Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Berkunjung ke Kakak ipar


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹


"Pakailah". Grabielle memberikan gaun pada istrinya.


"Untuk saya, Tuan?". Zie menunjuk tubuhnya.


"Bukan untuk semut yang merayap didinding". Ketus Grabielle "Ya untukmu lah. Untuk siapa lagi?". Ujar Grabielle kesal.


"Cepat pakai. Nanti akan ada yang merias mu". Pria itu memberikan baju gaun mewah pada Zie lalu meninggalkan istrinya.


Zie menatap gaun itu. Gaun cantik. Pasti harganya mahal. Luar biasa. Memang orang kaya selalu begitu menghamburkan uang hanya untuk membeli kain sepotong seperti ini.


"Kalau aku jual kira-kira berapa ya harganya? Lumayan buat tambah tabungan". Gadis itu cekikikan sendiri.


Zie segera berganti baju. Sebenarnya dari tadi dia bertanya-tanya. Kenapa suaminya menyuruh nya memakai gaun itu.


"Aku baru sadar kalau gaun ini sama dengan warna jas Tuan Teh Celup?". Gumam Zie "Dia manis juga, hihihi". Dia menggeleng sambil tertawa pelan "Ehem, tapi". Seketika Zie melemas "Ayah benar-benar menyuruhku meninggalkan Tuan Teh Celup, hutangku masih banyak. Aku juga merasa nyaman dengan Tuan Teh Celup. Aku tidak mau menikah dengan pria botak itu. Lagian hutangku belum lunas, nanti kalau aku meninggal bisa tidak diterima karena masih banyak hutang". Ujar gadis itu itu.


Zie menatap dirinya. Gaun ini benar-benar pas dengan ukuran tubuhnya. Tidak besar. Tidak juga kecil.


"Permisi Nona". Dia orang wanita masuk kedalam kamar Zie.


"Kalian siapa?". Kening Zie berkerut heran


"Maaf Nona. Kami ditugaskan untuk merias anda, oleh Tuan". Jawab salah satunya.


"Merias?". Beo Zie.


"Iya Nona, mari". Mereka menarik tangan Zie dan mendudukan gadis itu didepan meja rias.


Zie tak sempat protes hanya mengikuti saja. Meski sebenarnya dia tidak suka berdandan.


Zie mendelik saat salah satu perias itu mencatok rambut panjangnya. Beberapa kali gadis itu bersin-bersin saat mencium bau tidak sedap dari obat catok itu.


Selang beberapa menit kemudian. Zie sudah selesai didandani.


"Anda sangat cantik Nona. Pasti Tuan beruntung sekali memiliki istri seperti anda". Puji salah satu perias itu.


"Ehem, begitu ya Kak? Aku memang cantik sihh". Zie nyengir kuda saja saat dipuji seperti itu.


"Kami permisi Nona".


Lama Zie menatap dirinya didepan cermin. Malam ini dia memang terlihat berbeda. Wajahnya tampak dewasa dari usianya, padahal dia masih sangat muda.


Gadis itu keluar dari kamarnya. Jalannya terseok-seok gara-gara heels yang melekat dikakinya.


"Ck, ribet sekali sihh. Kenapa harus memakai benda aneh ini?". Gerutunya kesal.


Kalau tidak dipakai, Grabielle pasti mengomel lagi dan Zie bosan mendengar Omelan pria itu. Membuat bulu kuduknya naik saja.


"Tuan".

__ADS_1


Grabielle yang tengah asyik dengan ponselnya menoleh kearah gadis itu


Sejenak Grabielle seperti tak bisa bergerak. Dia tak berkedip melihat istrinya yang begini cantik. Kenapa cantik sekali? Tatapan Grabielle tertuju pada bibir ranum nan munggil diolesi dengan lipstik berwarna merah muda, Grabielle membayangkan betapa nikmatnya bibir itu. Pasti rasanya manis. Pikiran mesumnya sudah berkelana kemana-mana?


"Tuan". Panggil Zie sekali lagi.


Namun Grabielle masih menatap nya tak berkedip. Bukannya ge-er gadis itu malah mencebik kesal.


"Terpesona ya Tuan?". Zie menyimak rambutnya ke belakang "Saya tahu saya memang cantik tanpa batas Tuan, terima kasih sudah terpesona". Seru gadis itu.


Grabielle tersadar. Pria itu langsung memasang wajah masam.


"Siapa juga yang terpesona jangan ge-er?". Ketus Grabielle berusaha menetralisir kegugupannya.


"Ya kan kita tidak ada yang tahu, Tuan". Zie cekikian sambil mengintip wajah suaminya "Jujur itu menyakitkan Tuan". Imbuhnya lagi.


"Sudahlah. Berbicara denganmu membuatku stress saja". Ketus Grabielle berjalan duluan.


Zie menghentak-hentakkan kakinya kesal. Benar-benar tidak romantis sekali suaminya itu. Tidak seperti didrama Korea yang dia tonton, manis, romantis, bucin. Mereka malah bertengkar terus.


