Istri Rahasia Ketua BEM

Istri Rahasia Ketua BEM
Hamil di Luar Nikah


__ADS_3

“Ini anak kamu loh! Bukannya kamu harusnya tanggung jawab?!” teriak Nara yang sudah terlihat kesal sembari menunjuk perutnya yang sudah semakin membesar.


“Kamu suruh aku tanggung jawab? Kita ini masih kuliah loh! Kenapa kamu nggak bisa mikirin


itu sih? Aku suruh nikahin kamu? Duit dari mana sih!” ketus pria itu yang sudah semakin kesal dengan ucapan Nara.


“Beberapa bulan yang lalu, dengan percaya dirinya kamu bilang kalau kamu bakal tanggung


jawab, Rendi! Aku juga masih kuliah, kamu nggak mikirin posisiku?” Nara juga naik pitam karena posisinya sedikit susah dan kekasihnya tidak mau mengerti.


“Aku udah bilang kamu buat gugurin kandungan itu dari awal, tapi kamu sendiri yang nggak


mau gugurin! Sekarang kandungan kamu sudah membesar, kamu nyalahin aku?!” Rendi semakin marah, padahal dia sendiri yang sudah berjanji.


“Kamu ada cewek lain ya?” tuduh Nara.


“Apa lagi itu! Kamu selalu saja seperti itu, menuduhku tanpa alasan!”


“Ya terus kenapa kamu marah? Kalau kamu nggak ngerasa ngelakuin itu harusnya kamu nggak usah marah-marah dong!” Nara semakin emosi dan merasa bahwa kekasihnya melakukan


sesuatu yang buruk.


“Denger ya, Nara! Aku ini emang Ketua BEM, dilanda masalah kaya gini, harusnya kamu bisa


ngertiin aku dong! Harusnya kamu bisa memahami, kalaupun ada cewek yang deket sama aku, bukan berarti aku deket sama dia! Popularitasku itu besar, Nara! Ngertiin lah!”


PLAK!


Merasa pria itu semakin banyak bicara dan Nara juga ingin diprioritaskan, dia menampar pria itu


dengan sangat keras hingga membuat pria itu hanya bisa diam saja. Namun, beberapa menit


kemudian, Nara merasa bersalah kepada pria itu.


“Maaf, Rendi. Ini semua salahku.” Nara menitihkan air matanya karena dia sudah tidak kuat dengan cobaan ini. Rendi sebenarnya


masih kesal, namun, perlahan emosinya mereda kala merasakan tamparan dari kekasihnya itu.


Rendi menarik tubuh Nara agar wanita itu mendekat ke hadapannya dan menatap Rendi


dengan tatapan yang penuh dengan kehangatan.


“Jangan menyalahkan diri kamu begitu, ini salah kita karena terlalu terbawa hawa nafsu dan


pada akhirnya hal seperti ini terjadi. Aku bahkan tidak bisa mengusahakan apa-apa untuk


kamu, aku cuma bisa support kamu aja, nggak lebih.” Rendi mengusap rambut wanita itu


dengan lembut dan mencium kening Nara.


“Terima kasih, Rendi. Kamu selalu ada buat aku,” ucap Nara dengan penuh haru. Rendi hanya


menjawabnya dengan senyuman, dan mereka pun memulai adegan panas seperti tidak pernah

__ADS_1


terjadi apa-apa akibat hubungan yang sering mereka lakukan di luar nikah itu.


Rendi mulai mengotak-atik tubuh Nara yang semakin gempal karena kandungannya semakin


membesar dan makannya juga semakin banyak. Tangan Rendi semakin bersemangat


menggerayangi tubuh wanita itu karena di matanya, Nara terlihat sangat seksi. Erangan kecil pun mulai memenuhi ruangan itu. Di malam yang cukup dingin itu, mereka menghangatkan


tubuh mereka dengan bersenggama di dalam kontrakan yang ditinggali oleh Nara.


Rendi tidak bisa terlalu cepat menggerakkan pinggulnya karena takut jika menindih perut besar


Nara. Untuk meluapkan keresahan dan juga rasa gelisahnya, Rendi bisa tetap tenang karena


sering melakukan itu dengan Nara, sehingga semuanya terasa baik-baik saja di matanya.


Semenjak kehamilan Nara, tubuh wanita itu jadi sangat sensitif dan mudah sekali bergairah,


alhasil dia juga sering keluar berkali-kali karena gairahnya memuncak.


