
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Garra memeluk tubuh Marissa sambil menangis histeris dan berteriak agar Marissa bangun.
"Bu, bangun Bu. Bangun jangan tinggalkan aku Bu". Sambil menguncang tubuh kaku Marissa.
Marissa meninggal karena tidak makan. Dirinya yang pemilih makan itu memilih tak makan dari pada makan makanan yang diberikan oleh anak buah Gama. Apalagi luka-luka ditubuhnya yang sudah lama dan tidak diobati membuat beberapa luka itu membusuk hingga ulat-ulat kecil keluar dari sana.
"Bu, bangunnnnnn". Teriak Garra.
Shiangli turun prihatin. Dia menatap putranya dengan kasihan. Bagaimana pun Marissa pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya pernah menjadi wanita yang paling dia cintai meski itu teramat sangat singkat.
Garra masih menangis histeris. Meski hubungan nya dengan Sang Ibu renggang, Garra tetaplah seorang anak yang menyayangi Ibu nya.
"Maafkan aku Bu". Garra tak peduli lagi dengan bau dari tubuh Marissa. Bau akibat luka-luka ditubuhnya.
Tubuh Garra juga kurus tak terurus. Dia benar-benar disiksa oleh anak buah Gama. Diberi makan pun hanya makanan sisa saja. Dalam hidup Garra menyesal pernah mencari masalah dengan Grabielle dan Gama. Jika dia tahu hukuman yang akan dia terima seberat ini dia lebih memilih pergi dan melupakan dendamnya pada Zie.
Grabielle dan Gama menutup hidungnya. Keduanya pria sama-sama memiliki tingkat kebersihan yang tinggi. Tidak mau mencium bau tidak sedap bisa muntah-muntah dan pusing kepala.
"Garra". Shiangli berjongkok dan menepuk bahu putranya itu "Ikhlaskan kepergian Ibu mu. Biarkan dia pergi dengan tenang". Ucapnya lagi.
"Ayah. Tidak Ayah. Aku menyanyangi Ibu". Renggek Garra.
"Ayah tahu kau menyanyangi nya tapi dia sudah kembali kepada sang Pencipta". Sahut Shiangli yang begitu kasihan dengan Garra.
Garra melepaskan pelukannya. Saat ini mereka masih didalam ruangan tempat Garra disekap. Ruangan yang hanya berlantaikan tanah dengan sisi gelap dan terasa kosong.
Zie ada disana. Meski Grabielle dan Gama berulang kali melarang wanita hamil itu namun Zie sama sekali tak menanggapi. Dia kasihan pada Garra dan akhirnya meminta Grabielle untuk melepaskan Garra.
"Kak Garra". Lirih Zie.
Garra mengangkat pandangan nya. Pria itu berdiri. Badannya tercium bau tak sedap akibat memeluk Marissa.
"Zie". Mata Garra berkaca-kaca "Maaf". Ucapnya penuh penyesalan "Maaf sudah jahat padamu. Maaf sudah merencanakan untuk melukaimu dan maaf untuk segala hal". Ucapnya lagi.
Zie menggeleng "Aku juga minta maaf Kak. Maaf atas kematian Ibu". Ucap Zie dengan air mata yang luruh dipipinya.
Garra menatap Zie dengan penuh penyesalan. Akibat ambisi dan keegoisannya untuk balas dendam dia kehilangan Ibunya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memaafkan Kakak". Ucap Garra tulus. Dia sudah jera dan tidak akan mau lagi berurusan dengan Grabielle dan Gama.
Garra dibebaskan sesuai dengan permintaan Zie. Namun tetap saja Grabielle dan Gama tidak mau lenggah. Meski dibebaskan Gama tetap diawasi dengan ketat oleh anak buah Gama. Jangan sampai Garra berulah lagi dan menyakiti Zie. Jika itu terulang maka takkan ada maaf dua kali.
Jenazah Marissa disemayamkan dipemakaman umum. Jerit tangis Garra terdengar menyayat hati. Tangisannya membuat orang lain turut merasakan kesedihan yang teramat sangat dalam.
Garra menaburkan bunga diatas tumpukkan tanah yang masih basah. Air mata seolah tak mau berhenti menetes dipipinya. Dia telah kehilangan wanita yang sudah melahirkan nya.
"Selamat jalan Bu. Selamat berpisah untuk selamanya. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. Maaf belum bisa membayar semua hutang-hutang ku padamu. Aku menyayangimu. Sampai bertemu dikehidupan kedua". Batin Garra.
