
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie masih membeku dipelukkan Grabielle. Dia tidak membalas pelukan suaminya tapi dia juga tidak menolak. Membiarkan saja pria itu memeluknya. Otaknya seperti kosong tidak bisa berpikir. Tak seperti biasanya, kalau Grabielle menyentuhnya Zie pasti sudah menghitung jari dan membayangkan ATM nya membengkak. Karena satu sentuhan sepuluh juta.
Tapi kenapa ini terasa berbeda? Kenapa sangat nyaman? Sudah lama tidak ada yang memeluknya. Saat dia lelah. Saat dia rapuh. Jika dulu ada Garra tapi sekarang dia sudah tidak memiliki pria itu lagi.
Jujur saja Zie sangat lelah hari ini. Apalagi pertemuan nya dengan sang Ayah yang tidak disengaja dan Ayah nya itu masih terus mengancamnya.
"Tuan, aku sesak nafas. Jangan kencang-kencang".
Sontak Grabielle tersadar dan melepaskan pelukannya.
"Ck, kau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau jangan ge-er tadi aku tidak sengaja". Kilah Grabielle masih gengsi. Dia memperbaiki bajunya yang sedikit bergeser akibat memeluk Zie dengan erat
"Cih, siapa juga yang ge-er. Tapi kau wangi sekali Tuan". Zie mengendus-enduskan hidungnya mencium wangi parfum Grabielle
"Iiih jangan mendekat". Bukan Grabielle jijik hanya saja tidak baik untuk kesehatan jantung nya yang suka berdebar saat Zie mendekat padanya.
"Dasar pelit". Cibir Zie kesal. Tapi sumpah wangi tubuh Grabielle membuat Zie nyaman
"Istri durhaka. Kemana saja kau hah? Kau tahu tidak aku mengkhawatirkan mu seharian ini?". Grabielle menjewer telinga istrinya dengan gemes.
"Awww. Awww. Tuan, kau ini kejam sekali sihh". Zie memukul pelan tangan Grabielle agar melepaskan telinganya "Cie cie cie yang khawatir. Ehem ehemm". Ledek Zie.
Grabielle baru tersadar dari ucapannya. Dia merutuki dirinya yang berbicara seperti itu.
"Kau....". Grabielle meremes tangannya didepan Zie saking gemesnya dengan gadis tersebut.
"Sudah Tuan. Kau lapar tidak?". Grabielle mengangguk karena dia memang lapar "Ayo temani aku masak". Tanpa sadar gadis itu mengandeng tangan suami Cassanova nya.
Kenino yang mengintip dari tadi hanya menggeleng dengan gemes. Baru saja berbaikan sudah berdebat lagi. Tapi Kenino bersyukur, suasana Apartement jadi ramai dengan adanya perbedatan antara Grabielle dan Zie.
"Tuan tunggulah. Aku akan masak". Zie meletakkan tasnya.
"Kau tidak mandi dan ganti baju dulu?". Grabielle geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Nanti saja. Nanti juga kotor". Zie memasang klemek ditubuhnya.
Grabielle menatap istrinya yang memasak dengan telaten. Dia bisa tenang sekarang karena gadis itu sudah pulang. Perasaan kesalnya juga seketika membaik.
"Jangan lihat-lihat Tuan. Nanti jatuh cinta. Kalau sakit tanggung sendiri". Celetuk Zie terkekeh dia melirik suaminya yang dari tadi menatapnya terus.
Grabielle mendengus kesal "Kau terlalu percaya diri gadis kecil". Cibir Grabielle tapi hatinya sedikit terganggu. Dia tidak pernah jatuh cinta dan tidak akan pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.
"Percaya diri itu penting. Dari pada percaya orang lain". Sahut Zie.
Zie meletakkan masakan nya diatas meja. Kenino sengaja tidak menyuruh para pelayan masak. Karena Grabielle tidak mau makan makanan diluar masakan Zie.
Apalagi Grabielle baru menyesuaikan diri dengan makanan Indonesia jadi dia tidak bisa makan yang bukan masakkan istrinya.
"Kak Nino kemana dia sudah makan belum?". Gumam Zie.
Wajah Grabielle cemberut "Kenapa kau menanyakan nya? Kau menyukai Ken?". Tuding Grabielle tak suka. Bibirnya mengerucut kesal.
