Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Panik


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Arggghhhhh brengsekkkk". Grabielle melempar barang-barang yang ada diatas mejanya.


"Ada apa dengan gadis itu? Apa yang salah dengan ucapan ku? Padahal kenyataannya". Grabielle frustasi.


"Dia sedang terluka. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?". Dia tampak panik.


"Zie maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu. Kumohon jangan pergi". Tanpa sadar air mata menetes di pipi pria bule itu.


Secepatnya Grabielle menyeka air matanya. Dia melihat tatapan kecewa Zie saat naik keatas motor. Kenapa sakit sekali melihat tatapan itu? Kenapa hatinya? Ada apa ini?


"Zie kau dimana?". Grabielle mengambil ponselnya.


"Zie". Wajahnya begitu panik "Arghh sial, kenapa dia tidak mengangkat telpon ku?". Grabielle melempar ponselnya dilantai. Karena ponsel mahal jadi tidak hancur berantakan.


"Permisi Tuan". Kenino masuk.


"Bagaimana Ken? Dimana istriku Ken? Dia terluka! Apa dia baik-baik saja?". Grabielle mondar-mandir tidak tenang.


"Nona baik-baik saja Tuan. Dia sedang menemui sahabatnya". Sahut Kenino.


"Pantau dia Ken. Aku takut Ayah mertua menemukannya". Tintah Grabielle.


"Baik Tuan". Sahut Kenino.


"Aku mau pulang".


Pria itu melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Dia menuju ruangan HRD. Disana kedua wanita yang menyerang Zie sedang di introgasi.


"Tuan". Kepala HRD memberi hormat kepada Grabielle.


"Kalian berdua?". Grabielle menatap kedua wanita itu


"Apa yang kalian lakukan padanya?". Grabielle menatap dua wanita itu.


"Maaf Tuan. Nona tadi yang menyerang kami duluan. Dia juga berlagu sombong karena menjadi sekretaris, Tuan". Sahut salah satunya berbohong.


"Bohong". Bentak Grabielle sambil memukul meja dengan kuat


Grabielle mencengkram leher wanita itu dengan kuat.


"Kau tahu gadis itu adalah istriku. Kau telah menyakiti orang yang sangat berarti bagiku. Bersiap lah menerima kehancuran". Grabielle menghempaskan leher wanita itu.


"Tuan". Kenino ingin mencegah tapi sudah terlambat. Semuanya langsung kikuk apalagi Grabielle tampak marah.


"Ken, pastikan besok mereka tidak bekerja disini lagi. Blacklist saja mereka". Tintah Grabielle.

__ADS_1


"Baik Tuan".


Kedua wanita itu langsung tersungkur dilantai saat mendengar mereka dipecat. Sungguh mereka tidak tahu jika Zie adalah istri Grabielle. Yang mereka tahu jika Grabielle belum menikah.


Grabielle melangkah keluar. Semua karyawan menunduk hormat dan takut.


Grabielle selalu tidak main-main. Jika ada orang yang berani menyakiti orang-orang yang dia sayang maka akan berakhir tragis. Jiwa Mafia nya tak pernah hilang.


"Silahkan Tuan".


Grabielle masuk kedalam mobil. Pria itu mengigit bibir bawahnya. Kenapa ada sesuatu yang saat Zie tidak ada, serasa kosong dan juga hampa?


Grabielle menyenderkan punggungnya. Pria masih terlihat tak tenang. Ada rasa bersalah ketika melihat wajah sedih istrinya. Air mata itu seperti cuka yang menumpahi lukanya.


Grabielle masuk kedalam Apartment nya. Pria itu setengah berlari barang kali Zie sudah pulang.


"Apa istriku sudah pulang?". Tanya nya.


"Belum Tuan".


Lagi Grabielle kecewa. Dia ingin seperti pasangan pada umumnya yang selalu disambut saat pulang bekerja.


Pria itu melangkah masuk kedalam kamarnya dengan lesu, lemas, lelah dan letih.


Grabielle merebahkan tubuhnya dikasur king'size miliknya tanpa mengganti baju nya.


Lelehan bening menetes dipelupuk matanya. Kosong. Hampa.


Perasaan kehilangan itu tidak bercanda. Ada bagian-bagian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada kesepian saat selalu yang selalu biasa menjadi teman kini malah menjadi asing.


Grabielle, sang Cassanova dan mantan Mafia itu diam-diam jatuh cinta pada istri kecilnya. Karena gengsi yang setinggi langit itu membuatnya bungkam untuk mengungkapkan perasaan nya. Dia tidak mau jatuh cinta duluan, tapi Tuhan selalu bisa membolak-balik hati manusia. Hingga Grabielle jatuh cinta duluan pada istri kecilnya.


