Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Bertemu Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dia terus protes saat Grabielle memaksa ikut dengannya.


Dikantor, Zie dituduh merayu pria itu. Jangankan merayu, tertarik saja Zie sama sekali tidak.


"Tuan". Renggek Zie "Kak Nino saja yang ikut. Kau tetaplah dikantor".Rayu gadis itu.


"Memangnya kenapa? Kau menyukai Ken?". Grabielle memincingkan matanya "Atau sebenarnya kau ingin bertemu pacarmu? Yang berkedok Kakakmu? Makanya kau takut jika aku ikut". Tuding Grabielle mulai kesal.


Zie menghembuskan nafas kasar "Baiklah Tuan. Silahkan anda ikut. Tapi ingat jangan katakan apapun pada Kakak saya. Apalagi tentang surat kesepakatan kita". Ucap Zie.


"Ya kalau tidak lupa". Sahut pria itu santai.


Mereka masuk kedalam mobil. Seperti biasa. Zie akan duduk disamping Kenino. Dia takut duduk disamping Grabielle. Pokoknya calon suaminya itu menyeramkan, bagi Zie.


Mulut Zie komat-kamit seperti sedang baca doa. Dalam hati gadis itu sudah mengumpat kasar. Padahal dia bertemu Garra ingin bercerita banyak hal dan menangis dalam pelukan pria itu. Tapi jika ada Grabielle, dia akan merasa canggung dan tidak enak hati. Pria itu sungguh membuat nya ingin terjun ke lautan.


Sampai direstourant mewah. Zie turun dengan tak sabar. Dia menunggu Grabielle dan Kenino yang baru juga turun dari mobil. Ingin dia berjalan duluan. Tapi tidak sopan. Bagaimana pun, Grabielle adalah Boss dan atasannya dan sebentar lagi pria itu akan menjadi suaminya.


Mereka masuk kedalam restorant. Semua mata menatap Grabielle tak berkedip. Pria bule dan sangat tampan. Tinggi diatas rata-rata orang Indonesia. Wajahnya halus dan bersih, putih terawat.


"Kak Garra".


"Zie".


Kakak beradik itu saling berpelukan. Zie benar-benar rindu Garra. Sosok yang selalu ada untuknya saat dia merasa dunianya begitu melelahkan.


Grabielle memalingkan wajahnya disegala arah agar tak melihat permandangan yang membuat hatinya terganggu. Grabielle tidak tahu kenapa? Hatinya Seolah berdenyut sakit melihat betapa eratnya Zie memeluk Gara.


Mereka tak terlihat seperti Kakak beradik. Lebih cocok dibilang pasangan kekasih. Apalagi Garra terlihat begitu menyanyangi zie. Terlihat dari cara pria itu memeluk gadis aneh itu.


"Zie apa kabar?". Garra melepaskan pelukannya "Kau baik-baik saja 'kan?".


Zie mengangguk. Dia sampai lupa dengan kehadiran Grabielle dan Kenino. Kalau bertemu Garra, serasa lupa segalanya.


Zie mengusap air matanya. Tadi dia sudah berjanji untuk tidak menangis. Tapi saat bertemu Garra. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


"Ehem". Grabielle berdehem. Dia sampai belum duduk menunggu kedua orang itu berpelukan.


Zie mengusap air matanya. Dia beralih pada Grabielle dan Kenino.


"Silahkan duduk Tuan. Kak Nino". Ucapnya mempersilahkan tamu spesial nya itu.


Garra menatap Grabielle dan Kenino yang wajahnya sangat asing. Tidak pernah malah menatap pria itu.


"Zie siapa mereka?". Tanya Garra menatap kearah Grabielle yang memasang wajah dingin seperti kulkas sembilan pintu itu.


"Ini pria yang aku ceritakan pada Kakak". Jawab Zie jujur "Kak ada yang ingin aku bicarakan pada Kakak. Penting". Gadis itu menghela nafas panjang.


Garra tersenyum simpul. Tangannya mengusap kepala gadis itu dengan sayang. Andai dia punya banyak uang, pasti dia akan menebus Zie dan membawa gadis itu pergi jauh dari disini.


Kenino melihat Grabielle yang mengepalkan tangannya sangat kuat. Wajahnya merah seperti sedang cemburu.


