Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Kabur


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


John, Marissa dan Shiena sudah berada dibandara


Tak lupa Shiena mengenakan kacamata hitam takut ada yang mengenali wajahnya. Dia adalah artis papan atas yang tentu akan banyak orang mengenalnya.


Mereka masuk kedalam pesawat kelas bisnis.


John membawa istri dan anak tirinya itu meninggalkan Indonesia. Sebab anak buah Grabielle terus menerornya dan mencari keberadaan mereka.


"Ayah apa kita akan aman tinggal di Jerman?". Tanya Shiena sedikit panik.


"Tenang saja sayang. Disana kita bisa menyusun rencana untuk menghancurkan Zie. Perusahaan Allena sudah Ayah jual. Jadi modal ini bisa kita gunakan untuk buka usaha disana". Sahut John tenang.


"Mau buat perusahaan baru lagi?". Sambung Marissa melepaskan kacamata hitamnya.


"Iya sayang. Setelah kita memiliki banyak uang. Kita akan sewa pasukan. Setelah itu kita kembali kesini dan menghancurkan Zie".


"Tapi Ayah ini akan membuatku semakin jauh dari Tuan Grabielle. Bagaimana bisa aku memiliki nya jika aku tinggal disana dan jauh dari dia". Ucap Shiena sendu. Gagal sudah rencananya untuk memiliki Grabielle.


"Ikuti permainan Ayah sayang. Kau akan tahu endingnya nanti bahwa Tuan hanya milik mu". Ucap John yakin.


"Terima kasih sayang". Shiena memeluk lengan kekar John.


Marissa memincingkan matanya tidak suka. Terlihat sangat janggal apalagi John dan Shiena hanya Ayah dan anak tiri yang tidak memiliki hubungan darah.


"Tapi bagaimana kalau kita gagal?". Imbuh Marissa sedikit ragu dengan rencana mereka.


"Tidak akan gagal sayang. Percaya padaku yaaa?". John menarik Marissa kedalam pelukannya.


Shiena cemberut dia tidak suka saat John bermesraan dengan Ibunya. Cemburu kah? Mungkin, karena Shiena sudah terlalu sering menjalin hubungan gelap dengan John jadi hal itu membuat nya candu akan perhatian John.


Sedangkan John tak merasakan apapun saat memeluk Marissa. Berbeda ketika dia menyentuh Shiena bagian bawahnya akan langsung hidup. Seolah Shiena seperti alat penyentrum yang mampu membangkitkan organ tubuh nya yang lain.


Wajah Shiena cemberut. Tanpa sepengetahuan Marissa. Tangan John dengan nakal masuk kedalam gaun yang dikenakan Shiena.


John duduk ditengah-tengah dihimpit oleh Marissa dan Shiena. Sehingga dia bisa menyentuh kedua wanita itu secara bersamaan.


Shiena mendesah pelan. Apalagi saat John meremes salah satu bukit kembarnya. Tidak ada yang memperhatikan mereka mungkin saking menikmati perjalanan yang cukup memakan waktu itu.


Setelah perjalanan cukup panjang. Akhirnya pesawat yang ditumpangi John landing di Bandara Internasional Jerman.

__ADS_1


John sudah mempersiapkan semua fasilitas hidup mereka disana. Dia berjanji akan kembali ke Indonesia dan menghancurkan putrinya yang bernama Zie itu. Zie harus merasakan rasa sakit seperti yang dia rasakan.


"Ayah apa ini rumah kita?". Shiena menatap bangunan sederhana namun terlihat nyaman dan arsih.


"Iya sayang". Sahut John.


"Sayang kenapa ini kecil sekali? Jauh sekali dengan rumah kita yang ada di Indonesi". Marissa merenggek tidak suka rumah kecil.


"Tidak apa-apa sayang. Nanti setelah aku buat usaha baru. Kita akan beli rumah yang lebih besar dari ini lagi yaaa? Untuk sementara kita tinggal disini dulu yaaa?". Ucap John mengelus punggung istrinya.


"Janji yaaa? Harus beli yang lebih besar dari ini?". Ucap Marissa.


