
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kenino sedang mengetik dengan serius. Disebelah kanannya berdiri Grabielle. Sedangkan disebelah kirinya ada Zie.
Kedua orang itu terus berceloteh dan menambahkan poin-poin dilayar laptop Kenino.
Kenino yang mengetik tapi dua orang itu yang terus berbicara. Dia saja bingung entah siapa yang harus dia turuti.
Setelah selesai mengetik. Kenino mencetak hasil ketikannya disebuah kertas putih. Atas permintaan Grabielle.
"Silahkan di baca Tuan". Kenino memaksa kan senyum.
"Ck, aku duluan Kak".
Zie hendak merebut kertas itu dan bersamaan dengan Grabielle yang juga ingin mengambil kertas itu.
Zie memegang ujung kertas sebelah kanan dan Grabielle memegang ujung kertas sebelah kiri.
"Ck, anak kecil mengalah". Tatap Grabielle menarik kertas.
"Dimana-mana yang tua mengalah". Zie juga tak mau kalah dia menarik balik kertas itu.
"Memangnya kau siapa? Kau lupa jika kau itu pembantu ku seumur hidup?". Uja Grabielle penuh penekanan.
"Itu kemarin Tuan. Sekarang aku adalah calon istri mu". Gadis itu tersenyum menggoda.
"Ck, lepaskan".
"Tidak".
"Lepaskan".
"Tidak".
Sretttttttttttttttttttttt
Kertas itu terbelah dua. Kedua orang itu menatap potongan kertas ditangan mereka.
"Ini semua gara-gara kau". Tunjuk Grabielle kesal.
"Kenapa gara-gara saya Tuan. Ini juga gara-gara anda. Makanya sudah tua harus mengalah".
Keduanya kembali berdebat lagi saling menyalahkan karena kertas yang sobek itu.
Kenino tercenggang. Susah payah mengetik tulisan itu dan malah kertasnya koyak. Astaga, bisa-bisa Kenino yang gila.
"Ini semua gara-gara kau". Grabielle menatap Zie dengan tatapan horor nya.
"Ini juga gara-gara Tuan". Ketus Zie melipat kedua tangannya didada.
__ADS_1
"Ken buat ulang".
Kenino menghela nafas panjang "Baik Tuan". Meski hatinya sudah menyumpahi kedua orang itu tapi Kenino tetap menurut saja. Dia yang waras harus mengalah.
Keduanya duduk disoffa sambil menunggu Kenino. Grabielle menetap Zie dengan tatapan membunuh.
"Ini semua gara-gara mulut mu yang ember itu". Ucap Grabielle emosi
"Saya hanya berkata jujur Tuan. Kenapa anda menyalahkan saya? Kan memang benar saya bekerja dengan anda seumur hidup? Apanya yang salah?". Ucap Zie tidak habis pikir
Grabielle mengusap wajahnya frustasi. Tidak ada pernah dalam bayangan nya menikahi gadis kecil ini. Usia mereka terpaut empat belas tahun. Dia seperti pedofil saja. Bagaimana bisa? Ahhh tapi desakkan kedua orangtuanya terus saja menyerang nya.
Zie juga menghela nafas panjang. Dia sangat frustasi. Ini yang namanya keluar dari kandang buaya masuk kedalam kandang anakonda. Niat hati kabur karena tidak mau menikah dengan pria yang tidak dia cintai. Ehh malah harus menikah dengan pria yang sudah bekas wanita lain.
Kenino mencetak tulisan itu menjadi dua kertas. Sebagai jaga-jaga kalau dua orang itu berulah lagi.
"Ini Tuan. Nona. Saya buat jadi dua. Jadi kalian tidak perlu bertengkar lagi". Kenino menyerahkan dua kertas pada dua orang itu.
Kenino menelan salivanya saat Grabielle dan Zie menatapnya dengan horor.
Mereka berdua membaca poin-poin surat kesepakatan.
"Tidak ada kontak fisik". Zie
"Jangan menganggu kesenangan ku". Grabielle
"Tidur pisah kamar". Zie
"Tidak ada yang boleh tahu. Anggap saja pernikahan tersembunyi". Zie
"Dilarang jatuh cinta. Siapa yang jatuh cinta berhak membayar satu triliun". Grabielle
"Melunasi hutang keluarga ku". Zie
"Pernikahan berlangsung dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Jika bosan, silahkan mengajukan surat cerai". Grabielle dan Zie.
