
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Garra duduk dengan tenang dikursi kebesaran nya. Laporan yang dia terima dari anak buahnya membuat pria itu emosi. Namun dia berusaha tetap tenang dan tidak boleh terpancing emosi. Kalau dia mengikuti emosinya dia bisa saja kehilangan Zie selamanya.
"Tuan, Tuan Adam, Nona Hana dan Nona Ester sedang menuju kesini Tuan". Jelas Steve.
"Sambut mereka dengan baik Steve dan suruh langsung menemui ku kesini". Ucap Garra.
"Baik Tuan".
Pria itu kembali duduk melamun sambil menatap keluar jendela ruangannya.
Kota Shanghai ini mengingatkannya pada masa kecil, sebelum keluarga nya hancur berantakan. Dulu mereka keluarga yang harmonis dan bahagia namun semua berubah sejak Ibu nya itu mengenal John dan menghancurkan segala mimpinya.
"Aku berharap punya kehidupan bahagia seperti orang lain. Punya orangtua yang lengkap. Memiliki pasangan yang takut kehilangan ku. Tapi kenapa malah seperti ini? Disaat aku mencintai seorang gadis, dia malah mencintai orang lain. Apa aku memang tidak pantas bahagia?". Ucapannya seperti ada keputusaan.
Harta tak selalu gadis membuat bahagia. Garra adalah pria yang sejak kecil hidup dalam kemewahan. Meski perceraian kedua orang tuanya di sebabkan karena Ayah nya yang bangkrut dan Ibu nya menikah dengan duda beranak satu tapi Garra tetap hidup dalam kemewahan.
"Kak Garra".
Adam, Hana dan Ester masuk kedalam ruangan Garra. Mereka memilih terbang ke Shanghai untuk menemui Garra secara langsung.
"Silahkan duduk". Ucap Garra berdiri dari duduknya.
"Kak". Adam menghela nafas panjang "Maaf Kak kami gagal". Ketiga orang itu hanya bisa menunduk dan merasa bersalah.
Garra hanya diam dengan wajah datarnya. Kedua tangannya berdiam dengan nyaman disaku celananya.
"Ternyata Zie jatuh cinta pada suami nya Kak". Sambung Ester "Aku tidak tahu bagaimana dia bisa jatuh cinta. Awalnya mereka memutuskan bercerai. Setelah nya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi?". Imbuhnya.
Garra masih diam dan mendengarkan saja ucapan ketiga orang itu.
"Kemarin Zie diculik oleh Tuan Gama, Kak. Tapi Tuan Grabielle berhasil membebaskan istrinya dan Tuan John, Nyonya Marissa dan Nona Shiena berhasil kabur". Sambung Hana.
Garra memejamkan matanya sejenak. Emosi nya seolah ingin membeluncah begitu saja.
__ADS_1
"Lalu kemana mereka sekarang?".
"Menurut orang suruhan kita, mereka pindah ke Jerman Tuan. Semua asset perusahaan, rumah nya mobil habis dijual oleh Tuan John". Jelas Adam.
Garra menghela nafas panjang. Ibu, Ayah tiri dan adiknya itu tidak pernah puas melakukan kejahatan.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya agar Zie jatuh ke dalam pelukan ku? Kalian tahu kan Zie adalah sumber kebahagiaan ku. Jika dia tidak ada bagaimana aku bisa bahagia?". Lirih Garra seolah-olah sudah putus asa. Selama di Shanghai dia tidak pernah tenang dan selalu memikirkan Zie.
Ketiga orang itu saling melihat bingung. Mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kak apa kau sungguh mencintai Zie?". Ester memberanikan diri bertanya.
"Kalau sudah tahu jawabannya kenapa malah bertanya?". Garra menatap Ester tajam "Untuk apa aku berepot-repot meminta kalian menjaganya untuk ku?". Ujarnya lagi.
"Maaf Kak". Ester menunduk takut dengan tatapan tajam Garra.
Garra membuang muka. Jika berbicara tentang Zie dia selalu tidak bisa mengendalikan dirinya seolah emosinya ingin keluar begitu saja.
