Istri Kecil Tuan Cassanova

Istri Kecil Tuan Cassanova
Merawat


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Zie membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Tubuhnya juga masih sakit. Akibat demam yang cukup membuat tubuhnya drop. Dia stress karena terlalu banyak berpikir hingga menyebabkan gadis yang sudah bersuami itu jatuh sakit.


Zie mengedarkan pandangannya. Ruangan asing. Bukan kamarnya. Zie terkejut ketika melihat Grabielle terlelap sambil mengenggam lengannya. Dan meneggelamkan kepalanya ditangan sang istri.


“Terima Tuhan. Saat aku rapuh seperti ini masih ada yang peduli padaku. Terima kasih juga untuk suamiku. Meski dia menyebalkan dan suka celap-celup segala lobang, tapi aku sungguh menghargainya”. Batin Zie menatap Grabielle dengan senyum.


Tangan gadis itu mengusap kepala suaminya. Ini adalah pertama kali mereka sedekat ini. Selama ini selalu berdebat meski pun hal-hal kecil.


Merasakan ada yang mengusap kepalanya. Grabielle sontak terbangun. Pria ini memang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap sekitarnya. Apalagi dia mantan Mafia tentu sudah biasa dengan hal-hal tersebut untuk mengetahui pergerakkan munsuh.


Grabielle segera bangkit saat melihat Zie sudah bangun.


“Jangan ge-er aku tidak sengaja”. Kilahnya


Zie malah menguap. Pria ini masih saja gengsian meski sudah ketahuan. Gadis itu meretak-retakkan tangannya hingga membuat Grabielle mendelik mendengar bunyi yang bergemeletukkan itu.


“Sepertinya bukan aku yang ge-er Tuan, tapi dirimu”. Zie cekikikan, padahal wajahnya masih pucat


“Cihh, siapa juga yang ge-er?”. Kilah Grabielle berusaha menepis perasaanya


Zie hendak bangun dan dengan cepat pria itu membantu Zie


“Kau mau apa?”. Omel Grabielle “Kau ini masih sakit, kenapa bergerak-gerak?”. Seru nya lagi


“Aku hanya ingin bersandar Tuan. Kau ini lebay sekali sihh?”. Gerutu Zie


“Kau yang lebay”.


“Tuan lah yang lebay”.


“Kau yang lebay”.


Zie tak lagi menanggapi. Berdebat dengan Grabielle butuh energy. Zie sedang lelah. Gadis itu bersandar sambil memejamkan matanya sejenak. Kenapa dia jadi serapuh ini. Dia gadis yang kuat. Gadis yang selalu tersenyum dan ceria. Harusnya dia sudah terbiasa dengan goncangan-goncangan seperti ini.


“Kau baik-baik saja?”. Grabielle jadi tidak tega berdebat dengan istrinya.


Zie memaksakan senyum. Sudah lama. Sangat lama. Tidak ada yang bertanya seperti itu. jika Zie boleh jujur, selama ini dia tidak pernah baik-baik saja. Dia gadis yang rapuh.


“Tuan”. mata Zie berkaca-kaca.


Grabielle duduk kembali dikursi samping ranjang Zie. Dia menatap istrinya itu. Mata yang memerah. Jiwa yang rapuh tergambar jelas diwajah gadis yang sudah menjadi istrinya itu.


“Ada apa?”. Tanya Grabielle lembut untuk istrinya. Jarang sekali dia berbicara lembut seperti itu karena dia dan Zie selalu berdebat

__ADS_1


“Aku ingin buang air kecil bisa tidak gendong aku ke kamar mandi. Kali ini tidak usah bayar, kan aku yang mau”. Celetuk Zie.


Wajah Grabielle berubah masam. Dia sudah serius mendengar panggilan istrinya apalagi wajah Zie yang polos serta matanya yang berkaca-kaca membuat Grabielle percaya jika istrinya ini seriuss.


“Bisakah kau tidak_”.


“Sttttttt”. Zie menempelkan jari telunjuknya dibibir pria itu “Tuan aku ingin pipis. Cepat gendong aku”. Renggeknya mengulurkan tanganya kearah Grabielle.


“Tidak mau jalan saja sendiri”. Ketus Grabielle. Bukan tidak mau menggendong istrinya, hanya saja sekarang jantung nya sedang berdebar dekat Zie


“Ya sudah aku minta tolong Kak Nino saja”. Ujar gadis itu menyimak selimutnya.


“Kak Ni_”.


