
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Zie". Gama mendekat kearah Zie dan Zevanya.
"Ada apa Tuan?". Zie terlihat tenang dia tidak takut sama sekali dengan pria didepannya ini.
"Apakah ada waktu? Aku ingim berbicara dengan mu empat mata". Dia menatap Zie dalam
"Lima mata juga boleh". Zie menampilkan rentetan gigi putihnya.
Gama terkekeh pelan. Inilah yang membuatnya semakin tertarik pada Zie. Gadis itu selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa.
"Sekalian kita makan siang". Imbuhnya.
"Kak, boleh kah?". Zie menatap Zevanya.
"Tentu. Jangan menolak rejeki. Tidak boleh". Ujarnya tersenyum lebar.
"Ya Tuan Gam-gam ehh salah maksudnya Tuan Gama, perkenalkan ini Kak Zeva, Kakak ipar saya". Zie memperkenalkan Zevanya pada Gama.
"Gama".
"Zevanya". Senyum Ibu tiga anak itu tidak kalah dengan senyum gadis muda.
Mereka menuju restorant yang ada di Mall. Mark sudah menyiapkan meja VVIP seusai dengan perintah Gama.
"Waahh makanan nya banyak sekali. Bisa tidak makan seminggu ini". Zie mengelus perut ratanya.
"Iya Lala. Batal sudah diet kita". Sambung Zevanya.
Gama tersenyum hangat menatap kedua wanita itu. Setiap kali melihat wajah Zie dia selalu merasa hangat dan nyaman seolah Zie memiliki daya tarik sendiri untuknya.
"Makanlah". Ucap Gama tulus.
Mereka bertiga makan. Zie dan Zevanya seperti lomba makan. Kedua wanita ini jika berbicara masalah makan selalu nomor satu dan menjadikan makanan sebagai cara menghargai karya orang lain.
Gama juga makan. Entah kenapa dia merasa nyaman saat makan bersama Zie. Perasaan bersalahnya kemarin yang hampir menyakiti Zie kini sedikit bisa terobati ketika makan bersama wanita itu.
Gama juga memesan makanan penutup untuk mereka bertiga. Dia suka melihat Zie yang kuat makan. Sangat manis dan juga terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Tuan ingin berbicara apa?". Tanya Zie menatap Gama setelah mereka sudah selesai makan.
"Bisakah hanya kita berdua saja yang bicara?". Gama melirik Zevanya berharap wanita itu mengerti bahwa dia hanya ingin berbicara berdua dengan Zie.
"Tentu saja boleh". Sahut Zie "Kak Zeva, tunggu lah aku disana yaaa. Aku tidak lama". Ucap Zie.
"Baiklah. Seperti nya isi perut Kakak masih kurang. Apakah boleh Kakak pesan makan lagi?". Seru Zevanya.
"Pesanlah Kak. Biar nanti bill nya aku yang urus". Sambung Gama. Tidak tahu dari mana keberanian.
"Waahhh terima kasih adik". Zevanya tersenyum sumringah.
Gama menatap Zie yang duduk dengan tenang didepannya. Pria itu menghela nafas panjang.
"Zie".
"Iya Tuan?". Zie menatap Gama balik.
"Maafkan aku". Gama menunduk.
"Maaf kenapa?". Kening Zie berkerut heran
"Kemarin aku sempat menculik mu dan hampir membuatmu celaka". Ujarnya lagi.
"Zie". Lidah Gama terasa kelu.
"Apa tidak ada kesempatan bagimu untuk membuka hati untukku?". Dia menatap Zie penuh harap
Zie tertawa hambar "Tuan, Tuan. Kau ini bagaimana sihh? Kau sudah tahu jika aku ini sudah memiliki suami. Bagaimana bisa aku membuka hati untuk mu? Maaf Tuan aku tidak mau rakus, kasihan wanita yang tidak memiliki pasangan diluar sana pasti patah hati massal gara-gara aku memiliki dua suami". Zie tertawa lebar dan lucu dengan ucapannya sendiri.
Gama menatap Zie "Tapi aku sungguh mencintaimu Zie. Sungguh". Tatap Gama masih tak menyerah.
