". Garra mencoba menahan emosinya "Kenapa kau begini Shiena? Kenapa kau bodoh sekali? Kau mengorbankan masa depanmu demi ambisi mu". Garra menyenderkan punggungnya lemah.
Garra menyambar jas nya yang bergantung dikursi kebesaran nya. Pria keturunan Tionghoa itu mellengang pergi dari ruangannya.
Garra tampak frustasi. Dari kecil kehidupan nya selalu begitu. Hanya Zie yang bisa membuat pria itu tenang.
"Zie". Garra memijit pelipisnya "Maafkan Kakak yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Kau harus jadi piala bergilir gara-gara manusia-manusia kejam itu. Tapi tenanglah sayang, setelah kau sah bercerai dengan Cassanova itu, Kakak akan bawa kau tinggal disini. Kita akan bahagia sayang, hanya berdua dan bersama Ayah". Gumam nya.
Sampai dikediaman nya. Garra langsung turun. Para pelayan menyambut nya dengan hormat. Namun dia sama sekali tidak melirik.
"Kau sudah pulang Son?". Tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk disoffa sambil membaca buku.
"Iya Ayah". Garra duduk disamping Ayahnya "Bagaimana dengan kondisi Ayah?". Tanya Garra tersenyum hangat.
"Seperti ini saja". Sahut pria paruh baya itu tersenyum simpul.
Garra tidak mau menceritakan masalah Shiena pada Ayahnya. Dia takut hal ini akan berpengaruh pada kesehatan pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja Son?". Shiangli menatap putranya.
"Aku baik-baik saja Ayah". Garra mencoba tersenyum menutupi luka dihatinya.
.
.
.
.
Gama menatap pantulan dirinya didepan cermin. Senyum terbit diwajahnya. Dia sangat tampan. Jas mahal melekat ditubuh kekar nya.
Pria itu keluar dari kamarnya. Hidup sendirian seperti ini sudah biasa dan dia tidak canggung lagi. Bahkan dia sangat dia menyukai kesepian dari pada keramain.
"Selamat pagi Tuan". Sapa Mark dan beberapa pelayan yang bekerja disana
Gama tak menjawab. Wajahnya selalu sama setiap hari datar dan tanpa ekspresi.
"Bagaimana keadaan markas, Mark?". Tanyanya sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.
"Seperti biasa Tuan. Semua aman". Jawab Mark.
"Zie?".
"Sidang perceraian mereka akan digelar beberapa hari lagi Tuan". Sambung Mark.
"Bagus". Gama tersenyum smirk "Persiapkan pernikahan ku dengan Zie semewah mungkin. Jangan ada kesalahan. Aku tidak suka mengulang perintah".
"Baik Tuan. Saya akan laksanakan". Sahut Mark.
Pria itu berdiri dari duduknya. Tak lupa dia memperbaiki dasinya yang sedikit bergeser.
Bersambung....
__ADS_1