Mana bisa dirinya yang sudah biasa hidup dalam kemewahan itu. Harus hidup dirumah yang tidak terlalu mewah dari rumahnya yang ada di Indonesia.


"Iya Honey". Ucap John tersenyum gemes.


.


.


.


.


"Lepaskan aku brengsekkkk". Teriaknya.


"Diam Tuan. Jangan sampai kami kembali menyakiti anda". Sahut salah satu anak buah yang menjaga Gama.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu. Tuan mu itu harus tahu jika Zie hanya milik ku". Jelas Gama penuh penekanan. Dia masih akan terus mengejar Zie tidak peduli dengan kondisinya saat ini.


Ada Mark juga disana dengan wajah babak belur nya. Dia sudah tidak bisa lagi melawan, apalagi dipukuli tanpa ampun meski tidak menggunakan senjata namun tetap saja hal itu membuat seluruh wajahnya sakit luar biasa.


Gama mengepalkan tangannya kuat. Dia berjanji, akan membalas Grabielle jika dia berhasil membebaskan diri dari sini.


Bagaimana bisa kabur, anak buah Grabielle berjumlah ratusan orang ditambah lagi tubuh mereka tinggi dan juga kekar serta besar. Tentu Gama dan Mark tidak akan bisa melawan begitu saja.


Gama pikir Grabielle tidak akan membawa pasukannya kembali ke Indonesia. Ternyata dia salah selama ini Grabielle selalu mengutus pengawal bayangan untuk melindungi istrinya.


"Lihat saja nanti, jika aku berhasil keluar dari sini. Aku akan menghancurkan Grabielle". Batin Gama.


Gama melirik sekitarannya barang kali. Ada sesuatu yang bisa dia jadikan alat untuk kabur. Dia tidak bisa berlama-lama disini. Dia harus kabur agar bisa mencapai ambisinya. Apalagi dia sempat berdebat dengan Zie, dia semakin tertarik pada wanita itu. Tidak peduli jika Zie tidak mencintainya. Dia akan terus memperjuangkan cintanya. Asal Zie bersamanya dia akan bahagia meski wanita itu tak mencintai nya sama sekali.

__ADS_1


"Mark". Gama bergeser kearah Mark.


"Iya Tuan?". Bisik Mark.


"Kau lihat itu?". Gama menunjuk gas asap didepan mereka yang biasa digunakan oleh anak buah Grabielle untuk mengelabui munsuhnya.


"Iya Tuan saya lihat". Sahut Mark.


Salahnya tangan dan kaki mereka tidak diikat. Karena anak buah Grabielle berpikir Gama dan Mark sudah sekarat jadi tidak akan mampu lagi melawan atau kabur.


"Aku akan mengambilnya. Kau bersiaplah membantuku. Kau paham?". Bisik Gama


"Baik Tuan. Saya paham". Sahut Mark.


"Bagus. Kita beraksi". Seringai licik terlihat diwajah Gama.


Gama bergeser perlahan. Anak buah Grabielle yang berjumlah banyak itu tidak memperhatikan nya. Sementara Mark mengalihkan perhatian sambil kesakitan seolah-olah hendak mengakhiri hidupnya.


Gama tersenyum licik saat benda kecil itu berhasil diraih oleh tangannya. Perlahan dia menyemprotkan gas itu kearah anak buah Grabielle.


"Arghhhhhhhhh".


"Arghhhhhhhhh".


Mereka menahan perih dimata saat gas itu mengenai mata mereka.


"Mark ayo".


Gama terus menyemprotkan gas mata itu sambil berjalan keluar. Anak buah Grabielle tak bisa menghindar dan melawan mereka merintih perih karena gas itu yang mengenai mata mereka.


"Ayo Mark".


Gama mengambil kunci mobil anak buah Grabielle. Keduanya langsung masuk kedalam mobil.


Mark menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


"Mark aku curiga mobil ini dipasang alat pelacak. Sebaiknya cepat kau rusak sistemnya. Biar aku yang mengemudi". Ujar Gama.


"Baik Tuan". Mark menghentikan mobilnya. Dan bertukar dengan Gama.


Mark memang ahli masalah IT. Jadi dia bisa dengan mudah mengatasi hal seperti pelacak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2