
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie mengomel panjang lebar sambil memotong sayuran ditangannya.
Bagaimana tidak kesal, suami itu minta lagi dan lagi. Tidak bosan-bosannya juga. Dan akhirnya pinggang Grabielle encok, bukannya peduli Zie malah mentertawakan suaminya.
Zie harus memakai sal untuk menutupi leher nya yang banyak jejak kepemilikan suaminya. Luar biasa, bahkan lehernya seperti lukisan yang hancur.
Para pelayan menutup mulut menahan tawa. Apalagi Zie yang komat-kamit seperti orang gila dan Grabielle duduk dikursi meja makan sambil mengurut pinggang nya sakit.
"Sayang, ayolah urut dulu pinggang ku. Jangan mengomel terus". Renggek Grabielle.
"Ck, makanya Kak. Aku sudah bilang, kau itu tua. Tidak cukup satu ronde, mau lagi dan lagi. Itu kan akibat nya. Urut saja sendiri, aku lagi masak". Ucap Zie kesal tanpa peduli dengan suaminya yang meringgis karena encok pinggang.
"Sayang jangan bicara terlalu terbuka. Tidak enak didengar pelayan". Ucap Grabielle pelan.
"Biarkan saja mereka dengar. Biar mereka tahu kalau suamiku itu binatang buas". Ketus Zie "Pokok nya malam ini aku tidak mau lagi". Tegas Grabielle.
"Mana bisa begitu sayang". Grabielle tidak terima "Satu ronde saja tidak apa-apa yang penting tidak puasa lagi". Grabielle tersenyum jahil.
"Dan kalau kau encok lagi jangan merenggek padaku yaa. Akan ku tendang kau ke pulau Amerika dan ku kembalikan pada Ayah dan Ibu mu". Ancam Zie memincingkan matanya kesal.
"Sayang kau jahat sekali pada suamimu". Grabielle berdiri dari duduknya tangannya memijit pinggang nya yang terasa nyeri.
"Jahat? Kau itu yang jahat pada istri sendiri". Ucap Zie.
"Kan tidak boleh menolak permintaan suami sayang". Grabielle memeluk Zie dari belakang. Meski sudah encok akibat permainan ranjang mereka berdua Grabielle seolah tidak pernah puas.
"Bisa tidak jangan memelukku Kak. Bagaimana aku bisa masak jika kau terus memeluk ku begini. Kalau mau peluk-peluk itu dikamar bukan disini. Kasihan nanti Kak Nino lihat, dia malah ngiler sendiri". Celetuk Zie.
"Kau ini sayang. Suruh pelayan saja yang lanjutkan". Grabielle benar gemes dia mencium tengguk istrinya tanpa peduli dengan para pelayan yang membantu Zie dan melihat mereka berdua bermesraan.
"Awas". Zie menggeser tubuh suaminya "Ayo sarapan. Kita mau berangkat ke kantor". Zie menyajikan makanannya diatas meja.
"Tidak usah saja ke kantor hari ini yaaa. Kau pijat saja pinggangku sayang". Grabielle kembali duduk dikursi meja makannya.
"Jangan ngadi-ngadi Kak. Ayo makan". Zie tidak peduli dengan renggekkan suaminya.
Kenino menuju meja makan. Pagi-pagi dia sudah menyetorkan wajah tampannya.
"Pagi Nona. Pagi Tuan". Sapa Kenino membungkuk hormat.
"Pagi Kak Nino. Silahkan duduk dan sarapan Kak". Balas Zie.
__ADS_1
"Terima kasih Nona". Kenino duduk dengan senyuman ramah "Apa anda sakit Nona, kenapa memakai sal?". Tanya Kenino polos dan dia memang tidak tahu kalau Grabielle dan Zie sudah melakukan malam pertama
"Ini_".
"Kami baru habis malam pertama. Tentu saja istriku menutupi bekas gigitan ku". Ucap Grabielle biar Kenino tahu dan tidak kepo bertanya.
"Nahh itu benar Kak. Kau tahu tidak suamiku ini seperti binatang buas Kak. Dia menerkam ku tanpa ampun. Dan bilang ahh ahhh". Seru Zie sambil mengejek suaminya "Akibatnya dia encok sendiri. Sudah dibilang juga tidak mau dengar".
"Sayang". Renggek Grabielle "Jangan berbicara terlalu vulgar didepan Ken. Dia masih jomblo kasihan". Ujar Grabielle menggerecut kan bibirnya.
Kenino mengangga mendengar ucapan frontal kedua pasangan suami istri itu. Apa mereka tidak malu membahas ranjang didepan dirinya yang notabene orang lain dan pria jomblo.
"Sama-sama tidak waras. Seperti nya mereka memang harus dibawa kerumah sakit jiwa. Aku harus memberitahu Nyonya Zevanya". Batin Kenino menelan salivanya kasar.
Kenino pria normal, kalau membicarakan hal-hal vulgar seperti itu tentu saja jakun nya naik turun. Tapi bisa apa, dia kan jomblo. Mau main juga sama siapa.
