
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie, Hana dan Adam menuju perpustakaan untuk mengambil beberapa referensi buku.
Zie memilih beberapa buku yang dia butuhkan. Dia memang mahasiswi berprestasi. Mahasiswi paling rajin meski dia bar-bar tapi jika masalah pendidikan Zie selalu serius. Tak heran jika dia mendapat beasiswa penuh dari kampus.
"Apa kau sudah mendapatkan nya Zie?". Hana menghampiri Zie sambil membawa beberapa buku "Menurutmu ini bagaimana seperti nya cocok untuk referensi?". Hana meminta pendapat gadis itu.
"Ya dibacalah Kak. Aku mana tahu bukan aku penulisnya". Celetuk Zie
"Ck, kau ini Kakak kan hanya minta pendapat". Ketus Hana
"Dan kau meminta pada orang yang salah". Tutur Zie.
"Ohh ya Zie, setelah ini kita ada kelas sebentar. Apa kau sudah izin diperusahaan?". Imbuh Adam
"Astaga, aku tidak ingat". Zie menepuk jidat nya "Sebentar aku minta izin suamiku dulu".
"Suami?". Beo Adam dan Hana bersamaan.
"Kau sudah menikah Zie?". Sambung Adam.
Rasanya Zie ingin menyumpal mulutnya dengan cabe. Dia tidak bisa berbohong dan selalu berkata jujur.
"Maksudku Tuan Teh Celup, aku kadang memanggilnya suami". Zie cenggesan sambil menggaruk tengkuknya
"Kau menyukainya? Kenapa kau memangilnya suami?". Cecar Adam tak puas dia curiga ada sesuatu yang disembunyikan Zie padanya.
"Menyukai nya?". Zie menggeleng sambil tersenyum "Jelas tidaklah. Sudahlah, aku mau menelpon nya dulu".
Zie mengotak-atik ponselnya. Bagaimana pun Grabielle adalah suaminya, meski hanya diatas kertas tapi mereka sah secara agama dan hukum surat nikah mereka tercatat dipencatatan sipil. Jadi Grabielle adalah suami sah nya.
Zie tetap menghormati Grabielle, meski perdebatan menjadi bumbu rumah tangga mereka berdua tapi bagi Zie menghormati suami adalah tugas.
"Hallo Tuan".
"Ada apa?". Ketus suara diseberang sana.
"Alah, Tuan tidak perlu ketus-ketus seperti itu nanti anda malah rindu saya lagi". Zie cekikan sendiri sambil menutup mulutnya "Kata Dilan rindu itu berat, Tuan tidak akan kuat. Cukup saya saja". Tutur Zie masih menggoda pria diseberang sana.
"Aku tidak suka basa-basi katakan ada apa kau menelpon ku, pekerjaanku masih banyak bukan hanya untuk mengurus gadis aneh seperti mu". Oceh Grabielle diseberang sana.
__ADS_1
"Begini Suami ehh maksud nya Tuan. Saya ada kelas hari ini, jadi tidak bisa masuk kantor. Maksud saya menelpon suami ehh maksud nya Tuan Grab karena saya ingin meminta izin Tuan". Beberapa kali gadis itu menepuk mulutnya saat salah bicara apalagi ada Adam dan Hana bisa ketahuan dia kalau sudah menikah.
"Berapa lama?". Terdengar suara tak tenang seberang sana
"Dari pagi sampai sore Tuan".
Tak ada sahutan hanya helaan nafas panjang yang terdengar begitu berat diseberang sana.
"Tuan anda masih disana?".
"Memangnya kau pikir aku kemana?". Tanya Grabielle kesal.
"Saya pikir anda pindah planet Tuan". Sahut Zie santai
"Kau.....".
Zie mendelik ketika Grabielle mematikan sambungan nya sepihak. Begitulah mereka berdua berdebat terus tapi malah hal itu seperti membuat Zie dan Grabielle terbiasa.
"Sudah".
Zie mengangguk dan memasukkan ponselnya kedalam tas munggilnya.
"Ayo sudah mau masuk".
"Apa benar yang dikatakan Kak Garra kalau Zie menikah dengan Tuan Grabielle? Aku harus lebih waspada, jangan sampai Zie jatuh cinta pada pria itu". Tangan Adam tanpa sadar terkepal
Mereka masuk kedalam kelas. Para mahasiswa sudah duduk ditempat mereka masing-masing.
Zie duduk ditempatnya. Gadis itu meletakkan tasnya lalu mengambil buku kecil dan pulpen sebagai alat-alat nya belajar.
