
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zie turun dari motor Ester. Ester menggantar gadis itu sampai ke Apartement nya.
"Terima kasih Cinta". Sambil memberikan helmnya.
"Sama-sama Cinta. Jika butuh teman curhat dan kalau ada apa-apa. Hubungi saja ya Cinta". Pesan Ester.
"Terima kasih Cinta". Senyum Zie.
"Ya sudah aku pamit ya Cinta". Ucap Ester.
"Hati-hati dijalan yaaaa?". Zie melambaikan tangannya.
Zie menghela nafas panjang. Gadis itu menatap gedung Apartement mewah milik suaminya.
Entah kenapa ucapan Grabielle yang mengatakan dia tidak ada feminim dan anggun membuatnya sedih dan terluka. Meski dia tahu suaminya itu hanya bercanda. Tapi kenapa hati Zie sakit sekali ya?
Gadis itu melangkah dengan lemes. Pikiran sedang bertengkar dengan logika. Logikanya mengatakan meninggalkan Grabielle apalagi Ayahnya menyuruh meninggalkan Grabielle dan hutang-hutang nya akan dibayar oleh Gama. Namun, hati Zie sedikit terganggu. Kenapa rasanya berat sekali untuk mengabulkan permintaan itu.
Zie masuk kedalam lift. Tatapan gadis itu kosong. Banyak sekali hal-hal yang berlarian dikepalanya.
"Jadi Tuan Gama itu calon suamiku?". Gumamnya "Pantas saja aku merasa aneh saat bertemu dengannya. Tatapannya". Zie menghela nafas panjang.
Pintu lift terbuka gadis itu berjalan masuk kedalam.
"Selamat malam Nona Muda". Sapa para pelayan.
"Malam Paman. Malam Bibi". Sahut Zie tersenyum lebar.
"Saya masuk dulu".
"Iya Nona".
Zie melangkah masuk kedalam kamarnya. Dia berhenti tepat didepan kamar suaminya. Sebenarnya pertengkaran mereka ini hal sepele. Tapi kenapa dibesarkan seperti ini?
Grabielle keluar dari kamarnya.
"Zie". Pria itu menatap istrinya berkaca-kaca.
"Selamat malam Tuan. Apakah anda sudah makan malam?". Tanya Zie sekedar basa-basi.
Grabielle menggeleng, karena jujur saja dia memang belum makan dari tadi. Mana bisa makan jika hati tengah galau.
"Ck, kenapa tidak makan? Kau itu bagaimana sihh?". Protes Zie tanpa sadar "Tunggu sebentar yaa. Saya ganti baju dulu. Saya akan memasak untuk anda". Ujarnya.
__ADS_1
Grabielle mengangguk dan masih menatap istri kecilnya itu. Kenapa sakit sekali melihat tatapan Zie yang sedikit berbeda? Biasanya mereka selalu bertengkar dan berdebat. Tapi kenapa malam ini istrinya terlihat sangat berbeda? Ada apa? Apa yang terjadi?
Grabielle menunggu Zie didepan kamar. Sebenarnya dia ingin marah apalagi ketika tahu bahwa Zie makan siang bersama Gama. Tapi dia sedang tidak mau bertengkar. Dia tidak mau membuat istrinya itu lari lagi.
"Ayo Tuan". Zie tersenyum hormat.
Gadis itu memang akan dingin ketika hatinya tersakiti. Dia masih belum bisa menguasai emosinya. Apalagi sifatnya yang bar-bar dan berisik.
Zie berjalan duluan. Grabielle mengekor dari belakang. Tidak seperti biasa mereka yang bertengkar dan berdebat. Tapi kali ini terlihat beda, lebih dingin seperti berada dikutub Utara.
"Duduklah Tuan. Saya akan memasak untuk anda ". Senyum gadis itu pun berbeda.
Grabielle mengangguk. Pikiran pria itu tak tenang. Dia tidak suka Zie yang dingin seperti ini. Dia lebih suka Zie yang berisik dan berdebat dengan gadis itu adalah hobbynya.
Zie memasak. Gadis yang biasanya berisik itu tampak serius dengan masakkannya. Zie sebenarnya tidak mood untuk berbicara tapi karena asset Negara seperti Grabielle belum makan sayang kalau sakit bisa satu negara repot dibuatnya.
Setelah lama berkutat dengan masakkan nya. Zie menghidangkan makanan itu. Dimana disana Grabielle sudah menunggu dengan sabar.
