
Happy Reading, 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Grabielle dan Zie masuk kedalam kediaman Myron. Tampak Mansion mewah Fillipo itu dijaga dengan ketat oleh pengawal yang ditugaskan berjaga disana.
"Lala".
"Kak Zeva".
Kedua wanita itu saling memeluk heboh. Kalau sudah bertemu pasti mereka berdua selalu berisik.
"Apa kabarmu Lala?". Zevanya melepaskan pelukannya.
"Sehat Kak". Senyum Zie "Wahh apakah mereka putra-putra Kakak?". Zie menatap tiga bocah tampan berusia sepuluh tahun
"Iya Lala". Senyum Zevanya.
"Boy, perkenalkan ini Aunty Lala, istrinya Uncle Bielle. Jadi kalian jangan mengejek Uncle jomblo lagi ya. Karena dia sudah punya istri". Celetuk Zevanya pada ketiga putranya.
"Iya Mom". Sahut ketiga nya kompak.
"Liam".
"Lian".
"Louis".
Zie gemes melihat ketiga putra kembar Zevanya. Wajah mereka tak bisa dibedakan. Pakaian yang mereka pakai juga sama.
"Ya sudah kalian lanjut belajar. Mom, ingin bergosip dulu dengan Aunty Lala". Ujarnya.
"Iya Mom". Ketiganya menurut
Myron dan Grabielle hanya tersenyum gemes melihat kedua wanita itu.
"Kak, aku bawa Lala jalan-jalan ya. Temanilah Bielle mengobrol. Kasihan dia nanti malah merajuk". Ujar Zevanya
"Kak". Grabielle mendesah "Mau kau apakan istriku Kak?". Grabielle memincingkan matanya curiga.
"Mau Kakak jadikan manekin". Sahut Zevanya asal.
"Kak". Renggek Grabielle "Sayanh jangan ikut dia nanti dia malah mengubahmu menjadi patung lagi".
"Kondisikan wajahmu Kak. Kau itu berpikir macam-macam. Aku tahu kau tidak bisa hidup tanpa ku, tapi tidak perlu lebay seperti ini". Cibir Zie.
"Sayang". Grabielle mendesah pelan.
Zevanya menutup mulutnya menahan tawa. Sungguh lucu melihat si Cassanova seperti Grabielle dibuat bungkam oleh istrinya sendiri.
Zevanya mengajak Zie masuk kedalam ruangan IT di Mansionnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh kedua wanita itu. Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu. Myron dan Grabielle tentu tidak tahu rencana mereka.
__ADS_1
"Ayo La". Zevanya menarik Zie masuk kedalam.
"Wahhh Kak. Banyak sekali komputer nya". Zie berdecak kagum
"Kalau kau mau ambil lah. Pilih saja yang mana". Celetuk Zevanya sambil duduk didepan salah satu komputer.
"Mau Kak. Lumayan dapat gratis". Zie cenggesan.
"Sudah ayo duduk. Hidupkan komputer mu". Suruh Zevanya.
"Kak pintu sudah dikunci belum. Mereka tidak boleh tahu". Bisik Zie.
"Tenang saja. Ini otomatis. Tidak ada yang bisa masuk kedalam ruangan ini, kecuali bersama Kakak". Sahut Zevanya.
"Wahh Kakak hebat. Kakak yang buat?". Seru Zie menghidupkan komputer nya.
"Tentu. Kau tidak tahu saja jika Kakak iparnya ini sangat jenius". Zevanya menyombongkan dirinya.
"Ya ya dan Kakak ipar jangan lupa kalau adik iparmu ini juga jenius". Ucap Zie tak mau kalah. Kedua wanita itu lalu tertawa dengan ucapan mereka sendiri.
Zie dan Zevanya tampak serius dengan komputer didepan mereka. Wanita beda generasi dengan asyik berselancar didunia IT.
"Kak, apa virus yang aku buat kemarin masih bisa difungsikan disini?". Tanya Zie tanpa melihat Zevanya.
"Bisa. Tapi komputer ini tidak cocok". Sahut Zevanya juga serius dengan komputer didepannya.
"Yeessss Kak aku berhasil meretas nya. Cepat Kakak masukkan virusnya". Seru Zie kesenangan.
"Kak ini?". Zie menutup mulutnya tak percaya.
"Iya Lala. Kau lihat saja video itu sampai habis".
Zie mengangguk dan kembali menatap video yang berhasil mereka retas. Zie geleng-geleng kepala tidak percaya melihat apa yang ada didepannya.
"Kak Garra". Gumamnya.