Zie terkejut saat merasakan tubuhnya melayang diudara. Rupanya Grabielle sudah mengambil alih menggendong gadis itu. Enak saja Zie meminta Kenino menggendongnya, Grabielle takkan membiarkan siapapun menyentuh tubuh istrinya


Zie melingkarkan tangannya dileher Grabielle. Dia tersenyum jahil melihat wajah suaminya yang memerah


“Jangan menatapku”. Hardik Grabielle salah tingkah


“Tuan kenapa jantungmu berbunyi dag-dig-dug?”. Godanya


“Ck, kau mau dijatuhkan disini?”. Ancam Grabielle.


Bukannya takut gadis itu malah terkekeh pelan. Zie membenamkan wajahnya didada bidang Grabielle. Rasanya dia ingin tertawa mendengar jantung suaminya yang berbunyi seperti sedang berdisko didalam sana.


“Awww, Tuan. Kasar sekali sihh?”. Gerutunya saat Grabielle menurunkannya dengan paksa.


“Untung aku tidak melemparmu”. Ketus Grabielle “Aku akan menunggu diluar, jika sudah selesai panggil”. Ketusnya sambil keluar dari kamar mandi.


Zie membuang hajatnya. Setelah membuat hajatnya, Zie mencuci wajahnya yang tampak pucat dia menatap pantulan dirinya didepan cermin toilet.


Zie menghela nafas panjang. Dia tersenyum kecut memikirkan nasibnya. Dalam sakit seperti ini saja tidak ada anggota keluarga yang menjengguknya atau sekedar bersiraturahmi untuk bertemu dan melihat kondisinya.


Zie keluar dari kamar mandi. Sebenarnya dia mampu berjalan, hanya saja sengaja mengerjai suaminya itu.


“Kau”. Grabielle terkejut melihat gadis itu berjalan melewatinya “Kenapa kau bisa berjalan sendiri?”. Tanyanya heran.


“Memangnya aku harus berjalan dengan siapa Tuan?”. Ujarnya santai sambil menuju ranjangnya. Infuse memang tidak terpasang karena Grabielle tidak mau istrinya kesusahan dan dia melarang para dokter untuk memasang infuse ditangan istrinya


“Tadi kau minta gendong?”. Grabielle mengekor


“Aku tidak mengatakan kakiku sakit”. Celetuk Zie naik keatas ranjang.


Tangan Grabielle terkepal pasti gadis ini mengerjainya lagi. Ingin rasanya Grabielle menerkam Zie dan menyerang wanita itu habis-habisan. Tapi tidak tega, apalagi melihat wajah polos ini.

__ADS_1


“Permisi Tuan. Nona”. Kenino masuk dengan membawa paper bag dan beberapa kotak makanan


“Kak Nino bawa apa?”. Zie langsung sumringgah


“Ini pakaian anda Nona dan makan siang untuk anda dan Tuan”. Jelas Kenino


“Terima kasih Kak Nino”.


Grabielle mencibir. Dia diabaikan oleh istrinya itu. Awas saja gadis itu. Dia akan menghukumnya nanti.


“Kau boleh keluar Ken”. Usir Grabielle.


“B-baik Tuan”. Kenino memilih keluar dan sepertinya, Grabielle sedang cemburu.


“Tuan kau lapar?”. Zie turun dari ranjang.


“Jangan turun, kau masih sakit?”. Cegah Grabielle setengah panic.


“Aku sudah sehat Tuan”. Zie santai-santai saja sambil membawa makanan itu menuju sofa


“Ayo Tuan, duduk kita makan”. Ajak Zie tersenyum. Walau sering membuat suaminya kesal tapi dia sungguh menghargai pria ini.


“Yang sakit siapa sih?”. Grabielle duduk disamping istrinya


“Aku, Tuan”. Jawabnya tersenyum jahil


“Eittts, jangan makan itu?”. Grabielle menyambar sendok istrinya.


“Aishhh kenapa sih Tuan?”. Protes Zie.


“Jangan makan yang pedas. Dingin. Asam. Asam lambung mu sudah parah”. Grabielle menyingkirkan semua makanan itu. sepertinya dia harus menghukum Kenino


“Tapi Tua_”.


“Tidak boleh”. Ketus Grabielle.


“Lah terus kita makan apa?”. Cemberut Zie. Rasanya dia ingin menangis menatap makanan lezat kesukaannya itu


“Ken, masuk”. Grabielle menutup telponnya. Wajah pria itu tampak kesal.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”. Kenino masuk dan langsung membungkuk hormat pada Grabielle


“Kau tahu kan kesalahanmu dimana Ken?”. Grabielle menatap asistennya tajam


Kenino kikuk. Otaknya langsung ngelink dan melirik makanan yang disingkirkan Tuan-nya. Habis lah dia. Dia lupa jika Zie tidak boleh memakan makanan itu.

__ADS_1


“Maaf Tuan, saya akan perbaiki”. Ucap Kenino.


Bersambung ...


__ADS_2