
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie benar-benar bingung. Sejak kapan rumah suaminya berubah seperti ini?
"Kak, sejak kapan rumah ini diubah Kak? Perasaan tadi pagi bukan seperti ini bentuknya?". Gadis itu celingak-celinguk sambil menunjukkan wajah bingung nya.
"Silahkan masuk Nona. Anda sudah ditunggu Tuan didalam". Sahut Kenino
"Kakak tidak masuk?". Zie memincingkan mata curiga "Kak sejak kapan Kakak ada tai lalatnya. Kenapa wajah Kakak sedikit berbed yaa?". Tanya Zie menyelidik.
"Ayo masuk Nona". Ucap Kenino setengah memaksa.
Zie mengangguk dan masuk. Dalam hati gadis itu masih bertanya-tanya. Kenapa ini jauh berbeda dengan Apartement suaminya.
Zie menelisik rumah mewah itu. Sangat mewah. Semua barang tertata rapih. Tidak ada sedikit debu pun yang menempel disana.
"Hai Nona Zie". Gama menghampiri gadis itu.
"Tuan Gama". Zie sedikit berjalan mundur sambil memegang erat tapi tasnya.
"Selamat datang dirumah besar kita sayang". Gama tersenyum menggoda. Pria itu sengaja memakai kaos oblong agar otot-otot perut nya terlihat.
"Rumah kita?". Kening Zie berkerut "Sejak kapan kita bangun rumah bersama Tuan?". Ujar gadis itu.
"Sejak sekarang dan kau adalah milik ku Nona". Gama langsung mencap Zie adalah miliknya.
"Milik mu?". Zie tertawa garing "Astaga Tuan, kau ini bercanda nya terlalu serius". Gadis itu ngakak
"Aku tidak bercanda. Kau adalah milik ku Nona Zie. Apa kau tahu jika aku adalah calon suami mu?". Gama menatap gadis itu dengan damba. Wajah polos dan menggemaskan membuat Gama seolah ingin mengigit gadis itu.
"Tahu". Jawab Zie cepat.
"Sejak kapan?". Tanya Gama.
"Sudah lama". Sahut Zie santai "Tuan bisakah aku minta minum, aku haus". Tanpa disuruh gadis itu duduk disoffa dengan santai dan tenang.
Gama menatap Zie heran. Kenapa gadis ini biasa saja. Kenapa tidak menyesal setelah kabur dihari pernikahan nya?
"Kenapa kau tidak terkejut?". Gama ikut duduk disoffa sambil menatap Zie.
"Ck, memangnya kenapa aku harus terkejut?". Zie menatap Gama malas "Tuan, jangan bilang kau menculikku?". Zie memincingkan matanya menyelidik.
Gama terkekeh "Kau baru sadar ternyata gadis cantik. Ya ya benar aku menculik mu dan aku akan membawa kau pergi jauh dari sini. Kau itu hanya milik ku bukan milik Grabielle". Ucap Gama menatap Zie.
"Ohhhh".
Satu... Dua.. Tiga..
"Astaga, jadi benar kalau aku sedang diculik? Bagaimana bisa?". Gadis itu terkejut "Apa tujuanmu menculikku Tuan?". Zie menatap Gama tajam
__ADS_1
"Kau mau tahu?". Gama tertawa gemes "Aku ingin kau menikah denganku dan tinggalkan Grabielle. Aku akan membebaskan hutang Ayah mu dan Ayah mu akan terbebas dari hukuman". Ucap Gama.
"Ayahku yang berhutang kenapa harus aku yang lunasi Tuan? Memangnya aku uang apa?". Ujar gadis itu kesal.
"Karena aku menginginkan mu. Sekarang cepat tandatangani surat ini dan ceraikan Grabielle. Ikutlah denganku dan menikah denganku. Aku jamin kau akan hidup bahagia". Gama memberikan selembar kertas pada Zie yang sudah ditumpahi tinta berbentuk tulisan.
"Ck tidak mau?". Tolak Zie melipat kedua tangan didada
"Cepat Zie". Bentak Gama. Batas kesabaran nya hampir habis dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Gama paling tidak suka ditolak.
Bukannya takut gadis itu malah menyenderkan punggungnya santai seolah tanpa beban.
"Kenapa kau diam saja cepat tandatangani?". Desak Gama.
"Kau itu Tuan. Pemaksa sekali". Ketus Zie "Aku tidak mau. Bagaimana bisa aku melepaskan Asset Negara seperti suamiku?". Mulut Zie komat-kamit mengolok Gama.
"Jangan sampai kesabaran ku habis Zie".
"Ya kalau habis diisi lagi. Apa susahnya?". Sahut Zie santai "Tuan mana minum ku aku haus sekali?". Pintanya.
"Tidak ada sebelum kau mendatangi surat ini". Gama masih memaksa. Kali ini dia tidak boleh gagal, dia harus mendapatkan Zie.