Saat Zie tak ada, dia merasa ada bagian dari hatinya yang hilang. Apalagi Zie pergi karena perdebatan mereka. Sungguh Grabielle tak berniat menyinggung istrinya itu, dia malah suka Zie yang apa adanya. Dia hanya bercanda dan bermaksud menutupi segala perasaan nya tapi malah ini yang terjadi.


Padahal ini masing siang tapi Grabielle malah membenamkan tubuhnya dikasur king'size miliknya. Padahal dia bisa saja menyusul dan mencari Zie tapi karena gengsi nya yang masih dia junjung tinggi itu membuatnya mengurungkan niatnya.


.


.


.


.


Zie tersenyum kecut saat suaminya tak mengejarnya. Padahal tadi dia melihat pria itu sedang mengejarnya keluar dari perusahaan. Zie pikir Grabielle akan menyusulnya dan panik mencarinya. Tapi dugaannya salah.


"Seperti nya aku terlalu berharap banyak". Zie menyeka air matanya "Harusnya aku sadar dari awal jika hubungan ini hanya diatas kertas saja. Kenapa aku malah baper sendiri?". Zie geleng-geleng kepala memikirkan kebodohan nya.

__ADS_1


"Cinta". Seorang gadis duduk disamping Zie "Kenapa wajahmu? Kau menangis?". Gadis itu panik.


Zie menggeleng "Aku sedang latihan drama rumah tangga. Ingin merasakan berantem dengan suami". Dia terkekeh sambil menyeka air matanya.


"Dasar, dodol". Ester menyonor kening Zie.


"Awww. Jahat". Cibir gadis itu mengusap keningnya.


"Kau kenapa? Ceritalah. Kalau dilihat dari Wajahmu, seperti nya kau sedang berdukacita". Ester ngakak melihat wajah kesal Zie.


Zie memutar bola matanya malas. Gadis itu mencebik beberapa kali.


"Apa aku memang tidak ada anggun-anggun nya yaaa?".


Ester mendelik. Zie ini adalah gadis dengan tingkat kepercayaan paling tinggi. Bahkan dia merasa dirinya paling cantik dan bohay. Namun kenapa sekarang malah insecure.


"Iya memang benar". Jawab Ester jujur.


Zie mencebik kesal "Bisa tidak jangan jawab jujur". Protes Zie melipat kedua tangannya didada.


"Ya kan kau bertanya. Ya sudah aku jawab jujur saja. Salahku dimana?". Ester geleng-geleng kepala.


Sejenak kedua gadis itu kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku rindu Kak Garra. Dulu saat aku dibully. Saat aku disakiti. Kak Garra adalah orang pertama yang berdiri didepanku menjadi sayap pelindung untukku". Lirih Zie


Ester melirik sahabat nya itu. Jika sudah seperti ini, pasti Zie sedang ada masalah kalau tidak gadis ini pasti terus tertawa tanpa beban.


"Katakanlah. Aku mungkin tidak bisa membantu. Tapi setidaknya dengan berbagi, beban dipundak mu bisa sedikit ringan". Ester menepuk pundak sahabat nya itu


Zie menunduk. Air mata luruh dipipi cantiknya. Entahlah, bagaimana pun jahat nya sang Ayah dan Ibu tirinya. Zie tak pernah merasa sesedih ini. Tapi ketika Grabielle membanding-bandingkan nya kenapa rasanya begitu sakit.


"Ayah memaksaku meninggalkan suamiku".


"Apa?". Pekik Ester terkejut "Dasar orang tua jahat". Ester geram sendiri.


Zie tersenyum kecut "Tapi seperti nya aku akan mengabulkan permintaan Ayah. Lagian suamiku tidak akan pernah menganggap aku ada. Kami rusuh setiap hari. Dia juga pasti memiliki banyak wanita. Aku hanya remahan, Ester". Baru kali ini Ester melihat Zie rapuh.


"Kau yakin Zie? Bagaimana dengan hutangmu? Bukankah kau baru saja memulai kehidupan rumah tangga dengan nya? Kenapa harus menyerah?". Cecar Ester. Sebagai sahabat dia tidak rela jika Zie berpisah dengan Grabielle.


"Pernikahan kami hanya sebuah kesepakatan. Aku dan dia tidak memiliki perasaan apapun. Jadi untuk apa bertahan. Hutangku, akan dilunasi oleh Ayah. Dan aku akan menuruti perintah Ayah untuk menikah dengan pria botak itu. Aku tidak mau Ayah dipenjara". Zie tersenyum kecut


"Zie".


Ester memeluk sahabatnya itu. Nasib mereka tak jauh beda. Hanya saja Ester sedikit beruntung jika dibandingkan dengan Zie.


Bersambung...

__ADS_1


Apakah Zie akan meninggalkan Tuan Grab???


Yuk jangan lupa dukungan buat Author para kekasih tercinta wkwkwk


__ADS_2