Sudut bibir Kenino tertarik. Dia sangat yakin jika Tuan-nya ini sudah memiliki rasa pada gadis yang dia panggil aneh itu.


"Kak". Lidah Zie terasa kaku. Dia belum siap mengatakan bahwa dia akan menikah dengan pria yang suka celap-celup segala lobang itu.


"Ini". Zie melirik Grabielle. Dia mengambil tangan pria itu.


"Ini Tuan Grabielle, pemilik Wilmar Group. Dia...". Zie menghela nafas panjang "Dia, calon suami ku Kak".


Deg


Garra langsung membeku ditempatnya. Apa pendengaran nya salah? Calon suami? Zie punya calon suami?


"Maksud mu?".


Garra beralih pada tangan Zie yang mengenggam tangan Grabielle. Tidak tahukah Zie bahwa genggaman tangannya membuat pria itu menjadi salah tingkah.


"Aku akan menikah Kak". Senyum Zie yakin


"Demi menebus hutang?". Garra sudah berkaca-kaca. Air mata sudah menganak dipelupuk matanya


Zie menggeleng "Tidak Kak. Aku mencintainya".

__ADS_1


Jantung Grabielle serasa ingin pindah tempat saat Zie mengatakan mencintai nya. Benarkah? Benarkah gadis itu mencintainya.


"K-kau yakin Zi-e?". Tanya Garra memastikan. Dia berusaha kuat dan tidak menangis didepan Zie


Zie mengangguk yakin "Iya Kak. Aku mencintainya. Aku tidak mau menikah dengan pria botak dan perut buncit itu Kak. Makanya aku jatuh cinta pada Tuan Grab". Sahut gadis itu santai. Dia tidak tahu saja ada yang salah tingkah dengan ucapannya.


Garra menatap Grabielle yang tampak melihat Zie tak berkedip.


"Anda mencintai adik saya?". Garra menatap Grabielle tajam.


"Say_ Aww". Zie mencubit pinggang pria itu dan mengedipkan matanya agar Grabielle menjawab iya.


Pria itu meringgis kesakitan. Dia menatap gadis yang malah tersenyum santai saja sambil mengedipkan-ngedipkan matanya.


"Iya". Sahut Grabielle singkat padat dan jelas.


Garra terduduk lemes ditempatnya. Sirna. Hancur. Semua impian yang dia ukir bersama Zie runtuh dalam sekejap. Istana cinta yang dia rawat dengan baik, rata dengan tanah.


"Kakak". Zie mengusap tangan Kakaknya "Kenapa Kak? Kakaka merestui ku 'kan?". Zie menatap wajah Garra yang tak seperti biasa.


"Apa kau bahagia Zie?".


Zie mengangguk dengan senyum. Garra tidak tahu bahwa itu adalah senyum palsu Zie.


"Jika kau bahagia. Kakak juga akan bahagia". Dia tersenyum seolah baik-baik saja. Zie tidak tahu bahwa hati Kakak nya itu terluka parah.


"Kapan kau akan menikah?". Tanya Garra


"Minggu depan Kak". Ucap Zie "Kakak bisa hadir?".


Garra terdiam sejenak seolah sedang berpikir keras "Maaf Zie. Besok Kakak akan pulang ke Sanghai. Jadi Kakak tidak bisa hadir. Kakak titip doa saja untukmu. Semoga kau bahagia selamanya". Garra tersenyum miris. Pergi adalah jalan terbaik untuknya melupakan semua perasaan nya pada Zie.


"Kakak jaga diri baik-baik yaaa. Tidak perlu khawatir Kak. Aku akan bahagia. Dia lelaki yang tepat menjadi suamiku". Zie berkaca-kaca mengenggam tangan Garra "Jangan lupa hubungi aku yaa Kak".


Garra mengangguk. Tak sanggup. Sungguh tak sanggup. Tapi dia harus melepaskan Zie demi kebahagiaan gadis itu.


Terkadang memang lebih baik melepaskan dari pada mengenggam sesuatu yang tidak akan jadi milik kita selamanya.

__ADS_1


Grabielle menatap Garra dengan intens. Dia yakin jika pria itu memiliki rasa pada Zie. Karena dia tahu jika Zie hanya adik tiri Garra. Garra dan Zie tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


__ADS_2