Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Ragu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Pagi Nona". Sapa Kenino.


"Pagi Kak, ehhh pagi Tuan". Zie berdiri dan memberi hormat kepada Grabielle yang baru datang dan melewati meja nya.


Grabielle mengangguk. Tatapannya selalu terkunci pada wajah istrinya. Demi apapun Grabielle takkan sanggup berpisah dari Zie. Dia tidak bisa tanpa istrinya itu.


"Apa kau ingin minum kopi Tuan?". Tawar Zie sambil tersenyum hangat.


Grabielle mengangguk. Lalu pria itu melanjutkan langkah kaki nya masuk kedalam ruangan miliknya.


Kenino hanya bisa menggeleng kepala. Seperti nya kedua orang ini belum berdamai satu sama lain. Kalau mereka berdamai pasti mereka akan berdebat seperti biasa.


"Kak, kau mau kopi juga?". Tawar Zie sebelum ke pantry.


"Apa tidak merepotkan Nona?". Kenino tidak enak hati.


"Tidak Kak. Kan tidak berat". Zie tersenyum menampilkan rentetan giginya. Seolah-olah gadis itu baik-baik saja.


Zie melangkah menuju pantry. Wajah gadis itu langsung berubah seketika menjadi dingin. Semakin kesini, Zie selalu merasa kosong dan hampa. Ternyata tidak berdebat dengan Grabielle membuatnya merasa sepi.


"Pagi Nona". Sapa para cleaning service yang kebetulan sedang berada dipantry.


"Pagi para Bibi". Senyum gadis itu ramah.


"Apakah anda ingin membuat kopi untuk Tuan, Nona?". Tebak salah satunya.


"Iya Bi". Sahut Zie.


"Silahkan Nona". Ujar mereka bersamaan.


Zie lagi-lagi dibuat terkejut melihat para wanita yang bekerja sebagai cleaning service itu. Mereka mengeluarkan toples gula dan kopi lalu mengambilkan cangkir dan sendok untuk Zie.


"Silahkan dibuat Nona". Ucap mereka sopan.


"Terima kasih Bi".


Zie hanya bisa cenggegesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa hari ini orang-orang memperlakukan nya seperti ini. Zie merasa tak nyaman sendiri, belum juga terbiasa.


"Ini Nona nampan nya". Salah satunya memberikan nampan berukuran sedang itu.


"Terima kasih Bi". Sahut Zie sambil tersenyum hangat.


"Mari Bi". Zie membungkuk hormat sambil keluar dari pantry.


Para cleaning service itu berbaris dan memberi Nona Muda mereka ruang. Zie hanya bisa kikuk, dalam hati sudah bertanya-tanya, kenapa hari ini aneh sekali?

__ADS_1


"Kak, ini kopi untukmu yaaa?". Zie meletakkan satu cangkir kopi didepan Kenino.


"Terima kasih Nona". Kenino tersimpul


"Kak bisa tolong berikan kopi ini kepada Tuan Grab. Aku masih banyak pekerjaan Kak". Ucap Zie berasalan. Sebenarnya dia malas bertemu suaminya itu.


"Aduhh, Nona mohon maaf, bukan saya tidak mau. Pekerjaan saya masih banyak Nona". Sahut Kenino karena dia takut jika Zie sedekah menghindari suaminya.


"Ayolah Kak, biar aku yang kerjakan pekerjaan mu". Seru Zie wajahnya sudah memelas.


"Tidak Nona. Ini saya sedang mengerjakan laporan penting untuk Tuan dan tidak boleh ditunda". Kenino tetap beralasan.


Zie mencebik kesal. Mulut gadis itu menggerecut kedepan. Dia menghentak-hentakkan kakinya sambil menggerutu.


Kenino terkekeh pelan saat Zie meninggalkan mejanya dengan wajah kesal.


"Nona. Nona". Pria itu menggeleng gemes.


"Silahkan masuk Nona". Kenino membuka pintu untuk Zie, karena Zie sedang membawa nampan sehingga dia kesusahan membuka pintu.


"Terima kasih orang baik". Seru Zie.


"Sama-sama Nona Baik". Sahut Kenino asal dia juga terkekeh pelan.


Zie menghela nafas panjang. Lalu berjalan masuk kedalam ruangan suaminya.


"Selamat pagi Tuan. Ini kopi anda".


"Letakkan saja". Perintahnya.


"Baik Tuan". Zie meletakkan cangkir itu didepan Grabielle "Saya permisi Tuan". Zie berbalik.


"Tunggu".


Zie menghela nafas panjang. Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Lalu berbalik menatap suaminya.