Zie membuka modul yang dia bawa tadi. Gadis itu selalu meluangkan waktunya untuk belajar. Dia paling tidak bisa berdiam diri selalu saja ingin melakukan sesuatu karena otaknya tidak bisa berhenti bekerja.
"Itu pasti cincin pernikahan mereka. Aku yakin sekali". Batin Adam diam-diam dia melirik jari Zie yang terdapat cincin permata.
Tidak lama kemudian Gama masuk bersama asistennya dan bersama seorang dosen pembimbing dikelas Zie.
Suasana yang tadi riuh langsung hening. Para mahasiswi berbisik-bisik membicarakan ketampanan Gama. Memang tampan. Siapa yang takkan terpesona.
Kecuali Zie. Gadis itu malah acuh saja. Tohh Grabielle seribu kali lebih tampan dari Gama dia biasa saja. Jadi tidak perlu berlebihan menganggumi seseorang takut nanti malah sakit sendiri.
"Selamat pagi semua". Sapa Herry, dosen sekaligus direktur kampus
__ADS_1
"Pagi Pak". Balas semuanya.
Gama tersenyum menatap kearah Zie. Dia selalu kagum dengan gadis kecil itu. Tenang. Sederhana. Tapi selalu membuat orang gemes.
"Baiklah hari ini kita kedatangan dosen tamu yaitu Tuan Gama Mahardika. Tuan Gama akan menjelaskan beberapa furniture yang wajib kalian pelajari dan tahu". Ujar Herry
"Silahkan Tuan Gama". Gama mengangguk.
Dia maju selangkah dan tatapannya tetap fokus pada Zie. Banyak wanita cantik dikelas itu tapi hanya Zie yang berhasil menarik perhatian nya.
"Selamat pagi semua".
"Pagi Tuan".
Gama menjelaskan beberapa desain arsitektur yang saat ini sedang dikelola olehnya. Perusahaan Gama juga bergerak dibagian furniture. Sehingga dia sering diminta untuk menjadi dosen tamu di kampus ini menjelaskan beberapa riset untuk materi kuliah para mahasiswa.
Gama menjelaskan dengan detail. Mungkin lima puluh mahasiswi perempuan hanya satu dua orang saja yang fokus mendengar sisanya sibuk menganggumi ketampanan Gama, serta menganggumi betapa detailnya pria itu menjelaskan. Pesonanya membuat para wanita ingin berlari mengejarnya. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah ketua Mafia.
Selama dua jam Gama menjelaskan materinya dan dia mengakhiri kelasnya. Sebenarnya Gama sama sekali tidak tertarik menjadi dosen tamu. Namun demi bertemu Zie dia rela meluangkan waktu ditengah kesibukan nya dan mengalahkan rasa tidak suka nya itu. Jika dengan begitu bisa membuat nya bertemu Zie, maka dia akan lakukan.
"Nona Zie". Panggil Gama saat Zie ingin keluar bersama Adam dan Hana.
"Ehh Tuan Tampan yang tujuh turunan, delapan tanjakkan dan sembilan belok-belok". Zie tersenyum manis.
Gama menutup mulutnya menahan tawa. Zie selalu suka memanggilnya seperti itu. Membuat nya ingin terbang melayang.
"Ada apa Tuan?".
Hana sibuk memperbaiki rambut nya yang sedikit berantakan dan penampilan nya. Agar Gama meliriknya. Dia lupa jika pacarnya Adam sedang berdiri disampingnya.
Adam malah menatap Gama tidak suka. Dia tidak suka Gama yang berusaha mendekati Zie
"Aku harus beritahu Kak Garra, supaya dia mengirim pengawal bayangan untuk Zie. Seperti nya Tuan Gama masih nekat untuk mendekati Zie". Batin Adam
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?". Tawar Gama "Kebetulan saya belum makan siang". Dalam hati Gama berdoa semoga Zie menerima tawaran nya.
Zie tampak berpikir "Tunggu sebentar Tuan".
"Kenapa?". Kening Gama berkerut.
"Saya harus izin Tuan Grab dulu". Zie mengotak-atik ponselnya dan mengirim pesan pada Grabielle bahwa dia akan makan siang bersama Gama.
__ADS_1
Wajah Gama langsung berubah dingin. Walaupun dia sudah tahu Zie dan Grabielle sudah menikah tapi dia akan merebut hati Zie. Apalagi dia tahu jika pernikahan itu hanya diatas kertas saja.
Bersambung...