"Oke. Deal". Keduanya bersalaman untuk kesepakatan mereka.
"Satu lagi, jika didepan orangtuaku kita harus mesra seperti pasangan suami istri pada umumnya". Tegas Grabielle.
"Tapi tidak gratis Tuan. Karena kalau mesra pasti anda akan menyentuh tubuh saya. Satu sentuhan sepuluh juta". Gadis itu tersenyum licik
"Tidak mau". Tolak Grabielle tegas.
"Ya tidak apa-apa. Tapi maaf Tuan saya tidak akan menunjukkan kemesraan didepan orangtua anda". Ucap Zie melipat kedua tangannya didada.
Grabielle memejamkan matanya menahan emosi. Sabar. Harus sabar. Zie anak kecil. Jadi dia yang anak besar harus mengalah dan banyak sabar.
"Baiklah". Pria itu memilih mengalah.
__ADS_1
Zie tersenyum penuh kemenangan. Jika satu sentuhan sepuluh juta, dia berharap orang tua Grabielle sering datang agar bisa dapat uang cash dan bisa dia tabung. Setelah ditabung dikembalikan lagi pada Grabielle dan anggap saja bayar hutang. Itu bukan pengakal tapi berakal.
"Ken, kau sebagai saksi jadi tanda tangan disini".
Kenino mengangguk dan menandatangani surat perjanjian itu.
"Minggu depan kita menikah. Ken akan menjadi wali mu". Grabielle menyimpan kertas nya "Simpan kertas itu dengan baik. Baca ulang dan jangan sampai lupa". Ujar Grabielle.
"Iya Tuan". Zie memutar bola matanya malas.
.
.
.
.
Seperti biasa Zie akan bangun pagi. menyiapkan sarapan untuk Tuan sekaligus calon suaminya. Mengingat calon suami Zie bergidik ngeri.
"Andai aku bisa menggunakan jurus menghilang, aku memilih hilang saja dari sini". Celetuk gadis itu lemes.
"Nasib-nasib. Perasaan kabur biar bisa terbebas dari pernikahan gila itu. Dan ini malah masuk kedalam pernikahan stress". Gumamnya menghela nafas panjang "Masa iya gadis buka bungkus seperti ku menikah dengan Tuan Cassanova kelas kakap. Dia sudah tua. Aku masih muda. Bagaimana nanti aku wisuda masa iya aku kenalkan sebagai Paman ku?". Sambil memasak gadis itu berceloteh sendiri.
Semalam Zie tidak bisa tidur. Terus memikirkan nasibnya. Memang pernikahan ini berlangsung dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi pernikahan bukanlah mainan. Pernikahan sesuatu yang sakral yang terjadi hanya sekali seumur hidup.
Dia ingin menikah dengan pria yang dia cintai. Meski sampai sekarang Zie belum menemukan pria itu.
"Aku harus memberitahu Kak Garra. Seperti nya impian untuk kabur dari sini. Sirna". Tanpa sadar air matanya menetes.
"Tuhan tabahkanlah hati hamba ini menikahi Tuan Cassanova yang suka celap-celup segala lobang. Semoga anu nya tidak patah. Jangan biarkan hati hamba berlabuh pada Tuan Cassanova itu Tuan, mau dapat uang dari mana bayar denda satu triliun. Amin". Ucapnya sambil mengusap wajahnya.
Zie menata makanan nya diatas meja. Sarapan pagi. Meski masaknya subuh. Tapi tetap namanya sarapan pagi.
.
.
.
.
Dikamar nya Grabielle tidak bisa tidur sama sekali. Dia terus melirik surat kesepakatan mereka berdua.
"Ini gila. Bagaimana bisa aku menikah dengan gadis aneh itu? Astaga". Grabielle terduduk. Sudah subuh tapi matanya tidak bisa tidur.
Grabielle meletakkan kertas itu kedalam laci nakasnya. Dia bergegas keluar ingin mengambil air minum
Langkahnya terhenti saat melihat Zie sudah menata makanan diatas meja, padahal masih jam empat subuh. Tapi gadis itu tidak tidur juga.
__ADS_1
Grabielle terdiam sejenak ketika mendengar isakkan tangis Zie. Dalam bertanya-tanya gadis aneh pembuat onar itu bisa juga menangis?
Bersambung..