"Terus awasi Zie. Jangan biarkan siapapun mendekati nya. Aku akan atur waktu untuk membawanya pergi. Dia harus tahu siapa Grabielle sebenarnya. Aku yakin jika Zie tahu kalau Grabielle itu Mafia dia akan takut dan memilih meninggalkan nya". Ucap Garra. Tak ada cara lain bukan.
"Apa ini tidak terlalu cepat Kak? Aku takut Zie syok dan malah menganggu jiwanya". Ucap Adam sedikit ragu
Ester hanya bisa menghela nafas berat. Dia takut hal ini akan mengguncang jiwa Zie. Sebab terlihat Zie sangat mencintai Grabielle.
"Baik Kak, kami akan lakukan". Sahut Adam mewakili.
Ester kadang berpikir sebenarnya Garra ini mencintai Zie atau hanya obsesi saja. Bahkan Ester sempat berpikir jika sebenarnya Garra hanya ingin balas dendam karena John termasuk menganggu rumah tangga orangtuanya.
Bukankah cinta itu merelakan? Mengikhlaskan. Kenapa ini terkesan memaksa?
.
.
.
__ADS_1
.
"Ada apa kau datang kesini?". Tanya seorang pria tampan pada pria paruh baya yang tengah duduk diruang tamu rumah mewahnya.
Pria paruh baya itu menghela nafas panjang "Maafkan Daddy". Lirihnya "Daddy tidak bermaksud membuatmu dalam situasi ini. Daddy tidak pernah mencintai Mommy mu". Ucap pria itu terlihat tenang.
Pria muda itu berdecih "Cih, kalau kau tidak mencintai Mommy. Kenapa kau mau menikahi nya?". Pria itu memincingkan matanya "Kalian tahu, akibat keegoisan kalian aku yang menjadi korbannya. Aku hidup sendirian disini. Sementara kalian bahagia hidup dengan kebebasan kalian sendiri". Ucap pria itu.
"Gama maafkan Daddy".
"Keluar.. ".
"Gama_".
"Keluar". Teriak nya "Jangan datang padaku hanya karena ingin meminta maaf. Aku tidak butuh kata maaf dari kalian. Sekarang biarkan aku hidup sendiri. Jangan ganggu hidupku. Tanpa kalian aku bisa bahagia". Ucap Gama.
Pria paruh baya itu tak bisa melawan. Dia menatap putra sulungnya dengan perasaan bersalah. Bagaimana pun dia memang salah. Selingkuh dengan cinta pertamanya dan meninggalkan istri nya. Dan ternyata istrinya juga melakukan hal yang sama yaitu selingkuh bersama pria lain.
Gama mengusap wajahnya kasar. Tanpa sadar air mata pria itu menetes. Dia harus jadi korban keegoisan keduan orang tua nya.
"Aku benci mereka. Mereka terus menggerogoti ku". Ucapnya matanya memerah.
Gama terduduk disoffa ruang tamu nya. Setelah berhasil kabur dari penjara Grabielle pria itu memilih mengamankan diri di Mansion mewah milik nya. Memperketat penjagaan. Dan bahkan dia harus bekerja di rumah nya dan belum berani keluar karena anak buah Grabielle masih mengincarnya.
"Arghhhhhhhhh". Pekik pria itu.
"Tuan Muda". Bik Young, pembantu sekaligus pengasuh Gama sejak kecil.
"Bik". Gama tak bisa menahan tangisnya.
Wanita paruh baya ini tuh memberikan pelukan hangat pada Gama. Kasihan. Gama pasti hancur dengan keadaan ini.
"Apa aku tidak pantas bahagia Bik? Kenapa semua orang jahat padaku Bik? Kenapa?". Gama terisak menangis dalam pelukan wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti Ibu kandung nya sendiri.
"Jangan bicara begitu Tuan Muda. Semua kita berhak bahagia. Saya yakin jika suatu saat nanti anda akan menemukan kebahagiaan anda". Sambil mengusap punggung Gama.
__ADS_1
Gama tak lagi menjawab dia masih terisak didalam peluk wanita paruh baya itu. Meluapkan semua perasaan hancurnya. Dia selalu bertanya apa salahnya? Kenapa hidupnya selalu begini? Orangtuanya lengkap namun berpisah. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan itu.
Bersambung....