
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Shiena masih menatap mobil Grabielle yang menghilang dari supermarket.
"Lihat saja Tuan Grabielle. Kau akan jadi milikku. Aku akan pisahkan kau dengan gadis pembawa sial itu". Gumam Shiena.
Shiena masuk ke dalam mobilnya. Wajah wanita itu ditekuk kesal. Dia tidak pernah ditolak laki-laki, kecuali Grabielle dan Gama. Dan rasanya benar-benar kesal sekali saat ditolak itu.
Sampai dikediamannya. Shiena langsung turun. Wanita itu berjalan dengan angkuh seolah hanya dia seorang penghuni bumi ini.
"Kau baru pulang?". Tanya Marissa pada putrinya.
"Iya Bu". Sahut Shiena.
"Bu".
"Kenapa?". Marissa meletakkan gelas minumannya.
"Apa Ibu bisa bantu untuk memisahkan Tuan Grabielle dan Zie?".
Marissa tampak berpikir "Apa yang harus Ibu lakukan?". Tanya Marissa.
"Zie kan menurut pada Ibu. Bagaimana kalau Ibu bujuk saja Zie untuk meninggalkan Tuan Grabielle. Dengan begitu dia bisa menikah dengan Tuan Gama dan hutang Ayah akan lunas. Lalu aku bisa menggantikan Zie menjadi istri Tuan Grabielle". Seru Shiena dengan senyum sumringah. Dia tidak sabar membuat pria itu ketagihan dengan permainan nya diatas ranjang.
"Ibu ragu Zie tidak mau". Sahut Marissa "Dulu dia memang penurut, tapi sekarang Ibu takut dia berubah". Imbuh Marissa.
"Tenang saja Bu. Ibu kan bisa berakting membuat Zie luluh. Aku yakin kalau Zie akan menuruti semua perintah Ibu". Shiena bergelut manja dibahu Marissa "Yaaa Bu?". Bujuknya lagi.
"Ibu usahakan. Tapi bagaimana caranya bisa bertemu Zie?". Ucap Marissa.
"Setiap hari Kamis dia akan ke kampus Bu. Jadi Ibu bisa menemui dia kesana". Jelas Shiena "Saat itulah Ibu, bicara empat mata dengannya. Ibu ancam saja dia. Dia kan sangat menyanyangi Ayah. Aku yakin kok kalau dia akan menuruti semua perintah Ibu". Shiena tersenyum licik.
Marissa juga tersenyum licik "Kau benar! Zie harus melunasi hutang Ayah mu. Biar dia merasakan jadi tumbal nya Tuan Gama". Marissa tertawa penuh kemenangan "Gadis pembawa sial itu memang seharusnya menderita. Dia tidak boleh bahagia". Ujar Marissa.
"Ibu benar". Sambung Shiena.
Kedua wanita itu memang membenci Zie. Apalagi Marissa yang sebagai Ibu tiri, dia benar-benar tak menyukai anak sambung nya itu. Zie tidak boleh hidup bahagia. Zie harus terus menderita.
"Apa Ibu tahu bagaimana keadaan kabar Kak Garra?". Tanya Shiena bangkit dari bahu Marissa.
Marissa menggeleng "Tidak. Ibu tidak tahu. Garra tidak mau mengangkat telpon Ibu. Entah dengan siapa dia tinggal sekarang?". Marissa mendesah pelan. Bagaimana pun Garra adalah putra sulungnya.
__ADS_1
"Sudahlah Bu. Tidak usah dipikirkan. Kak Garra itu juga diam-diam mencintai Zie. Lebih baik dia pergi dari sini dari pada dia bersama gadis sialan itu. Bisa-bisa, sial juga hidup Kak Garra". Sahut Shiena.
.
.
.
.
Seorang pria paruh baya tengah menatap kosong keluar jendela ruangan kerjanya.
Dia menatap gedung pencakar langit yang tampak mencolok di Negeri Tirai Bambu itu.