"Sayang suapi". Renggek Grabielle menggeser kursi nya agar duduk dekat dengan Zie.
"Kau itu sudah tua Kak. Kenapa manja sekali sihh? Makan saja sendiri". Ketus Zie menggeser pinggang nya "Sudah Kak cepat makan. Ini sudah hampir siang". Ujar Zie.
Grabielle menggerutu kesal saat Zie menolak menyuapinya. Resiko punya istri bar-bar seperti Zie. Tidak ada kasihan-kasihannya sama sekali pada suami sendiri.
Grabielle memang meringgis kesakitan pinggang nya. Dia saja tidak tahu kenapa tidak bisa puas saat menyentuh Zie. Pagi-pagi mereka harus mengulang permainan panas keduanya. Dan pinggang Grabielle sakit karena dia tidak bisa berhenti. Alhasil mereka berdua harus perang-perangan diatas ranjang.
Kenino menggeleng melihat pasangan aneh itu. Keduanya sama-sama tidak normal. Bahas ranjang saja tidak malu-malu pada dirinya yang masih jomblo ini.
"Pelan-pelan sayang". Grabielle mengulurkan tangannya agar Zie turun.
"Terima kasih suami". Balas Zie.
Meski mereka rusuh setiap hari tapi keduanya begitu saling mencintai. Rusuh itu lah yang membuat keduanya semakin saling jatuh cinta.
"Selamat pagi Tuan".
"Selamat pagi Nona".
Para karyawan seperti biasa akan berjejer rapih seperti di istana untuk menyambut kedatangan sang suami istri yang tengah kasmaran itu.
"Selamat pagi semua". Sapa Zie membalas.
Sedangkan Grabielle memasang wajah datar. Tangannya disangkutkan dengan tangan Zie. Hingga istri nya itu bisa memeluk tangan kekarnya dengan leluasa.
Para karyawan menatap keduanya kagum. Tapi tidak sedikit juga yang iri melihat keduanya. Pasangan yang manis dan juga romantis.
__ADS_1
Yang prianya berwajah datar bak tembok. Yang wanita nya seperti burung merpati, yang imut dan menggemaskan. Apalagi Zie ramah membuat dirinya sebagai sosok yang banyak dikagumi oleh kaum Hawa mau pun kaum Adam.
"Sayang ke ruanganku saja lah". Renggek Grabielle.
"Ck, tidak mau. Yang ada nanti kita tidak bekerja malah asyik cercap-cercapan". Sahut Zie mendelik
Kenino lagi-lagi menelan salivanya susah payah. Tidak bisakah kedua orang ini berhenti membahas masalah itu dihadapan nya.
"Sayang".
"Masuk Kak. Jangan manja. Nanti saja dirumah". Zie meletakkan tas munggilnya.
"Beneran sayang?". Grabielle langsung sumringah. Dia menyeringai licik, lihat saja nanti dia akan membuat Zie mendesah lagi tanpa istirahat.
Zie memutar bola matanya malas. Dia duduk dan membiarkan saja suaminya itu berimajinasi tentang malam panas mereka.
Grabielle masuk kedalam ruangan nya dengan senyum bahagia. Sudah buka puasa. Dan menjadikan Zie milik nya seutuhnya. Betapa bahagianya Grabielle.
Pria duduk di kursinya. Suasana hatinya sedang baik, jadi dia tidak akan mengomel pagi ini masalah pekerjaan nya.
"Ken, berikan laporan bulan ini". Perintah nya.
"Ini Tuan". Kenino memberikan dokumen pada Grabielle.
Grabielle membukanya sambil manggut-manggut bahagia.
"Kita dapat laba banyak bulan ini Ken?".
"Iya Tuan. Keuntungan pendapatan mencapai 110% dari budget". Jelas Kenino.
"Bagus dan teruskan". Grabielle menutup dokumen itu
"Ken, siapkan makan lama yang romantis malam ini yaa? Aku ingin mengajak istri ku makan malam". Tintahnya sambil membuka laptop diatas meja.
"Baik Tuan. Anda ingin konsep seperti apa?". Tanya Kenino. Harus ditanya nanti kalau salah Grabielle bisa mengamuk lagi.
Grabielle tampak berpikir. Istrinya itu tidak terlalu suka yang mewah-mewah. Nanti malah gagal lagi kalau Zie berkomentar aneh.
"Yang sederhana saja. Jangan berlebihan". Sahut Grabielle "Pesan kan jas dan gaun di butik Kak Zeva. Langsung antar ke rumah. Ingat Ken, jangan yang terbuka. Kalau bisa tertutup semua". Ujarnya lagi.
"Baik Tuan". Sahut Kenino.
Ini pertama kalinya Kenino akan menyiapkan kencan untuk Grabielle. Selama ini Grabielle tidak pernah kencan. Meniduri banyak wanita iya.
__ADS_1
Bersambung........