“Nara, aku sayang sekali padamu.” Rendi berucap begitu di tengah mereka tengah


bersenggama.


“Aku juga, jangan tinggalin aku ya, Sayang. Aku butuh kamu.” Nara berucap begitu dengan


penuh harap sembari merasa kenikmatan.


Tubuh Rendi bergerak dengan cepat dan diiringi lengkuhan kecil mereka berdua, hingga pada


Sebelum selesai, Rendi mencium kening Nara dengan lembut dan tersenyum kepadanya. Nara


merasa beruntung karena dia bisa bertemu dengan pria baik seperti Rendi, meskipun mereka


juga sering bertengkar.


Hamil di luar nikah sudah membuat Nara hanya bisa pasrah saja dengan situasinya saat ini. Bahkan, dia ada pemikiran akan meninggalkan Rendi dan juga keluarganya setelah dia akan


melahirkan, biar Nara yang menanggung semua ini sendirian. Sebenarnya, Rendi juga tidak


siap jika harus menikah, karena keluarganya berasal dari keluarga terpandang dan dia pasti


malu dengan teman-temannya, belum lagi, statusnya yang merupakan Ketua BEM.


Dia hanya punya waktu dua bulan lagi untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan saat ini.


Malam itu, Rendi menginap di kos Nara atas keinginan wanita itu. Belakangan ini Nara sedang


ingin ditemani dan tidak ingin jauh dari Rendi karena dia sering sekali merasa down dan


gelisah.


Saat fajar sudah tiba, Rendi bersiap pergi dari kontrakkan Nara, dan Nara mengantarkan pria

__ADS_1


itu keluar kontrakkan.


“Jaga diri baik-baik ya,” tutur Rendi sembari mengusap rambut Nara.


“Iya, kamu juga semangat acaranya ya!” Nara kembali menyemangati pria itu dan sama sekali


tidak memikirkan keadaannya sendiri yang lebih butuh semangat.


“Oh iya, tanggal 1 besok, kayaknya aku nggak bisa ikut kamu ke Jogja deh.” Pria itu ingat jika


ada hal yang harus dilakukan.


“Loh? Kenapa? Aku udah pesen hotel loh, bisa aja ini kali terakhir kita ke Jogja dan bisa piknik


bareng,” bujuk Nara.


“Aku ada acara keluarga yang nggak bisa ditinggal. Bisa-bisa keluargaku marah sama aku,”


jawab Rendi sembari mengusap rambutnya perlahan.


Nara sedikit kecewa dengan ucapan pria itu, karena dia tidak mengabari sebelumnya dan baru


bisa mengabarkan sekarang. Biasanya pria itu selalu abai dengan acara keluarga di rumahnya,


sekarang tiba-tiba jadi lebih peduli.


“Ya sudah, nggakpapa kok. Sebelum acara keluarga kamu bisa ke sini dulu?” tanya Nara.


“Aku usahakan ya.” Rendi tersenyum dan berusaha menyanggupi keinginan wanita itu.


Rendi pun pergi meninggalkan kontrakkan Nara. Setelah Rendi menjauh, Nara hanya bisa


menghela nafas panjang dan kembali masuk ke dalam kamar.


Ia bersiap untuk pergi kuliah dan menjalani rutinitasnya seperti biasa. Saat dia mengenakan pakaiannya, dia selalu melihat ke cermin dan selalu memastikan bahwa perutnya tidak terlihat besar saat dia kuliah nanti. Sehingga, tidak akan ada orang yang curiga.


“Untuk saat ini masih aman sih, aku harus semangat!” pungkas Nara yang berusaha untuk


menyemangati dirinya sendiri.


Jujur saja, beberapa bulan ini nilainya juga semakin turun karena tidak fokus dengan


kehamilannya. Hubungan mereka berdua juga sebenarnya tidak diketahui oleh publik, sebagai


ketua BEM, identitas Nara pun harus disembunyikan.


Nara pun pergi ke kampus bersama dengan temannya, hingga saat ia sampai di kampus,


karena teledor, dia menabrak seseorang bertubuh besar hingga membuat Nara terjatuh dengan


keras.


BRUK!

__ADS_1


“Nara!” teriak temannya yang panik kala melihat Nara jatuh.


__ADS_2