"Iya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?". Meski hatinya tak baik-baik saja, gadis itu masih tersenyum simpul.


Grabielle meletakkan berkasnya. Lalu berdiri menghampiri Zie.


"Ada apa Tuan?". Zie malah menunduk dan tidak mau menatap suaminya.


"Tatap aku Zie". Grabielle mengangkat dagu istrinya.


"Astaga, kenapa dia menggemakan sekali? Dan ini kenapa dengan jantungku? Apakah benar jika jatuh cinta pada seseorang hati selalu berdebar ketika melihat bola matanya?". Grabielle terpaku menatap wajah istrinya.


Mereka berdua masih saling melihat. Zie harus mendongkrakkan kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya. Sementara Grabielle harus menunduk agar menatap mata Zie.

__ADS_1


Grabielle benar-benar terpesona menatap kecantikan gadis belia ini. Kecantikan alami tanpa alat make up. Wajahnya halus bak kulit bayi. Mata sipit dan bulat, bulu mata lentik, alis tebal dan bibir munggil yang seksi.


"Tuan, kenapa?". Sontak tangan Grabielle terlepas.


"Tidak". Pria itu langsung melepaskan tangan nya.


"Kalau begitu saya permisi Tuan. Pekerjaan masih banyak". Pamit Zie.


Gadis itu kembali melangkah, menghilangkan kegugupannya. Kenapa gugup sekali? Mata biru Grabielle menggoyahkan pertahanan Zie.


Sedangkan Grabielle hanya menatap punggung istrinya. Padahal tadi pria itu berniat mengajak Zie makan siang bersama untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi seolah mulutnya terkunci setiap kali menatap wajah polos itu. Grabielle bisa lihat bahwa ada luka yang benar-benar disimpan oleh istri kecilnya.


.


.


.


.


"Zie kau yakin?".


Saat ini Zie dan Ester sedang berada didepan kantor Pengadilan Agama untuk mengurus surat perceraian Grabielle dan Zie.


Gadis itu terdiam sejenak. Dia menatap gedung yang bertulisan Pengadilan Agama itu.


"Kira-kira kalau aku janda masih ada yang mau tidak ya?". Gumamnya "Aku kan janda tapi perawan. Masih tersegel, masih ting ting". Seru nya lagi.


Ester terkekeh pelan. Dalam keadaan gelisah, galau, merana seperti itu saja dia masih sempat-sempatnya bercanda.


"Pasti ada lah. Tuan Gama. Ciee yang bakal balikkan sama mantan calon suaminya". Ledek Ester


Zie mencebik kesal. Dia mendelik kearah Ester yang tertawa cekikikan.


"Sudah ayo masuk". Zie berjalan duluan.


"Zie pikirkan baik-baik Zie. Kurasa kau masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan mu dengan Tuan Teh Celup. Zie pernikahan itu sesuatu yang sakral bukan main-main, masa hanya karena masalah ini saja kau langsung meminta pisah?". Ujar Ester sambil mensejajarkan langkah kakinya dengan Zie.


"Yang mau main-main siapa Ester?". Protes Zie "Dari pada bertahan dan saling menyakiti. Ya lebih berpisah kan?". Sahut Zie santai.


"Ya tapi tidak semua masalah harus diselesaikan dengan perpisahan Zie. Coba kau selesaikan baik-baik dengan suamimu itu". Ester masih berusaha menasihati Zie. Bukan dia tidak setuju Zie menikah dengan Gama, Ester hanya merasa aura Gama sedikit berbeda.


Langkah kaki Zie terhenti, dia menatap Ester "Mau diselesaikan bagaimana lagi Ester? Dia tidak akan pernah mencintaiku. Kami bagaikan langit dan bumi. Selamanya tidak akan pernah bersama". Zie tersenyum getir. Sebenarnya dia juga ragu, tapi ini lah jalan terbaik nya.


"Tapi kan kalian bisa belajar saling mencintai. Coba pikirkan lagi Zie. Apa kau akan bahagia menikah bersama Tuan Gama? Suamimu kaya kau bisa meminta padanya untuk melunasi hutang-hutang Ayah mu". Ucap Ester menasihati.


"Aku tidak mau menambah hutang. Sudah ayo".

__ADS_1


Ester hanya pasrah ketika Zie menarik tangannya masuk kedalam gedung itu. Mau bagaimana lagi, ini keputusan Zie. Semoga Zie bahagia bersama Gama. Karena Ester tahu jika sahabat lucnat nya itu, sangat menderita dengan kehidupan nya.


Bersambung.......


__ADS_2