Kematian adalah perpisahan abadi. Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya. Semuanya akan pergi dan bertemu dengan sang pencipta nantinya. Hanya berbeda waktu dan tempat. Tapi semua manusia akan kembali pada jalan takdirnya.
Garra memutuskan untuk kembali ke Shanghai bersama Shiangli. Dia akan memulai semuanya disana. Hidup lebih baik dan melupakan segala dendam yang merasuki jiwa nya.
Shiena adiknya, dipenjara dalam kurun waktu yang lama. Garra tidak bisa membebaskan Shiena dan biarlah Shiena mendapatkan hukuman dari segala perbuatannya. Agar adiknya itu bisa belajar hidup lebih baik.
Meski rasa sakit kehilangan masih terus memasuki jiwa namun hidup akan selalu berjalan seperti rel kereta api.
"Zie". Garra menatap Zie "Kakak pamit yaaa. Semoga kau bahagia Zie dan selamat sebentar lagi menjadi Ibu. Jangan membuat suamimu kesal yaa. Jaga diri baik-baik". Ucap Garra berpamitan sebelum kembali ke Shanghai.
"Iya Kak. Kakak juga harus bahagia yaaa. Aku yakin suatu saat nanti Kakak akan bertemu cinta sejati. Jaga Paman Shiangli untukku". Ucap Zie juga.
"Bielle". Garra menatap Grabielle "Aku titip Zie. Jaga dia. Bahagia kan dia. Aku percaya padamu". Sambil menepuk bahu Grabielle.
Grabielle mengangguk "Pasti itu adalah tugasku". Sahut Grabielle dingin.
Garra tersenyum. Dia tenang melepas Zie. Memang seharusnya dari dulu dia sadar diri dari pada berimajinasi tinggi. Kebahagiaan Zie juga akan jadi kebahagiaan nya kelak.
.
.
.
.
Wajah Hana terlihat sendu dan sedih. Apakah cintanya akan berakhir sampai disini? Cinta yang dia perjuangkan dengan susah payah berakhir tak bahagia.
Hana menatap mobil Adam yang menjauh dari pandangan mata nya. Kenapa perbedaan kasta harus menjadi penghalang hubungan? Dia juga terlahir dari keluarga kaya hanya bukan keluarga bangsawan saja.
__ADS_1
"Adam". Air matanya luruh lagi.
"Kenapa kau menyerah saat aku ingin memulai semuanya dan menyerahkan hidupku padamu". Gumamnya menahan sesak didadanya.
Hana berjalan menyusuri panasnya siang ini. Hatinya sedang ingin. Hatinya hancur dan juga patah. Akhirnya dari kisah nya tak sebahagia Zie dan Ester.
"Aku tidak mau kembali ke Singapura". Ucapnya.
Orangtua Hana menetap di Singapura, sementara Hana tinggal sendirian di Indonesia sambil melanjutkan studinya.
Sebuah mobil berhenti tepat disamping gadis cantik itu. Langkah Hana ikutan terhenti.
"Tuan Ken". Sapa Hana saat melihat Kenino turun dari mobil.
"Darimana dan kenapa?". Tanya Kenino dingin, dia baru saja dari kantor menyelesaikan pekerjaan Grabielle.
Hana menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak ingin rasanya menceritakan kepedihan hatinya.
"Tuan, apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang?". Ajak Hana.
Kenino mengangguk setuju karena dia memang belum makan siang.
Keduanya masuk kedalam mobil. Kenino melirik hanya yang hanya diam saja. Biasanya Hana berisik sama seperti Zie dan Ester tapi hari ini Hana terlihat rapuh dan tak berdaya.
"Jika butuh teman curhat, cerita lah". Kenino melirik Hana
Hana hanya menggeleng "Tidak apa-apa Tuan". Sahut Hana memaksakan senyum.
"Dimana Adam?". Tanya Kenino. Karena yang Kenino lihat Adam dan Hana bagai paku lekat dipapan. Dimana-mana selalu bersama.
"Dia sudah kembali". Hana tersenyum kecut "Kembali ke negaranya". Ucapnya lagi.
"Inggris?". Tebak Kenino.
Hana mengangguk "Iya". Hana tersenyum kecut.
"Jadi kau dan dia....?". Entah kenapa Kenino ingin tahu
"Berakhir". Sahut Hana cepat lalu membuang muka kedepan menyembunyikan kesedihan nya.
__ADS_1
Bersambung....