"Ehem, Kak Nino itu punya pacar tidak?". Zie mengambil nasi dan memasukkannya kedalam piring suaminya.
"Silahkan makan suami". Ucap Zie meletakkan piring didepan suaminya.
"Kau tidak ikut makan?". Tanya Grabielle heran.
"Tidak Tuan. Aku masih kenyang. Aku mau kembali ke kamar dulu. Selamat makan Tuan". Zie mellengang meninggalkan Grabielle.
Grabielle melihat hal itu merasa kecewa. Dia pikir Zie akan menemaninya makan tapi ternyata gadis itu malah meninggalkan nya sendirian dimeja makan.
Seketika nafsu makan Grabielle menghilang. Perutnya yang tadi lapar jadi tak berselera untuk menyantap makanan lezat itu.
Grabielle meletakkan sendoknya. Dia tidak jadi memasukkan makanan itu kedalam mulutnya.
Wajah Grabielle tak terlihat baik-baik saja. Seperti kesal. Marah. Kecewa bercampur menjadi satu.
"Selamat malam Tuan". Kenino menghampiri meja makan.
__ADS_1
"Malam". Ketus Grabielle berdiri
"Anda tidak makan Tuan?". Kening Kenino heran karena makanan dipiring Grabielle masih utuh dan belum berkurang sedikit pun.
"Kenyang". Pria itu melenggang pergi.
Kenino menggeleng kan kepalanya. Dia bernafas panjang. Kenino menatap meja makan yang dipenuhi makanan lezat. Dia sendiri tidak akan mampu menghabiskan makanan itu sendiri.
"Yang satunya polos setengah mati. Yang satunya gengsian setinggi gunung. Nanti ujung-ujungnya patah hati. Bisa-bisa aku lagi yang repot". Kenino menghela nafas panjang sekali.
Zie masuk kedalam kamarnya. Dia bersandar di dinding kamar. Air mata yang tadinya dia tahan seketika mengeruak begitu saja.
"Hiks hiks hiks hiks hiks". Gadis itu terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Aku juga tidak mau dilahirkan jika kehadiran ku membuat orang lain menghilang". Tangisnya semakin terdengar mengisak.
"Ibu, apa karena aku engkau pergi? Kenapa kau pergi Bu? Bahkan aku belum pernah sama sekali melihat wajahmu. Ayah terus menyalahkanku. Menganggap aku pembawa sial dan bahkan dengan tega ingin menjualku sebagai penebus hutang. Hiks hiks. Aku terluka Bu". Rintihnya.
"Kenapa Ibu melahirkan ku jika pada akhirnya Ibu pergi meninggalkan aku sendirian. Aku sendirian Bu. Tidak ada tempat untuk bersandar. Aku kesepian".
Tidak ada yang menyangka jika dibalik keceriaan seorang Zie dia menyimpan luka yang mendalam. Sangat dalam. Sejak lahir tak pernah melihat wajah Ibunya dan kehadiran nya selalu disalahkan oleh sang Ayah.
"Bu, aku rindu Bu. Bolehkah ku melihat wajahmu sebentar saja meski hanya didalam mimpi? Aku ingin melihat dan mengenal wajah mu". Isaknya
Zie memeluk kedua lututnya. Dia membenamkan wajahnya didalam lututnya itu. Meresapi semua perasaan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Aku iri pada orang lain yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah. Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam". Zie masih menangis didalam kamarnya.
Perdebatan nya dengan Grabielle tadi sedikit mengobati kesedihan nya. Pelukkan pria itu membuatnya merasa nyaman. Dia memang butuh pelukkan. Sangat butuh. Hanya saja tidak ada orang lagi yang bisa dia peluk dengan nyaman.
Zie ingin makan malam bersama suaminya. Tapi dia tidak mampu menahan air matanya. Tidak mungkin dia menangis didepan Grabielle dan menceritakan keluh kesahnya. Pria itu pasti akan mengatai nya cenggeng lagi. Dan dia tidak suka kalimat itu. Dia bukan gadis yang cenggeng, dia hanya gampang menangis itu saja.
Zie bangkit dan menyeka air matanya dengan kasar. Dia melempar tasnya begitu saja. Dan bergegas ke kamar mandi. Dia akan berendam di buth up untuk mendinginkan hatinya barang kali dia bisa merasakan sedikit tenang.
Bersambung...
__ADS_1