Gadis berjalan keluar dengan mulut komat-kamit. Sambil berjalan terseok-seok gara-gara sepatu aneh dikakinya


"Ck, kalau seperti ini bagaimana aku bisa sampai?". Gadis itu hendak membuka helesnya


"Jangan dibuka". Cegat Grabielle menghampiri istrinya


"Aishhh, ini susah sekali Tuan". Gerutu Zie. Dia benar-benar tidak biasa memakai sepatu aneh itu.


"Mau bilang bagaimana? Tuan saja berjalan seperti kelinci". Ketus Zie


"Kelinci?". Kening Grabielle berkerut.


"Alah, bule mana tahu kisah kelinci dan kura-kura". Sindir Zie.


"Sudah lah. Kau ini". Grabielle langsung menggendong istrinya


"Ck, Tuan lepaskan. Aku bisa berjalan sendiri". Zie memberontak tapi tangannya melingkar dileher Grabielle.


"Diamlah. Mau kucium?". Ancam Grabielle.


Sontak gadis itu terdiam. Matanya mengerhab-ngerjab beberapa kali. Ancaman Grabielle berhasil membuatnya bungkam.


Grabielle tersenyum smirk. Gadis ini benar-benar harus diancam baru bisa diam


Kenino hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah menunggu lama dimobil. Menyaksikan perdebatan antara pasangan unik itu.


Grabielle memasukan Zie ke dalam mobil. Gadis itu masih terdiam menatap suaminya dengan takut. Tapi yang ada dipikiran Zie, adalah berciuman dengan suaminya.


Zie menggeleng menghilangkan perasaan mesumnya. Kebanyakan menonton drama Korea membuat otaknya sedikit konslet.


"Jalan Ken".

__ADS_1


"Baik Tuan".


Grabielle melirik istrinya yang terdiam. Dia tersenyum smirk. Gadis ini pasti masih takut ancamannya. Sebegitu takutnya Zie dicium padahal semalam Grabielle sudah mengambil ciuman wanita itu secara diam-diam. Kalau Zie tahu bisa terjadi perang dunia ke delapan.


Sampai dikediaman Myron dan Zevanya.


Zie tertegun dan terpesona melihat bangunan mewah itu. Mansion yang terlihat mencolok dari bangunan lainnya.


"Ck, jangan kampungan". Sindir Grabielle melihat istrinya yang tak berkedip.


Zie mencebik "Kampungan juga istrimu". Sahut Zie.


"Ayo". Grabielle menujukkan lengannya agar Zie melingkar tangannya disana


"Untuk apa?". Zie bingung.


"Peluk tanganku. Kau itu tidak bisa berjalan tanpa aku". Singgung Grabielle.


"Cih, percaya diri sekali. Ini juga gara-gara sepatu tidak bermoral ini". Sahut Zie tak terima


"Sudahlah jangan bicara lagi". Sergah Grabielle.


Kenino mengekor dari belakang. Pokoknya dia adalah penikmat drama live Grabielle dan Zie.


"Ini adalah adengan rusuhnya. Aku tidak sabar menanti adengan bucin nya. Kira-kira seperti apa ya Tuan Grabielle kalau bucin?". Batin Kenino terkekeh dalam hati.


"Adik ipar". Zevanya dan Myron menyambut kedua orang itu.


"Kakak ipar". Zie tersenyum hangat dan mereka berdua saling berpelukan.


"Kau cantik sekali malam ini adik ipar. Kakak hampir tak mengenalmu". Puji Zevanya melepaskan pelukannya.


"Kau bisa saja Kakak ipar, membuatku ingin guling-guling dehh". Celetuk nya


"Ayo masuk". Zevanya menarik tangan Zie untuk masuk


Grabielle dan Myron hanya bisa menggelengkan kepala salut. Zevanya dan Zie sangat cocok, padahal baru bertemu beberapa kali tapi mereka sudah sangat akrab layaknya saudara kandung.


"Apa kabarmu Bielle?". Mereka berdua berjalan masuk menyusul para istri.


"Seperti yang Kakak lihat". Grabielle menghela nafas panjang "Aku ingin cek kerumah sakit Kak". Imbuhnya.


"Lho, kau sakit Bielle?". Myron sedikit panik karena bagaimanapun Grabielle adalah tanggung jawabnya.


"Tidak". Grabielle menggeleng "Gadis itu membuatku naik darah setiap hari Kak". Keluh Grabielle.


Myron tertawa lebar. Tentu saja paham dengan penderitaan Grabielle karena dia juga pernah berada diposisi adik nya itu.


"Terima kasih sudah menemani Kakak. Akhirnya ada juga yang menandingi istri Kakak". Ujar Myron tertawa lebar.


Grabielle memincingkan matanya kesal. Pria itu mencebik dalam hati. Memang memiliki istri yang bicara spontan itu harus memiliki banyak kesabaran.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2