"Benar Lala. Garra terobsesi padamu. Dia ingin membalaskan dendam nya karena perbuatan Ayahmu dan kau harus tahu Lala bahwa.....". Zevanya menarik nafas nya dalam sebenarnya kasihan kalau Zie mengetahui kebenaran nya tapi bagaimana pun Zie wajib tahu.
"Bahwa apa Kak?". Mata Zie sudah berkaca-kaca.
"John bukanlah Ayah kandungmu. Dan Ibu mu dibunuh setelah melahirkanmu".
Deg
Seluruh tubuh Zie melemas. Jantungnya serasa berhenti berdetak mengetahui kebenaran nya.
Zevanya mengusap punggung Zie. Dia paham perasaan wanita ini. Meski pun dia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Zie.
"Hiks hiks hiks hiks Kak".
__ADS_1
Zie memeluk Zevanya. Perasaan nya hancur ketika mengetahui kebenaran yang selama ini tidak pernah dia pikirkan.
"Menangislah Lala". Zevanya mengusap punggung Zie.
Kasihan sekali Zie. Hidup nya selalu tak pernah baik. Dibesarkan dengan kekerasan. Seorang Kakak yang Zie kira sebagai sandaran tempat ternyaman ternyata menjadikan dia sebagai amukkan balas dendam.
"Kak, kenapa mereka jahat sekali Kak? Kak Garra dia Kakak ku, kenapa harus balas dendamnya padaku? Aku saja tidak tahu bagaimana bisa semua terjadi". Zie menangis segugukan.
Zevanya hanya mendengarkan dia tidak tahu harus respon apa. Dari awal dia sudah tahu dan menyelidiki kehidupan masa lalu Zie. Zevanya terkejut saat tahu semuanya. Apalagi Zie.
"Lala, karena sudah tahu semuanya. Kakak sarankan sebaiknya kau ingin Bielle pulang ke Amerika. Kakak juga akan tinggal disana".
Zie menggeleng "Tidak Kak. Aku harus tahu semuanya dan membongkar masalah ini Kak. Aku tidak bisa bersembunyi aku harus menghadapi nya". Ucap Zie. Dia memang keras kepala.
Zevanya menghela nafas panjang. Zie memang perempuan berani. Berani mengambil resiko, seolah tidak takut pada apapun.
"Baiklah. Kakak akan bantu". Zevanya tersenyum "Nanti kita akan bicarakan dengan Kak Myron dan Bielle". Imbuhnya.
"Iya Kak". Zie mengusap air matanya.
"Lala, kau sudah lama mengetahui dunia IT?". Zevanya baru sadar jika adik iparnya ini sangat menguasai IT.
"Iya Kak. Aku tahu sejak berusia sepuluh tahun. Tapi tidak ada yang tahu karena aku tidak mau orang lain malah menjadikan aku mesin uang". Sahutnya.
Zevanya manggut-manggut paham "Dan jangan katakan pada siapapun yaa. Kakak akan jaga rahasia. Cukup kita berdua yang tahu". Ujar Zevanya.
"Iya Kak".
Jika kedua wanita ini serius tampak seperti misterius. Tidak akan ada yang mengira jika mereka berdua adalah wanita jenius.
Selama ini Zie tidak pernah peduli dengan kemampuannya dalam dunia IT. Karena dia tidak mau dijadikan mesin uang oleh Ayah nya sendiri. Bahkan Garra saja tidak tahu jika Zie memiliki kemampuan dalam dunia IT.
"Ayo kita keluar. Kau lapar tidak?". Zevanya mematikan komputer nya.
"Lapar Kak. Menangis itu ternyata butuh energi yaaa?".
Zevanya terkekeh pelan. Mereka berdua sebelas dua belas. Tidak jauh beda. Hanya saja mungkin Zevanya sudah tidak sejahil dulu, jadi itulah zang membedakan keduanya.
"Kak, mataku masih merah tidak?".
"Kenapa memang?".
"Ck, kau ini Kak. Jangan sampai suamiku tahu kalau aku menangis. Bisa diledek nanti aku". Ujar Zie.
Zevanya tertawa lebar "Tidak. Ya sudah ayo. Setelah makan kita ajak mereka berdua bicara. Kakak yakin jika mantan Cassanova itu akan keberatan dengan ide mu". Ujar Zevanya sambil berjalan.
"Kenapa bisa begitu Kak?". Tanya Zie heran.
"Tentu saja bisa. Suami kita kan sama-sama posessif".
__ADS_1
Keduanya tertawa lebar lagi. Kedua wanita itu selalu bisa berakting didepan suami mereka. Menyembunyikan kesedihan dan luka.
Bersambung....