
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie menatap kosong keluar jendela mobil. Gadis itu sama sekali tidak berbicara. Bahkan tak membantah saat Grabielle meminta nya duduk dibelakang.
Grabielle juga duduk tanpa ekspresi. Dia menatap kedepan. Tapi tidak dengan hatinya. Dia benar-benar merasa jantungnya berdegup kencang, saat Zie mengatakan mencintai nya. Meski dia tahu jika gadis itu hanya berbohong tapi entah kenapa hatinya senang dan juga bahagia. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan oleh Grabielle. Entahlah dia tidak bisa mendeskripsikan perasaan nya sendiri.
Grabielle melirik Zie dengan ekor matanya. Dia sedikit janggal dengan Zie yang terus terdiam. Biasanya gadis ini selalu berisik dan membuat kepalanya pusing. Namun, kali ini gadis itu hanya diam saja. Tatapan nya kosong. Seolah tak ad gairah untuk hidup kembali.
Kenino juga jadi canggung. Dia melirik ke kaca mobil. Melihat kedua orang itu yang hanya diam saja. Biasanya selalu berdebat. Sekarang seperti tak saling kenal.
"Anda baik-baik saja Nona?". Kenino memberanikan diri bertanya. Sama seperti Grabielle dia merasa aneh jika Zie hanya diam saja.
Zie melihat kearah Kenino yang menyetir "Aku baik-baik saja Kak". Dia memaksa kan senyum dibibir munggilnya. Tapi lain dimulut lain dihati.
"Ken, kita langsung pulang". Tintah Grabielle.
"Iya Tuan". Sahut Kenino.
Kenino tak bisa membantah dia tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Tuan-nya itu.
"Lho kenapa pulang Tuan? Bukannya setelah ini anda ada meeting? Saya sudah membuat materi meeting anda". Cecar Zie
"Aku lelah". Jawab pria itu asal.
Mendengar Zie yang kembali berbicara seolah membuat hatinya bahagia. Tanpa sadar pria itu tersenyum tipis, sangat tipis sehingga tidak ada yang menyadari nya.
"Baiklah, pulang saja. Saya akan memasak untuk anda Tuan. Kita belum sempat makan siang. Maafkan saya". Ujar Zie.
"Iya". Jawab Grabielle singkat tanpa melihat Zie.
Sampai di Apartement. Gadis itu turun duluan. Sementara Kenino seperti biasa akan membuka pintu untuk Tuan-nya.
Zie berjalan duluan. Dia benar-benar ingin sendiri. Tapi dia juga tidak lupa tugas dan kewajiban nya.
Gadis itu langsung menuju dapur tanpa mengganti bajunya. Dia harus mengalihkan pikiran nya dengan memasak. Agar melupakan segala sesak.
Zie memasak dengan telaten. Sedangkan Grabielle menuju kamarnya berganti dan Kenino melakukan hal yang sama.
Air mata gadis itu leleh lagi. Bagaimana pun kuatnya dia adalah gadis yang butuh sandaran. Garra adalah satu-satunya sandaran ternyaman bagi Zie. Kakaknya itu selalu memahami perasaan nya. Tapi sekarang pun dia harus melepaskan Garra, mereka punya kehidupan masing-masing.
__ADS_1
Zie tidak tahu kepada siapa lagi dia mengadu jika lelah menyerangnya. Tidak ada lagi tempatnya bercerita. Kakak nya akan pindah ke Sanghai, China. Meski dia masih bisa bicara lewat ponsel tapi tetap saja gadis itu merasa sedih.
"Hiks hiks, Kak Garra". Zie menyeka air matanya "Maafkan aku Kak, hiks. Aku tidak mau terus membuat Kakak repot. Kakak sudah terlalu banyak berjuang untukku". Sambil memotong sayuran dia menangis segugukan.
Menangis memang tidak menyelesaikan masalah. Tapi menangis dalam memberi kelonggaran dalam dada. Menangis adalah cara meluapkan semua rasa sakit melalui air mata.
"Anda baik-baik saja Nona?". Secepatnya Zie menghapus air matanya.
Zie berbalik dan memasang wajah tersenyum nya "Iya Kak. Aku baik-baik saja". Gadis itu tersenyum sumringah.
"Ohh iya Nona. Saya kira anda menangis. Soalnya mata anda merah". Ujar Kenino.
