
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kalian dari mana saja?". Marissa menatap heran kepada putri dan suaminya.
"Tadi setelah dari perusahaan aku menjemput Shiena ke pemotretan sayang. Kenapa?". John pura-pura bertanya. Padahal tadi dia sudah ketahuan merangkul bahu Shiena.
"Tidak. Ayo makan". Ajak Marissa
Ketiga orang itu menuju meja makan. Rumah mewah ini sebenarnya milik almarhum istri John yaitu Ibu nya Zie. Namun selalu pria itu berkuasa atas segalanya dan mengganti sertifikat rumah ini atas namanya.
"Bagaimana masalah Zie? Apa dia akan tetap menikah dengan Tuan Gama, Ayah?". Tanya Shiena disela-sela makannya.
"Tentu saja jadi. Zie sudah menggugat Tuan Grabielle cerai. Minggu depan sidanh perceraian mereka". Sahut John.
Marissa tersenyum licik. Setelah Zie menikah dengan Gama, kekayaan mereka akan bertambah dan dia akan menjadi wanita kaya.
"Apa Tuan Gama akan memberi separuh sahamnya untuk kita?". Tanya Marissa sambil membayangkan uang yang banyak itu.
"Tentu saja jadi sayang". Senyum John.
"Bagus. Gadis pembawa sial itu memang harus berkorban untuk kita sayang. Hutang kita lunas dan kita kaya". Seru Marissa.
"Ya kau tenang saja sayang. Pasti kita akan menjadi yang paling kaya dan besok aku akan menemui Zie. Aku akan terus memaksa nya untuk mempercepat persidangan mereka". Sambung John.
"Jangan lupa Ayah. Tuan Grabielle harus jadi milikku. Biar aku saja yang menggantikan posisi Zie". Ucap Shiena tak sabar memiliki Grabielle. Dia penasaran sehebat apa pria itu jika berada diatas ranjang.
"Tentu saja sayang. Apa sih yang tidak untuk putri Ayah ini?". John menyelipkan anak rambut Shiena.
"Terima kasih Ayahku sayang". Shiena memberikan pelukan hangat pada Ayah tirinya itu.
Lagi, Marissa merasa janggal dengan kedekatan putri dan suaminya. Bagaimana pun, Shiena sudah dewasa apalagi mereka hanya sebatas hubungan tiri. Tidak ada darah John yang mengalir ditubuh Shiena, tentu ini membuat Marissa setengah terganggu.
"Shiena". Tegur Marissa.
Sontak wanita itu melepaskan pelukan nya ketika Marissa memanggil namanya.
"Iya Bu, kenapa?". Tanya Shiena memasang wajah polos.
"Shiena berhenti bermanja-manja dengan Ayahmu. Kau sudah dewasa. Terlihat janggal jika kau bersikap seperti tadi. Akan ada yang salah paham". Tegur Marissa.
__ADS_1
"Ibu cemburu? Astaga Bu, kira-kira kali. Ayah ini Ayahku". Shiena geleng-geleng kepala.
"Ibu tidak cemburu. Hanya saja itu terlihat janggal". Sahut Marissa.
"Sudahlah sayang tidak diperdebatkan. Apa salahnya Shiena bermanja-manja denganku? Lagian dia juga putriku". Sahut John membela "Iya kan sayang?".
"Iya Ayah".
"Kau yang sudah tua harus mengerti John. Jangan mengajari putriku yang tidak-tidak". Marissa meletakkan sendoknya. Wanita itu meninggalkan suami dan putrinya.
Bagaimana pun setiap siapa yang melihat keakraban John dan Shiena akan berprasangka buruk.
"Ayah seperti nya Ibu curiga". Bisik Shiena pelan.
"Sudah tidak perlu dipikirkan. Nanti Ayah akan jelaskan". John mengecup punggung tangan Shiena.
Bercinta dengan Shiena membuatnya candu. Tubuh Shiena yang menggoda membuat John semakin ingin dan ingin memasuki putri tirinya itu.
Bahkan selama berhubungan dengan Shiena, John tidak pernah sekalipun menyentuh Marissa. Bagi John Shiena lebih berpengalaman masalah **** dibanding Marissa yang sudah berkali-kali menikah.
"Terima kasih Ayah". Shiena mengedip-ngedipkan matanya jahil.
"Jangan menggoda Ayah sayang. Kita tidak bisa melakukan nya sekarang". John sudah setengah mati menahan juniornya yang sesak didalam celananya.
Shiena ngakak sendiri. Dia tidak peduli meski menghianati Ibunya. Shiena butuh pelampiasan gairahnya. Apalagi John akan mewujudkan impiannya untuk melakukan one stand night dengan Grabielle sang Cassanova impian para wanita.
