
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Semua sudah siap kan sayang? Ayo kita mandi, aku sudah gerah". Ajak Grabielle.
"Sebentar Kak". Zie menata piring diata meja tak lupa sendok dan garpu juga.
"Ayo Kak".
Grabielle mengandeng tangan gadis itu dengan senyuman mengembang.
Kenino bersembunyi dibalik almari. Pria itu masih tak percaya dengan permandangan didepannya. Dan tadi dia mendengar Grabielle memanggil Zie dengan panggilan sayang dan Zie memanggil Grabielle dengan panggilan Kakak. Apa mereka sedang berakting? Tapi tidak ada juga yang melihat mereka.
"Kakak mandi dulu, aku mau siapkan pakaian kerja Kakak". Suruh Zie menuju walk in closet.
"Tidak sayang. Nanti saja. Ayo kita mandi bersama". Grabielle mencengkram tangan istrinya.
Zie mendengus kesal "Awas kalau genit, mau ku potong tangan itu?". Ancam Zie. Bagaimana tidak tadi saja saat mereka cuci muka dan gosok gigi, masih sempat-sempatnya Grabielle jahil memasukkan tangannya dibaju Zie. Katanya tidak akan memaksa.
"Iya sayang aku janji. Sudah ayo, sudah mau siang nanti kita telat".
Grabielle adalah tipe orang displin. Dia selalu tepat waktu dan memberi contoh yang baik untuk para karyawan dikantornya.
Mereka berdua mandi. Grabielle merutuki kebodohan nya yang mengajak Zie mandi bersama. Dia lupa jika gadis ini masih lah polos.
Lihatlah bahkan Zie tidak malu telanjang didepan suaminya. Sementara Grabielle setengah mati menahan hasratnya. Namun dia tidak mau memaksa Zie. Grabielle yakin jika Zie sudah siap gadis itu akan meminta dengan sendirinya.
"Sayang, kau keluar duluan saja yaa? Aku mau ke buang air dulu". Alasan Grabielle.
"Iya Kak, aku duluan yaaa?". Sambil memasang handuk ditubuhnya.
"Iya sayang".
Terpaksa Grabielle menidurkan adik nya di kamar mandi. Pria itu mengerutu. Mengumpat kasar.
"Arggh, kenapa hanya melihatnya saja kau sudah bangun sihh? Kau tahu tidak belum waktunya kau memasuki nya. Perjuangan kita masih panjang, sabar-sabar dulu". Gerutu Grabielle sambil menidurkan adik nya itu.
Grabielle adalah Cassanova kelas kakap. Mungkin wanita yang tidur dengannya sudah tak terhitung jumlahnya. Dan dia tidak pernah memberi ampun pada wanita yang menghangatkan ranjangnya, tak jarang para wanita itu kewalahan melayani Grabielle.
Namun, entah kenapa Grabielle tidak bisa menyerang Zie. Ada rasa kasihan. Ada rasa tidak ingin menyakiti gadis itu. Apalagi Zie gadis polos. Dia belum mengerti masalah hubungan dewasa seperti ini.
Grabielle keluar dari kamarnya. Pria itu bersusah payah menidurkan adiknya. Kalau tidak ditidurkan, bisa menyerang kepala nanti jika hasratnya tidak disalurkan.
"Sayang". Grabielle tersenyum saat Zie sedang memilih pakaian untuknya.
"Pakai Kak". Zie memberikan setelah jas pada suaminya.
"Terima kasih".
Zie memilih jam tangan dan sepatu untuk suaminya yang senada dengan jas Grabielle. Gadis itu sudah biasa mengerjakan pekerjaan seperti ini sama sekali tidak canggung.
"Sini Kak aku pasangkan dasi Kakak". Zie beralih pada suaminya.
"Memang bisa?". Grabielle sedikit ragu.
__ADS_1
"Jangan meremehkan kemampuan istri mu Kak. Kecil-kecil begini aku sudah biasa mengerjakan pekerjaan seperti ini". Zie menyombongkan dirinya.
"Benarkah? Belajar dari mana?". Goda Grabielle.
"Aku sering membantu Kak Garra memasang dasinya". Sahut Zie polos.
Wajah Grabielle langsung berubah masam. Dia tidak suka mendengar nama Garra itu. Mana ada Kakak yang mencintai adiknya?
"Kak bisakah menunduk sedikit? Kenapa kau ini tinggi sekali?". Gerutu Zie.
Grabielle menurut dan menunduk agar Zie bisa memasangkan dasi dilehernya.
"Begini saja sayang". Grabielle mengangkat tubuh Zie dan mendudukan nya dimeja rias.
"Kak". Zie terkejut
"Nah seperti ini kan enak. Leher ku sakit jika menunduk terus". Ujar Grabielle.
Zie memasang dasi Grabielle dengan sabar dan telaten. Ini adalah hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri sungguhan.