"Allena". Gumamnya
"Aku berjanj akan mencari putri kita Allena. Aku akan membawanya tinggal disini". Lirihnya.
Wanita yang begitu dia cintai. Wanita yang telah pergi dari hidupnya untuk selama-lamanya.
Meski hubungan keduanya adalah hubungan gelap, dimana dia berselingkuh dengan istri orang lain tapi wanita itu adalah cinta pertamanya. Dia dipaksa meninggalkan wanita itu demi perjodohan dari kedua orangtuanya.
Diam-diam dia menghamili wanita itu hingga hadir kecambah yang belum menjadi manusia itu kedalam rahim wanita yang dia cintai. Namun sayang, mereka harus terpisah karena ancaman dari kedua orangtuanya.
Bisa saja dia menemui mantan suami dari wanita yang dia cintai. Tapi itu sama saja menguak luka lamq.
"Aku yakin putri kita pasti cantik Allena, cantik seperti mu". Dia mengusap foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum hangat menatap kamera.
"Selamat siang Tuan". Sang asisten masuk dengan beberapa berkas ditangannya.
"Ada apa?". Tanpa melihat asisten nya.
"Proyek kita yang di Indonesia sedang bermasalah Tuan. Ada beberapa kendala disana". Jelasnya.
"Kenapa bisa begitu?". Tatapannya terkunci
"Ada penggelapan dana Tuan". Sahut sang asisten "Sekaligus kita akan membahas kerja sama bersama Wilmar Group". Imbuhnya
"Baik. Persiapkan semuanya". Tintahnya.
"Baik Tuan".
__ADS_1
Pria itu kembali melamun. Musim dingin telah tiba. Dia menyukai musim ini karena semua mengingatkannya pada wanita yang dia cintai.
"Seandainya waktu bisa diulang Al, aku pasti akan membawa mu pergi dan menolak perjodohan itu. Tapi sayang, aku harus kehilangan mu untuk selama-lamanya". Dia memegang dadanya yang terasa sesak ketika mengingat wanita itu.
.
.
.
.
Nafas Gama masih memburu. Wajahnya tampak frustasi. Kali ini dia tidak boleh gagal lagi. Dia harus memiliki Zie dan menikahi gadis itu.
"Mark". Teriaknya
"I- iya Tuan". Mark masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan".
"Selidiki apa yang terjadi. Jangan sampai Grabielle dan Zie batal berpisah. Pastikan persidangan mereka berjalan lancar". Tintahnya.
"Baik Tuan".
Gama menyambar jas yang bergantung dikursi kebesaran nya. Wajahnya tak bersahabat seolah siap mengajak perang orang-orang yang bertemu dengannya.
"Kita ke club".
"Baik Tuan".
Mark mengintip wajah Gama dibalik kaca mobilnya. Kasihan sekali Gama. Hidup sendirian dan kesepian. Setiap kali ada masalah pria itu selalu ke club untuk melampiaskan semua kekecewaan nya.
"Sampai kapan anda akan sadar Tuan. Sadarlah, Nona Zie bukan untuk anda. Saya yakin, jika anda akan menemukan cinta sejati tanpa harus merebut milik orang lain". Batin Mark.
Penyakit lama Gama kambuh lagi. Dia memesan wanita malam untuk menghangatkan ranjangnya.
Tidak peduli siapa wanita yang tidur dengannya. Yang pasti saat ini dia butuh pelampiasan. Memikirkan Zie membuat energi dalam tubuhnya serasa menghilang.
Padahal sejak kenal Zie, Gama meninggalkan kebiasaan buruknya ini. Dan kini penyakit pria itu malah kumat lagi.
Mark hanya bisa geleng-geleng kepala salut. Mark berharap suatu hari nanti, Gama bertemu gadis baik-baik yang akan mengubah hidupnya.
__ADS_1
Bersambung....