"Bagaimana Ester?". Tanya Hana
"Zie sudah mengambil surat cerai Kak. Besok dia akan tinggal dirumah ku sampai sidang perceraian mereka". Sahut Ester
"Bagus. Kita akan pantau Zie. Setelah persidangan perceraian nya selesai. Kita akan bawa dia ke Shanghai". Hana tersenyum tak sabar.
"Tapi Kak_".
"Tapi kenapa Ester?". Sambung Adam ikut menimpali percakapan kedua gadis itu.
"Seperti nya Zie sudah jatuh cinta pada suaminya Kak. Aku bisa lihat dari tatapan matanya saat dia membicarakan suaminya". Jelas Ester sendu.
"Ini tidak bisa dibiarkan Ester. Kau tahu kan Tuan Grabielle itu siapa? Hidup Zie tidak akan tenang jika bersamanya. Apalagi dengan Tuan Gama, dia pria kejam. Mereka berdua sama-sama tidak pantas untuk Zie. Jadi kita tidak boleh biarkan siapapun merebut Zie dari Kak Garra". Imbuh Adam.
__ADS_1
Ester terdiam sejenak. Dia kasihan melihat wajah sedih sahabat nya. Sebagai wanita tentu Ester bisa lihat jika Zie sebenarnya sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri.
"Tapi apakah Zie akan bahagia bersama Kak Garra, Kak?". Tanya Ester sendu.
"Kenapa kau meragukan Kak Garra, Ester?". Tanya Adam sedikit tidak suka.
"Bukan meragukan Kak. Aku hanya takut Zie tidak bahagia. Dia sudah terlalu banyak menderita". Ester menghela nafas "Tapi jika memang Kak Garra bisa membahagiakan Zie, aku akan mendukung nya Kak". Imbuh Ester.
"Kita memang harus mendukung gadis unik itu, Ester. Jangan sampai Zie jatuh dalam pelukkan pria yang salah". Sambung Hana.
Ketika orang itu terdiam sejenak. Mereka adalah orang-orang yang dipilih Garra untuk menjaga Zie setelah dia tidak berada disamping gadis itu.
"Ester, teruslah berada disamping Zie. Jangan biarkan dia bersedih. Kau tahu kan betapa Kak Garra menjaga air mata Zie supaya tidak jatuh. Jika Zie sampai menangis lagi seperti kemarin bersiaplah kita bertiga akan mendapat hukuman dari Kak Garra". Ujar Adam. Mengingatkan sekaligus mengancam
"Iya Kak aku tahu". Sahut Ester.
"Bagaimana dengan pria botak itu? Apa dia masih terus meminta uang padamu?". Hana melirik Ester.
"Seperti biasa Kak. Terpaksa Blackcard yang diberikan Zie, kuberikan pada Ayah. Aku takut Ayah menyakiti Kak Ellena". Sahut Ester menghela nafas panjang.
"Kau tenang saja tidak perlu khawatir. Kakak akan bantu. Jangan sungkan jika ada masalah ceritalah". Hana menepuk bahu gadis itu.
"Terima kasih Kak". Senyum Ester.
Selain Zie. Adam dan Hana juga sahabat Ester. Kedua orang itu sering membantunya saat ada masalah. Hal itu lah yang membuat Zie tertarik untuk bekerja sama dengan Garra melindungi Zie.
Tapi jujur saja, Ester sedikit ragu membantu Zie bercerai dengan Grabielle. Garra memang baik pada Zie apalagi memang Kakaknya. Hanya saja Ester takut jika Zie tidak bisa mencintai Garra dan terus menganggap lelaki itu sebagai Kakak nya. Nanti mereka berdua malah akan saling menyakiti satu sama lain nya.
"Ya sudah Kak. Aku pamit yaa". Ujar Ester berdiri dari duduknya.
"Tunggu". Adam membuka dompet nya dan mengambil beberapa lembar uang "Ambilah untuk ongkos mu. Jangan kasihkan lagi pada tua Bangka itu". Ujar Adam.
"Terima kasih Kak". Ester langsung senyum empat lima "Kak Hana tidak mau ditambah. Mumpung aku belum pulang?". Gadis itu menampilkan rentetan gigi putihnya.
"Ck, itu saja sudah cukup. Dasar mata duitan". Cibir Hana sambil mengibaskan tangannya
"Dasar pelit". Ketus Ester.
Adam dan Hana terkekeh pelan. Ester ini hampir sama dengan Zie. Tapi Zie yang paling patah. Meski begitu sosok kedua gadis ini termasuk langka dan sulit ditemukan dibelahan dunia mana pun.
__ADS_1
Bersambung...