"Ohh ini, karena aku memotong bawang Kak. Jadi mataku perih dan seperti menangis". Gadis itu cenggesan seolah baik-baik saja. Padahal dia memang ingin menangis dengan hebat.
"Saya bantu Nona. Biar cepat selesai". Tawar Kenino. Dia juga sudah biasa memasak.
"Oh boleh Kak. Lumayan ada tenaga gratis". Celetuk gadis itu.
Kenino tersenyum saja dan membantu gadis itu menyiapkan makan siang mereka.
Harusnya mereka makan direstourant. Tapi setelah kepergian Garra dari restourant kedua orang itu malah saling diam dan tidak mau berbicara satu sama lain.
Disana Grabielle sudah duduk dengan nyaman. Dia memakai baju santai. Padahal banyak pekerjaan dikantor. Tapi entah kenapa melihat Zie yang murung, membuat mood nya juga murung.
"Silahkan makan Tuan. Kak Nino". Senyum Zie sambil mengambilkan makanan untuk kedua pria itu.
"Anda tidak makan Nona?". Tanya Kenino melihat gadis itu hanya berdiri dan tidak makan.
"Aku belum lapar Kak". Sahut Zie singkat. Dia lapar tapi tidak nafsu makan.
"Makanlah". Tintah Grabielle.
"Tidak Tuan. Saya masih kenyang". Tolak Zie halus sambil membungkuk hormat.
Grabielle menatap gadis itu dengan tajam. Dia tidak mau Zie sakit. Ini hanya pikiran nya sebagai Boss dan tidak ada maksud lain, Grabielle masih berusaha mengenyahkan pikirannya.
"Baik Tuan". Zie menurut. Dia jadi takut melihat tatapan mematikan Grabielle.
"Terima kasih ya Tuan". Gadis itu menatap Grabielle dengan senyuman.
__ADS_1
"Terima kasih untuk apa?". Kening Grabielle berkerut
"Terima kasih karena sudah perhatian pada saya. Terima kasih sudah mengerti suasana hati saya". Gadis itu tersenyum menggoda.
Grabielle jadi salah tingkah "Jangan ge-er. Aku hanya tidak mau kau sakit dan nanti yang repot aku juga". Ketus Grabielle.
"Oh begitu ya Tuan. Saya pikir anda mulai suka sama saya". Gadis itu tersenyum tanpa dosa.
Grabielle mendelik mendengar ucapan Zie. Percaya diri terlalu tinggi gadis ini.
Mereka makan. Grabielle dan Kenino menatap Zie yang makan dengan begitu lahap.
"Cihh tadi katanya masih kenyang?". Singgung Grabielle sambil menunggak air dalam gelasnya.
"Tadi memang kenyang Tuan. Tapi ketika melihat wajah anda. Saya jadi lapar lagi". Sahut gadis itu sambil mengunyah makanan nya.
Grabielle mencebik kesal "Kau pikir muka ku_".
"Wajahmu tampan Tuan. Tapi sayang suka mencoba segala lobang". Gadis itu cekikian
"Kau_". Grabielle memukul meja menatap gadis itu dengan amarah.
"Astaga Tuan". Zie mengelus dadanya. Begitu juga Kenino
"Kau tahu tidak kalau ucapanmu itu_".
"Memang benar". Sambung gadis itu masih melahap makanan nya.
"Arghhhhhhhhh". Grabielle mengusar wajahnya "Bisa gila aku". Pria itu meninggalkan meja makan dengan wajah merah padam dan penuh amarah.
Kenino menggeleng saja. Baru saja berbaikan. Baru saja suasana sunyi senyap kembali rusuh lagi.
Zie melanjutkan makannya. Berdebat dengan Grabielle menguras tenaga dan energinya. Dia harus makan banyak. Setelah ini dia ingin menangis lagi sepuasnya.
"Nona. Nona". Kenino hanya bisa menggeleng kepala saja "Kenapa anda suka sekali membuat Tuan Grabielle kesal Nona? Anda adalah satu-satunya orang yang berani padanya". Kenino mendesah pelan.
"Melihat nya kesal itu menjadi kesenangan untukku Kak". Zie cekikan "Wajah tembok. Mirip kulkas empat pintu. Tampan tapi sayang sudah bekas wanita lain". Gadis itu tertawa lagi.
Kenino melanjutkan makannya dan tidak mau terganggu dengan ocehan Zie.
__ADS_1
Bersambung....