Zie tersenyum sinis "Tuan, kau itu tidak mencintaiku. Kau hanya terobsesi padaku. Cinta itu beda. Kalau kau cinta kau tidak akan memaksa. Kau akan melepaskan demi kebahagiaan orang yang kau cintai. Ini kau malah terus memaksa ku. Kau menculikku. Jika aku jahat sebenarnya aku bisa saja melaporkan mu. Tapi sudahlah. Aku tahu kau memiliki alasan kenapa terobsesi padaku. Tapi ku ingatkan sekali lagi Tuan jangan memaksa sesuatu yang bukan milikmu. Kau sendiri yang akan sakit nantinya". Ucap Zie panjang lebar.
Gama terdiam sejenak. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa benar-benar ingin memiliki Zie. Mungkin karena hanya Zie wanita yang selalu membuatnya tertarik.
"Tapi_".
"Tuan suatu hari nanti kau pasti akan menemukan cinta sejati. Mungkin bukan aku, tapi ada wanita diluar sana yang akan mencintai mu dengan tulus. Aku sudah memiliki suami dan aku sangat mencintainya. Apapun yang terjadi aku bahkan takkan melepaskan nya. Jadi tolong Tuan, jangan paksa aku lagi. Aku tidak mau berdosa karena terus merutuki mu". Tegas Zie wajahnya tampak serius.
__ADS_1
"Kau itu tampak Tuan, kau juga kaya. Kau memiliki segalanya. Jika kau mau banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangan mu. Jadi kau tidak perlu menganggu rumah tangga orang lain. Nanti kena azab, baru kau tahu rasa". Celetuk Zie.
"Sudahlah jangan memasang wajah sedihmu itu yaaaaa?". Zie menepuk pundak Gama "Aku permisi Tuan dan terima kasih makan siangnya. Aku sudah meminta suamiku agar berhenti mengejarmu. Jadi tidak perlu takut lagi pada anak buahnya".
Zie melangkah pergi meninggalkan Gama yang masih terdiam dikursinya.
Gama menatap punggung Zie yang menjauh darinya. Apakah dia harus menyerah mengejar cintanya? Zie sudah menolaknya dengan halus tapi kenapa hatinya rasanya belum siap dan tidak terima. Namun cinta tidak bisa dipaksa tohh.
"Tuan, Tuan Besar ingin bertemu anda. Ada yang ingin Tuan Besar katakan pada anda". Ucap Mark mendekat pada Gama.
"Baik".
Gama berdiri sambil menyeka air matanya. Sakit rasanya ditolak. Dia juga ingin hidup bahagia dan memiliki keluarga menikah dengan wanita yang dia cintai. Namun kenapa seolah kesempatan tidak ada padanya.
Gama duduk dengan tenang didalam mobil. Wajahnya menunjukkan kerapuhan dia ketidakberdayaan. Hanya Zie wanita yang bisa membuatnya bahagia. Namun wanita itu malah dengan tegas menolaknya.
Sampai disebuah rumah besar mobil Mark berhenti. Meski hubungan nya dengan sang Ayah renggang. Sesungguhnya Gama sangat menyanyangi Ayah itu.
"Ada apa Daddy memanggilku?". Dia duduk disoffa tanpa mau basa-basi.
"Gama". Pria itu menghela nafas berat "Ada banyak hal yang ingin Daddy katakan padaku".
"Katakan aku tidak punya banyak waktu". Ujarnya.
"Apakah kau masih mengejar wanita itu?".
"Dari mana Daddy tahu kalau aku sedang mengejar wanita?". Gama memincingkan matanya curiga.
"Gama, dia_".
"Cepat katakan". Desak Gama "Apa selama ini Daddy mengawasiku secara diam-diam?". Dia menatap pria paruh baya itu dengan tajam
"Maafkan Daddy Gama. Hanya dengan cara seperti itu agar Daddy tahu kondisimu".
"Untuk apa? Tohh Daddy juga tidak peduli padaku. Kenapa harus mengawasi ku? Bukannya Daddy sibuk menangisi selingkuhan Daddy yang meninggal itu". Gama berdiri dari duduknya. Setiap kali bertemu pria ini dia selalu bertengkar.
"Gama berhenti mengejarnya. Daddy mohon". Pria itu juga ikut berdiri saat Gama ingin melangkah pergi.
"Kenapa? Itu urusanku bukan urusanmu". Sergah Gama.
__ADS_1
"Dia adik mu".
Bersambung....