Setelah bersiap-siap keduanya keluar dari kamar. Zie meneteng jas suaminya. Sementara tas Grabielle sudah dibawa Kenino. Tangan gadis itu melingkar dengan manja dilengan suami bule nya.
"Biar aku yang bawa jas nya. Jangan capek-capek".
Grabielle mengambil jas itu ditangan istri kecilnya. Zie tak protes malah tersenyum simpul. Beginikah rasanya dicintai? Dia tidak pernah merasa dicintai apalagi mencintai.
"Terima kasih Kak". Dia menyenderkan kepalanya dilengan kekar Grabielle sambil berjalan.
"Selamat pagi semua".
Zean, Luna dan Kenino yang berada dimeja makan serta para pelayan terheran-heran melihat pasangan suami istri itu.
Awalnya Zean dan Luna tidak percaya dengan cerita Kenino, tapi setelah melihat sendiri mereka baru percaya. Tapi apakah Grabielle dan Zie sedang berakting didepan kedua orangtua Grabielle sesuai dengan surat kesepakatan itu?
"Pagi Ayah Mertua. Pagi Ibu Mertua. Pagi Kak Nino". Sapa Zie.
"Pagi juga sayang". Senyum Luna.
"Pagi menantu kesayangan". Balas Zean. Grabielle memutar bola matanya malas.
"Pagi juga Nona". Balas Kenino.
Grabielle menarik kursi untuk istrinya agar wanita itu duduk dan ini pertama kali.
"Duduk sayang".
"Terima kasih Kak". Zie tersenyum hangat.
Zean dan Luna hampir tersendak mendengar panggilan Grabielle. Ini bukan akal-akalan Grabielle untuk mengelabui kedua orangtuanya kan? Zean curiga, Grabielle mencurigakan.
Begitu juga Kenino, bahkan pria itu sampai terbatuk-batuk. Apakah ini drama bucin Grabielle dan Zie sudah dimulai?
"Ayo silahkan di makan Ibu. Ayah dan Kak Nino". Ucap Zie.
__ADS_1
"Terima kasih Nona". Kenino tersenyum simpul.
"Ehem, jangan senyam-senyum pada istriku Ken". Grabielle menatap Kenino dengan horor.
"M-maaf Tuan". Kenino gegelapan sendiri saat tatapan Grabielle seolah mampu menebus Indra penglihatan nya.
"Sayang kita makan sepiring saja yaa? Biar aku yang suapi". Pinta Grabielle.
Zean dan Luna benar-benar tersendak. Rasanya mereka tidak mengenal Grabielle yang sekarang.
"Nanti lama makannya Kak. Kita buru-buru ke kantor".
"Tidak apa-apa sayang. Sini piring nya. Ambil satu saja". Perintah Grabielle.
Zie mencebik kesal. Ada-ada saja suaminya ini.
"Kak aku bukan anak kecil yang harus disuapi". Protes Zie.
"Memang bukan anak kecil. Tapi istri kecil". Grabielle terkekeh.
Zean, Luna dan Kenino masih dibuat dibuat tercengang dengan sikap Grabielle pagi ini. Bahkan mereka tidak makan dan masih membisu melihat kemesraan kedua orang itu.
Tidak ada lagi perdebatan pagi hari. Tidak ada lagi rusuh-rusuhnya. Biasanya Kenino harus dibuat pusing dengan drama pagi Grabielle dan Zie.
"Mereka manis sekali. Kapan aku dapat jodoh? Jadi pengen nikah". Batin Kenino.
Luna tersenyum simpul. Manis sekali dua orang itu. Membuatnya iri saja. Apalagi Zean bukan pria romantis. Suaminya itu terkesan cuek dan dingin tapi sebenarnya baik dan peduli.
"Kau blepotan sekali makan nya". Grabielle membersihkan bibir istrinya.
"Peduli juga kami Son". Sindir Zean mulai jenggah.
"Daddy ajak saja Mommy bermesraan". Ketus Grabielle
"Maaf Ayah. Maaf Ibu". Zie benar-benar tak nyaman bermesraan didepan mertuanya tapi Grabielle malah selalu memaksanya.
"Tidak apa-apa sayang. Lanjutkan saja". Senyum Luna dia mencubit pinggang suaminya dengan gemes.
"Sayang, kejam sekali". Protes Zean.
"Makanya jangan suka iri sama anak sendiri". Omel Luna.
"Habisnya kau tidak bisa diajak bermesraan seperti Bielle dan Zie". Gerutu Zean.
"Kau yang tidak romantis Zean". Sergah Luna.
"Kau juga tidak bisa diajak romantis". Balas Zean tak mau kalah.
"Sudahlah Mommy. Daddy. Sudah tua jangan berdebat. Kalian menganggu saja". Ketus Grabielle.
Zie hanya tersenyum malu. Keluarga Grabielle seperti nya keluarga yang hangat.
Bersambung...
__ADS_1