Bukannya menurut Zie malah menguap beberapa kali. Kakinya saling bersilangan satu sama lain. Tak ada rasa takut diwajah gadis cantik itu.
"Mark". Teriak Gama.
Brakkkkkkkkkkk
Mark dan beberapa pengawal Gama mendorong tubuh John, Marissa dan Shiena didepan Zie.
Sontak Zie terkejut. Apalagi wajah Ayah yang sudah babak belur bengkak dan biru-biru.
"Ayah". Zie menutup mulutnya "Ayah kenapa kau bisa seperti ini apa yang terjadi Ayah?". Zie menghampiri John.
"T-tolong Ayah Zie". Lirih John menahan sakit diwajahnya "Me-menikahlah dengan Tuan Gama". Imbuhnya lagi sambil meringis kesakitan.
Zie berdiri sambil menggeleng. Tidak. Bagaimana bisa dia meninggalkan Grabielle? Kenapa orang-orang begitu tega padanya.
"Kau lihat sendiri kan Zie? Nasib mereka ada ditanganmu. Menikah denganku atau kau akan kehilangan mereka selamanya". Gama menatap Zie licik. Dia yakin gadis ini akan memilih menyelamatkan Ayahnya.
"Apakah ada pilihan lain Tuan?". Tanya Zie menyeka air matanya.
"Tidak ada. Cepat putuskan". Tatap Gama tajam.
Zie menghela nafas panjang. Sangat panjang. Dia menatap ketiga orang itu yang sudah babak belur akibat ulah Gama.
"Ya sudah hilangkan saja mereka Tuan". Sahut Zie santai sambil kembali duduk dengan tenang.
Gama tercengang. Gadis ini tidak juga terpengaruh dengan tawaran nya.
__ADS_1
"Zie kenapa kau tega sekali pada kami? Pikirkan kami Zie". Ucap Shiena sambil menyeka sudut bibir nya yang berdarah akibat tamparan anak buah Gama.
"Ehem, bukan tega Kak. Aku sedang membiarkan kalian disiksa olehnya". Sahut Zie santai.
"Dasar anak durhaka. Anak pembawa sial". Bentak John.
Hati Zie kembali teriris sakit. Namun gadis itu tetap berusaha tenang dan tenang tidak terpengaruh sama sekali.
"Tolong kami Zie. Sekali ini saja selamatkan kami. Anggap saja sebagai balas Budi karena kami sudah membesarkan mu". Ucap Marissa sambil menangis sesenggukan menahan sakit ditubuhnya.
Tangan Zie terkepal kuat. Sangat kuat. Mata gadis itu tampak merah. Apa yang harus dia lakukan? Jalan mana yang harus dia pilih.
"Bagaimana sayang, apa kau akan tetap mempertahankan ego mu atau menikah dengan ku dan mereka akan selamat?". Gama tersenyum penuh kemenangan.
Zie masih terdiam. Gadis itu menatap kosong kearah Gama. Seolah sedang memasang tembok peperangan.
Krukkkkkkk
Perut Zie berbunyi dia memang belum makan tadi. Makan dikantin hanya sedikit dan tidak cukup untuk perut kecilnya itu.
"Hehhe Tuan, aku lapar sekali. Bisakah kita makan dulu?". Tak lupa dia menampilkan wajah imutnya.
"Ck, tidak bisa. Kau harus memilih dulu". Ketus Gama memalingkan wajahnya takut terpesona dengan wajah imut Zie.
"Ayolah Tuan. Aku tidak bisa berpikir jika sedang lapar". Sambil mengerhab-ngerjabkan matanya dengan bibir mengerucut.
"Pilih dulu. Aku akan mengajak mu makan malam". Gama masih tak mau kalah.
"Alah, Tuan mengalah sedikit kenapa? Laki-laki itu harus mengalah". Ujar Zie.
"Kau_".
"Ya sudahlah. Aku makan sendiri saja". Zie berdiri.
"Baiklah". Gama mengalah.
Zie tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah menyusun rencana untuk kabur dari perangkap Gama. Lihat saja nanti.
"Terima kasih Tuan. Kau memang calon suami terbaik". Zie mengedipkan matanya jahil.
Zie berjalan dengan sumringah sambil menuju meja makan Gama.
Sementara Gama menggeleng saja. Baru kali ini dia tawanan yang mengatur nya dan anehnya dia mau saja mengikuti perintah Zie.
"Wahhh Tuan, kau baik sekali menyediakan makanan semewah ini untukku. Berarti aku tamu spesial yaa?". Celetuk Zie "Kalau begini aku, aku mau sering-sering diculik". Zie cekikian sendiri seperti orang gila sambil menyendok nasi dan memasukkan kedalam piring nya.
Gama menatap Zie aneh. Dan lagi kenapa gadis ini sama sekali tidak takut padanya? Walaupun Zie tidak tahu jika dia salah satu ketua Mafia tapi melihat dari sorot mata tajam Gama saja harusnya Zie sudah bisa menebak namun gadis ini malah biasa saja.
Bersambung......
__ADS_1