"Makanlah Tuan". Zie mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Kau tidak makan?". Tanya Grabielle melihat Zie yang tidak mengambil makanan.
"Tidak Tuan. Saya masih kenyang". Zie membungkuk hormat "Kalau begitu saya permisi Tuan".
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Zie mencoba tersenyum padahal sebenarnya dia menahan tangis.
"Kenapa tidak makan? Apa kau sudah kenyang makan bersama pria itu?". Grabielle tidak mampu menahan emosinya. Dia tidak suka diabaikan oleh Zie
"Memangnya kenapa Tuan? Tidak masalah kan kalau saya makan dengan siapa saja? Bukankah disurat perjanjian tidak boleh ikut campur urusan masing-masing?". Zie menatap Grabielle.
"Tentu saja tidak boleh. Kau itu istri ku". Suara Grabielle naik satu oktaf.
"Istri diatas kertas Tuan. Jangan lupakan itu. Semua itu permintaan anda. Bukankah selama ini anda tidak menganggap saya ada. Saya bukan wanita feminim. Saya tidak anggun. Apa anda yakin mengakui saya sebagai istri?". Akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Zie setelah dia lama menahan gejolak dalam dadanya.
"Tapi tetap kau tidak bisa dekat dengan sembarangan pria". Grabielle memukul meja dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
Zie tetap santai. Gadis ini memang tidak merasa takut sama sekali.
"Kenapa?". Zie menatap Grabielle sinis "Tuan, setelah aku rasa. Mungkin sebaiknya kita bercerai".
Deg
Grabielle mendengar tak percaya. Bagaimana bisa gadis ini mengajaknya bercerai.
"Apa maksudmu?". Tatap Grabielle tajam. Tangannya terkepal kuat. Wajahnya sudah memerah menahan marah.
__ADS_1
"Kita tidak bisa seperti ini terus Tuan. Semakin lama kita bersama. Akan semakin kuat juga kita saling menyakiti. Ayah saya akan melunasi semua hutang-hutang saya".
Zie berbalik. Air mata luruh dipipinya. Sumpah dia tidak sanggup berpisah dengan pria itu. Tapi dia tahu Grabielle takkan bisa mencintainya. Dia tidak feminim. Tidak anggun. Entah kenapa perkataan Grabielle itu masih terus terngiang dikepalanya.
.
.
.
.
"Kenapa sayang?". Hana duduk disamping Adam.
"Aku sedang memikirkan Zie". Adam mendesah pelan.
"Ada apa dengan Zie?". Tanya Hana penasaran.
"Dia selalu tidak aman. Aku takut Tuan Gama benar-benar menculiknya". Adam mengusap wajahnya kasar.
"Apa Kak Garra tidak mengirim pengawal bayangan untuk Zie?". Tanya Hana.
"Ada. Tapi ada pengawal Tuan Zean juga, Ayah Tuan Grabielle. Aku hanya takut mereka malah saling bentrokan". Adam menghela nafas panjang.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sayang?". Hana tampak tak tenang.
"Aku juga tidak tahu sayang. Aku sedang menunggu perintah dari Kak Garra". Sahut Adam.
Kedua pasang itu sejenak terdiam. Adam dan Hana adalah orang yang diam-diam diutus oleh Garra untuk menjaga Zie. Melalui mereka berdua, Garra memantau perkembangan gadis itu.
"Tuan John juga memaksa Zie meninggalkan Tuan Grabielle dan menikah dengan Tuan Gama. Aku hanya takut Zie mengikuti perintah Ayah nya". Sambung Adam lagi.
"Apa kita bantu Zie kabur? Dan kita bawa Zie ke Sanghai. Dengan begitu tidak ada lagi yang menganggunya, baik Tuan Grabielle mau pun Tuan Gama". Saran Hana.
"Tidak semudah itu sayang. Tuan Grabielle bukan orang sembarangan. Dia orang berpengaruh yang tentu punya banyak jaringan untuk melacak Zie. Apalagi Tuan Gama. Mereka berdua sama". Imbuh Adam
"Iya juga sih".
Terdengar helaan nafas berat dari kedua orang itu.
Zie ini seperti buronan yang diincar banyak orang.
Ayahnya, John juga mengincar Zie. Gama mantan calon suaminya masih terus mengejar pria itu. Sedangkan Zie malah masuk kedalam kandang anakonda. Bagaimana bisa gadis itu kabur nantinya. Semua jalannya buntu.
Bersambung....
__ADS_1